Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Sketsa Untukmu
Apa dia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu yang lain?
Pertanyaan itu mengikuti Keira sampai minggu berikutnya.
Ia membawanya ke kelas Bu Ratna, ke studio DKV, ke meja makan The Springs, bahkan ke mimpi pendek di antara obat dan alarm pagi. Setiap kali bertemu Xavier, Keira menunggu ada kalimat lanjutan dari malam di lift. Tapi Xavier bersikap seperti biasa: tenang, sedikit menyebalkan, memperhatikan apakah ia makan, dan mencatat kebiasaan observasi dengan wajah terlalu serius.
Pada hari Selasa sore, Keira duduk di studio DKV dengan tablet gambar di depan. Teman-teman lain sudah pulang, hanya tersisa suara AC dan klik mouse dari sudut ruangan. Ia seharusnya menyelesaikan revisi tugas ilustrasi editorial.
Sebaliknya, ia menggambar Xavier.
Versi kecil.
Kepala sedikit lebih besar, mata datar, kemeja hitam, dan tahi lalat kecil di bawah sudut bibir. Di sebelah karakter itu, Keira menambahkan Mochi dalam bentuk bulat hitam dengan ekspresi sombong. Awalnya ia hanya mencoret tanpa tujuan. Lalu garisnya makin rapi. Warna masuk. Bayangan halus ditambahkan. Ia bahkan menggambar tangan kecil Xavier memegang cup kopi, dengan tulisan di bawahnya:
`Tidak menerima drama.`
Keira menatap hasilnya, lalu tertawa sendirian.
Itu lucu.
Terlalu lucu untuk disimpan sendiri.
Masalahnya, kalau diberikan, artinya apa?
Terima kasih karena pernah membelanya di @unparfess. Terima kasih karena makan malam di Braga. Terima kasih karena mengingat perutnya, karena menarik kursi, karena tidak memaksa ketika ia menghindari cerita keluarga. Terima kasih karena membuatnya merasa seperti hidupnya bukan hanya diagnosis dan misi.
Keira menggigit ujung stylus.
"Ini cuma gambar," bisiknya pada layar. "Anak DKV kasih gambar itu normal."
Normal.
Ia mencetak gambar itu di kertas art carton kecil, memotongnya seukuran kartu, lalu melaminating dengan alat studio. Hasil akhirnya tampak seperti photocard karakter, cukup kecil untuk diselipkan di buku atau dompet.
Saat melihatnya, jantung Keira mulai tidak kooperatif.
***
Malamnya, ia berdiri di koridor The Springs sambil memegang amplop kecil warna cokelat.
Ia sudah mengetuk pintu Xavier, lalu menyesal sebelum pintu terbuka. Sayangnya, semesta tidak memberinya waktu kabur.
Pintu terbuka.
Xavier muncul dengan kaus gelap dan rambut agak berantakan. Di belakangnya, suara Kevin terdengar dari ruang tamu.
"Xav, siapa?"
Keira langsung panik. "Ada tamu?"
"Kevin." Xavier melirik amplop di tangan Keira. "Ada apa?"
"Kalau lagi sibuk, nanti aja."
"Tidak sibuk. Kevin cuma numpang WiFi dan mengganggu."
Dari dalam, Kevin berteriak, "Gue dengar!"
"Memang sengaja," jawab Xavier tanpa menoleh.
Keira hampir tertawa, tetapi amplop di tangannya mengingatkan tujuan. Ia menyerahkannya cepat-cepat.
"Ini. Buat kamu."
Xavier menerima amplop itu. Alisnya naik sedikit. "Apa?"
"Buka aja."
Ia membuka amplop di depan Keira.
Keira langsung menyesal lagi.
Xavier mengeluarkan kartu kecil itu. Untuk beberapa detik, ekspresinya tidak berubah. Ia hanya menatap gambar versi chibi dirinya, Mochi, dan tulisan `Tidak menerima drama`.
Keira mulai bicara terlalu cepat.
"Itu cuma sketsa. Maksudku, sudah dicetak, jadi bukan cuma sketsa. Tapi kecil. Nggak penting. Aku bikin karena kemarin kamu datang ke pameran dan... juga dulu soal @unparfess. Terus makan malam. Jadi, ya, terima kasih."
Xavier masih menatap kartu itu.
Keira merasa ingin menarik kembali amplopnya dan pindah kota.
Akhirnya Xavier berkata, "Lumayan."
Keira mengangkat kepala.
