Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.
Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:
Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halo Melbourne, Halo Mimpi
Penerbangan dari Jakarta menuju Melbourne memakan waktu sekitar tujuh jam lamanya. Namun bagiku, waktu itu terasa berjalan begitu lambat, seolah‑olah aku telah menempuh perjalanan selama tujuh tahun penuh.
Aku duduk diam di kursi dekat jendela, mataku menatap lepas ke arah awan‑awan putih yang berarak indah di luar pesawat. Sesekali pandanganku beralih ke layar kecil di depan wajahku yang menampilkan peta rute perjalanan: kami sudah melewati wilayah Denpasar, kemudian melintasi udara di atas Darwin, dan kini pesawat terus melaju menyeberangi hamparan lautan luas yang memisahkan Indonesia dari benua merah, Australia.
Selama perjalanan itu, aku sama sekali tak bisa memejamkan mata meski sejenak.
Bukan semata‑mata karena kenyamanan tempat duduk yang kurang pas untuk beristirahat—meski hal itu memang terasa benar. Namun yang paling membuatku terjaga adalah pikiranku sendiri yang terus bergerak cepat, membayangkan segala kemungkinan yang akan terjadi begitu pesawat ini mendarat nanti.
Apakah aku akan mampu menjalani hari‑hari dengan baik di tempat yang asing ini?
Apakah aku akan mudah akrab dan berteman dengan orang‑orang baru yang berbeda kebiasaan dan bahasanya?
Apakah aku sanggup mengikuti dan menyelesaikan kuliah yang sudah dikabarkan akan terasa berat dan menuntut banyak usaha?
Dan satu pertanyaan yang paling sering muncul, sekaligus yang paling menyakitkan hatiku: Apakah nanti aku akan melupakan Aldo?
Aku merogoh tas kecilku, mengeluarkan ponsel yang masih dalam mode penerbangan, lalu membuka galeri foto yang tersimpan di dalamnya. Di sana ada banyak kenangan bersamanya: potret Aldo saat duduk di kafe Senjakala, tersenyum lembut sambil menggenggam secangkir kopi hitam kesayangannya. Ada foto saat ia berada di apartemennya, sedang tenggelam dalam bacaan buku tebal dengan kacamata yang sedikit melorot di pangkal hidungnya. Dan ada pula gambar saat ia berkunjung ke rumahku, menikmati masakan rendang buatan Mama dengan penuh selera.
Melihat wajahnya dalam layar ponsel, hatiku kembali teguh. “Aku takkan pernah melupakanmu, Aldo. Itu janji yang takkan pernah aku ingkari.”
***
Pukul enam pagi menurut waktu Melbourne—yang berarti sekitar pukul tiga dini hari di Jakarta—pesawat mulai menurunkan ketinggiannya perlahan.
Aku kembali menatap ke luar kaca. Di bawah sana, kota Melbourne tampak terbentang seperti lautan cahaya; titik‑titik lampu kecil yang berkelap‑kelip indah di tengah kegelapan pagi. Terlihat jalanan yang memanjang lurus, gedung‑gedung bertingkat yang menjulang tegak, dan di kejauhan, permukaan laut yang tenang memantulkan sisa cahaya langit.
Inilah Melbourne. Kota yang selama ini hanya ada dalam impian dan rencanaku. Kini aku benar‑benar berada di atasnya.
Pesawat pun mendarat dengan sangat mulus. Terasa guncangan halus saat roda‑roda pesawat menyentuh permukaan landasan, disusul suara gemuruh mesin yang perlahan melambat, hingga akhirnya kami bergerak menuju pintu kedatangan.
Para penumpang mulai berdiri, mengambil tas bawaan dari ruang penyimpanan di atas kepala. Aku pun ikut bangkit berdiri, meski kakiku terasa agak kaku dan lemas setelah duduk terlalu lama dalam posisi yang sama.
Saat itulah aku sadar: Segalanya benar‑benar dimulai dari sini.
***
Pukul enam lewat tiga puluh menit pagi, aku melangkah keluar dari pintu pesawat.
Udara dingin langsung menyergap dan menyapa kulitku begitu aku menuruni garbarata. Dingin yang berbeda jauh dengan hawa sejuk di Jakarta—dingin yang kering, tajam, dan terasa menusuk hingga ke tulang. Di layar informasi bandara tertulis suhu saat ini: delapan derajat Celcius. Aku menggigil tak kuasa menahan, menyadari jaket tipis yang kugunakan sama sekali tak cukup melindungiku dari hawa musim dingin yang sedang berlangsung di bulan Juni ini.
