NovelToon NovelToon
Queen Is [Cruel] To King [Cold]

Queen Is [Cruel] To King [Cold]

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri / Balas Dendam / Reinkarnasi / Chicklit
Popularitas:97.7k
Nilai: 5
Nama Author: Penulis Lepas

Kisah yang banyak mengandung misteri dan kekerasan, berusaha mempertahankan milik dan merebut milik yang lain.

"Aku memang terlatih menjadi senjata, jadi tidak salah bukan jika aku kejam dan beringas. Dulunya aku adalah seorang Wakil Pemimpin anggota mafia, tapi sekarang ... aku adalah Ratu kejam untuk Raja Dingin." ~ Freya.

"Dia memang kejam, keras kepala namun cerdas. Semua sikapnya membuatku semakin tertarik padanya, dia Lebah Kecilku, dia Ratuku." ~ Sean.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis Lepas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Cara Efektif

Ketika matanya melihat sosok yang sejak tadi dia tunggu telah datang, gadis itu melebarkan senyum lega, cukup lega melihat majikannya keluar dengan keadaan baik-baik saja. Setelah mendengar kabar bahwa Earl Kerry ditemukan tewas oleh Freya, Elis dengan cepat ingin mendatangi majikannya itu, tentu saja khawatir jika para pejabat memfitnah majikannya membunuh Earl Kerry. Tapi tampaknya, kekhawatirannya tidak berlandas dengan benar. Buktinya Freya keluar dari aula dengan wajah cukup ceria, membuktikan bahwa majikannya itu tidak mendapat masalah apapun.

Elis bergegas mendekati Freya, siap melontarkan beribu pertanyaan kepada majikannya itu. Kenapa di setiap kali Elis jauh darinya Freya selalu saja mendapat masalah? Sebenarnya nasib Freya yang kurang baik atau memang majikannya itu yang sengaja mendekati bahaya.

"Nona, apakah kau baik-baik saja? Sebenarnya apa terjadi? Kenapa bisa Nona menemukan jasad Earl Kerry? Apakah para pejabat merundung Nona?" Elis melontarkan banyak pertanyaan ketika sudah berdiri di depan majikannya. Pancaran mata khawatir jelas tersirat di matanya.

Freya tersenyum canggung, melihat Elis melemparkan begitu banyak pertanyaan membuatnya sulit menjawab terlebih lagi di sampingnya berdiri sosok Agung, tapi tampaknya Elis seakan tidak sadar, kekhawatirannya membuatnya lupa di samping Freya ada Sean.

Freya menoleh ke arah Sean, melihat pria itu menatap Elis dengan pandangan dingin membuat benaknya berteriak keras memperingati dirinya, "Bagaimana aku akan menjawab pertanyaanmu jika kau bertanya dengan begitu cepat?" sahut Freya sembari memijit keningnya, dia juga memberikan kode kepada Elis bahwa seseorang sedang memperhatikan Elis dengan begitu dingin.

Elis baru sadar, matanya mendapat seorang pria di samping Freya, tatapan dingin yang dipasang pria itu untuk dirinya membuat Elis bergetar seketika, "Ya-Yang Mulia, maafkan atas kelancangan hamba. Hamba telah bersikap tidak sopan, hukumlah hamba yang bodoh ini." Dengan cepat Elis bersujud di tanah, karena kesalahannya cukup fatal bahkan bersujud saja Elis merasa kurang efektif meminta maaf.

Alis Sean sedikit berkerut, pandangannya terhadap Elis semakin tajam sambil otaknya berpikir ulang, 'Pelayan ini adalah pelayan Lebah Kecil. Dia sangat setia bahkan setelah kuasingkan bersama Lebah Kecil ke kastil, tidak ada sedikit pun berniat meninggalkan majikannya.' Sean memuji kesetiaan Elis terhadap Freya, tapi tetap saja perasaan cemburu menggerogoti hatinya, 'Perhatiannya kepada Lebah Kecilku membuatku cemburu. Pelayan ini harus disingkirkan! Jika tidak, suatu saat dia akan mengambil Lebah Kecilku.' Sean berdebat dengan hati dan pikirannya sendiri, membuat raut wajahnya terlihat kesulitan.

