"Zee, kalau Zee udah besar nanti. Zee nikahnya sama Kak Bian, ya?" ucap Albian pada bayi mungil yang ada di dalam pangkuan sang Ibu. Seolah mengerti maksud Bian. Zeeviana kecil pun tersenyum, sambil menggerakkan tangganya. Mencoba untuk menyentuh wajah tampan Albian yang menatap ke arahnya.
"Janji, ya?" Bian memberikan jari kelingkingnya, dan Zeeviana menggenggamnya, dengan genggaman yang begitu erat.
× × ×
"Aku tidak menyangka, kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya!"
- Zeeviana.
"Aku akan melakukan apapun yang membuatnya bahagia. Tidak akan memaksa jika dia tidak ingin menepati janjinya!"
- Albian Wijaya Saputra.
× × ×
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Simpanan Om-Om?"
...💙 Episode - 14 💙...
"Dimana rumahmu, Zee?" tanya Bian, membuat Zeeviana tersadar dari lamunannya dan langsung menoleh ke arah Bian.
"Sudah dekat dari sini, Tuan."
"Tidak ada barangmu yang ketinggalan di rumah kan?" tanya Bian lagi.
"Tidak ada, Tuan."
Bian pun mengangguk pelan. "Morgan, antar Zeeviana pulang dulu!"
"Baik, Tuan," jawab Morgan tersenyum.
Zeeviana pun tidak berani menolak. Jika ia menolak, Morgan pasti akan berkata. 'Ini adalah perintah Tuan Bian. Dan Tuan Bian tidak suka dengan orang yang melanggar perintah.'
Huh, Zeeviana bahkan sudah hafal dengan kalimat itu.
Mobil hitam mewah itu pun berhenti di depan sebuah gang. Gang itu terlalu kecil, jadi tidak memungkinkan kalau Morgan dan Bian bisa mengantar Zeeviana sampai depan rumahnya.
"Saya turun di sini saja, Tuan," ujar Zeeviana.
Bian menoleh ke arahnya.
"Kamu tidak apa-apa, Zee?" tanya Bian. Jelas gurat khawatir terpancar dari mata indah Bian.
"Tidak apa, Tuan. Saya sudah biasa."
Gadis itu pun hendak membuka pintu mobil, namun tangan Bian malah menahan tangannya lalu Bian berkata.
"Biar aku yang bukakan!"
Pria 30 tahun itu keluar kemudian mengitari mobil. Ia berdiri dengan gagah di depan pintu mobil, dengan tangan yang membuka pintu mobil untuk gadis kecilnya.
"Terimakasih, Tuan."
"Kembali kasih, Zee."
Zeeviana melangkah menjauhi mobil Bian. Ia menoleh sejenak, karena mengira mobil Bian sudah tidak ada lagi di belakangnya. Namun Zeeviana salah, Bian bahkan masih di luar mobil sekarang, dan sedang menatap ke arahnya.
"Pulanglah!" seru Bian.
Zeeviana pun melanjutkan langkahnya, bahkan melangkah lebih cepat dari sebelumnya.
Sementara itu, Sandra tersenyum menghina menatap kepergian mobil Bian. Gadis itu melihat semua yang terjadi tadi. Ia melihatnya, bagaimana Om Tampan itu membukakan pintu mobil dan tersenyum manis saat menatap Zeeviana.
"Dia jadi simpanan Om-Om ya, sekarang?!" gumam gadis itu.
Dadanya membusung bangga, karena ia menganggap dirinya sudah berhasil menemukan senjata baru untuk menghancurkan Zeeviana sekarang!
"Bagaimana ya, reaksi Ibu, jika dia tau, gadis yang dia banggakan selama ini adalah seorang wanita j*lang? Apakah dia akan tetap memuji gadis itu setiap pagi? Atau apakah akan meluncurkan hinaan untuknya setiap waktu?"
Sandra melangkah kakinya dengan anggun. Ia kembali tersenyum menghina saat melewati rumah Zeeviana.
"Kita lihat saja, sampai kapan kau bisa memenangkan hati ibuku..., Dan sejauh mana ibu percaya padamu, gadis perebut hati ibu orang!"
...****...
Sandra membuka pintu depan rumahnya. Ia melangkahkan kaki jenjangnya hendak menuju kamar. Namun langkahnya terhenti saat melihat ibunya sedang asik menonton tv di ruang tengah. Sandra berjalan mendekati ibunya.
"Bu?" panggil Sandra. Sang Ibu hanya melirik ke arahnya.
"Sudah pulang kamu?" tanya wanita 46 tahun itu.
"Sudah, Bu." Sandra mencoba mendapatkan perhatian sang Ibu. Tapi nyata, perhatian Ibunya lebih terfokus pada layar tv di banding dengan dirinya.
"Nah, mulai nempel!" Bu Eka menggerakkan bahunya yang di sandari oleh Sandra.
"Mau apa lagi sekarang? Kamu, ya, kerjaan nuntut..., aja tiap hari! Bu, beli ini..., Kak, beli ini..., Sekarang mau beli apa lagi?!"
