NovelToon NovelToon
The Last Lotus

The Last Lotus

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Tamat
Popularitas:37.7k
Nilai: 5
Nama Author: sri devi

Demi rasa cinta yang besar, seorang perempuan menyembunyikan kebenaran. Baginya kebenaran tidak ada gunanya tanpa kepercayaan.

Rasa cinta yang memudar seiring dengan kepercayaannya kepada perempuan itu, ia berusaha mencari kebenaran untuk ibundanya, tetapi ia justru terjebak dalam cinta yang lain.

Sedangkan dia memegang kunci kebenaran yang di sembunyikan perempuan tersebut, dan juga kepercayaan yang di berikan tapi ia juga terjebak dalam cinta yang salah.

Akankah mereka berhasil mencari kebenaran?
Apakah perempuan itu mendapat kepercayaan?
Apakah dia dapat terbebas dari cinta yang salah?

Penasaran? langsung baca yuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sri devi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku adikmu

Jira mengerjapkan mata, kepalanya teramat sakit tapi dia mencoba bertahan untuk memastikan kondisi Crystal yang dibawa ke klinik. 

"Bu, sudah meninggal." Reyna berbisik memberi informasi tentang Alura. Wajah Jira tampak lelah, Reyna dan Bas tahu ada banyak beban yang dipikul Jira. Untung saja cek yang disiapkan belum sempat diberikan. 

"Pastikan nggak ada saksi," kata Jira dengan suara pelan. 

Bas memilin tangan dengan gelisah dan Jira melihatnya. "Kalau ada masalah, ungkap sekarang!" bentak Jira kesal. 

"Pemilik kedai tahu sebelumnya Ibu menarik tangan Alura."

Jira menahan napas, Reyna dan Bas gelisah. "Yang penting nggak ada yang melihat Crystal. Dia nggak bisa menguasai diri kalau diinterogasi kepolisian."

"Tapi Bu ...."

"Rey, kamu tahu apa yang harus dilakukan, kan?" potong Jira. 

Reyna mengangguk, dia paham bahwa nama Jira dan perusahaan harus dibersihkan. Tak ada yang boleh tahu hubungan Jira dengan wanita bernama Alura itu, apalagi Crystal.

Jira masih ingin memberi instruksi tapi dokter memintanya masuk karena Crystal sudah sadar. 

"Kak ... dia ... orang itu gimana?" tanya Crystal ketakutan. 

" Di rumah sakit." Jira berdusta. 

"Parah? Aku ... aku nggak bermaksud ...."

Demi menenangkan Crystal, Jira menggenggam tangannya. "Crystal, dengar aku. Kamu percaya aku, kan?"

Crystal terdiam, dia ketakutan dan Jira memahaminya. 

"Jangan pernah menceritakan pada siapa pun kejadian hari ini. Papa nggak boleh tahu, juga orang lain termasuk Arsa!"

"Tapi ..." Crystal spontan duduk dan memandang Jira dengan sorot mata lebih ketakutan. "Apa dia mati?" tebak Crystal. 

"Bukan begitu. Orang itu bukan orang baik dan kamu nggak boleh terlibat. Biar aku yang selesaikan. Jangan pernah bilang kamu yang mendorong. Kamu nggak melihat apa pun!"

Mata Crystal mengerjap bingung tapi Jira kembali bicara dengan tenang. "Percaya aku, ini bukan masalah besar. Aku cuma berjaga-jaga demi nama baik papa juga perusahaan. Jangan bantah!"

"Kak, tapi apa itu artinya Kakak yang akan menjelaskan ke polisi?" tanya Crystal. "Apa yang akan Kakak jelaskan? Apa Kakak mengenalnya? Kenapa dia nyekik Kakak? Apa dia yang ngirim pesan ke aku? Apa yang mau dia bicarakan tentang mamaku?" 

Pertanyaan Crystal semakin membuat Jira pusing tapi demi ketenangan Crystal, Jira mencoba santai. 

"Dia cuma salah satu orang jahat yang mau bohongi kita berdua tapi sebenarnya nggak ada hal penting, aku bisa mengatasinya. Kamu lanjutkan kompetisi ke Jepang, Bas akan ngantar kamu."

