NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah Sang Mafia

Dendam Berdarah Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.

Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.

Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.

William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.

Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.

"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."

Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.

Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.

Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Di Meja Makan

William dan Akila makan berdua di ruang makan, sesekali William menatap Akila yang seperti tak bersemangat untuk makan.

'Bagaimana dengan Anak-anakku, apa mereka bisa makan dengan baik? Aku merindukan mereka.' ucap Akila membatin.

Akila tak sadar kalau air matanya jatuh tanpa diminta, sebelum William melihat ia menangis, segera Akila usap air matanya itu.

Akila menunduk, ia makan walau air matanya terus jatuh.

Tiba-tiba...

"Apa kau punya kehidupan yang baik hingga kau menangis hanya karena ada di dekatku?" Tanya William membuat Akila mengangkat kepalanya.

Tanpa ragu Akila mengusap air matanya sendiri didepan William. Tak peduli lagi Akila kalau William mau melihat tangisnya, lagipula kesedihan Akila muncul karena William.

'Iya, aku punya kehidupan yang indah. Aku punya Anak-anak yang selalu menanti kepulanganku. Dan mereka pandai memasak sarapan sebelum aku bangun, mereka tahu setiap hariku. Hidupku berwarna karena mereka ada.' jawab Akila dari dalam hatinya.

Akila tidak mengatakan itu secara langsung.

"Jawab aku Akila." Ucap William lagi.

"Iya. Aku punya kehidupan yang lebih baik sebelum kau muncul. Aku menjauh dan pergi darimu adalah kehidupan indah yang pernah aku jalani selama ini." Jawab Akila.

William mengangguk.

"Lalu, bagaimana dengan keluargamu sendiri? Kenapa kau seperti asing pada mereka, bukankah mereka keluargamu? Akila, kau membuatku penasaran." Ucap William.

Akila meletakkan alat makannya, ia menatap wajah William.

"Kau tak perlu penasaran tentangku. Satu-satunya yang perlu kau lakukan hanya satu William, lepaskan aku. Lagipula aku juga sudah mengatakan padamu bahwa yang mengemudi mobil itu bukan aku." Ucap Akila.

William kali ini diam.

"Aku ingin pernikahan kita dibatalkan saja, aku hanya mau bebas. Aku..."

"Apa tentangmu di masa lalu itu salah, Akila? Aku dengar dari cerita orang tuamu pada publik, bahwa kau adalah putri mereka yang paling suka membuat masalah. Kau suka mabuk dan ada banyak hal yang kau lakukan. Apa itu faktanya, atau kau hanya bagian yang disalahkan?" Tanya William membuat Akila mengepalkan tangannya di bawah meja.

Dunia memang sejahat itu pada Akila, dia sudah dikenal sebagai Putri kedua Mason yang paling buruk. Namun untuk apa Akila mengatakan yang sesungguhnya? Lagipula seperti itulah penilaian orang terhadapnya.

Akila sudah tak peduli.

Yang tahu bahwa Akila itu hanya Anak adopsi adalah keluarga Mason sendiri, orang lain tahu bahwa Akila anak sah di keluarga itu. Sama seperti William saat ini.

"Kenapa kau bertanya? Memang seperti itu aku." Ucap Akila.

William masih menatap Akila.

"Namun anehnya aku ragu, kau malah tampak seperti wanita lemah. Kau seperti mudah dipermainkan, dan terlebih kau bodoh." Ucap William.

Akila membuang tatapannya dari William, ia melanjutkan makannya saja.

"Terserah kau." Ucap Akila tak mau menanggapi dengan banyak ucapan.

William juga diam, ia menatap Akila yang kini memulai makannya.

---

Terkhusus CCTV di ruang makan itu sedikit canggih.

Atheos dan Athena mendengar percakapan antara Akila dan William melalui ponsel mereka.

Hanya butuh beberapa detik bagi Athena menahan tangisnya yang akan tumpah itu.

Detik berikutnya Athena menangis.

"Dia mengatai Mommy bodoh, aku benar-benar ingin membuatnya menangis dan memohon maaf pada Mommy. Atheos, lakukan sesuatu. Bawa Mommy kembali." Pinta Athena.

Athena merebahkan tubuhnya di ranjang, ia meringkuk.

Rindunya makin membuncah pada Akila.

Atheos menoleh menatap Athena, jujurnya ia juga kesal melihat William memperlakukan Akila seperti itu.

Sedangkan Atheos memejamkan matanya.

"Athena..."

"Aku punya ide, mari kita buka mata kita lagi sampai pagi." Ajak Atheos.

Athena mengernyitkan dahinya.

"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Athena.

"Lihat nanti." Ucap Atheos membuka matanya, lalu mengukir senyum.

---

Akila sungguhan ragu masuk ke kamar yang sama dengan William.

Temperamen William buruk sekali. Saat ini pria itu memang tampak tak marah, tapi siapa yang akan tahu kalau sedetik kemudian William akan membunuhnya.

