Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 006
Plaza Indonesia selalu terlalu terang pada siang hari.
Lampu butik memantul di lantai mengilap. Aroma parfum mahal bercampur kopi dari kafe lantai bawah. Keira berjalan pelan sambil menggandeng Tiffany, sementara dua pengawal Rio menjaga jarak beberapa meter di belakang.
Ethan tidak ikut. Secara resmi ia "tidur siang". Secara tidak resmi, ia duduk di hotel suite dengan tablet, melacak sinyal kendaraan Hartono Estate sambil mengunyah keripik pisang.
"Mommy," suara Ethan terdengar dari earbud kecil Keira, "target masuk Plaza Indonesia. Lantai tiga. Pak Hadi bersama dia."
Keira berhenti di depan etalase sepatu anak.
Target.
Anaknya sendiri disebut target oleh bocah lima tahun lain yang sedang berusaha terdengar seperti agen rahasia.
"Eth, jangan sebut dia target."
"Baik. Koko yang mungkin Koko masuk lantai tiga."
Tiffany menarik tangan Keira. "Mommy, itu?"
Di ujung koridor, Darren berjalan di samping Pak Hadi. Bocah itu memakai kaus biru tua dan sepatu putih. Ia memegang tali tas kecilnya, wajahnya tetap tenang, tetapi matanya bergerak mencari sesuatu.
Keira merasa dunia mengecil.
Semua suara toko, tawa pengunjung, musik latar, tiba-tiba menjauh. Yang tersisa hanya anak kecil itu.
Darren berhenti.
Ia menoleh seperti mendengar panggilan yang tidak diucapkan.
Lalu ia melihat Keira.
Tubuh kecilnya menegang. Satu detik kemudian, ia berlari.
Pak Hadi terkejut. "Tuan muda!"
Darren tidak berhenti. Ia berlari melewati dua pengunjung, hampir menabrak seorang wanita membawa tas belanja, lalu sampai di depan Keira. Tangannya yang kecil mencengkeram ujung gaun Keira seolah takut perempuan itu menghilang lagi.
Keira menunduk. Wajah yang sama dengan Ethan itu menatapnya dari jarak begitu dekat.
"Pretty Mommy," bisik Darren.
Panggilan itu menghantam pertahanan Keira lebih keras daripada semua hinaan Mulyono.
Ia berlutut di depan Darren. "Ren..."
Darren terdiam. Matanya membesar sedikit mendengar nama panggilan itu. Tidak banyak orang memanggilnya Ren. Biasanya hanya Daddy, kadang Pak Hadi ketika ingin membujuknya makan.
"Kamu ingat aku?" tanya Keira.
Darren mengangguk pelan, lalu menggeleng, lalu tampak bingung sendiri.
Keira tidak memaksa. Ia hanya membuka tangan.
Darren menatap pelukan itu.
Selama lima tahun, banyak orang memeluknya dengan hati-hati. Kevin memeluknya ketika ia mimpi buruk. Pak Hadi memeluknya ketika ia jatuh. Tetapi pelukan Keira terasa berbeda bahkan sebelum ia masuk ke dalamnya. Ada bau lembut yang tidak ia kenal dan anehnya ia rindukan.
Ia maju satu langkah.
Keira memeluknya.
Tubuh Darren kaku pada detik pertama. Lalu pelan-pelan, tangannya naik, memegang bahu Keira. Setelah itu ia memeluk erat, terlalu erat untuk anak yang biasanya tidak meminta apa pun.
Keira memejamkan mata. Napasnya bergetar. Anak ini hidup. Anak ini hangat. Anak ini bernapas di pelukannya.
Tiffany berdiri di samping mereka, mata bulatnya basah. "Koko Ren..."
Darren menoleh sedikit. Melihat Tiffany, ia tampak terkejut. Gadis kecil itu mirip mereka, tetapi lebih lembut, lebih cerah.
"Aku Tiffi," katanya pelan, takut membuat Darren mundur. "Kemarin aku telepon."
Darren menatapnya lama. "Adik."
Tiffany langsung menangis. "Iya."
Pak Hadi akhirnya sampai. Wajahnya pucat karena takut. Ia melihat Keira, melihat Darren yang memeluk perempuan itu, lalu bingung harus bersikap bagaimana.
"Nona, maaf. Tuan muda tidak biasanya..."
Keira mengangkat wajah. Matanya masih merah, tetapi suaranya sopan. "Tidak apa-apa, Pak Hadi."
