NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.

Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.

Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.

Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.

“Liam…”

“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”

“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”

“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”

Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Kereta bangsawan Orion berderap meninggalkan ibu kota kerajaan Nether, roda-roda menggelinding diatas jalan berbatu, membangkitkan debu ke udara kering, sementara sorot matahari sore memanjangkan bayang-bayang menara istana di belakangnya.

"Seorang Ratu tanpa pasukan? Hanya membawa pakaian, perhiasan biasa, dan satu pelayan saja?" Elliot mengejek dengan nada menghina, alisnya terangkat tinggi, matanya menatap tidak percaya, heran dengan betapa sederhana dan lemahnya wanita yang kini menjadi istrinya itu.

Seorang ratu yang namanya ditakuti hingga ke pelosok selatan, seringkali namanya disebut-sebut sebagai penyihir jahat. Tapi ironisnya, di dalam kerajaan itu sendiri, ia tak memiliki apa-apa, padahal wajah dan namanya sudah menjadi simbol kerajaan Nether.

Davira tersenyum getir, mata hitamnya menatap Elliot dengan campuran kesedihan dan kepahitan. "Mungkin itulah harga dari kekuasaan yang dibangun di atas bayang-bayang ketakutan. Nama besar tak selalu berarti memiliki kekuatan sejati."

Sambil bersandar santai di kursinya, Elliot terus menatap Davira dengan intens, baru kali ini ia melihatnya tampil sederhana dan apa adanya.

Biasanya, yang ia lihat adalah Davira duduk tegak di atas takhta, wajahnya memancarkan kesombongan, sementara matanya melirik Liam dengan kekaguman yang nyaris membabi buta–sorot mata yang menurut Elliot terlihat konyol dan naif.

Kini, kontras itu begitu mencolok. Davira yang duduk di hadapannya tampak rapuh, sangat berbeda dari sosok ratu yang dahulu disegani dan ditakuti. Tatapannya menerobos jendela, mengarah pada kastel yang pernah menjadi singgasananya—tempat ia memimpin kerajaan dan menaungi rakyatnya, yang kini terpaksa ia tinggalkan.

"Perjalanan ke selatan akan memakan waktu dua hingga tiga hari. Kita akan berhenti di penginapan sebelum tengah malam nanti," kata Elliot, suaranya datar, matanya sesekali menatap Davira dengan rasa ingin tahu yang tak terkatakan.

Davira hanya mengangguk pelan, matanya menatap jendela kereta yang mulai menampakkan pemandangan pedesaan disore hari. "Tak masalah, aku harap penginapan itu cukup... nyaman." gumamnya hampir tak terdengar.

Elliot tersenyum sinis, matanya menyapu wajah Davira dengan pandangan dingin. "Nyaman? Ha! Menurutmu apa artinya nyaman bagi seorang mantan ratu sepertimu? Hidup bersamaku tidak selalu di atas bantal sutra dan makan malam dengan piring emas seperti di istana ibu kota." Suaranya mengandung nada pahit, seolah mengungkit semua perbedaan antara kehidupan mewah yang pernah Davira nikmati dan realitas keadaannya yang menurut Elliot jauh lebih rendah.

"Yah... Setidaknya aku tidak akan meninggalkanmu seperti istri-mu yang dulu," celetuk Davira tanpa sengaja, suaranya mengandung nada pedas yang tak terduga.

Elliot langsung terkejut, matanya melebar karena ia belum pernah menikah–kalimat itu membuatnya bingung. "Apa maksudmu... Istriku yang dulu?" tanyanya dengan nada waspada, alisnya terangkat, mencoba memahami sumber informasi Davira yang sepertinya tak sesuai dengan kenyataan.

Davira mengalihkan pandangannya ke jendela kereta, seolah menyerap pemandangan senja yang mulai menggelap di luar. "Aku harap di penginapan, ada makanan hangat... aku sangat lapar," katanya dengan nada santai, berusaha mengalihkan perhatian dari topik sebelumnya yang membuat Elliot tampak kesal.

Tepat ketika matahari tenggelam di ufuk barat, bulan mulai meninggi di langit malam yang semakin gelap. Kereta berhenti dengan perlahan di depan penginapan kota Gregory, derap kuda-kuda yang lelah terdengar seperti desahan napas panjang.

Kota Gregory, sebuah persinggahan bagi para pelintas yang mencari istirahat dari perjalanan panjang mereka–tempat di mana kelelahan dan ketenangan berjumpa di bawah naungan malam yang sunyi.

Para wanita berpakaian minim keluar menyambut para prajurit yang baru tiba, siap memberikan pelayanan. Dari balik keretanya, Davira mengamati pemandangan itu. Ia menangkap kesan bahwa keluarga Orion tampaknya sudah menjadi pelanggan tetap di penginapan terbesar di kota pelintasan ini.

"Abaikan saja mereka. Para prajuritku butuh kesenangan," ujar Elliot, sambil membuka pintu kereta.

Elliot turun lebih dulu, lalu dengan sikap penuh hormat membantu Davira—istrinya, keluar dari kereta. Dari kejauhan, Grand Duke Orion menatapnya tajam. Tatapan sinis itu tertuju pada Davira, mantan ratu yang kini telah menjadi menantunya.

"Your Grace." Davira membungkuk memberi hormat kepada Grand Duke Orion. Namun, ayah mertuanya itu hanya mendengus dingin, mengabaikannya, lalu melangkah masuk ke dalam pintu penginapan.

