Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 : Konsolidasi Kekuatan
Luka dan Logistik
Aroma darah dan mesiu yang menempel di Katedral Langit telah dibersihkan, namun atmosfer di kota Frosthelm tidak lagi sama. Kemenangan mutlak di Ngarai Gigi Naga telah mengubah ketakutan rakyat Utara menjadi euforia perang yang membara. Di sepanjang jalan-jalan berbatu yang diselimuti es, para pandai besi bekerja tanpa henti. Suara dentingan palu yang menghantam baja mentah terdengar bagaikan detak jantung baru bagi ibu kota Valenica.
Di dalam Istana Frosthelm, kesibukan tidak kalah intens. Koridor-koridor istana dipenuhi oleh para pelari pembawa pesan dan perwira logistik.
Aurelia berdiri di depan sebuah meja panjang di ruang kerjanya yang baru. Kamar megah ini kini telah berubah fungsi menjadi pusat administrasi perang pribadinya. Di atas meja, tumpukan perkamen laporan logistik dari berbagai wilayah Utara berjejal dengan peta pasokan makanan. Elena, pelayan setianya, bergerak lincah menuangkan teh herbal hangat untuk sang Putri—yang kini secara resmi telah menyandang gelar Putri Mahkota Valenica.
"Anda harus beristirahat sejenak, Yang Mulia," bujuk Elena dengan nada khawatir. "Anda nyaris tidak memejamkan mata sejak pertempuran di ngarai dua hari lalu."
Aurelia menggeleng pelan, jemarinya membolak-balik lembar laporan persediaan gandum. "Kita tidak punya waktu untuk tidur nyenyak, Elena. Memenangkan satu pertempuran defensif di rumah sendiri sangat berbeda dengan menggerakkan puluhan ribu pasukan melintasi perbatasan. Pasukan Utara terbiasa bertempur di medan dingin dengan pasokan yang terkonsentrasi. Jika kita bergerak ke Selatan, struktur logistik kita harus diubah total."
Pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan keras, menampilkan sosok Cassian. Pria itu tidak lagi mengenakan jubah kebesaran panglima yang mewah, melainkan pakaian berburu dari kulit hitam praktis dengan pelindung lengan perak. Wajahnya tampak lelah, namun sepasang mata badainya langsung melembut begitu melihat Aurelia.
Cassian memberi isyarat agar Elena meninggalkan mereka berdua. Setelah pelayan itu keluar dan menutup pintu, Cassian berjalan mendekat, menumpukan kedua tangannya di atas meja, tepat di depan Aurelia.
"Jenderal Boros baru saja menyelesaikan perhitungan sisa pasukan musuh yang selamat," kata Cassian tanpa basa-basi. "Duke Valerius melarikan diri dengan kurang dari seribu kavaleri. Dia terluka parah di bahu kirinya akibat tebasan pedangku sebelum dia meledakkan bom asap itu. Dia sedang sekarat, atau setidaknya lumpuh untuk beberapa minggu ke depan."
Aurelia menegakkan tubuhnya, secercah kepuasan dingin melintas di wajahnya. "Itu artinya Oakhaven saat ini sedang dipimpin oleh kepanikan. Valerius memerintah dengan rasa takut. Ketika sosok yang ditakuti itu pulang dalam keadaan kalah dan terluka, fondasi kekuasaannya akan mulai retak."
"Tepat," Cassian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan kekaguman mendalam pada ketajaman politik istrinya. "Namun, kita memiliki masalah internal. Dewan Tetua Valenica keberatan jika kita mengerahkan seluruh Legiun Serigala ke Selatan. Mereka menganggap perang ini adalah urusan pribadi Oakhaven, bukan urusan darah Valenica."
*•*
*•*
Menaklukkan Dewan Tetua
Dua jam kemudian, Aurelia mendampingi Cassian memasuki Aula Dewan Tetua. Ruangan berbentuk lingkaran itu terbuat dari batuan es abadi yang tidak pernah mencair, melambangkan watak para anggotanya yang kaku dan keras kepala. Dua belas tetua dari klan-klan tertua di Utara duduk di kursi-kursi tinggi mereka, mengenakan jubah bulu putih beraksen perak. Di kursi tertinggi, Raja Valerius tua duduk mengawasi dengan mata yang meredup namun tetap tajam.
