Embun tidak pernah menyangka, jika dia akan berhubungan dengan seorang Bos Mafia yang kejam.
Menjadi pemuas dan juga pelampiasan amarah, Embun berusaha bertahan demi keamanan keluarganya.
Joshua Bram, membalas dendam pada cinta pertamanya yang sudah membuatnya terluka. Namun dia malah terjebak pada cinta yang kembali membara.
Penasaran...
Yuk, lanjut baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusti Sekar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERIMA KASIH.
Saling terdiam disebuah ruangan serba putih, hanya suara alat yang digunakan dokter untuk mengobati pasiennya. Sesekali pemuda itu merintih sakit saat sebuah peluru di Tarik keluar dari dalam tubuhnya. Dokter Fajar sedikit terkejut melihat seorang Joshua Bram bisa terluka seperti ini.
Dengan pelan-pelan ia menutup luka di bahu dan paha Joshua sembari sesekali melirik Edward yang terus berjaga dan mendampingi Joshua.
“Sudah selesai Tuan” ujar Dr. Fajar.
“Jangan bicara hal ini ke siapapun, jika kamu berani bicara. Nyawamu sebagai gantinya”
Joshua mengancam Dr. Fajar agar tidak membocorkan image nya yang terluka karena tertembak, karena itu bisa menjadi kesempatan untuk para musuhnya menyerang Joshua disaat ia lemah.
“Baik Tuan” Dr. Fajar hanya menurut karena takut.
Tak berselang lama, pintu ruangan itu terbuka dan menampakan sosok atasan Dr. Fajar yang dikenal sangat dekat dengan Joshua.
“Dr. Andre”
“Dr. Fajar, bisa anda tinggalkan kami bertiga sebentar”
Dr. Fajar hanya mengangguk dan bergegas pergi, ia sendiri juga tidak nyaman berada di ruangan Bersama dengan para Mafia seperti itu. Setelah pintu tertutup Kembali dan hanya menyisakan mereka bertiga. Dr. Andre segera bertanya penyebab terlukanya Joshua.
“Joshua, bagaimana bisa kamu terluka?” tanyanya dengan rasa khawatir.
“Dokter, aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil, sebentar lagi akan sembuh” balas Joshua santai.
Melihat dibelakangnya ada Edward, sontak Dr. Andre langsung menuduh Edward tidak becus dalam menjaga Joshua.
“Gimana bisa Joshua tertembak, apa yang kamu lakuin?”
“Maaf Pak, saya sendiri juga terkena luka tusuk karena gadis itu” Edward membuka bajunya dan menunjukan perutnya yang diperban.
“Kalau kamu sudah tidak mampu menjadi pengawal Joshua, aku akan mencari ganti” tegas Dr. Andre yang marah.
“Paman, tidak perlu se emosi ini. Ini bukan salah Edward, yang melukai kami adalah seorang perempuan” Ucapan Joshua tentu membuat Dr. Andre terkejut.
“Perempuan? Bagaimana bisa?”
Joshua tersenyum miring. “Karena dia bukan sembarang perempuan, dia adalah Wendy -adik kandung Peter Gilbert”
Dr. Andre tercengang mendengarnya, ia tidak percaya jika putri Tuan Gilbert masih hidup. Bagaimana mungkin itu terjadi, padahal sudah jelas semua anak Tuan Gilbert mati dalam kecelakaan itu.
“Apa kamu yakin Josh? Bagaimana mungkin dia yang sudah jelas mati, bisa hidup lagi”
“Aku sendiri juga terkejut Paman, karena itu aku memutuskan untuk Kembali Jakarta untuk mencarinya. Aku ingin menghancurkannya dengan caraku sendiri, sedikit berbeda dengan Ayah yang licik”
Joshua beranjak dari tempatnya, sebelum benar-benar pergi ia Kembali melirik Dr. Andre yang ternyata Pamannya sendiri atau lebih tepatnya adik dari Ayahnya.
“Paman, kali ini jangan ikut campur dengan urusanku. Biar aku yang menyelesaikannya sendiri, jangan pernah berusaha mencari keberadaan Wendy”
Pintu tertutup dengan cukup keras, Dr. Andre terlihat marah dengan Joshua yang sekarang tidak mau patuh dengannya. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat, Dr. Andre murka dengan keponakannya sendiri.
...***...
Joshua dan Edward berjalan menyusuri Lorong Rumah Sakit yang tampak ramai dengan para pembesuk ataupun para keluarga pasien. Ponselnya berdering, pria itu segera mengangkat teleponnya. Senyuman miring terukir di bibirnya.
“Hallo Rachel, apa kamu sudah merindukanku hm?”
“Tuan, jangan bercanda ya. Gimana keadaanmu? Kamu udah diobati?” tanya Rachel khawatir.
“Tenang saja sayang, aku baik-baik saja. Ini aku perjalanan pulang untuk bertemu kamu”
Dari seberang telepon terdengar jika Rachel tertawa malu, entah jurus apa yang digunakan Joshua sampai bisa membuat Rachel yang semula membencinya kini malah tergila-gila dengannya.
