Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.
Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.
"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Racun Paranoia dan Langkah Umpan
Malam kembali merayap di atas langit Monako, membawa sisa-sisa aroma tanah basah pasca-hujan badai yang melanda Mansion Garrick. Di dalam kamar rawat steril Mansion Ketiga, keheningan terasa begitu pekat. Alana duduk bersandar pada tumpukan bantal medis, jemari-jemarinya yang lentik perlahan membalikkan halaman sebuah buku tua bercover kulit yang disediakan oleh Xavier. Di balik jubah sutra hitam tebalnya, rasa perih di punggung akibat luka cambuk yang mulai mengering masih sesekali berdenyut-denyut, namun ekspresi wajahnya tetap sedatar permukaan telaga es.
Pukul sebelas malam, sensor mekanis pada pintu kaca buram kamar rawatnya berbunyi pelan. Pintu menggeser terbuka tanpa suara, namun aura yang merembes masuk seketika membuat suhu udara di dalam ruangan terasa turun beberapa derajat.
Dominic Garrick melangkah masuk.
Sang putra mahkota pertama tidak datang dengan pasukan elitenya; dia datang sendirian, meninggalkan keangkuhan lobi utama untuk mendatangi ranjang adik tirinya. Dominic mengenakan kemeja hitam legam dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan guratan otot lengan yang kokoh dan bekas luka tembak lama yang samar. Sepasang mata elangnya yang dingin langsung mengunci sosok Alana, sebuah tatapan penuh selidik yang sanggup mengintimidasi mental musuh paling tangguh sekalipun di medan perang.
"Dua puluh empat jam yang lalu, Faksi Pertama runtuh tanpa perlu aku mengerahkan satu butir peluru pun," Dominic membuka suara, suaranya berat, bariton, dan bergaung dengan otoritas yang mutlak. Dia melangkah mendekat, berhenti tepat di sisi ranjang, menatap ke bawah ke arah Alana dengan postur tubuh yang masif. "Ibu tirimu terkurung di menara barat, dan Cedric kini merangkak di barak sebagai prajurit rendahan. Semua itu terjadi karena sebuah konfrontasi psikologis di lobi pagi hari. Kamu bermain sangat rapi untuk ukuran seorang gadis yang baru saja hampir mati di atas meja operasi, Alana."
Alana tidak mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya selama beberapa detik, sebelum akhirnya menutup buku itu secara perlahan. Dia mendongak, menyambut tatapan membunuh Dominic dengan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada getaran ketakutan, tidak ada kepanikan yang biasanya ditunjukkan orang-orang saat berhadapan dengan sang algojo utama keluarga.
"Tuan Muda Dominic tampaknya terlalu melebih-lebihkan saya," jawab Alana, suaranya lirih namun terdengar sangat jernih di dalam kamar yang sunyi itu. "Kekacauan di Faksi Pertama hanyalah akibat dari bom waktu yang mereka ciptakan sendiri. Keserakahan Nyonya Eleanor dan temperamen buruk Tuan Muda Cedric adalah sumbu apinya. Saya hanya kebetulan berada di sana untuk menyalakannya sedikit lebih cepat."
Dominic menyipitkan matanya, condong ke depan hingga wajahnya hanya berjarak beberapa puluh sentimeter dari Alana. Tekanan udara di sekitar mereka terasa semakin menghimpit. "Jangan mencoba membodohiku, Tikus Kecil. Xavier tidak memiliki otak taktis untuk merancang sabotase saham serumit itu, dan Julian terlalu pengecut untuk menahan amunisi militer tanpa jaminan kemenangan. Kamu menyatukan mereka berdua. Kamu menggunakan uang Xavier dan jaringan Julian. Katakan padaku, apa tujuan akhirmu? Menghancurkan keluarga ini?"
Alana menarik sudut bibirnya, mengukir sebuah senyuman tipis yang sangat halus—sebuah senyuman manipulatif yang justru membuat Dominic semakin waspada. Ini adalah momen krusial. Alana tahu Dominic terlalu setia pada Victor, dan untuk menundukkannya suatu hari nanti, dia harus mulai menanamkan benih keraguan di dalam kepala sang putra mahkota.
"Menghancurkan keluarga ini? Tentu tidak," bisik Alana, matanya berkilat tajam. "Saya justru ingin menyelamatkan apa yang berharga. Tuan Muda Dominic adalah tangan kanan Ayah, perisai terbaiknya di seberang laut. Namun, apakah Anda pernah bertanya-tanya... mengapa Ayah membiarkan Kakak terus berada di luar negeri selama bertahun-tahun, sementara Faksi Pertama dibiarkan menguasai seluruh aset domestik di Monako?"
