baru saja bertemu dengan seorang wanita asing tiba-tiba saja Firman diajak untuk menikah.
wanita itu bernama Laila Maharani, seorang gadis yang terus diteror oleh mantan pacarnya setelah mantanacarnya tersebut ketahuan berselingkuh.
bagaimanakah kisah cinta mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alya aziz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.16
..."Kapan kamu berhenti datang bulan?"...
..."Kapan kamu berhenti datang bulan?"...
..."Kapan kamu berhenti datang bulan?"...
.
.
.
Kata-kata itu terus berputar di pikirkan Laila. Wajahnya pun terus memerah dengan detak jantung yang tak beraturan.
"La, kok kamu malah bengong. Ini kopinya." Naima meletakkan secantik capuccino di atas meja. "Sejak datang tadi, kamu terlihat aneh. Apa ada masalah? Ya, meskipun aku tahu jika kamu datang kesini berarti ada masalah."
Laila menatap sang sahabat yang sedang duduk di hadapannya. "Aku rasa sebentar lagi akan gila." Laila mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa yang harus aku lakukan!"
"Tunggu sebentar." Naima mendekatkan kursinya duduk di samping Laila. "Sekarang kamu cerita, apa yang terjadi. Sepertinya ini seru, aku mau dengar."
"Na, aku pikir Bang Firman itu laki-laki polos tapi kamu tau, tadi pas di kantor dia menatapku seperti ini." Laila mempraktekkan saat Firman mengelus bagian pipinya. "Jadi kapan kamu berhenti datang bulan? Dia bilang seperti itu! Jantung ku hampir melompat dari rongga dada, tatapan matanya astaga, sampai sekarang aku masih tremor."
Sontak mata Naima membulat seraya terperangah. "What! Tunggu sebentar, kalian sebenarnya sudah sampai tahap apa, bukannya pernikahan ini, hanya--"
"Itu awalnya." Potong Laila. "Tapi selama dua bulan ini, aku sadar. Bang Firman lebih baik dari yang aku bayangkan. Dia Soleh, perhatian dan sangat sabar. Masyaallah, Na tobat aku tobat pokoknya. Kalau aku sampai ngelepasin Bang Firman, itu akan menjadi penyesalan terbesarku."
Braaak!
Naima menghentak meja. "Fix, kamu sudah sembuh dari virus Rehan. Sekarang kamu tinggal menjalankan tugas sebagai seorang istri yang baik, termaksud urusan ranjang, itu paling utama."
Laila kembali terlihat lemas. "Itu dia, Na." Dia menyeruput kopinya agar bisa lebih tenang saat bicara. "Kenapa aku jadi gugup seperti ini ya, padahal tinggal pasrah saja, namanya juga kewajiban. Tapi aku takut mengecewakan dia, ini 'kan juga yang pertama kali untukku."
"Haha, benar juga." Naima menyondongkan tubuhnya. "Apa kamu mau video tutorialnya?"
"Astaghfirullah." Laila menggelengkan kepalanya saat mengerti ucapan sang sahabat. "Jangan, aku sudah tobat. Aku tidak perlu video seperti itu."
"Ya sudah kalau tidak mau." Naima nampak kembali berpikir. "Ah, aku punya ide!" Kali ini Naima terlihat sangat percaya diri dengan idenya.
"Apaan?" Laila malah semakin penasaran.
Naima mendekat untuk membisikkan sesuatu.
"Apa!" seru Laila.
***
Farah baru saja kembali kerumah setelah seharian pergi kerumah orang tuanya. Saat masuk dia keget melihat Rehan sudah pulang. "Ka-kamu pulang cepat?"
Raut wajah Rehan nampak lemas. Dia berdiri dan langsung menghampiri sang istri. "Kenapa kamu pergi menemui Laila? Apa kamu pikir dengan menemui dia, aku akan menerima kamu sebagai istri ku? Tidak, Farah."
"Rey, apa sebenci itu kamu padaku? Kalau iya, aku ingin menyerah segera. Kita tinggal terpisah saja. Kamu bisa menceraikan aku setelah anak ini lahir. Aku lelah, dengan keegoisan mu. Kita sama-sama salah disini, tapi kamu bersikap seolah aku menjebakmu dalam hubungan yang tidak kamu inginkan!"
"Oh begitu, baguslah. Kamu pergilah dan jangan muncul di pandanganku. Aku akan tetap bertanggung jawab untuk segala kebutuhan mu selama kehamilan, tenang saja." Rehan melangkah keluar dari apartemen itu.
Sementara Farah terduduk lemas di sofa sambil menangis tersedu-sedu. Bahkan kamu tidak mencoba untuk mencegah ku pergi, baiklah Rey, aku akan benar-benar menghilang dari pandangan mu, aku tidak akan memberitahu anak kita, jika dia punya Ayah sekejam kamu, batin Farah.
