NovelToon NovelToon
Key And Bian

Key And Bian

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:12.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: LaSheira

Selamat Membaca kisah Key And Bian 💖💖

Takdir masa lalu Presdir Adiguna Group dan seorang model bernama Jesika, telah membuat sebuah benang kusut untuk kehidupan anak-anak mereka.

Key dan Bian dua manusia yang mengenal arti cinta dengan cara berbeda. Semua terasa sederhana jikalau itu hanya tentang rasa mereka berdua. Tentang cinta berbeda status, tentang orang ketiga. Namun takdir masa lalu orangtua telah menyeret mereka dalam hubungan rumit tentang penghianatan, tentang ibu yang tersakiti, tentang kebencian yang diwariskan.


Dan bagaimana kalau takdir masa lalu itu memunculkan seseorang, anak yang tak diketahui. Dari situlah rumitnya takdir masa lalu itu akan terurai.

Akankan cinta Key dan Bian bersatu menuju perayaan?

Akan ada banyak tawa dan bahagia, namun juga akan ada airmata.

selamat membaca 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaSheira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Basma (Part 1)

Hari ini sepulang berjualan somai, Key

punya rencana untuk membelikan Basma ponsel baru. Ia menghitung-hitung semuanya

dengan cermat. Apa perlu, ia membeli dua ponsel. Satu untuknya dan

satu untuk Basma. Sebenarnya ia

tidak terlalu membutuhkan, tapi waktu itu Basma sudah pernah mengatakan, bahwa

ia akan menolak kalau dia tidak membeli untuk dirinya sendiri. Hari ini

cuacanya  cukup terik. Key duduk kelelahan sambil minum es dugan.

Somai dagangannya sudah hampir habis.

“ Bibi Hanum mau makan somai?” tanyannya

pada pedagang soto itu. Dia duduk dengan membawa segelas dawet. Sepertinya

cuaca hari ini benar-benar menyiksa. Tenda-tenda yang melindungi

para pedagang dan kursi-kursi

seperti tertembus. Panas menguap dan menembus sampai ke kulit.

“ Boleh Key. Panas sekali hari ini.”

Menyeruput esnya.

“ Ia Bi.” Key bangun, mengambilkan

seporsi somai. Lalu kembali, ia duduk dan kembali menyeruput es dugannya. “

Dunia semakin panas ya Bi.”

“ Ini masih mending Key, lima tahun

lalu taman ini meranggas dan kering. Pemerintah benar-benar berhasil merubah

taman ini. Dulu Bibi jualan di sini cuma bermodal tenda-tenda plastik gitu.

Sekarang sudah kerenlah.” Ia mulai

pelan-pelan memakan somainya.

“ Bener Bi. Merubah kebiasaan

masyarakat dalam lima tahun itu prestasi luas biasa pemerintah kota. Apalagi dukungan

mereka kepada pedagang-pedagang kecil seperti kita ini. Rasanya Key sangat

berterimakasih, terutama tenda-tenda ini. Hihi.” Ia menghabiskan tegukan terakhir

es dugannya. “Bibi mau bawa pulang somai, aku bungkusin ya.”

“ Memang kamu sudah mau pulang?”

“ Ia Bi, mau  ada yang dibeli.”

“ Boleh, Wisnu sama Tama pasti

girang kalau dibawain somai.”

“ Ih, kangen lho, sama si kembar,

pasti tambah ganteng ya.”

Wisnu dan Tama bocah kelas 2 SD yang

lucu dan imut, Key selalu tidak tahan untuk mencubit dan menciumi pipi mereka.

Sampai pernah menangis saking Key merasa gemas. Ia memasukan semua sisa somai

kedalam mangkok, dan memberikan kuah secara terpisah.

“ Bibi titip cubit pipinya Wisnu

sama Tama ya. Hehe.”

“ Makasih ya Key.”

Akhirnya Key melajukan mobilnya pulang.

Ia istirahat sejenak di rumah, sambil meluruskan kaki. Lagi-lagi menimang-nimang.

Mau beli ponsel baru berapa ya. Diambilnya buku tabungan di laci. Memperhatikan

dengan sangat seksama. Tabungannya sudah cukup banyak, sebagai biaya persiapan

kuliah Basma. Dan orderan 400 porsi juga ada di depan mata. “ Baiklah.” Ia

sudah mengambil keputusan, lalu beranjak menuju kamar untuk ganti baju. Nanti

ia akan langsung pergi ke minimarket.

 

 “ Berapakali pun datang kemari tempat

ini tetap mengagumkan.” Key berdecak kagum, memasuki pintu Grand mall. Hawa

sejuk langsung menyebar keseluruh tubuhnya. Aroma makanan tercium, dia

melihat sebentar, puluhan gerai

makanan yang rapi berjajar, kursi-kursi yang dipenuhi pengunjung. “Tempat ini

selalu ramai setiap hari.” Key melanjutkan jalannya. Dia menuju lift, sudah

banyak orang yang juga berdiri mengantri. Tubuhnya yang mungil, tengelam

di antara kepala-kepala orang yang lebih tinggi darinya.

