Hidup mati setiap Manusia sudah digariskan oleh sang pencipta, meskipun kita tahu kapan kita mati namun kita tidak akan pernah bisa menghindar darinya.
Apakah salah mencintai seseorang yang berbeda dengan kita. Meskipun nyawa taruhannya, semuanya akan ku lakukan demi mendapatkan cintamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
"Siapa gadis itu, apa dia calon istrimu?" tanya Bram
"Jangan pernah sentuh dia, atau kau mati!" sahut Garra
"Jangan baper, aku cuma ingin tahu saja apa dia adalah calon menantuku?" tanya Bram dengan senyum sinis
"Kenalkan aku Tiwi Om, aku hanya tamu yang numpang di sini," jawab Tiwi mengulurkan tangannya
"Aku Bram ayahnya Garra," Bramantyo menjabat tangan Tiwi
"Maaf aku harus istirahat, jadi silakan anda kembali ke rumah anda," ujar Garra
"Aish, kau tidak boleh bicara tidak sopan seperti itu kepada ayahmu," bisik Tiwi
"Diam dan jangan ikut campur," sahut Garra
"Ok, kalau begitu aku pulang, selamat istirahat Garra," Bramantyo kemudian melangkah pergi meninggalkan kediaman Garra.
"Cari tahu siapa gadis itu, aku penasaran dengannya, bagaimana bisa Garra iblis yang paling kejam diantara para Iblis bisa peduli kepada seorang anak manusia bahkan tinggal bersamanya. Aku yakin ada rahasia besar diantara mereka, dan aku bisa menggunakan gadis itu untuk membuatnya mau melakukan perintah ku lagi." ucap Bram
"Baik Tuan,"
Malam semakin larut Garra diam-diam memasuki kamar Tiwi, ia melihat gadis itu sudah terlelap di ranjangnya.
Ia berjalan mendekati gadis itu.
"Inilah saatnya aku harus menghabisinya sebelum dia membunuhku!" Garra mengangkat tangannya dan tiba-tiba kuku-kukunya mulai meruncing dan memanjang seperti Logan Wolverine.
Saat ia akan menusukkan kuku-kukunya kearah Leher Tiwi tiba-tiba ratusan kunang-kunang bermunculan dan mengerubuti tubuh gadis itu.
Mereka seolah ingin melindungi gadis itu dari Garra.
"Seperti dua puluh tahun yang lalu kalian selalu setia melindunginya."
"Kenapa aku tiba-tiba menjadi pengecut seperti ini, mencoba membunuh makhluk lemah, maafkan aku Tiwi, harusnya aku melindungi mu seperti janjiku dua puluh tahun lalu bukan menyakiti mu. Jika memang takdir ku harus mati di tanganmu aku akan ikhlas menerimanya," Garra mengusap lembut wajah gadis itu dan kemudian meninggalkannya.
Seketika kunang-kunang yang mengkerubuti Tiwi itu berterbangan mengikuti Garra.
"Kenapa kalian mengikuti ku, apa kalian ingin berterima kasih padaku karena tidak jadi membunuhnya?" tanya Garra
"Kalian tidak usah khawatir mulai hari ini aku akan selalu menjaga dan melindunginya, aku tidak akan pernah menyakitinya ataupun meninggalkannya," imbuh Garra
Setelah mendengarkan ucapan Garra kunang-kunang itu kemudian berterbangan meninggalkan tempat itu.
************
Pagi hari di kediaman Garra.
"Pagi," sapa Tiwi tersenyum simpul menyambut Garra
Seperti biasa Garra hanya membalasnya dengan tatapan dinginnya.
"Hari ini sengaja aku yang menyiapkan sarapan pagi untuk mu, selamat menikmati!" imbuhnya mempersilakan Garra duduk di kursinya.
Gadis itu segera menyendokkan nasi keatas piringnya lengkap dengan lauk pauknya dan memberikannya kepada Garra.
"Selamat menikmati," ucapnya sumringah
Garra masih terdiam sambil terus memperhatikan tingkah Tiwi pagi itu.
Bagaimana aku akan tega membunuh mu, jika kau begitu manis bayi kecilku,
"Bagaimana rasanya," tanya Tiwi membuat Garra langsung tersedak.
*Uhuukk!!
Tiwi segera mengambilkan segelas air putih dan memberikan padanya.
"Gak enak ya?" tanya gadis itu kecewa
Garra meneguk minuman itu dan mengusap bibirnya dengan tisu.
