" Hei Leha, turun gak ? " Ibunya Juleha berkacak pinggang di bawah pohon mangga.
" Bentaran ! Nanggung "
Masih dengan santai nangkring diatas pohon mangga.
Bagaimana kisah perjalanan rumah tangga antara Juleha dan Zainal dan pasangan lainnya yang menikah karena minta dijodohkan ? ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Juleha dan Zainal ( Part.15 )
Mira masih merasakan dadanya terbakar dengan kata kata yang diucapkan Juleha barusan.
Apalagi melihat tawa Zainal yang seakan mengejeknya.
" Mir, istighfar Mir, Istighfar ! "
Luci menenangkan Mira yang masih terus menatap kepergian Zainal dan Juleha, melihat tangan Zainal yang melingkari pinggang Juleha, mata Mira bertambah panas, bukan hati saja yang panas.
Penjual cendol ada di depannya, Mira cepat membeli sebungkus.
Segera diletakkan diujung mulutnya untuk disedot.
" Eh Mir, belum adzan Maghrib, sabar ! "
Luci menahan tangan Mira.
" Biar dingin dadaku Ci, panas tau gak ? "
" Ya mau gimana lagi, kau salah sendiri, kenapa kau menyindir istrinya bang Zai "
" Aku tidak menduga aja kalau dia ternyata lebih pintar menjawab, awas aja kalau ketemu lagi "
" Memang mau kau apakan ? "
Luci merasa ngeri melihat wajah Mira yang memerah menahan marah.
" Aku remes mulutnya, baru juga jadi istrinya Zainal, sudah sombong, apalagi kalau jadi istri pejabat "
Omel Mira asal.
" Sombong dari mananya Mir ? "
Luci bingung.
" Dari mana aja terserah "
Hadeuh, ditinggal nikah Zainal, otak Mira mendadak error.
...*****...
Setelah minum teh hangat dan tiga butir kurma, Zainal kembali ke kamar mereka untuk sholat Maghrib, Juleha mengikuti langkah kaki Zainal dari belakang.
" Gak bantu ibuk menyiapkan makan nanti dek "
Tanya Zainal sembari membentang sajadahnya.
" Sholat dulu dong bang, ntar Leha bantuin ibuk "
Wajah Zainal berbinar-binar pertanda menstruasi Leha sudah selesai, berarti nanti malam pulang taraweh, ahai.
" Bang " Tegur Leha pelan
" Dek, kamu ...."
" Iya bang, sudah sepuluh malam, kasihan Abang "
Wajah Juleha tertunduk malu malu meong, sangat berbeda ketika berhadapan dengan Mira tadi sore, garang seperti Ayam yang mau beranak, eh.
" Makin cinta deh Abang jadinya " Gombal Zainal.
" Udah bang kita sholat, jangan mikirin kesitu dulu "
" Iya sayang "
Hadeuh, makin meleleh Juleha.
Sholat dan do'a Zainal lebih khusyuk dari biasanya, banyak permintaan yang ia ucapkan dalam lirih pada Sang Maha pemilik langit Bumi dan yang berada diantaranya, terutama untuk rumah tangganya pada Juleha.
Zainal sangat tahu, jika Juleha belum memiliki perasaan apa pun pada dirinya, tapi ia berharap perasaan itu akan tumbuh kembang dan kuat seiring berjalannya waktu, manisnya berumah tangga yang Zainal rasakan selama sepuluh hari ini semoga selalu mewarnai kehidupan mereka kedepannya selalu dan selama nyawa masih melekat di raga.
" Bang, do'anya lama bener " bisik Juleha dari belakang setelah Zainal mengusap wajahnya dengan telapak tangan pertanda do'anya sudah selesai.
" Iya dong sayang, biar Abang bisa selalu menyayangi kamu dek, seperti....Dek Leha sayang gak sama Abang ? "
"Dih Abang, ngarep bener "
" Sayang gak, kalau gak mau jawab Abang cium lho "
Hallah Zainal, sok ngancam segala, padahal udah entah berapa kali dia sudah mencium Juleha.