Alana menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan malam memberi tekanan psikologis pada kata-katanya.
"Ayah tahu seberapa kuat Anda. Dan seorang penguasa tertinggi seperti Victor Garrick tidak pernah menyukai siapa pun yang terlalu dekat dengan takhtanya—bahkan anak pertamanya sendiri. Kembalinya Anda malam ini bukan karena Ayah ingin memberikan takhta Faksi Pertama kepada Kakak, melainkan karena Ayah membutuhkan algojo untuk membersihkan kekacauan yang tidak bisa dia selesaikan sendiri. Begitu tugas Anda selesai, apakah Anda yakin Ayah tidak akan mengirim Anda kembali ke seberang laut, menjauhkan Anda dari pusat kekuasaan?"
Kata-kata Alana menghantam ego taktis Dominic dengan sangat presisi. Selama bertahun-tahun, di balik kesetiaan butanya, Dominic selalu merasakan percikan kecurigaan yang sama dari ayahnya. Mendengar ketakutan terbesarnya diucapkan dengan begitu gamblang oleh seorang gadis remaja membuat rahang Dominic mengeras, urat di pelipisnya menegang menahan gejolak emosi.
"Kamu sedang bermain dengan maut, Alana," desis Dominic, tangan kanannya mencengkeram besi ranjang medis hingga berderit keras. "Satu perintah dariku, dan aku bisa membuatmu lenyap dari Mansion ini tanpa jejak."
"Anda bisa melakukannya," sahut Alana tanpa berkedip sedikit pun. "Tetapi jika Anda melenyapkan saya, Anda juga akan kehilangan satu-satunya orang yang bisa membantu Anda mengintegrasikan seluruh sistem keuangan Faksi Pertama yang baru saja dialihkan ke tangan Anda. Xavier dan Julian tidak akan pernah membuka brankas mereka untuk Anda... kecuali atas perintah saya."
Dominic menatap Alana dalam diam selama hampir satu menit, mencoba mencari celah kebohongan di mata gadis itu, namun dia tidak menemukan apa pun selain tekad sedingin es. Dengan dengusan dingin, Dominic tegak kembali, memutar tubuhnya dan melangkah pergi. "Perjamuan makan malam formal besok malam di aula utama. Ayah memerintahkan seluruh anak keluarga Garrick hadir. Jangan terlambat, Alana. Dan pastikan kamu memakai gaun yang bisa menyembunyikan luka cambukmu."
Begitu pintu bergeser menutup dan langkah kaki Dominic menjauh, tirai pembatas di sudut ruangan tersingkap. Julian dan Xavier melangkah keluar dengan wajah yang tegang setelah menguping seluruh pembicaraan dari balik bayangan. Xavier langsung duduk di tepi ranjang, menyambar tangan Alana yang dingin dan menggenggamnya erat dengan sifat protektif yang kian menggebu-gebu.
"Bajingan itu benar-benar mengancammu," geram Xavier, matanya berkilat haus darah yang pekat. "Aku bersumpah, jika dia berani menyentuhmu lagi, aku akan meledakkan seluruh jet pribadinya."
"Tenang, Xavier. Dominic hanya sedang menguji ombak," sela Julian sembari membetulkan letak kacamatanya, matanya menatap Alana dengan rasa kagum yang mendalam. "Taktik psikologis yang luar biasa, Alana. Kamu baru saja menyuntikkan racun paranoia ke dalam pikiran pria paling setia di keluarga ini."
Alana melepaskan genggaman Xavier perlahan, lalu menatap Julian dengan tatapan yang kembali fokus pada papan catur mereka. "Dominic terlalu kuat jika kita hadapi secara frontal sekarang. Kita butuh umpan lambung untuk membuatnya merasa menang dan menurunkan kewaspadaannya. Julian, besok pagi, biarkan jaringan logistik Faksi Keduamu mengalami sedikit kebocoran data di sektor pelabuhan utara. Biarkan Dominic mengendus dan menyitanya."
Julian mengangguk mengerti, sebuah senyuman taktis yang cerdas terukir di wajah pucatnya. "Dia akan mengira dia berhasil menekan kita karena kita mulai ceroboh, sementara di balik layar, Adrian bisa menggunakan celah investigasi penyitaan itu untuk menanamkan malware pelacak ke dalam server pribadi Dominic. Sempurna."
"Dan Xavier," Alana beralih menatap sang pemilik kasino dengan sebuah tatapan tipis yang sarat makna. "Siapkan gaun terbaik untukku besok malam. Kita akan menghadiri perjamuan itu, bukan sebagai korban yang ketakutan untuk diadili, melainkan sebagai sekutu yang siap mengambil alih jalannya permainan."