 Pintu lift terpuka, orang-orang keluar.

Key berjalan terdorong masuk. Bersamaan itu Bian dan Anjas berjalan keluar.

Mereka tidak menyadari satu sama lain. Sampai Bian berhenti sejenak, dia

menoleh ke dalam lift yang tertutup. Memperhatikan dengan seksama, namun bayangan

yang melintas di matanya tidak terlihat.

 “ Kenapa?” Anjas menepuk bahu Bian.

 “ Tidak. Ayo pergi.”

 Key mundur-mundur, karena dia berada

tepat di belakang wanita berbadan tinggi besar. Seorang ibu muda yang berpenampilan

modis dan cantik. Cantik sekali dia, apa aku bisa secantik itu ya suatu hari

nanti. Key tersenyum sendiri. Sampai lift terbuka, ada yang keluar, ada yang

masuk. Akhirnya sampailah dia dilantai 4. Ia menghela nafas panjang. Ya tuhan,

tempat apa ini. Kenapa banyak sekali manusia berjejalan di sini, apa setiap hari

mereka ini ganti ponsel.  Berjalan sambil melihat-lihat.  Apa seperti

bayi yang lahir di muka bumi setiap detik, ada jenis ponsel baru juga setiap

detik. Berkali-kali Key berdecak kagum. Padahal, untuknya bisa membeli ponsel

harus melalui jalan panjang yang penuh perhitungan.

 Setelah berpindah dari satu toko ke toko

yang satunya. Membandingkan harga dan model Key menentukan pilihan. Ia memilih

warna biru untuknya dan putih untuk Basma. “ Kasih bonus perdana sama casing

pelindung juga Kak, boleh ya.” Wajah polosnya yang seperti anak sekolahan, meluluhkan

hati. Sudah dapat diskon masih dapat bonus juga. Key merasa senang sekali. Ia berjalan meninggalkan

keramaian orang-orang. Berulang kali ia melihat tas, membayangkan wajah Basma

yang akan girang. Membuatnya sudah merasa bahagia. Ia turun ke lantai satu,

kemudian masuk ke dalam supermarket. Melihat-lihat saja, ia pergi ke arah

peralatan rumah tangan.

Dia geleng-geleng kepala sendiri, mulutnya menganga

tidak percaya. Barang-barang di mall ini tidak ada yang tidak bermerk, semua

harganya bisa lima kali lipat dari harga di toko.

Tapi tentu, dengan merk yang berbeda.

“ Bisa bangkrut dan tidak untung aku.”

Key melenggang dan berjalan keluar mall. Panas menyergap wajahnya. “Perbedaannya

sungguh timpang sekali. Seperti orang kaya dan rakyat jelata saja udara di dalam dan di luar sini.” Key

memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia masih punya waktu. Dan ia memilih

berjalan menyusuri trotoar. “ City Park tidak jauh kan, jalan-jalan sebentar

ke sana ah.”

Key menyusuri jalan, memilih berjalan

di bawah bayang-bayang pohon. “ Waww, tempat ini memang mempesona.”

City Park, taman kota yang memang dibuat

sebagai tempat rekreasi. Steril dari para pedagang makanan. Kursi-kursi taman

rapi terjajar. Kotak sampah ada di setiap samping kursi. Pohon-pohon teduh dan

rindang. Ada kolam ikan yang bersih terawat, rumputnya juga bersih. Alat-alat

olahraga juga tersedia. Taman ini benar-benar memanjakan penghuni kotanya. Akan

ramai di setiap akhir pekan. Key melihat banyak orang sedang menikmati suasana

nyaman itu. Ada anak-anak yang berlarian, memakai seragam sekolah, sepertinya

sekolah TK. Sementara orang tua mereka berteriak-teriak, melarang untuk

melakukan ini dan itu. Tapi anak-anak terus berlari, menaiki tangga, tak

perduli dengan teriakan orang tua mereka.

 Key terdiam lama. Ia melihat serombongan

orang yang sedang melakukan  pemotretan. Ada banyak pakaian laki-laki dan

perempuan tergantung. Bukan itu yang membuatnya tertegun mematung. Ia mengenali

salah satu dari mereka. Dengan penasaran ia mendekat, memastikan bahwa apa yang

dilihatnya salah. Tapi tidak. Dia benar-benar mengenali salah satu dari mereka.

Pemuda tampan yang sedang di foto itu. Gayanya sangat keren. Eh, tidak. Bukan

itu. Key berjalan lebih dekat. Tangannya gemetar, menahan

perasaannya.

 “ Basma!”

 Semua menoleh,  ke arah suara

keras yang berasal dari seorang wanita. Tampak bingung satu sama lain. Sang

model terkejut.

 “ Mba Key.” Wajahnya Basma langsung pias.

“ Siapa Bas?” tanya yang lain

mendekat.

 “ Kakakku. Aku temui dia dulu ya.

