NovelToon NovelToon
Bukan Istri Pilihan

Bukan Istri Pilihan

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:103.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: jasmine murni

Sarah, seorang gadis yatim piatu yang sudah dari sejak kecil tinggal di sebuah pondok pesantren karena sebelum neneknya meninggal saat Sarah usia 5 tahun, nenek Sarah menitipkan gadis itu pada seorang Ustadzah supaya bisa tinggal di Pesantren sekaligus mendidik Sarah menjadi wanita sholehah yang paham ilmu agama.

Saat Sarah sudah dewasa, dia akan menikah dengan anak dari Kyai yang mengasuh pondok pesantren.


"Kamu jangan besar kepala dulu, Sarah. Saya memilih kamu itu atas keinginan Abi saya bukan atas keinginan saya sendiri!' ucap Farel bagai batu besar yang menghantam hati Sarah.


Dunia Sarah seakan hancur. Tubuh gadis itu yang awalnya berdebar-debar menjadi lemas tak bertenaga. Dia tidak menyangka jika Ustad Farel tidak benar-benar menginginkannya menjadi istri. Lalu bagaimana sekarang? Sarah bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Malam pengantin yang katanya indah hanyalah dalam mimpi saja....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jasmine murni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Haruskah Berkata Jujur

Sarah baru saja mengantar suaminya naik mobil yang akan mengantar ke bandara dengan di sopiri oleh sopir Ponpes. Sarah melangkah gontai masuk ke dalam rumah.

"Ustadzah Sarah," panggil Fanny.

Sarah menoleh, "Ustadzah Fanny," sahut Sarah lembut lalu tersenyum.

"Kangen," ucap Fanny lembut sembari memeluk Sarah.

Sarah pun membalas pelukan Fanny sembari berkata, "Aku juga kangen sama Ustadzah Fanny."

"Oh iya, kalau di ijinkn suami kita, sesekali yuk kita makan di luar sama Ustadzah lain di baksonya bu Isa," ajak Fanny.

"Hhmm, In Sya Allah ya, Fan. Karena suamiku sedang di luar kota saat ini," jawab Sarah.

"Oh, tadi itu Ustad Farel mau keluar kota, ya. Iya tidak apa-apa tunggu Ustad Farel kembali saja," sahut Fanny.

"Iya, Fan. Oh iya bagaimana kandungan kamu? Semoga selalu sehat ya, sama ibunya juga."

"Aamiin. Alhamdulillah, kita berdua sehat-sehat saja."

"Masuk, yuk. Kita ngobrol di dalam saja," ajak Sarah pada Fanny.

"Terimakasih, Ustadzah. Tapi sudah malam ini. Suamiku mau pulang," tolak Fanny halus.

"Oh, iya ya."

"Iya. Aku pulang dulu ya, Sarah. Assalammu'alaikum," pamit Fanny lantas berlalu dari hadapan Sarah.

"Wa'alaikumsalam," jawab Sarah lembut.

Sarah pun kembali masuk ke rumah. Di ruang tamu ada Kyai Agung dan Nyai Fatimah sedang bercengkrama. Mereka lalu menoleh ke arah Sarah yang hendak menghampirinya.

"Sarah, kamu istirahat saja. Pasti masih capek, kan," titah Nyai Fatimah.

"Baik, Umi. Saya ke kamar dulu, Abi, Umi. Assalammu'alaikum," pamit Sarah.

"Wa'alaikumsalam," jawab Kyai dan Nyai hampir berbarengan.

Sarah lanagsung masuk ke kamarnya. Wanita itu berdiri di balik pintu. Pandangannya menyapu seisi kamar. Entah mengapa terasa ada yang kurang dan kosong dalam hatinya.

Sarah menghela nafas panjang. Mas Farel sebenarnya kemana? Jadi dia buru-buru pulang dari bulan madu kami karena hendak pergi lagi. Ternyata aku masih belum bisa jadi tempatnya berbagi.

Sarah pun berbaring di atas tempat tidur empuknya.