***
"Bang, ini kopinya."
Firman meraih cangkir kopi yang ada di tangan sang istri. "Terima kasih." Dia tersenyum lalu kembali fokus ke layar laptopnya.
Sementara Laila masih berdiri disana, memandangi ***** suami yang nampak sangat sibuk malam ini. Sebenarnya dia serius tidak sih dengan ucapannya. Padahal aku sudah selesai datang bulan, sudah dandan, pakai parfum, batin Laila.
"La, kok bengong di situ. Sini duduk." Firman menepuk sofa di sebelahnya.
"I-iya Bang." Laila pun ikut duduk di samping sang suami. Dia memperhatikan layar laptop Firman. "Abang sepertinya sibuk sekali ya. Semua data ini untuk apa?"
Firman terdiam sebentar. "Jadi begini, besok Abang harus keluar kota untuk bertemu investor. Hanya dua hari saja, kamu mengina--"
"Aku mau ikut." Potong Laila. "Selama menikah abang belum sekalipun mengajak aku bulan madu, sekarang mau keluar kota sendiri? No no, aku mau ikut."
"Yakin mau ikut? Bukannya kamu sedang sibuk dengan brand hijab kamu yang akan mulai produksi? Abang hanya tidak mau mengganggu aktivitas kamu."
Benar juga, tapi kalau aku tidak ikut nanti dia bisa saja bertemu wanita yang membuat dia nyaman lalu ... oh tidak!
"Tidak masalah. Produksi bisa ditunda dua hari. Pokoknya aku ikut, boleh ya?"
Firman terlihat bingung dengan tingkah Laila. Dia tersenyum sambil mengusap lembut pucuk kepala Laila seperti biasanya. "Iya, boleh saja. Kalau begitu kamu persiapkan pakaian apa saja yang mau kamu bawa, sekalian tolong pakaian abang juga."
"Oke." Laila terlihat kesenangan sampai melangkah dengan riang gembira.
Di dalam kamar, Laila mengambil sebuah koper besar. Dia rasa koper tersebut cukup untuk berpakaiannya dan juga Firman karena mereka hanya dua hari di sana.
Laila mulai memilah-milah pakaian apa saja yang akan dia bawa. Sampai akhirnya dia ingat tentang pakaian yang baru saja di beli sore tadi bersama Naima.
"Apa harus bawa itu juga ya." Laila mengambil paper bag di samping ranjang. Dia membuka isi paper bag itu sambil tertawa geli. "Astaga, haha. Belum dipakai saja aku sudah malu."
Meskipun tidak percaya diri, namun Laila yakin untuk mengenakan pakaian haram itu di hadapan sang suami. Ya, Firman juga laki-laki biasa yang harus di penuhi hasrat lahir dan batinnya. Langkah yang Laila ambil ini tergolong berani, karena mata Firman belum pernah terkontaminasi dengan sesuatu seperti itu.
"Oke, sekarang aku harus mengubah rencana. Lebih baik kami mengawali semuanya ketika bulan madu." Laila malah salah tingkah sendiri, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Klek.
Pintu kamar terbuka, Laila segera memasukkan kembali pakaian itu kedalam paper bag. "Sudah selesai pekerjaannya, Bang?"
"Iya nih." Firman memijat tekuknya sambil berbaring di atas ranjang. "Kamu belum sholat?"
"Be-belum, aku masih datang bulan," jawab Laila.
Ya Allah maafkan hamba mu yang bang*sat ini, hamba hanya ingin mencari waktu yang tepat, batin Laila.
"Oh iya, Abang lupa." Firman bedecak saat menyadari jika sedang menginginkan sesuatu namun belum bisa tersalurkan. Dia kembali menoleh melihat Laila yang masih berusia di samping tidur. "Itu apa?"
Laila mulai terlihat panik, saatw Firman mempertahankan isi paper bagnya. "Oh ini ... ini sampel bahan."
"Oh begitu." Firman mengangguk mengerti.
Ya Allah maaf hamba berbohong lagi, kenapa susah sekali mau buat kejutan saja, batin Laila.
"Ehm, abang tidur lah, aku mau lanjut menyiapkan pakaian yang akan kita bawa," ucap Laila lalu kembali ke depan lemari pakaiannya.
Bukan Firman namanya jika membiarkan sang istri bekerja sendiri. Dia bangkit dari posisi berbaringnya menghampiri sang istri. "Biar abang bantu."
Mata Laila membulat saat tangan Firman bergerak hendak meraih paper bag berisi baju haram miliknya. "Tidak!"
Firman tersentak kaget. "Ke-kenapa?"
"Ti-tidak apa-apa." Laila. meraih paper bag itu dan langsung dia selipkan diantara tumpukan baju yang ada di koper. "Sampel bahan ini masih rahasia, nanti setelah launching baru abang boleh lihat."
Bersambung 💕