NovelToon NovelToon
ELDISKA

ELDISKA

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Romansa-Percintaan bebas / Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Persahabatan / Tamat
Popularitas:259.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Shann29

"Sekarang topinya dulu, besok hatinya." Ucap El pada Diska.

AWAS SENYUM SENYUM SENDIRI DAN JADI BAPER!!

Cerita cinta ditahun 90'an.
Yg kangen cerita 90an silahkan merapat dan mengenang bersama masa-masa cinta monyet dan cinta pertama.

Diska Adalah Seorang Remaja Yang Ceria, senang membaca buku dan hobi membeli banyak buku dan Pandai membuat puisi Sementara Eldirga atau yang biasa dipanggil El Seorang Pria Cool dan Galak yang mempunyai hobi bermain gitar dan menciptakan lagu.
Diam Diam Mereka Saling Jatuh Cinta Namun Saling Gengsi.

Bagaimana Kelanjutannya? Simak Terus Kelanjutannya Ya.
Mohon Kritik dan Saran Yang Membangun Untuk Penulis Agar Lebih Berkreatif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EL BERUBAH

Dua minggu setelah nenek El meninggal, suasana di rumah itu masih terasa sepi. Aroma bunga masih samar-samar tercium di ruang tamu, menempel di dinding dan tirai yang jarang dibuka. Diska pergi siang itu yang sudah berjanjian dengan Bima, Airin, dan Rizki. Mereka ingin menghibur El, yang sejak pemakaman jarang terdengar kabarnya .

“Ibu titip makanan buat El, ya,” kata Ibu Diska sambil menyerahkan rantang.

“Makasih, Bu. Ibu baik banget sama El,” jawab Diska.

“Ibu cuma mau kamu juga tetap baik sama dia. El anak yang sopan.” Ibu tersenyum, menepuk pipi Diska pelan sebelum anaknya berangkat.

Diska tiba di rumah El sekitar jam empat sore. Rumah itu terlihat lengang. Di halaman hanya ada beberapa pot bunga milik nenek yang kini mulai layu. El muncul di depan pintu dengan wajah lesu.

“Sendiri?” tanya El pelan.

“Iya. Diantar Kak Dhika tadi, tapi dia langsung pergi lagi,” jawab Diska sambil menenteng rantang makanan.

“Airin belum datang?”

“Belum. Mungkin masih di jalan.”

El mengangguk. “Masuk, yuk.”

“Ibu titip makanan buat lo sama Kakek,” kata Diska menyerahkan rantang.

“Makasih, Dis. Keluarga lo baik banget,” ujar El tulus.

Diska tersenyum kecil. “Kakek mana?”

“Lagi tidur. Kayaknya capek.”

“Lo juga kelihatan capek, El,” kata Diska, tangannya refleks menyentuh pipi El.

El menatapnya sebentar, lalu mendekat. “El…” bisik Diska pelan.

Tanpa banyak kata, El mencium bibirnya. Diska kaget, tapi tak menolak. Ciuman itu lembut, canggung, tapi hangat. Ciuman pertama mereka. Saat berpisah, El menunduk, suaranya nyaris tak terdengar.

“Gue sayang lo, Dis.”

Diska tersenyum gugup. “Duduk dulu, ya. Gue ambilin minum,” kata El, beranjak ke luar kamar.

Namun Diska menahan pergelangan tangannya. “Gue kangen lo,” ucapnya lirih.

El berhenti, menatap gadis itu. “Gue juga, Dis.” Tangannya mengusap rambut Diska dengan lembut. “Gue pengen kita ketemu lebih sering. Tapi lo tau sendiri keadaan gue, kan?”

Diska mengangguk pelan. “Gue cuma mau sering ketemu lo, itu aja.”

El menarik napas dalam. “Gue usahain, Dis.”

Diska memandangi wajahnya. “Kenapa lo gak pernah mau main ke rumah gue?”

El tersenyum kecut. “Gue gak pede, Dis. Rumah lo besar, keluarga lo hangat. Gue… gak pantas.”

Diska menggeleng. “Lo gak pernah bikin gue kecewa, El. Gue malah bangga sama lo.”

El diam sejenak, lalu mencium Diska sekali lagi—singkat, tapi penuh makna. “Tunggu gue, ya,” katanya pelan.

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. “Kakek udah bangun, Dis. Bentar, ya,” kata El.

Diska hanya mengangguk.

Kakek duduk di meja makan, wajahnya tampak lelah tapi ramah.

“Ada siapa, El?” tanyanya.

“Ada Diska, Kek. Temen-temen El ngumpul di sini, Kek,” jawab El sambil mengambil rantang.

“Itu makanan dari siapa?” tanya Kakek lagi.

“Dari Ibunya Diska, Kek.”

“Diska mana?” Kakek menoleh.