Freya mengerutkan keningnya, melihat ekspresi yang dikeluarkan Sean membuat segera berpikir, apa yang sedang dipikirkan Raja muda itu. Namun setelah dia memahami Sean terus menatap Elis begitu tajam, muncul firasat buruk di benaknya, 'Jangan bilang pria ini cemburu kepada Elis?' Meski ini hanya tebakan, tapi Freya merasa dugaannya itu benar, cukup melihat ekspresi Sean semua orang bisa tahu pria itu sedang menahan kecemburuannya, 'Astaga, ternyata pria ini memiliki sifat posesif yang tinggi.'

Freya menyentuh pundak pria itu, membuat pria itu tersadar kembali. Freya melemparkan senyum tipis kepada Sean seraya berkata, "Apa yang sedang anda pikirkan Yang Mulia?" tanya Freya pura-pura tidak tahu meski pun dia telah tahu apa yang dipikirkan Sean.

"Aku hanya berpikir bagaimana cara menjauhkan Lebah Kecilku dari banyak orang, cukup banyak orang yang menaruh perhatian padamu, kau harus tahu aku sangat cemburu." Sean mencuil dahi Freya membuat tangan gadis itu seketika memegang dahinya sendiri.

"Yang Mulia, berlebihan, siapa yang menaruh perhatian kepada gadis sepertiku?" Freya segera berdalih, lagi-lagi dia merasakan sensasi aneh ketika mendengar ucapan Sean barusan, dan pastinya membuat wajahnya terasa panas. Sean terlalu jujur di hadapan banyak orang, tentu saja membuat Freya malu. Jika bukan status Sean sangat tinggi, Freya tidak akan sungkan membungkam mulut pria itu sebab terlalu banyak menggombal.

Sean membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah Freya membuat gadis itu juga tergerak kaget, tatapan tajam Sean berikan kepada gadis di depannya itu, "Kau sungguh tidak tahu selama ini Bryan terus memperhatikanmu, bagaimana aku tidak cemburu, dia tampak lebih mengenalmu dari pada aku." Sean semakin menundukkan badannya membuat jarak antara wajahnya dan wajah Freya semakin mendekat.

Jantungnya semakin berdetak kencang, Freya merasa tidak lama lagi jantungnya itu akan meledak sebab terlalu cepat memompa, 'Sial! Lagi-lagi tubuh ini bereaksi seperti ini, mungkin aku harus jauh-jauh dari pria ini supaya jantungku lebih aman. Jika seperti ini terus aku bisa mati di usia muda.' Freya mendorong tubuh Sean sedikit kasar, sembari dia menjaga jarak dari pria itu, "Ya-Yang Mulia, apa perlu anda membahas masalah ini di depan banyak orang?" Freya melihat Elis sedang menatapnya dengan senyuman penuh arti, benar-benar membuat Freya menggigil seketika. Harusnya Sean sadar ada banyak orang di sekitar mereka mendengar ucapan Raja muda itu.

"Ah, kau benar, sebaiknya kita bahas masalah di kamar," balas Sean cepat sembari tangannya mengusap dagu, tampang wajah Sean terlalu polos seakan tidak malu mengucapkan kalimat intim barusan.

Mata Freya perlahan membulat, jangan tanya seperti apa lagi reaksi jantungnya, jika saja bisa meledak saat ini pasti akan meledak, "Yang Mulia, aku harus pergi! Sampai berjumpa lagi!" Freya segera berlari pergi, sengaja sebab dia tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan pria bermulut manis itu, ditambah lagi tubuhnya serasa semakin tidak bertenaga setiap mendengar ucapan nakal dari mulut Sean.

Melihat Freya pergi, Elis segera berdiri kemudian pamit dan langsung mengejar Freya. Tentu saja dia tidak ingin ketinggalan berita dari majikannya itu, kenapa Raja Sean tiba-tiba menjadi baik kepada Freya, tidak seperti biasanya dingin dan tidak peduli.