“Aku harus segera membeli jaket yang lebih tebal dan hangat,” pikirku dalam hati seraya berjalan menuju ruang pemeriksaan imigrasi.
Antrean di sana cukup panjang. Puluhan orang dari berbagai negara berdiri tertib di belakang pembatas tali, masing‑masing menggenggam paspor dan dokumen perjalanannya. Aku ikut mengantre dengan sabar, sesekali menengok layar ponselku—namun belum ada sinyal yang muncul. Belum bisa aku menghubungi Aldo maupun keluarga di rumah.
Sekitar tiga puluh menit berlalu, tibalah giliranku menghadap petugas.
“Passport,” ujar seorang petugas berbadan tegap, paruh baya dengan kumis tebal, mengenakan seragam berwarna biru. Ia mengulurkan tangan.
Aku menyerahkan pasporku dengan tenang.
“Purpose of visit? tanyanya, matanya terus meneliti lembar demi lembar dokumen yang ada di tangannya.
“Studi. Master of Arts in Creative Writing di University of Melbourne,” jawabku jelas.
Petugas itu mengangguk singkat. Ia memeriksa berkas‑berkas pendukung sejenak, lalu membubuhkan cap persetujuan di pasporku.
“Welcome to Melbourne.”
“Thank you,” jawabku lega, lalu kembali melangkah menuju ruang pengambilan bagasi. Tak lama kemudian, koper besarku sudah ada di tanganku—berat penuh berisi pakaian dan buku‑buku yang kubawa dari tanah air.
Langkah pertamaku di negeri ini telah selesai dengan baik.
***
Pukul tujuh lewat tiga puluh menit pagi, aku sudah berada di luar gedung bandara.
Udara dingin kembali menyapa dengan lebih tajam, kali ini disertai tiupan angin yang cukup kencang hingga membuat rambutku beterbangan berantakan di wajah. Aku makin menggigil, mencoba memeluk tubuh sendiri agar sedikit lebih hangat.
Di sekelilingku terdengar suara para sopir taksi yang menawarkan jasa kepada para pendatang. Aku berjalan menuju tempat antrean taksi resmi—terlihat rapi dan panjang, berjejer mobil‑mobil berwarna kuning khas kota itu.
“Where to, love?” tanya seorang sopir tua berambut putih dengan senyum yang sangat ramah.
Aku menyebutkan alamat tempat tinggal yang sudah disiapkan dan dipesankan Aldo sebelumnya. “Carlton, please.”
“Hop in.”
Aku duduk di kursi belakang, menutup pintu rapat‑rapat, dan mobil pun bergerak meninggalkan area bandara.
Pukul tepat delapan pagi, kendaraan itu berhenti di depan sebuah bangunan tua yang berarsitektur indah di kawasan Carlton.
Gedung itu tidak terlalu tinggi—hanya sekitar tiga lantai—dengan dinding berwarna bata merah alami dan pintu berwarna hijau tua yang kokoh. Di halaman depannya ada taman kecil sederhana, lengkap dengan bangku kayu dan tanaman hijau yang tertata rapi.
Aku membayar ongkos perjalanan—sekitar lima puluh dolar Australia, jumlah yang cukup menguras isi dompetku saat itu—lalu turun membawa koper beratku.
“Inilah tempatku berteduh selama dua tahun ke depan,” gumamku pelan.
Aku berjalan menuju pintu utama, lalu membuka kunci gerbang dengan nomor sandi yang dikirimkan agen properti lewat surel. Setelah pintu terbuka, tampak lorong sempit yang menuju tangga. Tidak ada fasilitas lift di sana. Sedangkan apartemenku terletak di lantai dua.
Aku menarik napas panjang, mengangkat kembali koper berat itu, lalu mulai menaiki anak tangga satu per satu.
Pukul delapan lewat lima belas menit, aku berdiri tepat di depan pintu apartemenku.
Pintu kayu berwarna cokelat itu tertempel nomor “2A” dengan tulisan yang tercetak rapi. Aku memasukkan kunci yang diberikan pihak pengelola—kunci besar yang gagangnya berbentuk koala yang lucu, meski menurutku tidak terlalu penting ada hiasan seperti itu—lalu memutarnya hingga terdengar bunyi klik.
Pintu terbuka.
Ruangan di depanku terlihat kecil, kira‑kira berukuran tiga kali empat meter, hampir sama luasnya dengan kamar kosku dulu di Depok. Namun suasana dan bentuknya sangat berbeda. Ada dapur sederhana di sudut ruangan, kamar mandi bersih di sisi lain, serta jendela besar yang menghadap langsung ke jalanan di bawah. Dindingnya dicat putih bersih, lantainya terbuat dari papan kayu yang halus, dan di salah satu sudut sudah tersedia kasur tunggal dengan seprai putih yang rapi.
