bagaimana jika saat izana yang berjalan dengan santai tiba tiba di sergap? dia dipaksa untuk ikut dan setelah dia bangu, tiba tiba tubuhnya menjadi seorang wanita, tidak lama kemudian izana menemukan pemuda yang adalah anggota Toman, dia menguji coba serum yang dia temukan hingga membuat pemuda itu juga sama seperti nya.
"wanita cantik" takemichi
"apa kau lihat lihat!?" izana
"garang sekali" takemichi
"kau sekarang sama denganku" izana
"hah?" takemichi nge-lag
"waaaaaa kau jahat sekali izana!!" takemichi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sit nur Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
fight
Hoho ini adalah hal yang paling menyenangkan.
.
.
.
.
Pagi itu disambut dengan suasana yang mencekam.
Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar bagi para murid kini berubah menjadi medan pertarungan.
Banyak orang hanya bisa menatap dengan wajah pucat.
Siapa sangka sekumpulan anak SMA yang selama ini dikenal sebagai para berandalan kini terlibat dalam konflik sebesar ini?
Mereka masih remaja.
Namun pengalaman dan kehidupan yang mereka jalani jauh berbeda dari kebanyakan orang seusia mereka.
Di berbagai sudut halaman sekolah, orang-orang berjatuhan.
Suasana dipenuhi teriakan, benturan, dan kekacauan.
Pihak berwenang tentu tidak akan tinggal diam menghadapi kejadian sebesar ini.
Korban yang berjatuhan terlalu banyak untuk diabaikan.
Namun ada satu hal yang bahkan belum diketahui oleh banyak orang.
Dalang sebenarnya di balik semua ini.
Bahkan Abel sendiri tidak mengetahui siapa sosok yang selama ini berada di balik layar.
Mereka bersembunyi dengan sangat rapi.
Menggunakan orang lain untuk menjalankan rencana mereka.
Membiarkan tangan mereka tetap bersih dari segala tuduhan.
Hari itu menjadi salah satu peristiwa terbesar yang terjadi setelah Perang Tiga Dewa.
Banyak orang yang mengingatnya sebagai hari ketika berbagai kelompok besar kembali berkumpul dalam satu konflik yang sama.
BUGH!
Seseorang kembali tumbang setelah menerima serangan telak.
Namun tidak ada yang berhenti.
Pertarungan terus berlanjut.
"Hahaha!"
"Ini sungguh menyenangkan!"
teriak Sanzu sambil terus maju menghadapi lawan-lawannya.
Di mata orang biasa, semua ini terlihat gila.
Namun bagi mereka yang sudah lama hidup di dunia berandalan, situasi seperti ini bukanlah hal asing.
"Oh?"
"Lihatlah mereka."
"Sepertinya sedang bersenang-senang."
Izana menyeringai kecil.
Dulu, Izana pernah dipenuhi kebencian dan keinginan untuk menghancurkan segalanya.
Namun sekarang berbeda.
Ia hanya memperhatikan keadaan dengan tatapan tajam sambil memastikan orang-orang yang ia anggap keluarga tetap aman.
Sementara itu...
Abel berada dalam kondisi yang jauh dari kata baik.
Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, pria itu benar-benar berada dalam posisi terdesak.
Ia berusaha menjauh sambil menahan rasa panik yang terus membesar.
"Sial..."
"Sial sekali!"
"Aku ditipu!"
"Terkutuk kalian semua!"
teriaknya penuh amarah.
Matanya menatap ke arah para berandalan yang memenuhi halaman sekolah.
"Mereka bukan berandalan biasa..."
"Mereka benar-benar gila..."
gumamnya dengan suara bergetar.
Tak jauh dari sana, Takemichi memperhatikan keadaan sambil menghela napas.
"Kerja bagus, Kisaki."
"Kau memang sangat membantu dalam situasi seperti ini."
Kisaki langsung menyeringai puas.
"Heh."
"Tentu saja."
"Jangan lupakan siapa yang menyusun sebagian besar rencana ini."
Ia langsung bersedekap dengan bangga.
Seolah ada efek berkilauan di sekelilingnya.
Takemichi hanya tertawa kecil melihat tingkahnya.
Meski begitu, memang tidak bisa dipungkiri.
Peran Kisaki dalam menyusun strategi sangat besar.
Namun bukan hanya dirinya.
Yamagishi juga mengumpulkan banyak informasi penting.
Takuya membantu menyusun berbagai kemungkinan yang bisa terjadi selama konflik berlangsung.
Bahkan Akkun dan Makoto ikut berkontribusi sesuai kemampuan mereka.
