Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Lampu Terakhir
Eve dan Edric tiba di RS Tan saat lampu merah ICU masih menyala.
Koridor itu terlalu terang untuk malam sedalam itu. Perawat bergerak cepat di balik pintu kaca. Suara roda ranjang, instruksi dokter, dan monitor yang teredam menjadi satu bunyi panjang yang membuat dada Eve terasa kosong.
"Oma," bisiknya.
Ia berlari ke pintu, tetapi seorang perawat menahan. "Maaf, keluarga belum bisa masuk. Masih tindakan."
"Saya cucunya."
"Saya tahu, Bu. Tapi sekarang belum bisa."
Kaki Eve melemah. Edric menangkap bahunya dari belakang.
"Lina."
"Dia sendirian tadi," kata Eve. Suaranya datar karena terlalu takut untuk pecah. "Aku tidak ada."
"Kamu di sini sekarang."
"Terlambat."
Edric tidak punya jawaban yang tidak terdengar kejam. Ia hanya memeluknya dari samping dan menuntunnya ke kursi plastik di koridor.
Vincent berdiri dekat dinding, kemejanya kusut, kacamatanya sedikit miring. Di tangannya ada noda tinta biru dari bantalan yang dipakai Gunawan. Wajahnya lebih pucat dari biasanya.
"Aku masuk terlalu lambat," katanya.
Edric menatapnya. "Bukan salahmu."
"Aku dokter. Kalimat itu tidak membantu."
Eve mengangkat wajah. "Gunawan?"
Vincent berhenti.
Edric menoleh padanya, memberi isyarat sangat kecil. Belum.
"Ada masalah di kamar," kata Vincent hati-hati. "Sekarang dokter sedang menstabilkan Oma."
Eve menatap pintu ICU. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan, tetapi tubuhnya tidak punya tenaga untuk mengejar. Saat ini, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah menunggu.
Menunggu ternyata memiliki suara.
Lampu koridor berdengung. Sepatu perawat mengetuk lantai. Bu Yanti menangis tertahan di ujung kursi. Feli datang menjelang subuh dengan wajah sembap, Dan berdiri beberapa langkah di belakangnya membawa air mineral. Fajar menunggu di dekat lift, wajahnya dingin, ponsel di tangan.
Eve tidak menangis.
Ia hanya menggosok kedua tangannya berulang-ulang. Ibu jari ke telapak, telapak ke punggung tangan, gerakan kecil yang sejak kecil muncul setiap kali ia takut. Dulu Oma Ong akan menangkap tangannya dan berkata, jangan gosok sampai kulitmu sakit.
Saat kecil, Eve pernah melakukan gerakan itu di depan ruang operasi kecil di Cirebon, menunggu Mama Lili keluar setelah pingsan di rumah. Oma Ong duduk di sebelahnya, membawa termos teh dan roti tawar isi gula. "Kalau takut, hitung napas, bukan kemungkinan buruk," kata Oma waktu itu. Eve tidak paham. Malam ini, bertahun-tahun kemudian, ia akhirnya mengerti bahwa menghitung kemungkinan buruk tidak pernah ada ujungnya.
Ia mencoba menghitung napas.
Satu.
Dua.
Pada hitungan ketiga, bayangan Gunawan di rumah sakit membuat dadanya kembali sesak.
Edric berlutut di depannya.
Ia mengambil kedua tangan Eve dan membungkusnya dengan telapak tangannya.
"Saya pegang," katanya.
Eve menatap tangan mereka.
"Kalau aku melepas, aku takut semuanya hilang."
"Kalau kamu lepas, saya yang pegang."
Kalimat itu hampir membuatnya runtuh, tetapi pintu ICU terbuka sebelum air mata jatuh.
Dokter Sari keluar pukul empat lewat sedikit.
"Kondisi sementara stabil," katanya. "Tapi sangat kritis. Keluarga boleh masuk satu per satu."
Eve berdiri terlalu cepat.