Sean hanya bisa menghela nafas bersamaan dengan bibirnya yang mulai tersenyum, sangat jelas Sean melihat ekspresi tersipu dari Freya dan membuatnya merasa senang. Inilah juga alasannya kenapa Sean sengaja menjahili gadis itu, setiap kali Sean lihat Freya tersipu dia tidak menutupi rasa senang di hatinya.

"Imut sekali," gumam Sean pelan kemudian melenggang pergi dengan senyumannya itu.

Sedangkan di sisi lain, tidak jauh dari tempat Sean tadi, Duke Dalbert dan Keith yang melihat Sean tersenyum mendadak merasa seperti mendapat kabar buruk dari langit. Setelah sekian lamanya mereka tidak pernah melihat Sean tersenyum, siapa bisa menduga Sean akan tersenyum hari ini karena seorang wanita, terlihat tidak masuk akal tapi nyata. Seorang Raja berwajah dingin tiba-tiba mengukir senyum, terasa seperti mendapat hikmah dari langit.

"Sepertinya pepatah cinta bisa membuat orang terlihat gila itu benar," ujar Duke Dalbert tanpa menoleh kepada Keith, pandangannya fokus melihat Sean yang pergi semakin jauh.

Keith mengangguk, mengiyakan pernyataan Duke Dalbert, "Kau benar, Duke Dalbert. Melihat senyuman Yang Mulia aku merasa tidak lama lagi dunia akan kiamat."

***

Suara cambukan menggema bersamaan dengan suara teriakan serak, untuk kesekian kalian tubuhnya menerima cambukan dari tangan prajurit di depannya. Pandangan matanya mulai meredup bersamaan dengan kelopak mata yang tampak sayu, pria itu meringis pelan merasakan seluruh tubuhnya begitu sakit, terlebih lagi ketika dia ingin menutup matanya prajurit itu menyiramnya dengan air garam, benar-benar menyiksa pria malang itu begitu sadis.

Bryan duduk tenang di kursi kayu sembari matanya menatap pria yang sedang menerima hukuman. Bisa Bryan pria itu tampak sudah tidak tahan dan ingin mengistirahatkan tubuh yang lelah, tapi sayangnya para prajurit tidak mengizinkan pria itu menutup matanya.

Bryan beranjak berdiri lalu berjalan mendekati pria itu, "Tuan Blade, jika anda tidak jujur siapa saja yang termasuk dalam penyelundupan emas, penyiksaan ini tidak akan berhenti." Bryan mulai memperingati, dan ini bukan sekadar peringatan biasa.

Blade tersenyum sinis dengan wajah tertunduk ke bawah, sengaja dia tidak menatap Jenderal muda itu biar Bryan terprovokasi dan semakin menyiksanya sampai mati, dengan begitu Blade tidak perlu merasakan penderitaan ini lagi.

"Apa yang kutahu tidak akan kuberi tahu, meski kau memotong tubuhnya menjadi kecil sekali pun," balas Blade dengan nada meledek.

Bryan mengepalkan tangannya cukup geram melihat betapa keras kepalanya Blade, bahkan setelah hampir tiga jam pria itu tersiksa tetap saja tidak ingin buka mulut. Lama-lama membuat kesabaran Bryan habis dan ingin menggorok segera leher pria itu. Jika bukan karena informasi yang dibutuhkan, tentu tidak mungkin Bryan masih mempertahankan nyawa pengkhianat itu.

Bryan mendengus kasar sembari berbalik, tidak ingin berlama-lama menatap pria yang semakin menyikut puncak kesabarannya. Tatapan tajam segera dia lontarkan kepada prajurit yang memegang cambuk, "Terus siksa pengkhianat itu sampai dia mau membuka mulut, jika dia tidak sadarkan diri siram lagi dengan air garam," ujarnya dingin penuh penekanan.

Prajurit yang mendapat perintah itu segera mengiyakan perintah Bryan, kembali lagi prajurit itu melayangkan cambukannya ke tubuh rapuh pria tua berstatus Viscount itu. Suara jeritan kembali menggema, memekikkan telinga yang ada, bahkan suara teriakan itu terdengar lebih mengerikan dari sebelumnya, serak dan penuh penderitaan.