"Apasin, Bu. Orang numpang nyender doang di bahu Ibu!" Sergah Sandra.
"Mmm, awalnya numpang nyandar..., Terus numpang curhat..., Dan endingnya?" Bu Eka kembali mengoyang bahunya.
"Sudah! Masuk kamar sana. Nggak ada numpang nyandar di sini, dan lowongan buat numpang curhat juga udah ditutup sekarang!" Imbuh Bu Eka sambil menatap malas ke arah putrinya.
"Ih, jijik banget tuh cewek," ucap Sandra tiba-tiba. Kebutulan di tv sedang menampilkan adengan Boss kepergok selingkuh dengan sekretarisnya.
"Makanya, kamu itu jadi wanita harus punya ETIKA! Jangan sampai..., Kamu jadi kayak wanita uler itu!" Ujar Bu Eka menggebu-ngebu. Tanganya menujuk ke arah tv yang kini menampilkan adengan si Boss yang sedang meminta maaf pada sang istri.
"Bu, Bu...," Sandra mengoyang lengan sang Ibu. Bu Eka pun menoleh dengan malas ke arahnya. "Apa?!"
"Menurut ibu, nih, ya. Apakah ada, gadis yang mau menjadi simpanan Om-Om kaya sekarang?" Pancing Sandra.
"Tentu saja ada, dan kalau itu ada, pasti ada dua kemungkinannya!"
"Apa kemungkinannya, Bu?" Sandra pura-pura bertanya.
"Yang pertama! Dia memang tidak memiliki etika yang baik. Sehingga dia mau menjadi simpanan ataupun selingkuhan pria kaya!"
"Dan yang kedua! Karena dia butuh uang! Sebenarnya dia juga tidak mau! Tapi keadaanlah yang memaksa dia untuk melakukan itu!"
Sandra tersenyum puas mendengar jawaban Ibunya. Dari kedua jawaban itu, bisa ia manfaatkan untuk menyeret nama Zeeviana ke dalamnya.
"Apa yang Ibu akan lakukan jika bertemu dengan wanita seperti itu?"
Bu Eka menatap curiga anaknya. "Ibu akan melakukan ini padanya!" Ujar Bu Eka seraya menarik kuping Sandra cukup keras, lalu memukuli lengannya.
"Stop, Bu! Seharusnya Zeeviana yang Ibu pukul! Bukan aku!" ucap Sandra dengan suara yang sedikit tinggi. Sandra sadar apa yang baru saja ia ucapkan!
"Sandra! Apa maksudmu berkata seperti itu!" Mata Bu Eka menampakan kemarahan yang begitu jelas sekarang.
"Apakah Ibu tidak tau! Kalau Zeeviana, anak tetangga kesayangannya Ibu itu adalah seorang wanita simpanan Om-Om!"
Plak...,
Satu tamparan keras mendarat di pipi Sandra. Sandra memegang pipinya yang memanas akibat tamparan yang cukup keras itu.
"Cukup ya, Sandra! Ibu sudah cukup bersabar dengan kelakuanmu selama ini! Dan Zeeviana! Asalkan kamu tau! Gadis sebaik Zee tidak akan pernah melakukan hal serendah itu!" Bu Eka memukul dadanya yang tiba-tiba sesak.
"Kamu harus ingat itu Sandra! Walaupun kamu adalah anak Ibu! Tapi bukan berarti Ibu akan diam ketika kamu berkata seburuk itu tentang Zee! Ibu mengenal Zee dan Bu Ayu sejak kamu masih kecil! Bu Ayu bahkan pernah menyusuimu dulu! Dan itu artinya, Zeeviana adalah saudara sesusuanmu! Apakah kau tega berkata seburuk itu tentang saudaramu!"
Tubuh Sandra sudah gemetar takut sekarang. Tapi rasa bencinya pada Zeeviana tidak semudah itu pudar. Zeeviana terlalu banyak merenggut kasih sayang sang Ibu darinya! Zeeviana selalu dibela oleh Ibunya. Dan Sandra tidak bisa menerima itu semua!
"Mau kemana lagi kamu!" Teriak Bu Eka. Namun Sandra sama sekali tidak menghiraukannya. Gadis itu pergi sambil terus memaki Zeeviana yang tidak pernah melakukan kesalahan pada dirinya.
Sandra terus berlari dengan sekuat tenaganya. Ia berhenti di dekat sebuah jembatan. Dia tidak akan melompat, dia berhenti karena dia lelah berlari!
"Arghhh...," Gadis itu mengacak rambutnya frustasi. Ia melanjutkan langkahnya, sampai ia tidak sengaja melihat Teng yang tengah membenarkan motornya di trotoar jalan.
"Dia! Pria itu sangat mencintai Zeeviana! Dia pasti hancur jika mengetahui kebenaran tentang wanita j*lang itu!"
Sandra berjalan mendekati Teng, ia merapikan rambut dan menghapus air matanya terlebih dahulu.
"Teng?"
jdi om Mateng inikah yg akan jdi pendamping omom.
tapi benar jangan tatap matanya takutnya kena hipnotis ...