"Lumayan?"
"Iya."
"Aku menggambar wajahmu lebih lucu daripada aslinya dan kamu bilang lumayan?"
"Aslinya memang sudah bagus."
Keira tersedak udara.
Xavier memasukkan kartu itu kembali ke amplop, tetapi tidak mengembalikannya. "Terima kasih."
Suaranya lebih pelan saat mengatakan itu.
Entah kenapa, satu `terima kasih` itu menghapus kekesalan Keira atas kata `lumayan`.
"Ya sudah. Aku pulang."
"Keira."
Ia berhenti.
Xavier mengangkat kartu kecil itu sedikit. "Mochi di gambar ini terlalu bulat."
"Dia memang bulat secara spiritual."
Dari dalam, Kevin tertawa keras. "Gue nggak tahu konteksnya, tapi gue setuju!"
Keira kabur ke unitnya sebelum wajahnya benar-benar menyala.
Di dalam apartemennya, ia bersandar di pintu sambil menekan kedua tangan ke pipi.
Nokia tua di meja tidak berbunyi.
Tidak ada pesan `Nilai Replika naik`. Tidak ada catatan misi. Tidak ada hadiah Poin Kehidupan. Hanya layar gelap, diam seperti benda mati biasa.
Keira menatapnya cukup lama.
Aneh.
Biasanya, kalau sesuatu yang ia lakukan berkaitan dengan Xavier, ia langsung menunggu sistem bereaksi. Kali ini tidak. Gambar itu tidak dibuat untuk menyelesaikan tugas. Tidak untuk menambah hari. Tidak untuk menipu siapa pun.
Ia membuatnya karena ingin.
Kesadaran itu membuat dadanya terasa penuh sekaligus takut.
Begitu pintu tertutup, Xavier masih berdiri di ambang beberapa detik. Lalu ia menunduk, membuka amplop lagi, melihat kartu itu sekali lagi.
"Lumayan apanya," gumam Kevin yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
Xavier langsung menutup amplop. "Masuk."
"Bro, itu gambar lo?"
"Masuk."
"Dari Keira?"
Xavier menatapnya.
Kevin mengangkat kedua tangan. "Oke. Gue masuk. Tapi wajah lo barusan tidak lumayan. Wajah lo puas banget."
Xavier menendang kaki Kevin pelan saat mereka kembali ke ruang tamu.
"Aduh! Kekerasan terhadap saksi visual!"
Malam itu, setelah Kevin pulang, Xavier duduk di meja makan sendirian. Ia membuka dompetnya, menatap slot kosong di bagian dalam yang biasanya ia pakai untuk kartu akses cadangan. Setelah ragu sebentar, ia menyelipkan kartu chibi dari Keira di sana.
Pas.
Ia sempat mengeluarkannya lagi, memastikan sudut laminating tidak terlipat, lalu memasukkannya kembali lebih hati-hati. Kartu itu berada di belakang kartu identitas kampusnya, cukup tersembunyi, tapi mudah ia lihat kalau dompet dibuka.
Ia menutup dompet dengan wajah datar, seolah baru melakukan hal biasa saja, normal.
***
Keesokan siangnya, kebohongan wajah datar itu gagal total.
Di kantin kampus, Xavier sedang membayar kopi ketika dompetnya terbuka sedikit lebih lebar. Kevin yang berdiri di sampingnya melihat kilatan warna dari dalam.
"Tunggu."
Xavier langsung menutup dompet. "Tidak."
"Gue belum nanya."
"Jawabannya tidak."
"Itu gambar Keira kan?"
Xavier mengambil kopinya. "Kamu salah lihat."
"Mata gue minus, tapi tidak separah itu."
Kevin mencoba merebut dompet. Xavier menghindar dan menendang kakinya di bawah meja. Kevin meringis, tetapi tawanya tidak berhenti.
"Xav, lo simpan foto cewek di dompet!"
"Itu bukan foto."
"Lebih parah. Itu fanart personal."
"Kevin."
"Oke, oke. Gue diam."
Ia tidak diam.
Malamnya, di grup chat yang berisi Xavier, Kevin, Dino, dan beberapa teman lain, satu pesan Kevin muncul.
`Xav, sejak kapan kamu simpan foto cewek di dompet?`
Xavier membaca.
Tidak membalas.
Di seberang The Springs, Keira sama sekali tidak tahu bahwa gambar kecil buatannya sudah punya tempat tetap di dompet Xavier.