Pak Hadi terkejut. Perempuan itu tahu namanya.
Di telinga Keira, Ethan berbisik panik, "Mommy, Pak Hadi mulai curiga. Kamera lantai tiga mengarah ke kalian. Aku bisa matikan."
"Jangan," jawab Keira hampir tanpa suara.
Ia tidak ingin pertemuan pertama ini terlihat seperti penculikan.
Darren mengangkat kepala. "Mommy pulang?"
Pertanyaan itu membuat Keira nyaris patah.
Ia menyentuh pipi Darren dengan sangat hati-hati. "Mommy sedang berusaha pulang ke kamu."
Pak Hadi menahan napas. "Tuan muda, kita harus kembali. Tuan Kevin akan khawatir."
Begitu nama Kevin disebut, Darren memegang Keira lebih kuat.
"Tidak."
Satu kata itu membuat Pak Hadi membeku. Darren menolak. Dengan suara.
Keira ingin mempertahankannya. Setiap bagian tubuhnya ingin mengambil Darren dan berlari. Tetapi ia tahu Kevin Hartono bukan Hendra. Menghadapi pria itu perlu bukti, hukum, dan strategi. Jika ia salah langkah, Ethan dan Tiffany bisa terseret.
Ia mencium rambut Darren cepat, lembut, nyaris tidak terlihat.
"Ren, dengar Mommy. Kamu pulang dulu dengan Pak Hadi."
Darren menggeleng. Air matanya jatuh tanpa suara.
Keira menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. Sentuhan kecil itu membuat Darren memejamkan mata, seperti anak yang baru pertama kali tahu bahwa air mata bisa dihapus oleh seseorang yang benar-benar ingin tinggal.
"Kalau kamu takut, pegang ini."
Keira melepas saputangan sutra kecil dari tasnya. Di sudutnya ada inisial K yang dijahit tipis. Ia menyelipkannya ke tangan Darren.
"Simpan. Nanti Mommy ambil lagi."
Darren menggenggam saputangan itu seperti benda penyelamat.
"Mommy akan cari kamu lagi," bisik Keira. "Mommy janji."
Darren menatapnya, seolah mencoba menghafal wajahnya. Lalu Pak Hadi menggendongnya. Bocah itu tidak berteriak. Tidak meronta. Hanya memandang Keira dari bahu Pak Hadi, air matanya turun satu per satu.
Tiffany menangis kecil. Keira menggenggam tangan putrinya sampai kuku mereka sama-sama memutih.
Setelah Darren menghilang di eskalator, Keira baru berdiri. Lututnya terasa lemah.
Ethan di earbud tidak bercanda lagi. "Mommy..."
"Siapkan semua data yang bisa kamu dapat tentang adopsi Darren."
"Baik."
"Dan cari laboratorium DNA yang bisa kita percaya."
Tiffany mengusap mata dengan punggung tangan. "Mommy, Koko Ren sedih."
Keira menatap arah Darren pergi.
"Karena dia terlalu lama sendirian."
Malamnya, di hotel suite, Keira duduk di tepi tempat tidur sambil menatap foto Darren dari rekaman CCTV Plaza Indonesia. Anak itu menoleh ke belakang, matanya penuh air.
Keira menyentuh layar.
"Mommy pasti membawa kamu pulang," bisiknya. "Tunggu sebentar lagi, Ren."
Tiffany tertidur di sofa dengan mata sembap. Ethan masih duduk di lantai, tetapi layarnya tidak bergerak. Ia menatap ibunya lama.
"Mommy, kalau nanti Daddy Darren marah?"
Keira menyelimuti Tiffany. "Biar Mommy yang hadapi."
"Kalau dia kuat?"
"Mommy juga kuat."
Ethan mengangguk, tetapi suaranya kecil. "Tapi Mommy capek."
Keira berhenti. Lalu ia menarik Ethan ke pelukan. "Capek boleh. Menyerah tidak."
Di Hartono Estate, Pak Hadi melapor kepada Kevin dengan suara hati-hati.
"Tuan Muda, hari ini di mal... Darren dipeluk seorang wanita."
Kevin yang sedang membaca laporan berhenti.
Pak Hadi menelan ludah. "Aneh sekali. Tuan muda bicara lebih dulu... maaf, maksud saya, tuan muda sendiri yang bicara. Ia memanggil wanita itu Mommy."
Ruangan kerja Kevin menjadi sangat sunyi.
Kevin menutup map perlahan.
"Cari tahu siapa wanita itu."