Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Posko Kkn..
Setelah makan malam, mereka kembali berkumpul di teras posko. Suasana malam di Desa Sukamaju terasa tenang, hanya ditemani suara jangkrik dari kejauhan.
Beberapa dari mereka sibuk menikmati kopi hangat, sebagian lagi asyik mengobrol santai di tengah dinginnya malam. Di sudut teras, Arga terlihat fokus dengan laptop di pangkuannya, jemarinya sesekali bergerak di atas keyboard.
Sementara Alya kembali tenggelam dengan ponselnya, sibuk melanjutkan drama Korea yang tadi belum sempat selesai ia tonton.
“Oh iya, tadi harga sayurnya mahal-mahal banget,” ucap Nadia tiba-tiba membuka obrolan.
“Ehh iya, satu ikat aja dua puluh ribu,” sahut Adrian sambil menggeleng.
“Bukan cuma sayur, ikannya aja mahal banget. Dua puluh lima ribu,” timpal Dimas.
“Nah, bukan cuma itu. Tempenya lima belas ribu, sedangkan tahunya dihitung satu biji tiga ribu,” tambah Siska.
Alya yang sejak tadi mendengar akhirnya ikut menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
“Itu kan murah.”
Mendengar jawaban Alya, seketika seMua kepala langsung menoleh ke arahnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
“Murah apanya, kocak,” balas Rizki cepat.
“Oh… mahal ya?” sahut Alya polos sambil menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal.
Nadia yang duduk tak jauh dari sana Kemudian menyandarkan tubuhnya pada tiang kayu sambil ikut menatap Alya.
“Coba deh hitung. Seratus ribu buat seminggu… tiga belas orang… gimana?”
“Murah.”
Jawaban santai Alya sontak membuat suasana di teras mendadak hening beberapa detik, semua orang menatapnya seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
“SSSTTT,” Tiara langsung memotong sambil menahan tawa. “Anak orang kaya gak diajak.”
Mendengar ucapan Tiara, yang lain Pun ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Alya.
“Itu aja seratus ribu seminggu cuma makan sayur,” sahut Adrian masih ikut menertawakan Alya.
“Ahh… bisa beneran kurus kering gue di sini,” keluh Dion dramatis.
Keluhan Dion itu kembali memancing tawa, membuat suasana teras Posko malam itu terasa semakin ramai dan hangat.
Tak lama kemudian, dua orang bapak-bapak terlihat berjalan mendekati posko, langkah mereka santai sambil sesekali menatap ke arah anak-anak KKN yang masih berkumpul di teras.
“Lagi pada ngumpul ya?” sapa salah satu dari mereka.
“Iya, Pak,” jawab Adrian.
“Dari mana, Pak malam-malam gini?” tanya Rizki.
“Oh ini, habis dari rumah Pak Kades,” jawab bapak itu.
“Oh sini duduk dulu, Pak.”
Setelah dipersilakan, kedua bapak itu pun ikut duduk bergabung bersama mereka di teras posko.
“Kalian betah di sini?” tanya Pak Anwar.
“Iya, Pak. Betah kok… walaupun gak ada sinyal, tapi masih untung karena masih ada listrik,” jawab Adrian.
Pak Anwar tertawa kecil. “Hahaha, baguslah kalau betah.”
Andre yang sejak tadi memperhatikan sekitar akhirnya bertanya, “Pak, kalau boleh tahu… rumah ini sebenarnya punya siapa ya?”
Pak Anto menjawab santai. “Oh ini rumah memang sudah lama gak ada pemiliknya. Sekarang rumah kosong.”
“Pemiliknya ke mana, Pak?” tanya Dimas.
“Sudah meninggal lima tahun lalu. Anak semata wayangnya sekarang menetap di kota.”
“Meninggal, Pak?” Adrian ikut penasaran.
“Iya… katanya sih jatuh di tangga situ.”
Pak Anto langsung menunjuk ke arah tangga kayu di samping teras. Kebetulan, tepat di tempat itu Alya sedang duduk santai sejak tadi.
Seketika—
“AAAHH PAPI… ALYA PENGEN PULANGGG!”
Alya langsung berdiri histeris lalu buru-buru lari masuk ke dalam posko.
“Eh? Eh? Aduh gimana nih?” semua langsung panik.
“Itu temennya gapapa?” tanya Pak Anwar bingung.