Ah, Akila jujurnya takut. Akila masih punya Anak-anak yang membutuhkan dirinya.

Pintu kamar itu ditutup oleh William.

"Aku masih ada pekerjaan, kalau kau mau tidur maka tidur saja." Ucap William.

Nada itu memang tak ada kemarahan, tapi tetap saja Akila harus banyak berhati-hati.

Akila menoleh menatap wajah William sebentar lalu segera melangkah naik ke ranjang.

Ia memperhatikan William yang mulai duduk di meja kerja yang juga ada di kamar itu.

Akila terus berpikir kapan ia bebas dari William. Berada di dekat William ini adalah hal yang membahayakan sekali, terlebih Anak-anak Akila lebih butuh Akila.

Sedangkan William hanya terobsesi belaka pada Akila.

William adalah pria pembunuh dan juga berbahaya, bagi William nyawa seseorang itu seperti mainan. Mana mungkin Akila betah ada disisi William.

Akila sudah tahu banyak seperti apa gilanya William kalau sudah membunuh orang, di masa lalu Akila sering melihat William tanpa ragu menghabisi nyawa orang lain didepan Akila.

"Kau tidak mengantuk?" Tanya William yang fokus pada berkas, tapi ia tahu kalau mata Akila tengah memperhatikannya.

Begitulah mata seorang Mafia.

"Aku harus berhati-hati." Jawab Akila tak bohong.

Ucapan Akila membuat William mengangkat kepalanya.

Mata mereka beradu dengan jarak, saat ini Akila duduk di ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya.

"Maksudmu berhati-hati dari ku ya?" Tanya William.

"Memangnya siapa lagi yang perlu aku hindari selain dirimu?" Tanya Akila.

William tersenyum mendengar ucapan Akila.

Padahal William diam, ia tak ada mulai untuk berdebat pada Akila tapi Akila yang memulai segalanya.

"Berhati-hati dari apa? Apakah ada bagian yang belum aku cicipi dari tubuhmu? Haruskah aku mengingatkan mu tentang masa lalu kita dulu hm? Aku juga tak keberatan kalau kau memang mau mengulanginya." Ucap William masih menatap wajah Akila.

Akila berdecak, ia mau membaringkan tubuhnya tapi lebih dulu William berucap.

"Kemarilah Akila, bukankah kau ingin mengobati luka di sudut bibirku?" Tanya William.

Akila mau berpura-pura tuli, tapi ucapan William terdengar lagi.

"Kau mendatangi aku atau aku yang langsung berada diatas tubuhmu? Pilih, aku tak keberatan atas keduanya." Ucap William lagi.

Akila menyesal sendiri, harusnya ia diam saja sejak awal alih-alih jadi seperti ini.

Memangnya manusia mana yang tak takut sekamar dengan iblis berupa William ini. Jelas Akila harus banyak berhati-hati.

William masih menunggu Akila, ini kalau Akila tak mau bergerak maka ia saja yang bergerak mendekati Akila.

Tampaklah Akila turun dari ranjang itu, ia berjalan mendekati William lalu berucap.

"Dimana kotak obatnya?" Tanya Akila.

"Di laci yang ada di dekatku, kemarilah ambil." Ucap William.

Akila jelas semakin curiga, kenapa tidak William saja yang mengambilnya?

"Ambil dan letakan ke meja, biar aku obati luka di sudut bibirmu." Ucap Akila menghentikan langkahnya sendiri.

William menurut, ia mengambil kotak obat itu lalu meletakkan kotak itu ke atas meja.

"Sekarang kemarilah." Ucap William.

"Ingat kau tak boleh macam-macam! Aku hanya mengobati lukamu saja, jangan berani berlaku hal lebih padaku!" Peringat Akila.

William mengangguk kecil tanpa berucap apapun.

Akila akhirnya mendekat, ia membuka kotak obat seraya mengambil sebuah salep luka disana.

Akila menunduk, ia melihat luka di sudut bibir William membuat posisi mereka cukup dekat.

Mata, hidung, dan ketampanan milik William sungguh mirip sekali dengan Atheos.

'Aku merindukan Anak-anak, apa malam begini mereka sudah tidur? Biasanya mereka selalu tidur setelah aku ceritakan sebuah cerita.' ucap Akila membatin.

Jari Akila mengusap sudut bibir yang kini terluka itu.

"Jika kita memiliki Anak, pasti dia akan tampan. Aku ingin seorang Anak laki-laki." Ucap William.

Akila memilih diam, ia menatap luka yang sudah ia obati.

Akila segera bersiap pergi, tapi tangannya malah ditahan lalu ditarik oleh William hingga terduduk di pangkuan pria itu. Mata Akila membulat.

"Apa-apaan kau?! Kau sudah janji tak berulah William, jauhkan tanganmu!" Ucap Akila marah saat tangan William melingkar di perutnya cukup erat.

Wajah William bersembunyi di balik tubuh Akila.

Bahkan nafas William terasa dari sana.