Karena terlalu fokus dengan teleponnya, Joshua tidak menyadari jika ada seseorang yang tengah tergesa-gesa. Orang itu tidak sengaja menabrak Joshua sampai membuat beberapa obat ditangannya terjatuh dilantai.
“Ah, maaf Pak maaf. Saya gak sengaja” ujar pemuda itu dengan cepat.
Joshua tidak bersuara, ia hanya terdiam sembari mengamati pemuda itu dengan tatapan tajam.
“Maaf Pak, saya beneran gak sengaja, saya lagi buru-buru karena pacar saya baru siuman” pemuda itu selesai memungut Kembali obat-obatnya.
“Hati-hati kalau jalan” pesan Joshua dan langsung meninggalkannya.
Pemuda itu segera berlari Kembali menuju ruang rawat yang hanya berada disebelah kiri setelah mereka bertabrakan, sekilas Joshua menoleh kearah pemuda itu yang memasuki sebuah kamar. Namun ia Kembali melanjutkan perjalanan pulangnya.
“Dokter, bagaimana kabar dia?” pemuda itu langsung bertanya setelah melihat Dokter berada di ruangan itu.
“Tuan Nando, keadaan Nona Embun sudah lebih baik membaik. Dia juga sudah sadar” ujar Dr. Fika menjelaskan.
“Nona Embun harus lebih banyak istirahat, semalam ia pingsan karena dehidrasi dan perutnya kosong, padahal dia sedang datang bulan. Karena itu, dia menjadi lemah secara fisik. Tapi setelah istirahat beberapa hari, dia akan Kembali sehat”
Nando bernapas lega, ia senang mendengar kabar ini. Setelah memberi kabar baik ini, Dr. Fika permisi untuk keluar. Nando menghampiri ranjang tempat Embun dirawat, ia menghampiri Embun yang masih terbaring lemah dengan infus yang menancap ditangannya.
Gadis itu tengah beristirahat setelah mendapat suntikan dari Dr. Fika, semalaman Nando menjaganya. Bahkan hari ini ia rela ijin untuk tidak masuk kuliah demi menemani Embun.
Walau Ayahnya sempat marah dan mencarinya, namun Nando berusaha memberi pengertian pada Ayahnya dan meminta tolong untuk menyembunyikan masalah ini dari siapapun. Bagi Nando, yang bisa ia percayai hanyalah Ayahnya .
...***...
Sore hari perlahan Embun mulai membuka matanya, gadis itu terbangun dari tidurnya. Ia Kembali mengamati bangunan putih yang mengelilinginya, kepalanya masih sedikit pusing. Ia mendengar suara dari arah samping kanan.
Ternyata itu Nando yang tengah menyiapkan makan malam untuk Embun, gadis itu sempat tidak percaya dengan ucapan Dr. Fika yang memberi tahunya jika seseorang bernama Arnando lah yang semalam membawanya kesini.
“Nando” Embun memanggil dengan suara lemahnya.
Nando segera menoleh, ia merasa sangat senang melihat Embun sudah bisa memanggilnya. Pemuda itu duduk di kursi samping ranjang Embun.
“Embun, kamu udah bangun?” tangan Nando menggenggam lembut tangan kanan Embun.
Gadis itu mengangguk lemah, senyuman tipis terukir diwajahnya. Bibirnya begitu pucat, ia terlihat sangat rapuh sekarang. Nando sangat tidak tega melihatnya.
“Kamu mau kemana? Istirahat dulu”
Dengan lembut Nando menahan Embun yang hendak bangun dari tidurnya. “Udah, kamu butuh apa? Kamu jangan banyak gerak dulu”
“Aku haus” ujarnya lemah.
Tanpa menunggu lama, Nando segera meraih segelas air putih yang sudah disiapkan Suster di sana. Ia membantu Embun untuk meminum air putih tersebut, terlihat sekali jika ia sangat peduli dengan Embun.
“Kamu butuh apa lagi?”
Mendengar pertanyaan Nando malah membuat Embun ingin tertawa, gadis itu pun tertawa kecil yang membuat Nando merasa bingung.
“Loh, kok kamu malah ketawa sih? Emangnya aku salah tanya ya?”
“Kamu lucu banget Ndo, udah kayak Mama aja.”
Melihat Embun tersenyum, Nando pun ikut tersenyum. “Aku seneng lihat kamu baik-baik aja”
Tangan lembut Nando mengusap lembut pipi Embun, gadis itu sendiri senang melihat Nando ada di sampingnya. Padahal selama ini ia berpikir jika Nando tidak benar-benar peduli dengannya, karena Nando selalu menutup-nutupi kedekatan mereka dari teman-temannya. Namun sekarang, ia sangat bersyukur bisa mengenal seorang Nando.
“Nando, terima kasih”
To Be Continued...
Jangan lupa Klik Favorit.
Tinggalkan Like, Komen dan Subscribe ya. Terima kasih ❤️
Salam dari
- Janji Palsu Tuan Muda -