***

Beberapa hari Farel pergi, Sarah belum juga mendapatkan kabar suaminya itu. Kehidupan di pesantren berjalan seperti biasa. Sarah tetap mengajar anak-anak sesuai dengan jadwalnya seperti biasa.

"Bagaimana, Ustadzah. Jadi kapan kita bisa makan di luar?" tanya Fanny suatu sore.

"Maaf ya Fan, mas Farel belum tahu kapan pulang," jawab Sarah.

"Oh, tidak bisa ya kamu ijin lewat telepon saja?" tanya Fanny.

Sarah terdiam. Bagaimana Sarah bisa menghubungi suaminya itu sedangkan dia tidak tahu berapa nomor telepon suaminya. Ingin bertanya pada ibu mertuanya tapi dia tidak enak hati. Pasti nanti beliau berpikir macam-macam. Kenapa Sarah sampai tidak mengetahui nomor telepon suaminya sendiri.

"Oh, iya. Aku hanya tidak enak saja menanyakan lewat telepon Fan," Sarah menjawab dengan suara lembut walau di hatinya ada yang terasa tidak enak.

"Oh ya sudah kalau begitu, nanti saja. Soalnya kita semua kangen loh saat-saat dulu sebelum kita menikah. Makan-makan di warung Bu Isa, kangen juga sama baksonya," jelas Fanny.

"Iya, aku juga kangen makan baksonya Bu Isa," sahut Sarah.

Sementara di sebuah kota dalam sebuah negara. Setelah sampai ke negara tujuannya itu, Farel langsung menuju ke apartemen di mana adiknya tinggal selama kuliah yang di sana dulu juga pernah dia tinggal selama kuliah.

"Jadi mas Farel menikah sama Sarah?" tanya Fahira kaget dan penasaran.

"Iya. Mas tidak bisa menolak keinginan Abi!" jawab Farel lesu.

Fahira hanya menghela nafas berat. Bukannya Mas Farel selama ini dekat sama Amalia. Aku pikir Mas Farel akan menikahi Amalia," ucap Fahira bingung.

"Mas kan hanya dekat saja," elak Farel.

"Oh begitu. Tapi sepertinya Amalia itu suka banget sama Mas Farel, loh," jelas Fahira membuat jantung Farel berdetak kencang.

"Dari mana kamu tahu?" tanya Farel kaget.

"Ya tahu dari sikapnya saja, mas. Dia sering bertanya tentang mas, ya aku jawab seadanya saja kecuali pernikahan mas karena aku tidak tahu kalau Mas menikah. Kenapa Umi sama Abi tidak mau memberitahukan pernikahan mas sama Sarah padaku, ya?" tanya Fahira heran dan bingung.

"Dia sudah jadi kakak ipar kamu. Kamu harus memanggilnya 'mbak'."

Fahira menghela nafas panjang, "Bahkan usia istri mas di bawahku dua tahun. Dia masih sangat muda."

"Hhmm, tapi dewasa. Itu yang sering Umi katakan. Yah siapa tahu kamu sudah disiapin jodoh oleh Abi. Siap-siap saja nanti kamu akan di nikahkan dengan ustad yang ada di pondok pesantren kita," jelas Farel dengan senyum getir.

"Mas ah, aku nggak mau. Aku mau pilih suami sendiri," sahut Fahira ketus.

Farel mengedikkan bahunya, "Iya kan siapa tahu. Kalau kamu bisa menolak ya syukur. Kalau mas memang tidak bisa menolak keinginan Abi," jelas Farel lantas memijat-mijat ujung hidungnya.

"Tapi mas nggak mencintai Amalia, kan? Atau mas mencintai Sarah?" tanya Fahira penasaran.

"Sudahlah tidak usah membicarakan cinta. Mas pusing banget. Oh iya nanti siang mas mau keluar ya. Kamu hari ini libur kan?" tanya Farel pada adiknya, Fahira.

"Iya, aku hari ini libur mas. Amalia juga libur. Tapi entah kenapa dia tidak mau aku ajak keluar. Katanya mau istirahat saja," jelas Fahira.

Iya, Amalia tidak mau keluar dengan Fahira karena dia sudah ada janji ketemu denganku. Aku harus menjelaskan langsung semuanya pada teman adikku itu. Apapun nanti yang akan gadis itu katakan. Farel membatin.