Bryan tidak peduli meski beberapa prajurit di penjara itu merasa iba dengan kondisi Blade, di mata Bryan jika Blade telah terbukti salah tidak pantas menerima bekas kasih darinya, lagi pula Sean telah memerintahkan dirinya menyiksa Blade sesadis mungkin hingga pria itu mau memberikan informasi.

Bersamaan dengan itu, dari luar sel, seorang gadis berpakaian hitam datang, mengejutkan beberapa prajurit termasuk Bryan sendiri. Dengan cepat Bryan mendekati gadis itu lalu melemparkan pertanyaan, "Nona Freya, apa yang ingin kau lakukan di sini? Tempat ini bukanlah tempat yang baik untuk di datangi wanita sepertimu."

Freya mengalihkan pandangannya pada Blade yang masih menerima cambukan, sadar kalau pria tua itu masih tidak ingin membuka mulut, Freya berdecak pelan, kagum sekaligus kesal melihat keteguhan pria itu menjaga rahasia.

"Jangan khawatir, aku sudah terbiasa melihat hal seperti ini." Freya membalas Bryan, lalu berjalan menuju pengkhianat yang kini sedang menjalankan hukuman. Beberapa prajurit hendak menghentikannya tapi Bryan langsung memberi kode kepada prajuritnya untuk tidak menghalangi Freya.

Pandangan tajam seketika tergambar di matanya itu dan ditujukan kepada Blade yang kini berdiri terpaksa dengan rantai yang mengikat ke dua tangannya ke atas, sebelum Freya menginterogasi pria itu Freya harus menyingkirkan orang yang ada di dalam penjara ini, "Jenderal Bryan, bisakah anda memerintahkan para prajurit keluar? Ada beberapa hal yang ingin aku pertanyakan kepada Viscount Blade, dan pertanyaan ini sangat rahasia," ungkap Freya tanpa menoleh pandangannya dari Blade yang kini mengangkat kepalanya menatap Freya tajam.

Para prajurit yang mendengar ucapan Freya tertegun, ingin menegur Freya sebab telah bersikap melewati batas. Ah, mereka belum mengetahui banyak hal yang terjadi sebab itu para prajurit masih beranggapan Freya sebagai penjahat kerajaan. Tentu saja seorang penjahat tidak memiliki wewenang mengusir mereka dari penjara.

"Kalian dengar bukan? Semua keluar." Bryan langsung mengiyakan ucapan Freya mengejutkan tiga prajurit yang ada di dalam penjara. Ketika para prajurit hendak berbicara membalas Bryan, Jenderal muda itu langsung menyela, "Kalian tidak mendengarkan perintahku?" Tatapan tajam dan dingin langsung menusuk keberanian tiga prajurit itu, dengan cepat mereka keluar tanpa berkata lagi, tentu tidak ingin membuat Bryan marah.

Setelah tiga prajurit itu pergi, Bryan berjalan mendekati Freya ingin menanyakan apa yang akan ditanyakan Freya sampai harus mengeluarkan tiga prajurit itu, padahal menurut Bryan masih perlu tenaga mereka untuk membuat Blade jujur.

"Apa yang akan kau lakukan, Nona Freya?" Melihat Freya terus menatap ke arah Blade, dia merasa ada yang tidak beres, kenapa Freya terus menatap Blade dengan tatapan seperti itu. Bahkan Blade yang sebelumnya berani menatap Freya kini menundukkan pandangan seolah takut menatap mata biru tajam itu.

Freya berbalik kemudian dia menarik salah satu kursi kayu dan duduk di sana, "Hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada, Tuan Blade," balas Freya seadanya karena memang itu tujuannya datang kemari, mengorek lebih dalam informasi dari Blade. Namun melihat kondisi Blade, Freya bisa menebak pria itu tidak akan bisa dipaksa dengan cara kasar bahkan setelah cukup lama pria itu mendapat hukuman.

"Oh, pertanyaan apa?" tanya Bryan lagi.