Aaa,” mengacak rambutnya yang sudah tersisir rapi. Binggung dan takut bercampur

aduk.

 “ Apa dia marah?” tanya seseorang di sampingnya

yang memegang baju. Dia tahu Basma melakukan pemotretan ini tanpa izin dari

kakak perempuannya.

 “ Tidak dengar dia berteriak tadi.” Lalu

Basma berlari mendekati key. “ Mba, mba dari mana?” sambil memegang tangan Key.

 “ Jadi ini alasan kamu pulang telat

setiap hari.” Menepis tangan Basma, suaranya terdengar sedih bercampur marah.

 Tidak tahu harus menjelaskan dari

mana, Basma menoleh ke arah teman-teman kerjanya. “ Mba Key, aku bisa jelaskan

nanti di rumah.”

“ Jelaskan apa? Kalau kamu .”

Menahan marah, ia tahu tidak seharusnya ia marah di sini, dihadapan teman-teman

adiknya. Ia tidak mau mempermalukan Basma. “pulang!” lirih namun tegas.

 “ Mba, tolong, Bas sudah terikat kontrak.”

 “ Apa? Kontrak? Sejak kapan anak

dibawah umur bisa tanda tangan kontrak tanpa persetujuan wali. Aku wali kamu

satu-satunya Bas. “ sepertinya panas siang ini mulai mencekik leher Key.

Teman-teman Basma bisa mendengar

dengar jelas kemarahannya. “ Apa kamu pikir aku bekerja keras siang dan malam

selama ini.” Menghentikan bicara, dia menatap adiknya lekat. “ Mba cuma minta kamu

belajar dengan benar Bas, masuk universitas.”

“ Aku tidak akan kuliah.”

Jawaban Basma semakin membuat

dada Key meledak.

“ Apa Mba pikir aku bisa kuliah

dengan tenang sementara siang dan malam Mba Key bekerja keras mencari uang.

Basma bukan anak kecil, yang bisa pura-pura tidak tahu betapa lelahnya Mba bekerja. lagi pula ini cuma kerja

part time aja, mumpung sekarang sekolah sudah mau libur.”

“ Diam!”

“ Sampai kapan Mba akan seperti ini,

kita juga tahu, aku bukan adik kandung Mba Key, suatu hari nanti mba Key harus

memikirkan hidup Mba sendiri. “

 “ Apa? Apa kamu bilang.” Amarah Key

berubah menjadi kegetiran.  Ia  mulai meneteskan air mata. Ia mulai kehilangan

kendali. Memukul dada adiknya berulang kali. “ Kamu bilang apa? Bukan adikku? Pergi meninggalkanmu? “  Amarahnya berganti tangis kecewa.  Dilemparkannya tas berisi

ponsel yang tadi dia beli dengan penuh kebahagiaan. Lalu ia berbalik menahan

isak. Menguatkan kakinya untuk berlari pergi.

Basma hanya bisa memandang wanita istimewa

yang di cintainya itu menghilang. Dia memandang tas kertas kecil yang dilemparkan

padanya. Isinya keluar. Dua buah kotak smartpone dengan corak warna yang

berbeda. Dia gemetar memegangnya. Wajah dan tangis Key, tiba-tiba datang

bertubi memenuhi dadanya dengan penyesalan. Ia ingin pergi, namun dicegah oleh

yang lain. Memohon untuk menyelesaikan sesi pemotretan sampai akhir. Walaupun tidak berjalan

optimal tapi tetap dilakukan juga. Gemetar Basma  memegang erat tas kecil

yang dilemparkan key tadi.

Bersambung..............

Terkadang kalau kau sedang sedih,

kau menangis tanpa bisa kau cegah @LaSheira

1
Nurma Sadiah
cie yang seneng di posesif🤣
Abizar Alfarizki
hadeeh bian 🫩
Nurma Sadiah
wow ternyata bian dan basma adik kakak😄
Nurma Sadiah
mau bakso🤤 apalagi makannya bareng orang kaya bian
Septi Msi Yogyakarta
halo kak author
aku rindu dgn krya2 mu
Nurma Sadiah
amanda sama anjas aja, cocok👍
Nurma Sadiah
ih sakit banget sih klo jadi manda/Sob/
Nurma Sadiah
happy ending😍
Mahendra Sari Anwar
kak,,ko blm ada lg cerita yg baru?
aku selalu tgu lohhh cerita nya🔥🔥🫶
love love love berkobon² nanas kan🫶
Mahendra Sari Anwar
maui lagiii🔥🫶
Maryam Husain
luar biasa
Putriani
izin mampir yah😍
☠Arin_
aku suka final ending yg bahagia gini
☠Arin_
the end🙏
☠Arin_
waaaah mau pamer🤣🤣🤣
☠Arin_
Senengnya🤣🤣🤣
☠Arin_
Sedih aja
☠Arin_
plong
☠Arin_
wah kena deh🤣🤣🤣
☠Arin_
😭😭😭😭masih berlanjot
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!