" Iya iya, makan yuk Bang, laper kan ? "
Juleha meletakkan mukena dan sajadah yang sudah dilipatnya.
" Abang lebih pengen makan kamu, dek " Zainal mencubit pelan dagu Juleha.
" Memangnya Leha makanan ? "
Gegas Juleha keluar dari dalam kamar, dia tahu jika Zainal sudah sangat tidak sabar.
Zainal hanya tertawa sembari mengikuti langkah kakinya dari belakang menuju meja makan, kedua mertuanya sudah menunggu.
...*****...
" Zai, gak tadarusan ? "
Rojali mensejajari langkah kaki Zainal yang terlihat bergegas ingin segera sampai ke rumah.
Ya iyalah, sepuluh hari sudah menahan dan menunggu, dan sebentar lagi akan tiba masanya, bagaimana bisa Zainal tidak terburu buru, untuk membatalkan puasa dari rasa lapar dan dahaga saja disunnahkan untuk disegerakan apalagi yang satu itu ?
Selama sepuluh hari ini Zainal baru bisa membayangkan-nya saja.
" Tadarusan kan bisa dirumah Li, gak harus di mesjid, biar anak anak remaja saja "
" Ngopi ngopi dulu yuk, tuh warung mang Ragil masih buka "
" Ogah, enakan ngopi di rumah, bisa colek colek istri, nah kalau di warung mang Ragil kan enggak bisa "
Zainal tergelak.
" Lu manas manasin mulu "
" Lu yang salah Rojali, ini udah jam berapa, kalau gak tadarusan di mesjid ya pulang, tidur biar sahur gak ngantuk, bagus kalau sempat tahajudan dulu sebelum sahur, bukan nongkrong di warung kopi, atau kalau lu udah gak tahan, nikah ada besok, pestanya habis lebaran, kan beres "
" Lu enak ngomong gitu karena udah nikah, nah aku ? riweh dengan segala keinginan bapak yang maunya begini dan begitu "
Nah, Rojali curhat.
Kalau dilayani bisa gawat, Juleha sudah menunggu dirumah, kalau kelamaan pulang, bisa ketiduran Juleha, tuh anak kan paling hobinya tidur, nonton TV dan manjat pohon mangga.
" Eh, Li, maaf maaf aja ya ! sesi curhatnya besok aja kalau sudah dikantor, ada yang urgent, aku mesti buru buru sampai kerumah "
" Hallah, paling urusan yang satu itu, dasar nganten baru "
Rojali mencibir, Zainal hanya terkekeh.
Sampai di rumah hanya terlihat bapak dan ibuk mertuanya sedang mengobrol sembari menonton TV, keduanya lebih dulu sampai di rumah.
Zainal sedikit terlambat gegara ditahan oleh Rojali.
Masuk ke dalam kamar, suasana kamar hanya diterangi oleh cahaya dari tiga buah lilin yang di letakkan di atas meja.
Juleha sepertinya memang sudah menunggunya.
" Dek "
Panggil Zainal pelan, Juleha sudah duduk di tepi ranjang, sudah mengenakan pakaian tidurnya.
" Cuci kaki dulu bang ! "
" Iya dek, sekalian Abang perbaiki wudhu lagi "
Zainal sudah duduk di sebelah Juleha, mencium dahi Juleha lama.
" Makasih ya dek, kamu sudah mau menerima Abang, Abang sudah boleh melakukannya dek ? "
Zainal mengangkat wajah Juleha dengan menyentuh dagunya.
Juleha mengangguk.
...*****...
...🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿...
..
maraton bacanya
Mira bete lagi nih, Thor ada dendam ya sama mira👻
👍🏼👏🏼🙏🏼☕
haduh porsinya pas Pasan bang jali👻
emang somplak mereka
hore Mahmud otw nikah juga Ama Lusi 👻🌹
rezeki nomplok si Abdul nikah nga modal 👻
awas ada yang kebakar leha👻
bang Zai ada yang kepanasan 👻