“Selamat datang di rumah baruku,” batinku berbisik.
Aku meletakkan koper di lantai, lalu bergegas menuju jendela dan membukanya sedikit. Udara dingin segar langsung masuk, membawa aroma khas hujan dan tanah yang baru saja basah. Di luar sana, kehidupan mulai bergerak: mahasiswa berjalan tergesa dengan ransel di punggung, pekerja kantor berpakaian rapi bergegas menuju tempat kerja, serta beberapa ibu yang berjalan santai mendorong kereta bayi.
Aku menutup kembali jendela agar ruangan tetap hangat, lalu duduk diam di tepi kasur sambil menatap langit‑langit kamar yang bersih itu.
“Ibu… Ayah… Aldo… aku sudah sampai di sini dengan selamat,” ucapku pelan seolah mereka bisa mendengarnya dari jauh.
Tak lama kemudian, ponselku bergetar pelan. Akhirnya sinyal jaringan sudah terhubung.
Sebuah pesan masuk muncul di layar—pengirimnya Aldo.
“Tari, apakah kamu sudah sampai? Bagaimana keadaanmu di sana?”
Senyum bahagia pun mengembang di bibirku. Aku mulai mengetik balasan dengan jari yang masih sedikit kedinginan.
“Sudah sampai dengan selamat. Tempat tinggalku kecil saja, tapi nyaman dan bersih. Dingin sekali udara di sini… aku sangat merindukanmu.”
Balasan darinya datang dengan sangat cepat.
“Aku pun merindukanmu, Tari, lebih dari yang bisa kau bayangkan. Istirahatlah sebentar setelah perjalanan panjang itu. Jangan lupa makan yang bergizi ya.”
“Baik, Aldo. Kamu pun harus selalu menjaga kesehatan dan jangan lupa beristirahat,” tulisku kembali.
“Janji,” balasnya singkat namun penuh makna.
Aku meletakkan kembali ponsel di samping kasur, lalu merebahkan seluruh tubuhku di atas seprai putih itu. Mataku menatap langit‑langit yang berbeda dari yang biasa kulihat di rumah. Namun aku tahu: meski tempatnya berubah, kehidupanku akan terus berjalan maju.
***
Pukul dua belas siang, aku memutuskan untuk keluar berjalan‑jalan mengenali lingkungan sekitar.
Udara di luar masih terasa dingin—sekitar sepuluh derajat Celcius—namun cahaya matahari mulai menembus celah awan, memberikan sedikit kehangatan yang menyenangkan. Aku berjalan santai menyusuri trotoar jalanan Carlton yang bersih dan tertib.
Di seberang jalan, mataku tertuju pada sebuah kafe kecil yang terlihat nyaman. Ada beberapa kursi kayu yang sudah terpasang di teras luar. Aroma kopi yang baru diseduh serta roti panggang yang hangat tercium samar‑samar terbawa angin—seketika mengingatkanku pada suasana di Kafe Senjakala milik Rendra di Jakarta. Tanpa pikir panjang, aku pun melangkah masuk ke dalamnya.
“Hi, what can I get for you?” sapa seorang gadis muda berambut pendek yang berdiri di balik meja layanan, tersenyum ramah.
“Tea chamomile, please,” jawabku.
“Sure. Anything else?”
“That's it. Thanks.”
Aku membayar pesananku—sekitar empat dolar Australia, harga yang terasa cukup mahal hanya untuk secangkir teh—lalu memilih duduk di kursi dekat jendela agar bisa melihat suasana jalanan dari dalam.
Kafe ini berukuran kecil dan sederhana, kira‑kira empat kali empat meter persegi, berisi meja‑meja kayu sederhana dan kursi lipat yang berjejer rapi. Musik akustik yang lembut mengalir perlahan dari pengeras suara di sudut langit‑langit, menciptakan suasana yang tenang dan damai.
“Inilah kafe baruku,” pikirku sambil mengamati sekeliling. “Tempat di mana aku akan duduk menulis, merenung, dan sering kali merindukan Aldo serta rumah.”
Tak lama kemudian, teh pesananku datang. Aku menyeruputnya perlahan. Rasanya hangat, tidak terlalu manis, pas sekali dengan seleraku.
Aku kembali meraih ponsel, lalu mengirimkan pesan singkat ke dalam obrolan grup keluarga.