"Anda akan lihat nanti." Freya menyeringai tipis.

Blade mengangkat kembali pandangannya, menatap sosok gadis muda yang membuatnya berakhir di dalam tahanan ini, kebencian dan kemarahan menyelimuti perasaannya, sembari dia memaki gadis itu dalam hati dengan berbagai macam cercaan. Blade menyeringai sinis, "Kau tidak akan mendapatkan informasi apapun dariku, bahkan jika kau membunuhku dengan cara apapun."

Freya mendengus pelan sembari kepalanya menggeleng pelan, "Tuan Blade, anda salah paham. Aku kemari bukan memaksamu mengatakan apapun, aku hanya ingin mengutarakan beberapa pertanyaan dan pendapat padamu," balas Freya dengan seringai penuh arti.

Freya bukanlah gadis bodoh, tentu dia tahu bahkan membunuh Blade dengan cara paling sadis pun tidak akan membuka mulut pria itu, lalu buat apa Freya memaksa seseorang yang begitu kuat menjaga rahasia. Tapi, kedatangannya juga bukan hanya sekadar menyaksikan keadaan Blade, yang pasti menguak sedikit demi sedikit informasi dari pria itu.

"Hem, aku cukup kasihan melihatmu di dalam penjara ini padahal selama ini anda tidak pernah melakukan kesalahan. Namun siapa bisa duga anda akan mengkhianati kerajaan suatu saat nanti?" Freya menggeleng pelan, seakan mengasihani nasib yang dialami Blade.

"Apa pedulimu tentang keadaanku! Heh, jangan kira karena kau bersimpati padaku aku akan luluh dan memberikan kalian informasi yang kalian inginkan." Dengusan kasar keluar, menghina ucapan Freya yang tidak ada gunanya bagi Blade.

"Bersimpati padamu? Kau salah Tuan Blade." Freya segera menyangkal kalau maksud dari simpatinya barusan bukan diutarakan kepada pria tua itu, "Aku bersimpati kepada keluargamu, anda adalah pejabat berkedudukan lumayan tinggi, tapi berani berkhianat kepada kerajaan. Apa anda kira keluarga anda akan dilepaskan begitu saja?"

Blade segera melemparkan tatapan tajam kepada Freya, mengerti kalau gadis itu baru saja mengancam Blade dengan menggunakan keluarganya, "Kau mengancamku, Nona Freya?" tanyanya dengan nada sedingin mungkin.

Freya melebarkan senyumnya, "Aiyah ... bagaimana aku bisa mengancam keluarga anda, Tuan Blade? Aku hanyalah seorang penjahat, apakah ada hak penjahat sepertiku mengancam keluarga pejabat?" Freya menggelengkan kepala, "Tentu saja, tidak. Yang menurunkan perintah adalah Yang Mulia, bagaimana mungkin anda mencurigaiku, Tuan Blade?"

"Kau!" Blade berdecak kesal, bagaimana mungkin dia lupa gadis itu sengaja memancing kemarahannya dengan sedikit kata saja, padahal dia tahu gadis itu pasti memiliki banyak cara membuatnya kesulitan.

Freya semakin tersenyum seraya tangannya menopang dagunya, "Masalah ganjaran yang diterima keluarga anda setelah anda berkhianat semua ditentukan oleh Yang Mulia. Sedangkan pejabat lain hanya bisa mengiyakan sebab di mata mereka anda tetap saja bersalah, meski seseorang yang anda ikuti berjanji melindungi keluarga anda, tapi tidakkah anda berpikir, rahasia akan aman jika seseorang itu mati. Aku khawatir seseorang yang anda jaga dengan baik, justru menyerang balik." Freya mengartikan inti ucapannya kalau Blade tidak berpikir panjang sebelum bergerak, pria itu bisa saja mengalami kesalahan yang besar dalam tindakannya.