Adrian tertawa canggung.
“Hahaha gapapa Pak… emang orangnya sedikit dramatis.”
Tak lama Alya keluar lagi.
Wajahnya cemberut, matanya bahkan terlihat sedikit memerah.
“Kenapa?” tanya Dion bingung.
Alya menatap mereka kesal.
“Kalian kenapa masih pada di luar sih?”
Ia lalu duduk di samping Tiara, tangannya langsung memeluk erat lengan sahabatnya.
“Lah kami masih mau ngobrol,” jawab Adrian santai.
“Dih… ngeselin banget.”
“Kalau ngantuk masuk aja, Al.”
“Nggak. Gimana kalau pas aku tidur terus hantu pemilik rumahnya datang?”
Semua langsung tertawa geli.
“Tenang aja nak Alya, hantunya gak bakal gentayangan kok. Orangnya baik,” ujar Pak Anwar.
“Huh… baguslah kalau begitu.”
Pak Anwar tersenyum tipis.
“Tapi…”
Alya langsung menoleh cepat.
“Tapi apa, Pak?”
Pak Anwar menunjuk rumah panggung di kejauhan. Rumah itu terlihat kosong, namun lampunya masih menyala redup.
“Tapi beda kalau rumah itu.”
Suasana mendadak sunyi.
“Kenapa dengan rumah itu, Pak?” tanya Adrian.
“Rumahnya berhantu, Pak?” sela Alya cepat.
“Kalian jangan dekat-dekat sama rumah itu ya. Apalagi sendirian.”
Seketika semua diam.
Arga yang sejak tadi fokus dengan laptopnya akhirnya mengalihkan pandangan, lalu ikut bertanya setelah mendengar suasana mendadak berubah serius.
“Emangnya kenapa, Pak?”
Pak Anwar pun menjawab dengan santai, seolah hal yang baru saja ia katakan bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
“Anjing pemilik rumah itu galak sekali. Takutnya kalian dikejar.”
Suasana mendadak hening selama beberapa detik, namun sesaat kemudian—
“HAAHAHAHA!”
Tawa langsung pecah.
“Saya kira rumahnya berhantu, Pak,” ucap Adrian sambil tertawa.
Pak Anto ikut terkekeh.
“Hahaha, enggak. Kampung ini aman kok. Gak ada hantu.”
“Oh iya, kami pamit dulu ya. Kalian juga harus segera masuk, udah tengah malam.”
“Iya Pak,” jawab mereka bersamaan.
Setelah kedua bapak itu pergi, Arga langsung berdiri sambil menutup laptopnya.
“Ayo masuk.”
Tanpa menunggu jawaban, Arga berjalan lebih dulu ke dalam.
Yang lain ikut menyusul.
Begitu masuk ke dalam posko, Alya segera duduk di tempat tidurnya, ekspresinya terlihat sedikit gelisah setelah obrolan yang baru saja ia dengar di Luar.
“Ihh… kok suasananya jadi horor gini sih…” gumamnya gelisah.
“Tidur aja Al, aman kok. Gak usah takut,” teriak Adrian dari tempatnya.
“Kayaknya aku bakal susah tidur deh ini…”
“Coba aja tidur Al, gapapa kok,” ucap Tiara dari sampingnya.
Alya akhirnya membaringkan tubuhnya dengan nyaman di atas kasur tipis itu. Tidak butuh waktu lama, hanya beberapa menit kemudian napasnya mulai terdengar teratur menandakan gadis itu sudah terlelap.
Rizki yang melihat pemandangan itu langsung terkekeh pelan.
“Kocak, katanya bakal susah tidur… padahal baru nempel bantal aja udah tidur.”
“Emang kocak dia tuh,” timpal Dion sambil ikut tertawa kecil.
Di sisi lain, Arga sempat melirik ke arah Alya yang kini sudah tertidur nyenyak tanpa beban. Ekspresinya masih sama seperti biasa, sulit ditebak dan nyaris tak menunjukkan apa pun.
Arga kemudian ikut merebahkan tubuhnya, menatap cukup lama ke arah langit-langit kayu posko yang tampak redup diterpa cahaya lampu. Tak ada yang tahu apa yang sedang memenuhi pikirannya malam itu.
Beberapa saat kemudian, Arga akhirnya memejamkan mata, membiarkan malam di Desa Sukamaju kembali tenggelam dalam keheningan.