Mungkin mereka tidak sekuat petarung-petarung utama.
Namun tanpa bantuan mereka, banyak rencana tidak akan berjalan semulus ini.
"Heh."
"Lihat?"
"Aku memang penting."
ucap Kisaki lagi dengan bangga.
Takemichi langsung tertawa.
"Ya, ya."
"Kami semua tahu."
Di sisi lain...
Izana memperhatikan beberapa tabung serum yang sebelumnya dibawa oleh Abel.
"Oh?"
"Jadi ini yang selama ini kau banggakan?"
Izana memutar salah satu tabung di tangannya.
Wajah Abel langsung berubah.
"Apa yang akan kau lakukan?!"
"Jangan sentuh itu!"
"Itu hasil penelitianku selama bertahun-tahun!"
teriaknya panik.
"Hm."
"Menarik."
Izana malah tersenyum semakin lebar.
Senyuman yang membuat Abel merasakan firasat buruk.
"Sial..."
batin Abel.
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar kehilangan kendali atas situasi.
...⚪⚪⚪...
Wiuu...
Wiuu...
Wiuu...
Suara sirene akhirnya terdengar.
Mobil polisi mulai memasuki area sekolah.
Orang-orang perlahan menghentikan aktivitas mereka.
Banyak yang mundur beberapa langkah.
Namun tidak semuanya.
Di tengah halaman sekolah...
Mikey masih berdiri.
Tatapannya kosong.
Tubuhnya masih dipenuhi aura mengerikan yang membuat orang-orang enggan mendekat.
"Ini gawat."
Izana mengerutkan kening.
"Mikey benar-benar belum sadar."
"Aku akan mencoba menghentikannya."
"Izana, jangan."
Takemichi langsung menahan lengannya.
Kisaki juga mengangguk setuju.
"Dia tidak akan mendengarkan siapa pun dalam kondisi seperti itu."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
tanya Izana.
Takemichi menatap ke arah Mikey.
Kemudian menarik napas panjang.
"Biarkan aku yang pergi."
"Aku yakin dia masih bisa mendengar suaraku."
Sebelum siapa pun sempat menghentikannya, Takemichi sudah berlari ke depan.
Para polisi langsung terkejut.
"Nak!"
"Menjauh dari sana!"
teriak salah satu polisi.
"Dia berbahaya!"
"Dia bisa melukaimu!"
Namun Takemichi tidak berhenti.
Ia terus berlari hingga berdiri tepat di depan Mikey.
"Pak Polisi!"
"Tolong tunggu sebentar!"
teriaknya.
"Aku akan mencoba membangunkannya!"
"Nak!"
"Menjauh!"
"Jangan menghalangi!"
Takemichi menggeleng keras.
"Tidak!"
"Aku tidak akan pergi!"
Ia merentangkan kedua tangannya di depan Mikey.
Melindunginya.
"Aku percaya padanya!"
Semua orang langsung menahan napas.
Bahkan Mikey yang sebelumnya tidak bereaksi mulai perlahan mengangkat kepalanya.
Suara Takemichi berhasil menarik perhatiannya.
"Tidak akan terjadi apa-apa!"
teriak Takemichi lagi.
"Kalau kalian ingin melewatinya, kalian harus melewatiku dulu!"
Suasana langsung menjadi sunyi.
Kemudian...
Puk.
Takemichi membeku.
Seseorang baru saja menyentuh pundaknya.
"Hah?"
Ia perlahan menoleh.
Namun sebelum sempat melihat wajah orang itu—
Grep.
Sebuah pelukan erat langsung melingkari tubuhnya dari belakang.
"Milikku."
Suara rendah dan serak itu terdengar tepat di dekat telinganya.
Takemichi langsung membelalakkan mata.
Aroma yang sangat familiar memenuhi indra penciumannya.
Dan untuk sesaat...
Ia merasa aman.
"Hah?"
"Kondisi macam apa ini sekarang?"
Kisaki langsung memegang dahinya.
Tepok jidat.
Sementara Izana hanya menepuk-nepuk pundaknya dengan ekspresi pasrah.
"Yang sabar."
"Kakucho juga melakukan hal yang hampir sama saat pertama kali bertemu denganku lagi."
ucap Izana santai.
Kisaki menatap ke arah mereka.
Lalu ke arah Mikey.
Lalu kembali ke arah mereka.
"..."
"Aku benar-benar lelah menghadapi orang-orang ini."
.
.
.
.
.
...-TO BE CONTINUED-...
makasih ya kak udah up banyak
hore kakak up
makasih ya kak udah up
up nya jangan lama lama ya kak
semangat ya kak