NovelToon NovelToon
Permainan Takdir

Permainan Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Peningkatan diri-peningkatan identitas/sifat protagonis / Tamat
Popularitas:965.6k
Nilai: 5
Nama Author: cietyameyzha

Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.

Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.

Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.


Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alina menemui bundanya.

Dunia itu kejam. Sangking kejamnya, terkadang membuat manusia hilang akal, lalu melakukan kejahatan.

🤎🤎🤎

Semua rencana tersusun rapih. Adnan dan orang tuanya pamit pulang. Alina mengantar sampai depan pintu. Sebelum masuk mobil, Adnan berpesan pada Alina agar segera membuka bingkisan berwarna merah muda yang ia bawa.

"Isinya apa?" tanya Alina.

"Kamu akan tau nanti."

"Lo engga ngerjain gue, kan?"

Adnan diam membuat Alina menaikkan sebelah alisnya. "Ada yang salah?"

"Mulai sekarang, jangan panggil 'Lo' 'gue'," pinta Adnan penuh penekanan.

"Kenapa?"

"Jadilah wanita yang lemah lembut. Setidaknya di depan aku, yang akan menjadi suamimu. Aku tidak meminta merubah sepenuhnya dirimu, karena setiap manusia punya sifat, dan wataknya sendiri."

Bukan marah, Alina justru menikmati nasihat Adnan. Sesempurna inikah lelaki yang 'kan menjadi calon suaminya?

"Aku pamit, ya, sudah malam. Sampai bertemu di hari pernikahan. Jaga dirimu baik-baik, jangan telat makan, dan jangan tinggalkan sholat. As-salamu'alaikum."

Adnan memutar badan.

"Wa'alaikum salam, Mas Adnan," jawab Alina dengan pelan.

Adnan kembali berbalik. Ditatapnya lekat-lekat Alina. "Terima kasih. Semoga aku bisa jadi imam yang baik untukmu."

Alina menunduk, menggerakan bibirnya membentuk senyuman manis yang tidak pernah Adnan lihat. Setelah itu Adnan benar-benar pergi dengan mobil meninggalkan perkarangan rumah Alina.

Alina kembali ke rumah. Mengambil bingkisan warna merah muda, berlalu ke menuju kamar. Sesampainya di kamar, Alina membuka perlahan bingkisan yang bungkus kertas kado dengan pita berwarna senada. Sebuah kotak yang berisi tiga gamis, lengkap dengan hijab berwarna pastel. Ada secarik kertas di bawah kotak.

Teruntuk calon istriku, Alina.

Aku bukanlah pemuda romantis, atau humoris seperti yang diidamkan para wanita. Hanya ini yang bisa aku persembahkan untukmu. Seperti ucapanku kemarin. Aku ingin istriku menutup aurat sepenuhnya. Bukan berarti aku membatasi, atau mengaturmu. Ketahuilah, hijab adalah kewajiban semua muslimah. Dan aku tidak mau aurat istriku dinikmati orang lain. Cukup aku yang tau bagaimana cantiknya istriku.

💓Adnan💓

Tangan Alina bergetar usai membaca catatan kecil yang Adnan tinggalkan untuknya. Ia pun mengingat janjinya kembali. Buliran air mata keluar menemani malamnya. Tangannya menyimpan kembali kertas tersebut, lalu perlahan meraih satu gamis beserta hijab.

"Cantiknya," pujinya.

Dengan tekad bulat ia mencoba pakaian pemberian Adnan. Begitu dipakai, ukurannya sangat pas di tubuh Alina. Di depan cermin, Alina melihat pantulan dirinya. Ia takjub tidak percaya. Benarkah ini dirinya? Mengapa terlihat manis dan cantik.

Malam itu ada kegembiraan yang Adnan dan orang tuanya berikan. Kesejukan di setiap kalimat yang Adnan lontarkan. Alina merebahkan diri, menutup matanya sejenak. Seminggu dari sekarang, ia akan segera keluar dari rumah penuh luka ini.

💓💓💓💓

Pagi datang menyapa. Hari baru telah dimulai. Setiap orang bersiap melukis cerita di hari ini. Tepat pukul 09.00 WIB, Alina keluar rumah dengan mengenakan pakaian dari Adnan. Bu Sinta dan Pak Willy tampak kaget melihat akan hal itu. Mereka beberapa kali bertanya, akan tetapi Alina hanya menjawab singkat.

"Manusia bisa berubah kapan saja. Baik itu jadi jahat atau jadi lebih baik," jawabnya.

Bu Sinta sedikit tersinggung dengan perkataan Alina. Ia merasa gadis itu sedang menyindirnya, sedangkan Alina tak peduli. Ia kembali meneruskan niatnya pergi ke rumah sakit menemui sang Bunda yang terbaring menutup mata.

Dengan menaiki taksi online, Alina menuju rumah sakit. Motor besarnya ia biarkan menjadi kenang-kenangan. Akan sulit mengendarai kuda besi itu dengan gamis seperti ini. Mungkin nanti, ia akan meminta suaminya mengganti motor besarnya dengan motor matic saja. Lebih praktis, dan memudahkan ia untuk pergi ke mana-mana.

Tidak membutuhkan waktu lama, Alina sampai di rumah sakit Persada. Salah satu rumah sakit terbesar dan terlengkap di kota ini. Hampir semua suster, cleaning servis, satpam, juga dokter mengenal dirinya. Sudah terlalu sering ia datang, untuk menjenguk sang Bunda dengan harapan ia akan bisa menatap kornea mata indah milik wanita yang telah melahirkannya.