Diska segera keluar dari kamar. “Halo, Kek,” ucapnya sopan sambil mencium tangan sang Kakek.

Kakek tersenyum hangat. “Makasih ya, Nak.”

“Kalau Kakek belum makan, Diska ambilin ya, Kek,” katanya ramah.

“Wah, Kakek belum lapar,” ucap Kakek.

“Tapi tetap harus makan walaupun sedikit,” kata Diska sambil menyiapkan piring.

El hanya memperhatikan dari jauh, diam, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Diska mengambilkan makanan untuk Kakek dan El, sementara dirinya hanya duduk menemani.

“El mau makan juga?” tanya Diska.

“Iya, makan bareng, yuk,” jawab El.

Kakek menatap mereka berdua. “Masakan Ibunya Diska enak banget, kayak masakan Nenek dulu.”

Diska tersenyum. “Makasih, Kek.”

Setelah makan, Diska membereskan meja, sementara El membantu mencuci piring.

“Lo bisa cuci piring juga, El?” tanya Diska sambil tertawa kecil.

“Bisa lah. Kan bukan anak manja,” balas El santai.

Baru saja mereka selesai, terdengar suara ketukan di pintu depan.

“Sebentar, ya,” kata El, menepuk pipi Diska sebelum keluar kamar.

Yang datang ternyata Airin, Bima, dan Rizki. Tak lama Ryan juga muncul.

“Udah dari tadi, Dis?” tanya Airin.

“Baru aja,” jawab Diska.

“Sibuk terus lo sekarang, Dis?” tanya Rizki.

“Enggak, biasa aja,” jawab Diska dengan senyum tipis.

Sore itu berlalu dengan obrolan ringan. Tapi di tengah tawa mereka, El diam. Pandangannya tak lepas dari Diska. Ada sesal yang menggantung di matanya.

Maafin gue, Dis. Gue gak tahu harus gimana lagi, gumamnya dalam hati.

Empat bulan berlalu sejak kepergian nenek El. Banyak hal berubah. El jarang menghubungi Diska, sementara Diska terus menunggu kabar darinya.

Di sekolah, Ryan menatap El dengan kesal. “Lo deket sama Novi anak kelas 1.3, El?”

El melirik malas. “Cuma iseng. Dia yang duluan deketin gue.”

“Iseng? Lo pikir Diska gak punya perasaan? Lo bisa, kan, jauhin si Novi?” suara Ryan meninggi.

“Udah lama gue gak ketemu Diska. Gue jenuh, Yan,” jawab El, nada suaranya mulai keras.

“Lo jenuh, tapi lo gak mikir Diska di sana nungguin lo? Dia masih percaya sama lo, El,” kata Ryan dengan nada kecewa.

El menghela napas kasar. “Diska gak bakal tahu, selama lo gak ngomong.”

Ryan memukul pundak El. “Gila lo, El. Gue gak nyangka lo setega ini.”

Ryan pun pergi, meninggalkan El yang terdiam dengan tatapan kosong.

Malamnya, Diska mengirim pesan.

Diska: “Yan, besok lo ada acara gak?”

Ryan: “Tumben chat gue, ada apa?”

Diska: “Temenin gue ke mall, ya. Mau cari kado buat El.”

Ryan: “Kenapa gak sama El aja?”

Diska: “Gue mau kasih kejutan. Tiga hari lagi dua tahunan kita.”

Ryan: “Oke, besok ya.”

Diska: “Thanks, Yan.”

Keesokan harinya mereka bertemu di mall.

“Diska!” panggil Ryan dari jauh.

“Udah lama nunggu?” tanya Diska.

“Baru aja.”

Mereka berjalan berdua sambil melihat toko-toko. “Gue jarang ketemu El,” kata Diska lirih.

Ryan yang tahu keadaan sebenarnya hanya bisa pura-pura. “Lo sibuk ya, Dis?”

“Enggak, cuma El-nya yang susah dihubungin,” jawab Diska, matanya meredup.

Ryan mencoba mengalihkan. “Lo mau cari kado apa?”

“Topi,” jawab Diska.

Ryan menunjuk toko brand ternama. “Itu bagus, yuk masuk.”

Saat Diska sedang memilih topi, Ryan menerima telepon dan keluar sebentar. Diska masih menimbang-nimbang warna topi, sampai tiba-tiba seorang cewek berdiri di sebelahnya.

“Topinya bagus, ya,” kata cewek itu ramah.

Diska tersenyum. “Iya.”

“Masih ada stok, Mba?” tanya cewek itu ke penjaga toko.

“Udah habis, tinggal itu aja. Limited edition,” jawab SPG.

“Sayang banget. Padahal mau gue kasih ke gebetan. Siapa tahu abis dikasih, dia nembak gue,” katanya sambil tertawa kecil.

