NovelToon NovelToon
A Thousand Flowers

A Thousand Flowers

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / TimeTravel / Chicklit / Tamat
Popularitas:179.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lathifah Nur

Terlahir dari keluarga sederhana tanpa ayah, Izzah tumbuh menjadi gadis tomboy, cerdas, mandiri dan multitalenta.

Sayangnya, karena trauma masa lalu, ia tak percaya cinta meski hidup dikelilingi banyak pria kaya yang diam-diam jatuh hati padanya.

Suatu hari, setelah tak sengaja ia memperoleh kemampuan khusus dan terdampar di negeri asing, ia bertemu dengan ayah kandungnya yang terkurung selama puluhan tahun. Ia pun bertekad untuk membebaskannya.

Namun, ketika ia berhasil keluar dari tempat itu dan bekerja sebagai dokter magang di Korea Selatan, ia malah dijodohkan dengan lelaki yang tak diketahui identitasnya.

Bagaimanakah kehidupan rumah tangganya setelah menikah?
Akankah pandangannya tentang cinta berubah?
Dan bagaimana pula dengan usahanya untuk menyatukan ayah dan ibunya?

Ikuti kisahnya sampai tamat ya ...
Jangan lupa dukung penulis dengan vote dan klik iklan ya 😊

Selamat membaca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lathifah Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16. Diagnosa Sementara

Selesai sarapan, Tuan dan Nyonya Prasetyo membawa Izzah ke kamar Tiara. Dimas dan Abbas juga ikut menemani.

Di dalam sebuah kamar yang luas dan elegan, seorang gadis terbaring lemah. Wajahnya tampak tirus dan pucat. Namun, kecantikannya masih terlihat jelas. Izzah yakin gadis itu adalah Tiara, kakak Dimas. Seorang wanita paruh baya baru saja selesai membersihkan tubuh Tiara.

Keluarga Dimas sangat prihatin melihat kondisi Tiara. Izzah mendekat.

“Sudah berapa lama Kak Tiara seperti ini, Tante?” tanya Izzah.

Ia memeriksa mata dan setiap ujung jari Tiara. Meraba nadi, mendengar serta menghitung detak jantung Tiara. Izzah melakukan semua itu secara manual karena tidak membawa peralatan medis bersamanya.

“Sejak dua bulan yang lalu,” jawab Nyonya Prasetyo

“Sudah dicek ke dokter?”

“Sudah. Saat itu kondisinya belum separah ini. Menurut dokter dia hanya stres dan kelelahan. Jadi, kami meminta ramuan herbal kepada Ki Daud.”

“Belum ada perubahan?" Izzah merasa ada yang janggal.

“Sempat membaik, tapi dua minggu ini dia bersikap agak aneh,” lanjut Nyonya Prasetyo. Nada bicaranya terdengar sedih.

“Maksud, Tante?” Izzah mencoba menggali riwayat penyakit Tiara lebih dalam.

Ia tidak ingin salah mendiagnosa, apalagi tanpa peralatan medis. Salah mengambil kesimpulan, nyawa Tiara taruhannya.

“Awalnya dia tampak senang, seolah tidak punya masalah,” jelas Nyonya Prasetyo.

“Tapi kemudian, dia sering merasa pusing dan muntah-muntah. Bahkan, beberapa hari ini dia seperti hilang kesadaran. Kami mengira dia hanya tertidur, tapi sulit sekali dibangunkan,” urainya lagi panjang lebar.

Izzah mendengarkan penjelasan Nyonya Prasetyo dengan sungguh-sungguh. Otaknya berpikir keras. Ia terus meneliti setiap mili ujung jari dan kuku-kuku Tiara dengan teliti.

Setelah selesai memeriksa Tiara, Izzah keluar dari kamar itu. Orang tua Dimas membawanya duduk di ruang keluarga. Izzah meminta orang tua Dimas untuk memperlihatkan obat-obatan yang pernah dikonsumsi Tiara, baik obat medis maupun herbal.

“Bi Ira, tolong ambilkan obat Tiara ya!” perintah Nyonya Prasetyo pada wanita yang biasa merawat Tiara. Bi Ira bergegas pergi.

“Menurutmu, Tiara sakit apa?” tanya Nyonya Prasetyo kepada Izzah, cemas dengan kondisi anaknya.

Izzah menghela napas. Ia harus menjawab dengan sangat hati-hati.

“Mohon maaf, Tante. Saya tidak berani menyimpulkan. Saya rasa akan lebih baik jika Kak Tiara dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.”

Nyonya Prasetyo terlihat sedikit kecewa.

Tuan Prasetyo tersenyum kecil. Dalam hati ia berkata, “Gadis ini tidak gegabah dan sangat berhati-hati. Tidak salah Ki Daud memercayainya.”

Tidak lama kemudian wanita yang bertugas merawat Tiara datang membawa obat-obatan yang diminta Izzah. Izzah mulai memeriksa obat medis. Meneliti jenis dan tanggal kedaluwarsanya. Semua aman.