Di dalam ICU, Oma Ong terlihat sangat kecil di antara selang dan mesin. Oksigen menutup hidungnya, infus masuk ke tangan yang dulu selalu hangat saat memegang cangkir teh jahe. Monitor di sampingnya berkedip dengan garis hijau yang terlalu rapuh.
Di meja kecil sebelah ranjang, syal biru yang dibeli Eve bersama Yuliana belum sempat diberikan. Yuliana membawanya dari tas Eve dan meletakkannya di sana, terlipat rapi. Eve menatap syal itu lama. Ia membayangkan Oma sadar, menyentuh kainnya, lalu mengeluh bahwa warna biru terlalu bagus untuk dipakai di rumah sakit.
Eve berlutut di samping ranjang.
"Oma," bisiknya. "Ini Evelina. Saya di sini."
Jari Oma bergerak sedikit.
Gerakan itu menghancurkan Eve lebih dari tangis mana pun.
Sepanjang hari berikutnya, Eve hampir tidak meninggalkan ICU. Edric memaksanya minum air. Yuliana datang membawa bubur, tetapi Eve hanya makan dua suap. Hendra mengurus administrasi. Fajar menghilang beberapa kali untuk mengejar jejak Gunawan. Vincent keluar masuk memeriksa catatan medis meski Dokter Sari sudah mengambil alih.
Feli duduk di luar pintu. Dan duduk di sampingnya, tidak banyak bicara. Saat Feli mulai menangis lagi, Dan hanya membuka botol air dan menyerahkannya.
"Aku tidak tahu harus bilang apa," kata Dan.
"Bagus," jawab Feli serak. "Jangan bilang apa-apa."
Dan mengangguk.
Di dalam, Eve menyanyikan Nina Bobo.
Ia tidak menyanyikan keras. Hanya bersenandung potongan melodi yang dulu Oma nyanyikan saat Eve kecil demam. Di tengah nada kedua, suaranya pecah. Ia berhenti, mengusap wajah, lalu mencoba lagi.
"Oma dulu selalu lupa lirik," bisiknya di telinga Oma. "Aku juga lupa. Jadi kita impas."
Tidak ada jawaban.
Namun beberapa menit kemudian, kelopak mata Oma bergerak sedikit. Eve tahu mungkin itu hanya refleks, tetapi ia memilih percaya bahwa Oma mendengar. Ia menceritakan hal-hal kecil: Edric membuat tenda merah muda, Yuliana ingin mengadakan pernikahan sederhana, syal biru sudah menunggu. Ia tidak menceritakan Gunawan. Tidak di depan tubuh yang sudah terlalu lelah.
"Oma harus bangun," kata Eve. "Oma belum melihat aku pakai gaun pengantin."
Kalimat itu akhirnya membuat air matanya jatuh ke selimut.
Sore datang pelan.
Pukul tujuh belas dua puluh, Oma Ong membuka mata.
Kali ini matanya lebih sadar.
Eve langsung mendekat. "Oma?"
Bibir Oma bergerak. Eve menunduk, menempelkan telinga sedekat mungkin.
"Eve..."
"Saya di sini."
Napas Oma terdengar seperti kertas tipis diremas. "Hati-hati..."
"Dengan siapa, Oma?"
"Lim..."
Tubuh Eve menegang.
Oma berusaha mengangkat tangan, tetapi hanya jari yang bergerak.
"Bunuh..." Suaranya hampir hilang. "Bunuh..."
"Oma, siapa? Siapa yang dibunuh?"
Monitor berbunyi lebih cepat.
Edric berdiri di belakang Eve, wajahnya berubah keras.
Oma mencoba sekali lagi. Matanya menatap Eve dengan ketakutan lama yang baru sekarang berani keluar.
"Lili..."
Napasnya patah.
Garis monitor melonjak, lalu turun.
Dokter Sari dan perawat masuk cepat. Eve ditarik mundur oleh Edric, tetapi ia tetap menatap ranjang. Tubuh Oma bergerak sedikit saat dokter melakukan tindakan. Suara instruksi medis memenuhi ruangan, tetapi bagi Eve semuanya terdengar jauh, seperti dari bawah air.