Saat hendak menghampiri lift, ia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak kecil. Usianya kira-kira 4 tahun.

"Maaf, Sayang. Tante engga liat kamu lari," ujar Alina sembari mengelus rambut pendek milik anak berjenis kelamin laki-laki tersebut.

Anak itu hanya mengangguk. Alina menengok ke depan, belakang, kiri, dan kanan. Ia tidak melihat ada seseorang yang mencari anak tersebut. Mungkinkah anak ini tersesat?

"Namamu siapa, Sayang?" tanya Alina.

Anak itu diam.

Dua detik kemudian, seorang wanita berhijab menutup dada menghampiri mereka. Wanita itu merengkuh hangat anak tersebut.

"Nak, ibu cariin kamu kesana kemari. Jangan lari lagi, ya. Ibu takut kamu hilang," ujarnya penuh kecemasan.

"Maaf, Mbak, ibunya anak ini?" Alina memberanikan diri bertanya.

Wanita itu melepas pelukan pada anak tersebut. "Iya, Mbak. Dia anak saya."

"Alhamdulillah. Tadi saya tanya namanya, tapi dia engga jawab."

Tiba-tiba wajah cemas itu berubah muram. Apa Alina salah berbicara.

"Maaf, Mbak. Anak saya tidak bisa berbicara. Dia bisu."

Alina tercengang. Pantas saja anak itu sama sekali tidak menjawab. Ia pikir, dirinya-lah yang paling menderita. Justru di luar sana masih banyak yang lebih menderita dengan segala kekurangan.

"Dia bisu dari lahir," tambahnya sembari menggendong si anak. Menghujani pipi anak itu dengan ciuman. "Kalau gitu, saya pamit duluan, Mbak. As-salamu'alakum."

"Wa'alaikum salam," jawab Alina.

Ibu si anak tadi tampak seorang wanita Solehah. Suaranya yang lemah lembut, pakaian menutup aurat, wajahnya yang cantik jelita. Pasti bahagia yang menjadi suaminya. Tidak ingin berlama-lama Alina segera menaiki lift menuju lantai 2, di mana ibunya dirawat dengan alat-alat rumah sakit sebagai penunjang kehidupannya.

Disebuah kamar kelas satu, Alina kini berada. Di hadapannya seorang wanita yang ia rindukan kehangatan pelukannya tidak bergerak sedikit pun. Alina meraih tangan ibunya, mencium beberapa detik. Menikmati sengatan aura positif dari tangan bundanya.

"Bunda, ini Alina," ujarnya. "Bunda, minggu depan Alina menikah dengan pemuda yang baru Alina kenal akhir-akhir ini. Tolong ..."

Perlahan tangan Alina mengusap jejak air mata yang hadir di kala itu. Ia menghela napas, lalu mengembuskan perlahan.

"Tolong ... berikan restu untuk Alina. In Syaa Allah, nanti Alina ajak dia ke sini."

Sedikit buliran air mata tidak bisa terbendung. Ia menangis tersedu-sedu. Berharap, dunia tak lagi kejam saat ia mengarungi dunia pernikahan. Waktu semakin siang, ia beranjak berdiri, pamit pada ibunya, lalu keluar.

Setelah ini, ia tidak akan pernah bertemu dulu dengan Adnan sampai hari pernikahan. Ia pun tidak berencana keluar rumah selain fitting baju pengantin nanti. Langkahnya teratur, saat ini ia harus bersiap diri mengganti statusnya dari lajang menjadi istri orang.

"Gue engga bisa bayangin hidup satu atap sama dia. Udah datar, engga bisa diajak bercanda. Oh ... hidup memang selalu punya kejutan," gumam Alina yang baru saja keluar dari gedung rumah sakit.

...****************...

BERSAMBUNG~~~

Jangan lupa like, coment, dan vote😊

Bismillah ...

Dengan ini aku mengundang kalian semua di acara pernikahan Abang Adnan dan Mbak Alina di bab selanjutnya🙈

Jangan lupa datang, dan amplop yang tebel🤭

Sampai jumpa di pernikahan mereka🥰🥰🥰

1
Ma Selly
wah suami idaman
Ma Selly
wah ,awas adnan jangan sampe tergoda sama ulet bulu/Grin//Grin/
Ma Selly
adnan bercandanyakebangetan
Ma Selly
semoga adnan selamat dari kecelakaan mautnya
Ma Selly
kira kira siapa yah yg pake mobil merah
Ma Selly
semoga lily dan riko berjodoh
Ma Selly
haaahaaaa ada ada aja adnan bercandanya
Ma Selly
iya nikakan saja tuh si kembar riki dan riko ,di barengin aja nikahnya biar tambah rame/Grin//Grin//Facepalm/
Ma Selly
rasain lo rio makanya jd orang jangan jahat
Ma Selly
kasihan bu winda ,dia ga tau kalau pak willy sudah menikah lagi
Ma Selly
mudahan ibunya alina sadar dari komanya Aamiin
Ma Selly
siapa kira kira yg merekam
Ma Selly
oh jd begitu ceritanya
Ma Selly
kasihan lily ga ada yg menemaninya
Ma Selly
ketemu mantan kali ya
Ma Selly
usil sama istri sendiri ga masalah
Ma Selly
si masnya sudah mulai bucin akut
Ma Selly
mau ada pengantin baru nih
Ma Selly
ibu dan anak yang serakah
Dina Mulyana Syafitri
masyaAllah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!