Izzah lalu mengambil obat-obatan herbal. Meski ia yakin Ki Daud tidak mungkin memberi sembarang obat, Izzah tetap memeriksanya. Selain membaca label, Izzah juga mencium aromanya. Sama. Semua aman. Tidak ada yang aneh.

“Lalu, apa yang salah?” tanya Izzah dalam hati.

Menurut hasil pemeriksaannya secara sederhana dan kasat mata, Tiara menunjukkan gejala keracunan. Jika bukan dari obat-obatan yang kedaluwarsa, lalu dari mana?

“Apa kak Tiara alergi makanan tertentu, Tante?” tanya Izzah setelah meletakkan kembali obat-obatan yang diperiksanya di atas meja.

“Tidak. Sejak kecil Tiara tidak pernah pilih-pilih makanan,” jawab Nyonya Prasetyo.

Izzah semakin tak mengerti, tetapi ia tidak ingin menyerah. Pasti ada sesuatu yang salah. Ia yakin itu.

“Kalau begitu …  adakah makanan atau minuman tertentu yang dikonsumsi Kak Tiara akhir-akhir ini?" Izzah terus

menyelidik

Nyonya Prasetyo berpikir sejenak, lalu berujar, “Hanya teh tubruk. Apakah itu bermasalah? Tiara sangat menyukai teh tubruk.”

“Boleh saya lihat tehnya, Tante?” pinta Izzah.

Ia merasa ini kemungkinan terakhir. Jika salah, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyarankan orang tua Dimas untuk segera membawa Tiara ke rumah sakit.

Tidak lama kemudian, Bi Ira datang membawa teh yang Izzah minta. Izzah segera mengeluarkan sejumput teh hijau itu dan meletakkan di telapak tangannya. Diperhatikannya lembar daun teh yang sudah mengering itu. Terlihat sedikit aneh. Penasaran, Izzah lalu mencium baunya. Ia mengangguk mantap.

“Ada yang salah dengan tehnya?” tanya Nyonya Prasetyo setelah melihat ekspresi Izzah.

“Sepertinya begitu, Tante. Ada campuran lain dalam teh ini. Kurasa, itu yang menyebabkan Kak Tiara keracunan.” Jawaban Izzah membuat semua orang dalam ruangan itu kaget.

“Apa? Siapa yang tega dengan sengaja meracuni Tiara?” Tuan Prasetyo menggeram marah.

“Untuk memastikannya, sebaiknya tehnya dibawa ke laboratorium untuk diperiksa,” jawab Izzah tenang.

Abbas langsung keluar menghidupkan mobil. Dimas menyambar teh di atas meja, bergegas menyusul Abbas.

***

Ki Daud menatap lekat pohon besar di tepi danau Kembang Setaman, seperti menunggu sesuatu. Matanya tak berkedip. Entah sudah berapa lama ia berdiri di situ. Sesekali ia melirik jam yang melingkar di lengan kanannya, lalu kembali menatap pohon itu.

“Jika gadis itu memang benar anakmu, aku yakin kau akan membuka pintu ini, Rahmi. Aku menunggumu.” Ki Daud berkata pelan penuh harap.

Di sebuah ruangan sempit dan berdebu, seorang wanita paruh baya terlihat sibuk mencari sesuatu. Ia adalah Bunda Izzah. Matanya meneliti setiap sudut ruang itu dengan saksama. Membongkar setiap kotak yang ditemukannya. Beberapa kali ia menghempaskan napas kecewa karena tak menemukan apa yang ia cari.

Saat mulai lelah dan hampir putus asa, tiba-tiba ia melihat sebuah kotak kecil terimpit di sudut ruang itu. Bunda Izzah segera menyingkirkan benda-benda yang menjadi penghalang. Mengangkat kotak kecil itu dan membersihkan debu yang menutupinya. Lalu, ia keluar dari ruang itu tanpa merapikannya kembali.

Bunda Izzah mengunci pintu kamar, lalu duduk di tepi ranjang. Memangku kotak kecil yang dibawanya dari gudang. Sejenak ia tampak ragu. Namun, akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka kotak itu.

Dengan gemetar, tangannya meraih selembar kertas usang berwarna putih kekuningan. Dibukanya lipatan kertas itu pelan-pelan. Tampaklah lukisan sebatang pohon besar di tepi sebuah danau yang dikelilingi bunga.

Bunda Izzah mendesah sambil memejamkan mata. Tiba-tiba bulir bening mengalir di kedua pipinya yang mulai keriput. Ia membuka mata perlahan. Jari-jari tuanya menyusuri tepian danau dalam lukisan. Selanjutnya, diraihnya seuntai kalung emas putih di tengah lipatan kertas.

Liontin kalung itu berbentuk bunga Rafflesia terbuat dari batu beryl merah dengan permata intan di bagian tengah.

Bunda Izzah menggenggam liontin itu dengan erat.

“Ya Allah, jika ini satu-satunya jalan yang harus kutempuh agar anakku bisa kembali, aku rela mengorbankan nyawaku, asal anakku selamat,” ratap Bunda Izzah pilu.