"Kak, gimana aku bisa tetap pergi?" tanya Crystal frustrasi. "Orang itu kecelakaan karena aku!"

"Dia kecelakaan karena kesalahannya! Kamu nggak menyentuh dia!" Jira membentak Crystal. 

"Kalau kamu mau membantu aku, ikuti semua kata-kataku. Segera pergi ke Jepang!"

Crystal kebingungan menghadapi Jira yang kukuh menyelesaikan segalanya sendirian. Satu pertanyaan merambat di hati Crystal dan tanpa sadar dia lontarkan. 

"Kenapa Kakak ngelakuin hal ini? Kenapa harus Kakak yang tanggung jawab?" 

Jira tertegun, dia juga tak mengerti mengapa harus repot mengurus Crystal. Apakah karena dia termakan janji pada Dara yang memintanya bersumpah untuk melindungi Crystal? Apakah karena wajah polos dan lugu Crystal membuatnya muak hingga tak ingin mendengar isak tangis cengengnya?

Jira memandangi wajah Crystal dengan lekat. Pipi yang sama tirus dengannya, hidung yang sama mancung dengannya. Raut Alvano yang samar tersirat serupa dengannya. Meski mata Crystal jauh lebih besar dan tampak lebih berbinar, tak ada yang menyangkal mereka bersaudara. 

"Karena aku kakakmu," jawab Jira sebelum berdiri dan meninggalkan Crystal yang tertegun.  

**

"Ji, kamu ke mana aja?" tanya Arsa panik saat melihat Jira pulang ke rumah. Sudah berkali-kali Arsa menghubunginya tapi tak ada jawaban hingga Arsa memutuskan untuk menanti di rumah Alvano. Kecemasan Arsa bertambah saat melihat Crystal yang keluar dari mobil Jira terlihat pucat. 

"Crystal kenapa? Kalian dari mana?" tanya Arsa penuh selidik. 

"Nggak ada apa-apa, aku cuma ngecek Crystal di klinik, biasalah gangguan bulanan." Jira memberi alasan sembari mengisyaratkan Reyna untuk membantu Crystal ke kamar. 

"Hey, Crys, kamu nggak apa-apa?" tanya Arsa sambil mengikuti langkah Crystal tapi Jira menahan tangan Arsa. 

"Kamu mau ketemu aku atau Crystal?"

Tak ada maksud Jira untuk membuat Arsa salah tingkah apalagi tersinggung. Jira hanya ingin mencegah Arsa menginterogasi Crystal, tapi karena lelah Jira tak memikirkan pertanyaan lain. Kini, dia menyadari Arsa sedang menatapnya tajam. 

"Ji, maksudmu apa?" tanya Arsa dengan nada menuntut jawaban. 

Jira menghela napas, dia lelah, teramat lelah hingga tak ingin melanjutkan perdebatan. 

"Sa, aku capek. Besok aja kita ngobrol lagi," kata Jira sambil melangkah tapi Arsa mencengkram tangannya. 

"Aku juga capek nungguin kamu di sini," kata Arsa dingin. 

"Ya udah, pulang istirahat!" sahut Jira sambil menyentak tangan Arsa lalu pergi bergitu saja ke kamarnya. 

Jira yang lelah bahkan tak sempat mandi. Begitu menyentuh ranjang, matanya terpejam. Dia tak sempat memikirkan perasaan Arsa yang diliputi pertanyaan, karena Jira terlalu pusing memikirkan Alura yang meninggal. Seburuk apa pun wanita itu tak akan mengubah fakta bahwa dia adalah kakak satu ibu dengan Crystal. Satu-satunya orang dari keluarga Crystal yang tersisa. 

Jira pening memikirkan perasaan Crystal bila dia tahu wanita yang dia dorong itu adalah kakaknya dan telah meninggal 

"Ji, jaga adikmu, dia terlalu lugu."

Suara Dara menggema di benak Jira membuatnya meneteskan air mata perlahan. "Ma, siapa yang jaga aku?" tanya Jira lirih. 

**

Meski masih ketakutan dan kebingungan, Crystal mencoba tenang dan mengikuti perintah Jira, tetap beraktivitas seperti biasa. Maka keesokan harinya Crystal tetap ke studio meski tak ada latihan. 