"Ini adalah sarapan teraneh dalam hidupku, karena aku baru pertama kali memakan makanan selain masakan Bi Darsih," jawab Garra
"Maaf ya Om Garra, lain kali aku tidak akan memasak lagi," sahut Tiwi
"Sebaiknya mulai hari ini aku ingin kau yang selalu menghidangkan makanan untukku, karena aku menyukai masakan mu," jawab Garra melanjutkan sarapannya
"Alhamdulillah, aku pikir kau tidak suka. Makasih Dewa penolong ku. Aku janji aku akan selalu memasakkan makanan yang lezat untukmu setiap hari," ucap gadis itu semangat
"Janji?" tanya Garra
"Janji," jawabnya antusias
"Sekarang ayo makan," ajak Garra
Tiwi langsung menyantap makanannya sembari terus menatap Garra yang menikmati sarapannya dengan estetik.
Kenapa dia selalu terlihat cool, bahkan saat makan pun ketampanannya tidak pernah luntur,
Garra menggelengkan kepalanya melihat Tiwi yang menganga melihatnya.
"Ehemmm!!" Garra sengaja mengangetkan Tiwi yang tak berkedip menatapnya.
"Sarapan dulu jangan fokus dengan yang lain," imbuhnya
"Ah, maaf aku emang suka lupa diri kalau lihat yang bening-bening di pagi hari, maklum jones," jawab Tiwi sambil terkekeh
Garra mengambil sebuah Tisu dan mendekatkan diri kearah Tiwi.
Gadis itu tersenyum simpul menebak apa yang akan dilakukan Garra padanya.
Aku yakin dia akan mengusap bibirku yang belepotan seperti dalam adegan film romantis,
Lamunannya seketika buyar ketika Garra memberikan tisu itu padanya.
"Jangan lupa bersihkan bibirmu jika sudah selesai makan, jadilah wanita yang elegan saat di meja makan," ucap Garra mematahkan harapannya
"Astaga gagal romantis, patah hati karena realisasi tak sesuai dengan ekspektasi," keluh Tiwi menutupi wajahnya
Ya Tuhan, aku kira dia akan membersihkan bibirku dengan tangannya yang kuat dan itu adalah adegan romantis yang sudah aku tunggu-tunggu, tapi semuanya gagal romantis. Ternyata Garra bukan cowok romantis tapi dia cowok apatis,
Gadis itu terlihat kecewa dan memonyongkan bibirnya kearah Garra.
Selesai sarapan gadis itu segera mandi dan berganti pakaian.
Gadis itu celingukan mencari keberadaan Garra.
"Om, Tiwi jalan dulu ya!" serunya melongok ke kamar Garra.
" Apa dia sedang keluar," gadis itu berjalan masuk kedalam kamar Garra.
Tiwi segera menghentikan langkahnya ketika melihat Garra keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan menutupi sebagian tubuhnya. Gadis itu begitu terpukau melihat tubuh atletis Garra yang berdiri di depannya.
"Tunggu sebentar aku akan mengantarmu," ucap lelaki itu kemudian melewatinya.
"Oh My God...Om pagi-pagi kamu sudah bikin aku jantungan dua kali, pertama saat sarapan sekarang saat aku melihat roti sobek mu," ucap gadis itu mengusap dadanya.
Ia segera keluar dan meneguk segelas air putih untuk menenangkan hatinya.
"Ayo kita jalan," sapa Garra membuat gadis itu kaget dan langsung tersedak.
*Uhuukk!!
"Pelan-pelan saja minumnya," tukas Garra mengisi kembali gelas Tiwi yang sudah kosong.
"Thanks, Manis sekali," ucap Tiwi menerima gelas darinya.
"Kamu juga manis," jawab Garra tersenyum kearahnya, sontak saja hal itu membuat wajah Tiwi merah merona.
"Lama-lama tinggal di sini aku bisa terkena penyakit jantung," keluh Tiwi
"Kau harus rajin olah raga agar tidak terserang penyakit jantung," jawab Garra
"Iya aku mau olah raga lari aja," sahut Tiwi
"Jangan lari jika kamu punya penyakit jantung, bahaya," jawab Garra
"Kau tenang saja, aku tidak akan lari jauh kok. Paling aku cuma berlari-lari di hatimu, eaaaa!" sahut gadis itu membuat Garra tersenyum mendengarnya
"Uuunchh manis banget senyumnya!" seru Tiwi menatap lekat Garra
"Jangan lari-lari di hatiku, aku takut kamu tidak bisa keluar setelah kau masuk, karena aku tidak menyediakan kunci untuk keluar, kecuali jika kau mau keluar untuk menjadi pengantinku," sahut Garra dengan wajah datar
"Eeaaa, gak ku sangka Om bisa juga menggombal!" seru Tiwi sambil terkekeh.