Begitu melangkah masuk, Davira mendapati interior penginapan itu jauh lebih mewah dari yang ia bayangkan. Lampu-lampu kristal dan perabotan berukir memenuhi ruangan, memberi kesan megah. Di ambang pintu dalam, Madam Tessa sudah berdiri menyambut Grand Duke Orion dan Elliot dengan penuh hormat

"Selamat datang kembali, Your Grace, Grand Duke Orion... dan tentu saja Tuan Muda Elliot. Kehormatan bagi kami menyambut Anda di penginapan kami malam ini." Madam Tessa membungkuk anggun.

Grand Duke Orion hanya mengangguk singkat, wajahnya tetap dingin.

Elliot pun membalas dengan sopan, "Terima kasih, Madam Tessa. Selalu siapkan kamar untuk kami."

"Malam ini, aku ingin memesan tiga kamar terbaik yang kalian miliki," ucap Elliot tegas.

Madam Tessa menunduk sopan, namun wajahnya sedikit canggung. "Ampun, Tuanku. Untuk malam ini hanya tersisa dua kamar terbaik. Yang satu sudah lebih dulu dipesan oleh tamu lain."

Elliot menoleh pada Davira, tatapan mereka saling bertemu sesaat, lalu suasana mendadak hening.

Grand Duke Orion terkekeh sinis. "Hm, rupanya takdir berpihak padamu, Elliot. Malam pertama dengan istrimu tak perlu menunggu lama."

Elliot menarik napas panjang, lalu menoleh sekilas ke arah ayahnya. "Jika itu kehendak takdir, maka aku akan menerimanya, Your Grace," jawabnya tenang, meski sorot matanya jelas menyiratkan penolakan terhadap sindiran itu.

Ucapan sinis Grand Duke Orion dan Elliot membuat darah Davira serasa membeku. Wajahnya memerah, bukan karena malu semata, melainkan karena tatapan semua orang seakan menelanjangi rahasia yang tak ingin ia tunjukkan. Jemarinya meremas ujung gaun, gugup mencari tempat untuk bersembunyi.

Di sampingnya, Noela, pelayan pribadinya selalu setia menemaninya, segera mendekat dan berbisik. "Nyonya... apakah Anda ingin saya menyiapkan air hangat dan pakaian bersih setelah perjalanan panjang?” mencoba mengalihkan perhatian Davira dari tatapan menusuk Grand Duke Orion.

Davira menoleh sekilas pada Noela, sorot matanya berterima kasih, meski bibirnya terlalu kaku untuk sekadar tersenyum.

"Tuan, izinkan aku membersihkan diri terlebih dahulu sebelum beristirahat," ucapnya dengan lembut pada Elliot.

Elliot menatap Davira sesaat, lalu mengangguk singkat. "Baik, pergilah,"

Davira pun segera berjalan naik keatas bersama Noela, menyembunyikan perasaan lega di balik sikap anggunnya.

Begitu Davira dan Noela menghilang di balik lorong kamar, suasana menjadi hening. Grand Duke Orion menyipitkan mata, lalu bertanya dingin, "Kau tidak berpikir untuk menyentuhnya malam ini... bukan?"

Elliot menoleh, sorot matanya tegas namun tenang. Ia menggeleng perlahan. "Seperti yang sudah kukatakan, Davira membutuhkan waktu. Ia harus membuktikan perannya terlebih dahulu... sebagai Duchess Orion."

Grand Duke Orion mendengus pelan, bibirnya melengkung membentuk senyum sinis, seolah tidak sepenuhnya setuju dengan jawaban putranya.

"Ingat ini baik-baik, putraku. Jangan sampai perempuan itu membawa kehancuran bagi keluarga Orion. Aku tidak akan segan menyingkirkannya… bahkan jika ia sudah menjadi istrimu."

Elliot mengepalkan tangan di samping tubuhnya, tapi wajahnya tetap tenang.

"Davira bukan ancaman, Ayah. Ia akan menjadi kekuatan baru bagi kita."

Grand Duke Orion hanya terkekeh sinis, seolah tak percaya, sebelum berbalik menuju kamarnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️

1
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
LAHHH 😭 Davira malah terinspirasi
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Elizabeth santai menyodorkan daging, sementara orang-orang di sekitarnya mundur perlahan karena takut jadi menu tambahan 😭🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Orang lain mungkin sudah pucat ketakutan, sementara dia malah bangga memperkenalkan hewan peliharaannya. 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
kuda berbulu 😅
Karo Karo
update nya jangan lama-lama kk thor
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: iya kak 🤗 ikuti teruss yah ☺️
total 1 replies
Karo Karo
oh jelas soalnya dalam buku bgtu banyak pelajaran yg bsa membungkam mulut orang yg hanya bsa pake otot tpi tdk pake otak 😂
Karo Karo
wah wah 😂 mantap
Karo Karo
mantap
Karo Karo
tok tok tok lah Thor 😁
Karo Karo
keren kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: makasih ☺️🤗
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Fiona tralu meremehkan Davira. Nanti juga kena batunya sendiri 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keren banget, Davira, jangan remehkan mantan ratu. tunjukkan kalau mantan ratu punya aura wibawa 🤣👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Nah, saingan akhirnya muncul, pasti bakal makin panas🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
duh Davira lagi2 harus menghadapi perlakuan yg menyakitkan, Grand Duchess terlalu meremehkan Davira 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Visualnya benar² membantu membayangkan Davira, Elliot, dan suasana kerajaannya 🥰
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Kasihan Davira, tapi yahh dia memang harus menghadapi konsekuensi dari kehidupan sebelumnya 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keputusan terbaik! Tinggalkan Liam dan malangnya, mulai lah hidup baru bersama Elliot👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Semoga di kehidupan kedua ini Davira bisa menyelamatkan Elliot & keluarganya.
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Idette siap² tersaingi. Davira sekarang tak klah mempesona
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Davira terlalu sabar di kehidupan pertamanya. Aku ikut sesak bacanya 😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!