Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Suasana pagi yang cerah, matahari dengan eloknya memancarkan sinarnya, angin berhembus lembut menggerakkan dedaunan seperti menari-nari. Mengawali hari dimana ia akan beranjak dari tempat yang sudah sangat dihafalnya sejak kecil. Tempat dimana ia tumbuh kembang, menangis,tertawa,sedih,bahagia semua kenangan itu melintas dipikirannya. Seperti kaset film yang terus berputar.
Perjalanan hidup dengan status baru, tempat tinggal yang baru, keluarga baru. Membuat Hawa gugup.
Hawa membantu mama menata makanan dimeja yang akan disantap pagi ini. Sarapan pagi ini berlangsung tenang.
Matahari mulai merangkak naik, Hawa segera merapikan semua isi rumah. Karena akan ditinggal pindah. Ya walaupun masih tetap akan menyambanginya sesekali. semua barang kepentingannya sudah tertata rapi dimobil. Hawa menyeret kakinya pelan menghela nafas memandang sekeliling rumah. Air mata menggenang penuh, sesekali menetes. Diusapnya cepat.
Hawa mengunci pintu rumah. Melangkah ke mobil setelah berpamitan dengan tetangga sekitar dan RT. Menitipkan rumahnya kepada tetangga sekitar.
Ia duduk disamping mama, mama mengelus lembut bahunya. Mama mengerti perasaan menantunya itu. Hasby melirik dari spion tengah. Papa melajukan mobilnya perlahan keluar gang rumah menuju jalan raya. Membaur bersama kendaraan lainnya.
Arus lalu lintas masih lancar. Tak lama mobil berbelok memasuki gerbang rumah yang besar dan megah. Hawa menjejakkan kakinya di halaman rumah besar itu. Mama menggandeng tangannya menuju teras rumah. masuk rumah duduk menyandarkan bahu. Mengistirahatkan sejenak sebelum memulai kegiatan dirumah baru.
Seorang perempuan paruh baya, Bik Im namanya, seumuran ibunya keluar dari dapur membawa senampan minuman dingin yang menyegarkan. Meletakkan minuman dimeja dengan hati-hati. " silahkan diminum semuanya!" tersenyum ramah.
"makasih Bik" ucap mereka serempak.
"sama-sama" melangkahkan kaki kembali kedapur. Mengerjakan tugasnya.
"Ayo diminum Wa,,, alhamdulillah segernya." mama meminum hampir setengah gelas. Sungguh nikmat dan menyegarkan, dicuaca yang mulai memanas ini. Papa terkekeh melihat tingkah mama. Semuanya ikut menikmati minuman yang telah disajikan Bik Im.
Hawa merasakan air mengalir membasahi tenggorokannya. Sungguh nikmat sekali. saking segarnya ia minum sampai tandas. Hasby melirik tersenyum singkat.
"Hawa,, kamu tidur dikamar sebelah Hasby ya. Karena kalian masih sekolah jadi mama papa ingin kalian pisah kamar dulu. Kalian belajarlah, raih lah cita-cita kalian" jelas Mama tenang."mama hanya ingin kalian sekolah dulu, tapi kalian harus ingat bahwa kalian sudah menikah." lanjutnya lagi melihat Hawa dan Hasby bergantian.
"Papa juga setuju dengan Mama. Belajarlah sampai apa yang kalian citakan terwujud. Kalian boleh sesekali tidur bersama tapi jangan kebablasan. Masa depan kalian masih panjang"ucap Papa tegas "Harus ingat dan tahu kalau kalian sudah punya ikatan, tanggung jawab yang mutlak"lanjut Papa.
Hawa dan Hasby mendengarkan dengan seksama. Memandang mertuanya itu Hawa mengerti dan sangat berterimakasih, karena mertuanya tidak membebankan atau menyuruhnya langsung untuk memiliki anak. Mengingat usianya yang masih sangat belia. Ia ingin tetap sekolah, meraih yang selama ini dicitakannya.
"Hasby dan Hawa mengerti pah, mah. Tenang saja, kita memang masih ingin terus belajar dan meraih mimpi kami. Kami akan selalu ingat tentang hubungan ini. Karena hubungan ini sah dan bukan untuk dipermainkan" jelas Hasby melihat netra Hawa singkat, mengalihkan memandang papa mama nya. Dengan tegas menjelaskan keinginannya. Hawa menganggukkan kepala tenang. Mengiyakan apa yang diucapkan Hasby.
"Alhamdulillah ... sekarang kalian istirahat dikamar. Hawa, kalau butuh apa-apa bilang saja nak. Sama semuanya yang berada dirumah ini"jelas mama lembut.
"Iya mah, terimakasih"
"sama-sama nak, Hasby tolong kasih tahu dimana kamar Hawa" perintah Mama.
"Iya mah." jawab Hasby cepat, menoleh kearah Hawa " Hawa ayo" lanjutnya beranjak dari duduknya. Melangkah mantap menaiki tangga menuju kamarnya untuk segera istirahat. Hawa mengikuti Hasby setelah berpamitan dengan mertuanya itu.
Semua tas dan barang-barangnya sudah beristirahat dikamar sejak tadi. Hawa melihat sekitar dengan takjub, sebuah ruangan yang luas dengan ranjang besar didekat jendela besar, dinding yang di cat perpaduan ungu, merah muda dan putih itu menambah manis. disudut ruangan terdapat sofa panjang yang nyaman. Meja belajar, lemari baju yang besar. Ia melangkahkan kaki lebih dalam dan membuka pintu Kamar mandi. Kamar mandi yang bersih,harus dan luas.
Ia beranjak duduk disofa memandang keluar jendela. Terlihat hamparan rumput hijau yang luas dan berbagai macam tanaman. Berbagai macam bunga menghiasi halaman itu. Terdapat pohon besar yang sangat rindang disudut halaman. Bangku taman dekatnya menjadi tempat yang nyaman untuk menikmati senja. Burung-burung berterbangan mengelilingi halaman itu, sesekali hinggap di dahan pepohonan. Angin bertiup lembut masuk melalui jendela yang dibukanya, membuatnya memejamkan mata dengan tenang. Ditambah suasana yang tenang dan nyaman membuatnya semakin lelap.
Dikamar sebelah sorang anak laki-laki merebahkan diri diranjang besarnya. mengutak-atik gawai sebentar dan menaruhnya di meja kecil samping ranjangnya. Badan yang lelah membuatnya cepat tertidur.
Keduanya tertidur sampai langit yang melebur menjadi lautan emas dan merah tua.
Tok tok tok
Hawa tersentak pelan mendengar pintu diketuk dari luar. Hawa beranjak membuka pintu, ternyata Bik Im yang mengetuk pintu.
"Maaf bik,, saya ketiduran." cengirnya malu pada bibik. Wanita paruh baya itu tersenyum simpul, memaklumi majikan mudanya itu.
"tidak apa-apa neng, bibik ngerti neng kecapekan. Oiya Nyonya dan Tuan sedang rapat dan akan pulang malam. Nanti Neng dan Aden disuruh makan berdua. " jelas Bibik ramah.
"Iya bik, makasih ya bik. Nanti Hawa masak sendiri nggak apa-apa bik"
"jangan Neng. Kata Nyonya Neng nggak boleh masak. Neng belajar atau main sma Den Hasby saja gitu pesen Nyonya tadi.
Matanya membulat tak percaya dengan apa yang barusan bibik bicarakan. 'Main dengan Hasby?? Oh tidak mungkin' batinnya terasa geli sendiri membayangkan yang tidak-tidak. Yang ada ia disuruh belajar terus. Nggak ada kata main.