“Ibu, Ayah, Dinda, Rangga… aku sudah sampai dengan selamat di Melbourne. Tempat tinggalku kecil saja tapi nyaman dan bersih. Cuacanya dingin sekali di sini. Aku sangat merindukan kalian semua.”
Hanya dalam hitungan detik, pesan balasan mulai berdatangan satu per satu.
Dari Mama: “Syukurlah Nak, Alhamdulillah. Jagalah dirimu dengan baik, Mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu di sana.”
Dari Papa: “Hati‑hati di mana pun kamu berada, Tari. Jangan pernah lupa untuk makan teratur dan istirahat yang cukup.”
Dari Dinda: “Kak… jangan lupa belikan aku oleh‑oleh yang lucu ya dari sana!”
Dan dari Rangga: “Kak, aku sudah bermain gim semalaman kemarin… aku rindu sekali pada Kakak.”
Aku tersenyum haru membaca pesan‑pesan mereka, lalu membalas singkat, “Aku pun merindukan kalian semua, lebih dari apa pun.”
***
Pukul tiga sore, aku kembali ke apartemenku.
Aku mulai membuka isi koper, mengeluarkan pakaian satu per satu, lalu menyusunnya ke dalam lemari kecil yang tersedia. Lemari itu memang sempit—hanya cukup untuk beberapa helai pakaian saja—tapi aku bersyukur, aku tidak pernah membutuhkan banyak barang untuk merasa nyaman.
Setelah beres, aku mengeluarkan laptop, meletakkannya di atas meja kecil dekat jendela, lalu menyambungkannya ke aliran listrik.
“Sekarang saatnya mulai menulis,” bisikku pada diri sendiri.
Aku membuka dokumen kosong di layar. Di bagian atas halaman, aku menuliskan judul:
Bab 22: Halo Melbourne, Halo Mimpi
Jari‑jariku mulai bergerak di atas papan ketik.
“Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, bahwa suatu hari nanti aku akan berdiri di sini—di seberang samudra luas, di kota yang belum pernah kukunjungi sebelumnya, sendirian, jauh dari pelukan keluarga dan jauh dari sosok Aldo yang kucintai. Namun kini, di sinilah aku berada…”
Kata‑kata itu terus mengalir keluar dari hatiku, perlahan namun pasti—seperti aliran sungai yang tenang namun tak pernah berhenti bergerak menuju muara.
“…dan aku berjanji akan menuliskan segala hal yang aku rasakan dan alami di sini. Tentang perjuangan beradaptasi, tentang makna cinta yang jaraknya dipisahkan lautan, serta tentang rasa rindu yang tak pernah benar‑benar hilang meski jarak memisahkan. Karena di tempat inilah aku mulai mengenal dan menemukan kembali jati diriku yang sesungguhnya. Di Melbourne. Di tengah perjalanan mengejar mimpi.”
Aku berhenti sejenak, membaca ulang baris terakhir yang baru saja kutulis.
“Bagus sekali, Tari. Teruskanlah,” dorongku dalam hati.
Aku kembali tersenyum, lalu melanjutkan mengetik hingga halaman demi halaman terisi cerita baru.
***
Pukul enam sore, langit luar sudah mulai berubah menjadi gelap.
Aku berdiri di balkon sempit apartemenku—hanya cukup untuk satu orang berdiri, tak lebih dari itu. Udara dingin kembali terasa menusuk kulit, namun aku enggan masuk ke dalam ruangan. Aku ingin menikmati momen sore pertama di kota ini sendirian.
Di kejauhan, lampu‑lampu jalan dan gedung‑gedung tinggi mulai menyala satu per satu, berkelap‑kelip indah bagaikan bintang‑bintang yang turun menghiasi permukaan bumi.
“Pemandangan seindah ini pasti akan sangat disukai Aldo,” gumamku pelan membayangkan wajahnya.
Tanganku terulur meraih kalung yang kugantungkan di leher—liontin berbentuk buku kecil pemberian Aldo—lalu menggenggamnya erat di telapak tangan.
“Aku akan menjalani semuanya dengan baik, Aldo. Aku janji,” ucapku lirih.
Aku menarik napas panjang, menghirup udara dingin malam itu hingga memenuhi paru‑paru, lalu berbalik masuk ke dalam kamar, menutup pintu balkon rapat‑rapat, dan merebahkan diri kembali di kasur empukku.
Di luar sana, angin malam Melbourne terus berhembus berbisik di sela‑sela dinding gedung.
Namun di dalam hatiku, hanya ada satu nama yang terus berulang disebut…
Aldo.