"Akila, jika dulu kau mengatakan segalanya maka tak mungkin aku membuatmu berada dalam lingkaranku." Ucap William.

Akila berusaha keras agar William mau menjauhkan tangannya dari perut Akila.

Akila juga menyesal, kalau waktu bisa diulang ia juga akan mengatakan segalanya.

"Apa kau tahu hidup seperti apa yang Mommy ku jalani? Itu sangat buruk Akila." Ucap William lagi.

Kali ini Akila terdiam, ia tak juga bergerak atau berontak seperti sebelumnya.

"Satu-satunya yang pernah aku sesali adalah membiarkan Mommy berada di kediaman Antonie." Lanjut William.

Akila menoleh, ia hendak melihat wajah William saat ini tapi William berucap lagi.

"Jangan mengasihanku. Kau cukup dengar saja bahwa Mommy ku adalah sosok segalanya yang paling penting buat aku. Kematiannya membuat hidupku sungguh menggila, dan kau ambil bagian atas kecelakaan itu. Jika kau jujur sejak awal, maka aku tak pernah melibatkanmu dalam hidupku." Ucap William.

Tetap saja William menyalahkan Akila.

Akila menggeleng.

"Kau bukan orang yang mudah percaya. Bagimu aku penipu, mau seribu kali aku berucap jujur maka sudah pasti kau tak akan percaya. Kau hanya butuh pelampiasan dan bodohnya aku membiarkan tujuh tahun aku saksikan emosimu. Aku menyesal berurusan denganmu." Ucap Akila muak.

William tersenyum, kali ini ia diam.

Akila mulai bergerak dengan pelan.

"Lepaskan aku William." Ucap Akila.

William menggigit pelan lengan Akila membuat Akila meringis kecil, tidak sakit tapi cukup mengagetkan Akila.

"Besok hingga tiga hari kedepan kau akan bebas. Aku akan membiarkanmu bisa keluar dari Mansion ini, tapi jangan berpikir bahwa kau bisa lari dariku. Ingat Akila, aku tak pernah segan untuk membuat kau cacat. Sungguh, aku tak peduli jika harus memiliki istri yang cacat. Melihatmu duduk di kursi roda jauh lebih baik daripada melihatmu kabur dariku." Ucap William dengan nada penuh peringatan.

Gila! Ya, William bukan manusia.

"Kenapa kau begini padaku William? Aku sudah mengatakan segalanya, dan terlebih yang punya dosa itu kau! Kau menyiksaku, melukaiku bahkan..."

"Itu masa lalu. Untuk saat ini aku ingin kau ada bersamaku, aku mau kau selalu ada dalam lingkaran yang sudah aku buat. Kau bisa pergi, asalkan aku mati. Pahamkan? Jika mau pergi, maka bunuh lah aku. Itupun jika kau sanggup membuat jantungku berhenti untuk berdetak." Ucap William.

Mengerikan!

Akila benar-benar tak habis pikir.

"Mati saja sendiri, bunuh dirimu sendiri. Jangan meminta orang lain membunuhmu. Keberadaanmu sungguh menyesakkan makhluk hidup. Aku harap kau tak pernah dicintai! Kau bukan manusia William!" Ucap Akila.

---

Bersambung...

1
Adinda
coba diperhatikan lagi nama tokohnya biar gak salah
Alia Chans: oke kak 🙏🥲
total 1 replies
Adinda
valen bukannya aqila
Nayla Syberia
Sebenernya bagus sih,cuman entah knp si William tetep ga berubah yaa,kek iblis gitu berwujud manusia,mungkin para pengikutnya bakal sungkem kalik yaa.
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
Alia Chans: Makasih buat saran nya
Btw kan sifat William mencerminkan judul novel nya ya kak🤭🤭
total 1 replies
mary dice
sangat rumit ckckck
Alia Chans: ..🤭🤭🤭
total 1 replies
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Nelson Sihombing
Dah di curi, kasih makan pun tak
Haryati Atie
harus nya akila bisa ambil kepercayaan william dh dia percaya bru kabur akila.
Alia Chans: Ini lagi ngajari Akila hal sesimpel itu🤭
total 1 replies
Nelson Sihombing
suka karakter Akila
Haryati Atie
thourr tipo ya jdi vallen .
Alia Chans: Sorry atas ketidaknyamanan nya, soalnya seingatku Valen tadi😭😭
total 1 replies
Gita ayu Puspitasari
kok jadi Valen kak
Mia Camelia
suka nih sama sisi posesif nya wiliam ke akila🤭
lanjut thor😄
Alia Chans: siap kak🤭/Smile//Smile/
total 1 replies
nurulmarisa
seru banget ceritanya 😘
Alia Chans: Thank you kak🙏🏻
total 1 replies
penggemar_Uangkecil?!
crazy up kak
Alia Chans: Ditunggu ya 🤭/Slight//Slight/
total 1 replies
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
🔵🌹 Widian🧕
nah ...jadi sial kan mengolok-olok kakak sendiri.
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .
Alia Chans: emm gimana ya...🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!