"Bas, orang itu masih di rumah sakit?" tanya Crystal. Bas melirik Crystal lalu menjawab tenang. "Nggak. Sudah keluar dari rumah sakit."

Crystal menghela napas lega. "Berarti nggak parah? Tapi kenapa darahnya banyak?" tanya Crystal heran. 

"Banyak? Bukannya Mbak pingsan, itu halusinasi, Mbak!" kata Bas. Crystal mengerutkan dahi tapi memercayai ucapan Bas. "Kakak gimana?" tanya Crystal lagi.

"Ibu Jira baik-baik saja," jawab Bas santai meneruskan kebohongan padahal Jira beberapa kali muntah karena tegang. Meski kasus kecelakaan itu sudah tertutup dan dinyatakan sebagai kelalaian Alura sendiri yang tiba-tiba ada di jalanan, Jira tetap harus menutup mulut beberapa orang. 

Crystal tak bertanya lagi karena sedikit lega, dengan hati lebih ringan dia berjalan menuju studio. Setelah menyalakan musik, Crystal duduk bersila sembari berusaha menenangkan diri. Tapi bukan ketenangan yang dia dapat karena pikirannya masih mengingat kecelakaan Alura. Untuk menghalau kegelisahan, Crystal langsung berlatih seorang diri, mencoba fokus pada setiap gerakannya. 

Crystal begitu hanyut dalam gerakan dansanya hingga tak menyadari seseorang sudah membuka pintu dan tertegun menatap liuk tubuhnya yang ditopang sepatu dansa. Hingga Crystal melakukan kesalahan dan terjatuh, orang itu memekik kaget. 

"Crys, kamu nggak apa-apa?"

Crystal menoleh dan terkejut melihat Arsa masuk dengan panik. 

"Kakak ngapain ke sini? Kak Jira nggak ada."

Arsa memandangi wajah Crystal lalu perlahan jongkok di depannya. 

"Kamu nggak apa-apa?" Arsa mengulang pertanyaan sembari berusaha melihat kaki Crystal yang otomatis dia tarik. 

"Aku nggak apa-apa, jatuh biasa. Kakak ngapain ke sini?" ulang Jira.

"Aku nyari kamu," ucap Arsa membuat jantung Crystal berdegub kencang. Jantung itu semakin berdetak kencang saat Arsa melanjutkan ucapannya. "Jira kenapa? Kalian bertengkar?"

"Nggak. Memangnya kenapa? Kalian yang bertengkar?" Crystal balik bertanya, menyembunyikan kegelisahan yang ditangkap Arsa. 

"Kalian berdua aneh. Ada yang kalian sembunyikan?" tebak Arsa. 

"Nggak ada. Kakak kalau lagi berantem jangan bawa-bawa aku!" Crystal mengomel sambil berdiri untuk mencoba latihan lagi tapi tiba-tiba Arsa berdiri di depannya, meraih pinggang Crystal. Refleks Crystal menepis tangan Arsa dengan kasar. 

"Hey, kenapa?! Aku juga mau bisa dansa!" sungut Arsa kesal. Crystal berusaha mengendalikan diri lalu secepatnya mengalihkan jawaban. 

"Bukan gitu caranya, tapi gini ..." Crystal meraih telapak tangan kanan Arsa lalu memintanya menyentuh belikat kiri Crystal. Lalu Crystal meletakkan tangan kirinya di bahu Arsa, setelahnya dia mengenggam tangan kiri Arsa. 

"Angkat segini, jangan lemas!" kata Crystal sambil mengangkat siku agar tangan mereka yang saling mengenggam setinggi bahu. 

Arsa terdiam mendengar penjelasan Crystal tentang posisi dasar dansa yang dia ajarkan karena matanya sibuk memandangi wajah Crystal. Arsa terpesona dan Crystal yang menyadari pandangan Arsa segera melepaskan diri. 

"Males ah ngajarin orang nggak niat!" kata Crystal berusaha menenangkan dirinya sendiri.

"Males juga latihan dansa, Jira nggak suka!" Arsa ikut berusaha menghalau kecanggungan. 

"Jadi, beneran kalian berantem?" tanya Crystal mengalihkan topik. 