Blade tertegun, mendengar ucapan Freya membuat perasaannya diselimuti kegelisahan yang kuat. Apa yang dikatakan Freya cukup masuk akal, meskipun Blade menjaga rahasia dengan aman di sini bahkan rela mengorbankan nyawanya, belum tentu seseorang yang dia lindungi akan melindungi keluarganya. Jika pun seseorang itu melindungi juga hanya akan membuka jatih dirinya sebagai pengkhianat seperti Blade, jadi alangkah baiknya seseorang itu diam dan tidak melakukan apapun, atau menyelesaikan yang akan menjadi sumber masalah baginya, dengan kata lain membunuh seluruh keluarga Blade. Dengan begitu rahasia akan lebih aman, bukan?

Blade menatap Freya kali ini dengan tatapan berbeda, meski gadis itu tidak memaksanya dengan cara kasar tapi gadis itu memaksanya dengan cara menyadarkan dirinya, bahkan seseorang yang Blade lindungi belum tentu melindungi keluarganya.

"Tampaknya anda sudah paham, Tuan Blade? Keluargamu sedang dalam ancaman besar sekarang. Tapi jika kau mau berkerja sama denganku, aku berjanji akan melindungi keluargamu." Perlahan Freya mulai menarik kepercayaan pria itu, dan setelah Blade percaya padanya akan lebih muda bagi Freya menanyakan informasi yang dibutuhkan.

Alis Blade sedikit berkerut, hati dan pikirannya berdebat keras, bingung haruskah dia mempercayai Freya atau tidak, setelah gadis itu membantunya sadar dalam tindakan yang Blade ambil sendiri, "Aku percaya dia tidak akan menyakiti keluargaku." Blade terdiam sejenak, kembali berpikir lebih dalam, "Tapi setelah mendengar ucapanmu, aku juga bisa merasakan dia tidak akan melindungi keluargaku."

Perkataan terakhir Blade membuat senyuman Freya semakin melebar, tentu saja senang pria itu bisa berpikir lebih luas lagi, dan sadar langkah mana yang harus dia ambil. Freya sudah menduga cara ini akan lebih efektif memaksa Blade buka suara. Freya tentu tidak asal memakai cara, terlebih dahulu dia harus mencari tahu seperti orang Blade dalam kehidupannya dan dari yang dia tahu Blade pejabat bersih dan penyayang keluarga. Ada dua alasan kenapa Blade begitu menutup mulutnya, pertama jika bukan percaya orang yang diikutinya mampu melindungi keluarga Blade setelah Blade tertangkap berkhianat. Ke dua Blade mengalami ancaman dari seseorang itu agar terus bungkam.

'Cara ini benar-benar efektif, meski membutuhkan waktu sedikit lama.'

__________

A/N : Ancaman memang segalanya 😈

1
37421🥀✨
srru buanget dahh 🥰🥰🥰🥰
smngat thor upnyaa
jngan lam² thor..ditnggu ya thor kelanjutannya😉
Icye Anun
Lama sudah tidak update. Karya ini mungkin tidak ada sambungan lagi. Sayang sekali...
Sri Aisyah
maju mundur cantik kata syahrini 😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂
Naaa
mampir kuy "Menikahi Sang Vampire"
cumi
😔😔 nunggu up ,Thor tolong kasih kejelasan lanjut gak nya 😔
cumi
Thor ceritanya bagus up yg banyak ya 🤗
kutus_ herbal
ko ga lanjut thor up ya lm bgt???
Alberta_ra
cepet up kak
yeoja
lanjut thor.......spirit, let's update again
kutus_ herbal
thor ko blm up ya dah mau sebulan
Lira Nur
Aku lupa kapan terakhir kali novel ini update-_
yeoja
Thor kpn up nie?
cejaa_★
lanjut thor
totoro
wah si ivy mencurigakan
Nuraini Aini Aza
ditunggu kelanjutannya
amni
up banyak" yuh thor hhe
kutus_ herbal
up yg sering dong thor....
kutus_ herbal
thor kmn?? lm ga up😱😱😱
anca
meskipun mgkn hanya mimpi tapu ga seharusnya nyerah gtu aja utk mati tenggelam dlm mimpi,,,ga peka banget sama tanda
🦆 Wega kwek kwek 🦆
cewek yg bar bar aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!