"Pangeran Cassian, Putri Aurelia," Lord Hakon, tetua tertinggi yang memiliki janggut putih panjang sepinggang, membuka suara. Suaranya berat dan bergema. "Kami telah mendengar rencana kalian untuk meluncurkan invasi penuh ke Selatan minggu depan. Dewan menganggap keputusan ini terlalu terburu-buru. Valenica baru saja mengamankan perbatasannya. Mengapa kita harus menumpahkan darah putra-putra Utara untuk takhta asing di Oakhaven?"
Ketegangan langsung memuncak. Beberapa tetua lain mengangguk setuju, menggumamkan penolakan mereka terhadap perang ofensif di wilayah beriklim hangat.
Cassian hendak maju untuk mendebat, namun Aurelia dengan lembut menahan lengan suaminya. Ia melangkah maju satu langkah ke tengah aula, menarik seluruh perhatian mata tua yang skeptis itu kepada dirinya.
"Lord Hakon, dan para tetua Valenica yang terhormat," Aurelia memulai, suaranya jernih dan berwibawa, menggema tanpa getaran keraguan. "Jika kalian berpikir ini adalah perang demi takhta asing, maka kalian salah besar. Ini adalah perang untuk kelangsungan hidup Valenica itu sendiri."
Para tetua saling berpandangan, tampak terusik dengan pernyataan tersebut.
"Apa maksudmu, Putri Selatan?" tanya Lord Hakon, menyipitkan mata.
"Duke Valerius tidak menyerang kita hanya karena dia menginginkan kepalanya kembali atau karena dendam pribadi," jelas Aurelia, berjalan perlahan di tengah aula sambil menatap para tetua satu per satu. "Oakhaven menguasai Delta Sungai Emas—satu-satunya jalur perdagangan pangan utama yang menyuplai 40% kebutuhan gandum Valenica setiap kali musim dingin ekstrem tiba. Selama bertahun-tahun, ayahku menjaga aliansi ini dengan adil. Namun Valerius? Dia adalah serigala berbulu domba. Jika dia berhasil memantapkan posisinya di Selatan setelah memulihkan pasukannya, hal pertama yang akan dia lakukan adalah memutus rantai pasokan pangan ke Utara."
Aurelia berhenti tepat di depan Lord Hakon. "Dia akan mencekik Valenica kelaparan dari luar tanpa perlu mengirim satu pun prajurit ke Frosthelm. Menyerang Oakhaven sekarang, di saat mereka sedang lemah dan kacau, bukan sekadar membalaskan dendam saya. Ini adalah langkah preventif untuk memastikan rakyat Utara tidak akan pernah mati kelaparan di musim dingin mendatang karena pemerasan politik dari Selatan."
Keheningan melanda Aula Dewan. Argumen logistik dan ketahanan pangan yang dibawa Aurelia menghantam titik terlemah dari kekhawatiran para tetua. Mereka bisa mengabaikan masalah keluarga kerajaan, tetapi mereka tidak bisa mengabaikan perut rakyat mereka sendiri.
Raja Valerius tua terkekeh rendah dari kursi tahtanya. "Bagaimana, para Tetua? Apakah argumen dari Ratu masa depan kalian masih kurang masuk akal?"
Lord Hakon terdiam lama sebelum akhirnya menghela napas berat. Ia mengetukkan tongkat kayunya ke lantai. "Argumen yang luar biasa, Putri Aurelia. Dewan menyetujui mobilisasi perang. Tiga legiun penuh akan berada di bawah komando Pangeran Cassian."
Sentuhan di Balik Rencana Perang
Malam harinya, persiapan bergerak dengan kecepatan penuh setelah restu Dewan didapatkan. Peta-peta baru digelar, taktik pengepungan dirumuskan, dan mata-mata mulai dikirim melintasi perbatasan secara rahasia.
Di kamar pribadi mereka, Aurelia duduk di tepi tempat tidur besar, perlahan melepas hiasan rambutnya yang berat. Punggungnya terasa pegal luar biasa. Tiba-tiba, sepasang tangan yang hangat dan besar hinggap di bahunya, memberikan pijatan lembut dengan tekanan yang pas.
Aurelia memejamkan mata, menyandarkan kepalanya ke belakang, ke perut bidang Cassian yang berdiri di belakangnya.