"Nggak juga tapi kayaknya Jira marah sama aku. Kami nggak ada kirim pesan, aku takut salah ngomong." Arsa secara tiba-tiba mencurahkan isi hatinya. 

"Kak Jira pasti capek karena kemarin nungguin aku di klinik. Datang aja ke rumah, bawain bunga atau apa gitu."

"Jira nggak matre. Nggak silau barang begituan," kata Arsa merenung.

"Nggak ada perempuan yang nggak suka hadiah walau cuma ikat rambut. Meskipun nggak bilang-bilang apa-apa tapi pasti membekas di hatinya," tanpa sadar Crystal memberi penjelasan. 

Arsa yang mendengar kata ikat rambut teringat sesuatu, dengan santai dia bertanya pada Crystal yang justru tak bisa menjawabnya. 

"Kenapa kamu nggak pernah pakai ikat rambut yang dulu aku kasih?"

Crystal terdiam dan Arsa mengartikannya  sebagai kelupaan. "Pasti nggak ingat. Udah lama sih, waktu SMA. Nggak penting sih ya, pasti sudah kamu buang atau hilang!" tuduh Arsa. 

Crystal hanya mampu menggaruk kepala sambil nyengir walau sebenarnya dia tak pernah melupakan benda yang hingga kini ada di laci kamarnya. 

"Oke deh, aku balik dulu, mau cari hadiah untuk Jira. Ngomong-ngomong kenapa sekarang Bas jadi asistenmu?" tanya Arsa sambil berdiri. 

"Kakak yang suruh, katanya aku butuh asisten," jawab Crystal sambil melepas sepatu dansanya hingga dia tak melihat alis Arsa mengerut. 

"Kenapa kamu mau aja? Kalau nggak suka kan kamu bisa nolak."

Crystal mengangkat wajah untuk menatap Arsa lalu dia tersenyum. 

"Kenapa aku nolak? Yang dilakukan Kak Jira pasti untuk kebaikannku."

Arsa memicingkan mata lalu bertanya sekali lagi. "Apa alasanmu bisa yakin kalau Jira melakukannya untuk kebaikanmu? Bisa jadi dia iseng aja ngerjain kamu," kelakar Arsa. 

"Karena dia kakakku jadi aku harus percaya dia," jawab Crystal diplomatis.

1
sksksk
kece
??????@!2😍😄6h9
Nemu Lg karya yg the best
Ilfra Ilivasa
dari prolog udah bagus kak! mantap!
Ilfra Ilivasa
mantap kata-katanya! dan akan saya jawab, "ia tidak marah, melainkan sang awan lah yang menghilangkan bulan dan itu artinya bulan itu tidaklah marah. Dirinya hanya membutuhkan waktu untuk keluar dari awan itu"
Eva Sri Wahyuni
ini novel yang paling sad sih 😭
sksksk: sengaja buat yang sad" bund biar keluar air matanya 🤭
total 1 replies
sksksk
bagus banget
🐤
yaa aampuun thor berasa banget beban yg di tanggung jira semasa hidupnya
ga nyangka dia bakal pergi padahal yg berjuang sekuat tenaga adalah jira
kirain endingnga jira bakal bahagia padahal bahagianya hanya sementara
keren sih authornya memang ku akui ceritanya berat banget full masalah tapi itu yg jadi keseruan tersendiri gimana dia bisa menjalani semuanya dan bisa melindungi orang orang yg di sayangi
sksksk: makasi kakak sudah mampir
total 1 replies
Arasa Cimamahmuda
nyimak
nura julian
tulisan rapi 👍
sksksk: terimakasih 🥰
total 1 replies
Quora_youtixs🖋️
semangat terus sukses selalu buat karyamu 👍
Yeni Eka
Aku hadir nih thor kasih boom like
Nona Bucin 18294
💜💜💜
Nona Bucin 18294
like like like 💜
Nona Bucin 18294
Hai kak aku mampir,,,
circle
aku mampir Thor, 😘😘
Sweet chicie💞
wah aku up jejak sampai disini dlu ya kak,, nyicil baca ya ni bakal jadi pr,,, mangattt
Sweet chicie💞
rindu mampir kak, baru mulai baca udah tertarik kak, semangat ya berkarya terus,...
Sweet chicie💞
like
Sweet chicie💞
up
SoVay
hadiiiirrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!