Diska hanya menatapnya sebentar, lalu menyerahkan topi di tangannya. “Kalau gitu, ambil aja. Buat lo.”

“Serius? Gapapa?”

“Gapapa,” jawab Diska tersenyum. “Semoga berhasil ya.”

Cewek itu berterima kasih, lalu pergi. Diska meninggalkan toko dan menyusul Ryan.

“Gak jadi?” tanya Ryan.

“Enggak,” jawab Diska singkat.

“Kenapa?”

“Tadi ada cewek mau beli topi yang sama, katanya buat gebetannya. Siapa tahu abis dikasih topi, cowoknya nembak dia,” ucap Diska, suaranya pelan.

Ryan menatapnya iba. “Dis, lo gak apa-apa?”

Diska menggeleng. “Gue kangen El, Yan. Gue harus gimana?”

Ryan mengajaknya duduk di foodcourt, membeli milkshake cokelat kesukaan Diska. “Minum dulu, ya,” katanya lembut.

Air mata Diska nyaris jatuh. “Gue gak lagi baik-baik aja, Yan.”

Ryan menatapnya dengan campuran kasihan dan marah—bukan ke Diska, tapi ke El.

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang. “Ryan!” sapa seorang cewek.

Ryan menoleh. Diska menatap kaget. “Itu cewek yang tadi mau beli topi,” katanya lirih.

Cewek itu menghampiri mereka. “Jadi ini cewek lo? Baik banget dia.”

“Bukan,” jawab Diska cepat. “Kita cuma sahabatan dari SMP.”

“Oh, dari SMP. Berarti lo kenal El juga dong? Gue deket sama dia sekarang,” kata cewek itu polos.

Nama itu membuat dunia Diska berhenti sejenak. Ryan membeku, wajahnya tegang. Sebelum sempat ia bicara, cewek itu melanjutkan, “Gue mau kasih topi itu buat dia. Kita udah sebulan deket.”

“El?” suara Diska nyaris hilang.

Cewek itu tersenyum, “Iya. El. Anak kelas 1.1.”

Saat itu juga El muncul dari arah toilet, langkahnya terhenti begitu melihat mereka. Novi, Ryan, dan Diska dalam satu frame yang hening.

Pandangan Diska bertemu dengan El. Matanya merah, tapi bukan karena marah—karena patah.

“Lo tahu ini semua, Yan?” suaranya gemetar.

“Dis, gue bisa jelasin—” kata Ryan terbata.

Tapi Diska sudah berdiri. “Gue pikir lo sahabat gue, Yan. Ternyata gue salah.”

Dia berbalik pergi, menahan air mata yang akhirnya tumpah.

“El!” Ryan berteriak, tapi El hanya berdiri membisu. Novi memanggil-manggilnya, tapi tak digubris. El justru berlari mengejar Diska, namun gadis itu sudah masuk ke taksi.

“Pak, jalan, cepat!” ucap Diska dengan suara parau.

“Ke mana, Mba?” tanya sopir.

“Jalan aja dulu…” jawabnya lirih.

El mengetuk jendela taksi. “Dis! Tunggu, Dis. Diska!” tapi mobil itu melaju, meninggalkannya di parkiran.

Ryan menatap El dengan kecewa. “Puas lo? Lo terlalu brengsek buat Diska.”

El tak menjawab. Hanya berdiri diam, menatap arah taksi yang menghilang di tikungan. Dan di dada yang sesak, ia tahu—ia baru saja kehilangan sesuatu yang tak akan sama lagi.

1
Yus Warkop
terimakasih author ceritanya bagus lanjut baca cerita erlan , rehat sbulan nunggu ,puasa dulu
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
alhamdulillah 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
EL junior bakalan cepet nongol dech
Yus Warkop
waaw 4 kali
Yus Warkop
ooh jodoh ryan udah nongol naya kayanya
Yus Warkop
jodohin sama mira thor ryan biar seru
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
udah mau nikah elu gwe nya ganti yah dengan yg lebih romantis
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰😂😂🥰😂
Yus Warkop
betapa menenangkan perkataan ibu 🥰🥰🥰
Yus Warkop
aah si El
Yus Warkop
rasain tuh el
Yus Warkop
masih ginta monyet yah seusia gitu
Yus Warkop
sweet sweet
Yus Warkop
aku bacanya sambil mesem" aja ngingetin diri sendiri
Yus Warkop
ya kasih perhatian Dhisa samaEL yah kasian dan maklummin kslo dikit" galak nanti juga gak deh
Yus Warkop
thn 90 aku belum ngenal hp , yg ada tlpn rumah sama tlpn koin tapi itu fi kampung gak tahu kali di ibukota yah haha
Yus Warkop
seneng juga baca kisah smp haha thn 90 han aku udah tamat sma deh 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!