"Kau luar biasa di Aula Dewan tadi," bisik Cassian, suaranya rendah dan penuh getaran emosi. Pijatan tangannya turun ke lengan atas Aurelia, menyalurkan kehangatan yang mengusir sisa dingin malam. "Aku hampir saja menghunus pedangku pada Hakon tua yang bebal itu, tapi kau menaklukkan mereka hanya dengan kata-kata."
"Pedang bisa memenangkan pertempuran, Cassian, tapi kata-kata dan strategi yang tepat bisa memenangkan sekutu," jawab Aurelia, membalikkan tubuhnya untuk menghadap sang suami. Ia menatap wajah Cassian yang kini dipenuhi guratan kelelahan namun tetap memancarkan ketampanan yang intens. "Aku hanya tidak ingin kau memikul seluruh beban ini sendirian. Kita menghadapi pamanku bersama."
Cassian menatap dalam-dalam ke dalam manik mata safir Aurelia. Ada rasa hormat yang mendalam, hasrat yang membara, dan komitmen yang tak tergoyahkan di dalam tatapannya. Ia berlutut di depan Aurelia, mengambil kedua tangan istrinya dan mengecup punggung tangan itu dengan takzim.
"Aku berjanji padamu, Aurelia," ucap Cassian dengan nada yang sakral. "Dalam waktu kurang dari satu bulan, bendera mawar Oakhaven akan kembali berkibar di atas menara tertinggi istana Selatan, menjembatani takhta kita. Dan tidak akan ada lagi racun atau pengkhianatan yang bisa menyentuh keluarga kita."
Aurelia tersenyum, air mata haru yang sempat tertahan kini mengalir pelan di pipinya. Namun, itu bukan air mata kelemahan; itu adalah air mata kesiapan. Ia menunduk dan mencium bibir Cassian—sebuah ciuman yang lambat, penuh penekanan, dan mengikat takdir mereka berdua semakin erat di tengah badai perang yang siap meletus di babak selanjutnya.
*•*
*•*
Fajar Mobilisasi
Satu minggu berlalu bagaikan kedipan mata. Hari keberangkatan yang ditentukan akhirnya tiba.
Di dataran luas di luar gerbang Frosthelm, pemandangan luar biasa tersaji. Tiga puluh ribu prajurit Utara—Legiun Serigala Perak—telah berbaris rapi dengan zirah hitam besi mereka yang berkilau tertimpa cahaya matahari fajar yang dingin. Tombak-tombak panjang tegak berdiri bagaikan hutan besi, dan spanduk serigala melolong milik Valenica berkibar dengan megah ditiup angin kencang.
Di barisan paling depan, menunggangi dua ekor kuda perang putih besar, Cassian dan Aurelia berdiri bersisian. Aurelia kini tidak lagi mengenakan gaun pengantin sutra. Ia mengenakan zirah pelindung dada perak yang dirancang khusus, dengan jubah bulu serigala hitam yang melambai di belakangnya. Di pinggangnya, tersampir sebilah belati berhulu safir—hadiah dari Raja Valerius tua sebelum mereka berangkat.
Cassian mencabut pedang besarnya, mengangkatnya tinggi-tinggi ke langit yang mulai bersih dari awan hitam.
"Prajurit Valenica!" suara Cassian menggelegar, disambut oleh hantaman perisai serentak dari puluhan ribu pasukan yang menciptakan suara gemuruh yang dahsyat. "Hari ini kita berbaris ke Selatan! Bukan untuk menjajah, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menegakkan keadilan dan mengamankan masa depan Utara! Ikuti spandukku, dan biarkan musuh tahu mengapa serigala tidak pernah berburu sendirian!"
"HOOOARRR!" teriakan perang dari tiga puluh ribu prajurit memecah kesunyian lembah, menggetarkan salju di puncak-puncak gunung.
Aurelia menoleh ke arah Cassian, dan pria itu membalas tatapannya dengan anggukan tegas. Dengan satu hentakan kekang, kuda-kuda mereka mulai bergerak maju, memimpin gelombang besi dari Utara menuju perbatasan Selatan, siap membuka lembaran baru dari perang pembalasan dendam yang akan mengubah peta sejarah dua kerajaan selamanya.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"