Air matanya semakin deras mengalir. Bunda Izzah membentangkan lukisan itu di lantai. Dengan hati-hati, diletakkannya liontin yang dipegangnya di tengah pokok pohon besar di tepi danau, dalam lukisan. Ia berdiri, menanti. Tiba-tiba muncul seberkas cahaya terang menyilaukan mata.

 

Bersambung …

1
Knight
Ceritanya menarik. Alurnya yang tak bisa ditebak selalu memberikan banyak kejutan. Saya tidak pernah bosan mengulang membaca cerita ini. Karya pertama May Ersa yang telah berganti nama pena menjadi Lathifah Nur. Coba karya lainnya jg tayang di sini, bukan di sebelah 😁
Mus Limah
sudah ku baca berkali2 tp nda ada bosennya,ku tunggu karya selanjutnya thor
Knight: Hehe. Sama. Aku jg suka sama karya author ini. Tp authornya udah gak nulis di sini lagi. Pindah ke sebelah dgn nama pena yg beda. Jd Lathifah Nur authornya setelah kabur dr sini
total 1 replies
Dessy Laela
suka dgn ceritanya👍, semangat thor u cerita selanjutnya💪
May Ersa: Makasih, Kak Dessy 🥰 Yuk baca cerita May lainnya di aplikasi N0v3lm3 atau N0v3laku. Cari aja nama pena Lathifah Nur. Bisa jg follow IG @lathifahnur117 dan cek di link bio. Tinggal pilih mau baca cerita yg mn dl. Sdh ada 2 cerita lain yg tamat lho 😊
total 1 replies
Susi Ana
jempol hadir, mampir yuk
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
Susi Ana
jempol hadir, mampir yuk
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
~Nessa
Hadir
jangan lupa selalu mampir di karyaku ya!
makasih.
May Ersa: Mksh, Kak Nessa. Cerita Kk apa?
total 1 replies
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
May Ersa: Mksh, Kak Susi 🥰
total 1 replies
Imah Muslimah
kok baca d sini aq mlh bingung ya thor..nda kayak d noveltoon yak..padahal sama dr mangatoon juga..tp setiap kluar dr bacaan trus masuk lagi..ada aja episode yg tau2 brubah
May Ersa: Mksh, Kk. Kalo Kk punya aplikasi N0v3lM3 atau N0v3l4ku, silakan cari nama pena Lathifah Nur, Kak. udah ada bukuku yg udah tamat jg di sana. Judulnya Lelaki Penakluk Nona Muda. Yg ongoing jg ada 😊. Ditunggu kehadirannya ya, Kak 😊💞
total 3 replies
Ahmad Nur
Mantap jiwa
May Ersa: Terima Kasih, Kk. Klo Kk jg baca di apk sebelah (N*velMe), monggo mampir jg baca novel terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" 😊
total 1 replies
May Ersa
Hai semua...
Maaf ya. udah lama gak up cerita di sini. Bukan berhenti nulis sih, tapi aku hijrah ke lapak sebelah (N*velMe) dengan nama pena yg berbeda (Lathifah Nur).

Udah ada cerita baru di sana, judulnya LELAKI PENAKLUK NONA MUDA. Kalo sobat readers jg punya aplikasinya, kutunggu komen sobat readers di cerita terbaruku 😊
Adining Wuri Kartika
Hai kak,.mampir juga yuk keceritaku.kisah Alia
Blue
syuukkaaa thoor
May Ersa: Makasih, Kk. Klo kk jg suka baca di apk N*velMe, boleh jg baca karya terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" dgn nama pena Lathifah Nur 😊🙏
total 1 replies
Yunita_Ratsa
Hai baca *DUA RANJANG* yuuuk

Ceritanya siap mengaduk-aduk emosimu

❤❤❤❤❤❤❤
Harlindah Mdf
keren.. kyk negri dongeng.. sy syukaa
May Ersa: Makasih, Kk. Klo Kk jg punya Apk Nov*lMe boleh jg baca novel terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" dgn nama pena Lathifah Nur 😊🙏
total 1 replies
Ema Lubis
wauwww
May Ersa: Makasih, Kak 😘
total 1 replies
Ema Lubis
nnti aku mampir thor
May Ersa: Sip! Mksh, Kak. Ditunggu loh... 😊
total 1 replies
TiansePrln🌷
Keren😻😻 kalimat2 nya suka sekali. Terus semangat berkarya 💌💌
May Ersa: Mksh, Kak. Senang Kak Tian merasa terhibur dgn ceritaku. Baca jg novelku yg lain ya, Kak. Boleh jg intip apk sebelah, N*velme, dan nikmati cerita terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" (dgn nama pena yg berbeda) 😊
total 1 replies
Sugiatini
kereennn...
May Ersa: Makasih, Kak. Baca jg novelku lainny ya... klo kk punya apk N*velMe, bisa baca karya terbaruku berjudul "Lelaki Penakluk Nona Muda" (dgn nama pena yg berbeda) 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!