Menjelang sore, Farel keluar dari apartemennya. Dengan hati yang mantap dia sudah memutuskan untuk melupakan perasaannya terhadap gadis yang sempat dia inginkan menjadi pendamping hidupnya itu.

Lelaki itu akan menerima sosok wanita yang kini sudah menjadi istrinya.

Farel tiba di sebuah restoran yang cukup banyak pengunjungnya karena Farel ingin bertemu dengan Amalia di tempat yang ramai. Farel memilih meja di dekat pojok supaya obrolan mereka nanti tidak terlalu terdengar oleh orang lain walau mungkin di sana tidak ada orang yang mengerti bahasa indonesia. Farel yang ingin privasi namun bukan di ruang tertutup yang hanya berdua saja.

Tak berselang lama, seorang wanita muda datang menghampiri meja Farel lalu berdiri di hadapan lelaki itu.

"Hhmm, Assalammu'alaikum, mas Farel," sapa lembut seorang gadis manis berhijab warna merah muda.

Farel mendongakkan kepalanya saat mendengar salam dari seorang gadis yang sangat dia hafal suaranya.

Farel langsung berdiri menatap wajah gadis di hadapannya, "Wa'alaikumsalam," jawab Farel lirih lantas bergegas memalingkan wajahnya dari gadis itu lalu kembali duduk. "Hhmm, silahkan duduk."

Gadis yang bernama Amalia itu akhirnya duduk di kursi yang ada di hadapan Farel.

"Maaf, saya. . . " Farel baru bicara tapi Aminah juga hendak bicara.

"A-aku. . ." Aminah terlihat gugup.

"Silahkan bicara lebih dulu," titah Farel lembut.

"Hhmm, a-aku seneng banget mas Farel memenuhi janji mas untuk datang," ucap Amalia dengan wajah merona malu. Gadis itu tidak dapat menutupi rasa bahagianya.

Farel menelan salivanya dengan susah payah dengan wajah yang menatap meja melihat sikap gadis di hadapannya. Antara tega dan tidak untuk berkata jujur.

1
Eliani Elly
👍
Rodiyah Rosyal
bagus.
lovely
mau baca tapi sepertinya gantung🤔
Nunung
Kapan mau up nya thor dh lama nih belum up juga kangen keromantisan dan kemersraan farrel ma sarah
Hayati Nupus
ini novel gimna sih g jelas bgt..g ada klanjutannya bikinnya nanggung gini
Authophille09
adohh farel kok PLIN plan sekali, kalo mmg blm bis kepastian Yo jangan mulai baperin anak orang toh le🤦
Authophille09
Ayo Aldi, kamu pasti bisa move on💪💪
Authophille09
sabar Sarah, orang sabar di sayang Tuhan. urusan jodoh udh ada yg ngatur, tinggal gmn kita jalaninnya aja.
Authophille09
holla kak, dua episode udah aku lewatin nih. kuy mampir di "Janji Aksara" kita kenalan sama bang Arka dkk.
Authophille09
holla kak Sarah👋 babang Arka mampir nih, bawa paket lengkap juga🤭 fav,vote, like dan koment lengkap.
Hayati Nupus
ka kpan lanjutannya..apakah sudah tamat
bunda Akram/Aqilah
sehat slalu buat author...
tetap semangat up'nya
Farida Wahyuni
itu amalia kapan pulang ke asalnya? mengganggu bgt sih. bete kalau ada bibit2 pelakor.
bunda Akram/Aqilah
smoga bener2 hamil si sarah
Riyanti Riri
sarah hamil ...
semangat thor...biar crazy up ya
far~Hidayu❤️😘🇵🇸
Hamil sarah
Siti Nurlaela
udah lama nunggu pas ada dikit amat
Mama Garnis
dikit bbgt up nya
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘreedha
☠️⃝🖌️M⃤
Berharap jadi awal yang baik untuk Sarah dan Farel...semoga...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘreedha
☠️⃝🖌️M⃤
Sakitnya hati jika ada di posisi Sarah...😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!