Pukul tujuh belas tiga puluh dua, monitor berubah menjadi garis lurus.
Bunyi panjang memenuhi ICU.
Dokter Sari berhenti.
Ia melepas sarung tangan perlahan.
"Waktu kematian, tujuh belas tiga puluh dua."
Tidak ada badai langsung.
Eve berdiri diam.
Dokter Sari menunduk hormat sebelum mundur. Perawat mematikan alarm monitor, dan justru hilangnya bunyi panjang itu membuat ruangan terasa lebih kosong. Di luar kaca, semua orang yang menunggu seolah memahami tanpa perlu diberi tahu. Feli mulai menangis lebih dulu. Bu Yanti memanggil nama Oma berkali-kali, suaranya pecah.
Ia mendekat ke ranjang seperti orang berjalan di tempat asing. Tangan Oma tergeletak di atas selimut, masih hangat sedikit. Eve mengambilnya, membawa tangan itu ke pipinya.
"Oma," katanya sangat pelan.
Tidak ada gerakan jari.
"Oma, aku di sini."
Tidak ada jawaban.
Baru saat itulah sesuatu di dalam Eve pecah.
Suara yang keluar dari tenggorokannya bukan tangis biasa. Rendah, patah, seperti makhluk kecil yang kehilangan tempat berlindung terakhir. Ia membungkuk di atas tangan Oma, bahunya bergetar tanpa kendali.
Edric berdiri di belakangnya.
Ia tidak berkata jangan menangis. Tidak berkata semua akan baik-baik saja. Kalimat seperti itu akan menjadi penghinaan di depan kehilangan sebesar ini.
Ia hanya meletakkan tangan di bahu Eve dan berdiri di sana, menjadi dinding saat dunia istrinya runtuh.
Dari hari ini, tidak ada lagi orang yang pernah melihat Eve kecil bersembunyi di balik tenda seprai. Tidak ada lagi orang yang tahu berapa banyak gula merah harus masuk ke teh jahe saat ia sakit. Tidak ada lagi suara tua yang memanggilnya Lina dengan nada rumah.
Lampu terakhir yang menyala sejak masa kecilnya padam.
Gelapnya tidak langsung datang. Justru karena itu, Eve lebih takut. Ia masih menunggu cahaya kembali, meski tahu cahaya itu tidak akan kembali lagi.
Edric keluar dari ICU beberapa menit kemudian.
Fajar langsung berdiri.
"Temukan Gunawan Lim," kata Edric.
Suaranya tenang. Terlalu tenang.
"Bawa dia. Bawa Melani dan Jesslyn juga. Tidak ada yang keluar dari Jakarta tanpa izin saya."
Fajar mengangguk. "Siap."
Vincent bersandar ke dinding, melepas kacamata dan mengusap matanya. Bu Yanti menangis keras di kursi. Feli menutup mulut dengan kedua tangan. Dan berdiri di sampingnya, diam, lalu perlahan meletakkan jaketnya di bahu Feli.
Di dalam ruang ICU yang mulai kosong, Eve tetap duduk di samping ranjang.
Ia menggenggam tangan Oma Ong yang perlahan mendingin.
Perawat sudah melepas sebagian alat. Ruangan yang tadi penuh suara mendadak terlalu diam. Di kursi dekat dinding, syal biru itu masih terlipat. Eve mengambilnya dengan tangan gemetar dan menyelimutkannya di atas dada Oma. Kain itu tidak pernah sempat menghangatkan tubuh hidup Oma, tetapi setidaknya bisa ikut mengantar.
"Maaf terlambat," bisik Eve.
Edric mendengar dari pintu dan menutup mata. Ada jenis penyesalan yang tidak bisa dibayar, bahkan oleh orang terkaya sekalipun.
Di kepalanya, kata terakhir Oma berputar seperti pintu yang terbuka ke kegelapan.
Lim.
Bunuh.
Lili.
Oma pergi, tetapi ia meninggalkan satu nyala terakhir.
Bukan cahaya.
Peringatan.