Kisah tentang Sukame yang mendapat julukan Pendekar Murah Hati. Dimana kehidupannya dimulai dari masa kecilnya hingga ketika dia menghadapi hitam putihnya dunia persilatan.
Ternyata banyak sekali suka dan duka yang dia alami, yang membuat dirinya sadar akan apa dan mengapa tujuannya untuk hidup.
Bagi yang penasaran akan kisah ini silahkan membaca semoga menjadi terhibur serta dapat mengambil hikmah dari kisah Pendekar Murah Hati ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon loren defretes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi anggota Partai Pengemis
Keesokan harinya di Partai Pengemis.
"Ayo bangun!" seru ketua Liso, membangunkan anggotanya yang kebanyakan masih anak-anak termasuk Sukame.
Sukame mendengar seruan dari ketua partai iapun ikut terbangun, melihat sekelilingnya sambil menghafal dan mengingat nama nama mereka.
"Sukame semalam istri saya telah membuatkan baju dan celana untukmu, pakailah!" seru ketua Liso memberikan pakaian untuk Sukame pakai.
"Terima kasih ketua, ibu ketua!" ucap Sukame dengan gembira menerima pakaian itu.
"Hari ini kamu mulai bekerja bersama Denu, tugas kalian berdiri didepan pintu gerbang masuk kota Sunok, ini sebuah tongkat dan mangkuk untuk mengemis, kalau kalian dalam bahaya kalian tinggal mengetuk mangkuk ini dengan tongkat kalian."
"Baik ketua" sahut Sukame.
Sukame dengan Denu berjalan menuju ke pintu gerbang kota Sunok. Di Pintu Gerbang itu ada 2 orang prajurit berbadan tegap. Tugas kedua orang tersebut untuk menjaga jika ada orang yang mencurigakan atau buronan kerajaan masuk ke kota Sunok.
Sukame dan denupun mulai melakukan pekerjaannya, banyak dari orang yang lewat memandangi mereka berdua dengan tatapan sinis, ada pula beberapa yang berbaik hati memberikan sedikit uang ke dalam mangkuk mereka.
"Ternyata perlu kesabaran yang sangat tinggi ya, untuk menjadi pengemis" ujar Sukame kepada Denu.Denu terdiam sambil menggaruk kepalanya.
"Kakak!" panggil Denu.
"Denu bosan berdiri lama di sini"
"Lebih baik kita menggambar saja di tanah!" ucap Sukame sambil menganggukkan kepalanya.
"Gambar apa kak?" tanya Denu.
"Gambar gerakan silat yang semalam di ajarkan oleh ketua Liso, supaya kita tidak lupa."
"boleh kak" seru Denu.
Sukame adalah seorang anak yang suka menggambar, dulu sewaktu di kampung sehabis menjual ikan Sukame akan pergi ke pantai dan menggambar diatas pasir. Sebab dia tidak mempunyai seorang teman yang bisa diajak bermain, dan ketika malam hari neneknya menemani dia untuk belajar menulis dan membaca, tidak heran tangan dan jari Sukame lincah menulis maupun menggambar.
Sukame mulai mengingat ingat akan perkataan ketua Liso, bahwa Ilmu Silat Partai Pengemis dasarnya adalah berbelas hati dan gerakan dasar Ilmu Silat dari Partai Pengemis adalah tangan meminta, tongkat untuk memukul.
Sukamepun mulai menggambar serta mengingat ingat gerakan-gerakan yang semalam diajarkan ketua Liso, sedangkan Denu ketika melihat hasil gambar Sukame menjadi gembira.
"Kakak kamu pintar sekali menggambar, nanti ajarin aku yah...!" seru Denu.
Setelah selesai menggambar Sukame baru sadar ternyata ada 5 gerakan dasar Ilmu Silat dari Partai Pengemis yang diajarkan ketua Liso semalam.
Sukame dan Denupun mulai melakukan gerakan gerakan tersebut ketika keadaan jalan sepi, mereka melakukan gerakan itu dengan sangat gembira.
*****
Tak terasa hari sudah malam, anggota Partai Pengemispun kembali ke rumah mereka yang letaknya dipinggiran kota, termasuk Sukame dan Denu beserta yang lainnya.
Sudah hampir sebulan Sukame berada di kota Sunok dan menjadi anggota Partai Pengemis, Karena dari sananya memang Sukame anak yang pintar disertai dengan kemauan yang keras, perkembangan Sukame dalam belajar Ilmu Silat Partai Pengemis sangatlah cepat, ketua Liso sendiripun merasa kagum akan kemajuannya.
"Anak ini sangat genius padahal umurnya baru 8 tahun, tetapi hampir semua gerakan yang saya ajarkan, dia mampu menguasainya bahkan dia bisa mengembangkan jurus jurus itu" gumam ketua Liso dalam hati ketika melihat Sukame berlatih.
Sebab setiap hari menjelang pagi dimana para anggota Partai Pengemis lainnya masih tidur, Sukame sudah bangun dan mulai berlatih Ilmu Silat Partai Pengemis.
*****
Suatu ketika disaat Sukame dan Denu sedang berada didekat pintu gerbang kota Sunok, mereka berdua melihat banyak orang memberikan hormat kepada satu rombongan yang baru masuk di kota Sunok.
"Mereka pasti pembesar dari keluarga kerajaan atau saudagar kayak datang dari kota lain" ujar Sukame.
"Kak enak yah...jadi orang kaya" ujar Denu sambil tersenyum.
Sukame mengangguk kepalanya sembari melihat rombongan itu.
Ketika rombongan itu lewat didepan mereka berdua terlihat 2 tandu yang dipikul, 1 tandu berukuran besar dan 1 tandu berukuran kecil, dan 1 orang pengawal berjalan didepan tandu itu, memiliki badan yang sangat kekar, tubuhnya tinggi, ada dua bilah pedang besar bersandar dipunggungnya.
"Hei minggir cepat!, tuan muda menteri akan lewat" teriak pengawal itu kepada orang orang yang menghalangi jalannya.
Ketika Sukame melihat segerombolan itu, matanya tertuju kepada seorang anak perempuan berusia 4 tahun tiba tiba berpisah dengan ibunya, karena ibunya berusaha menghindar dari rombongan menteri muda itu.
"Awas!!!" Sukame berteriak ketika melihat anak perempuan yang berada di tengah jalan sambil menangis ketakutan.
Kemudian dia berlari menolong anak itu karena rombongan itu tidak mempedulikan anak itu.
"Yece!" teriak seorang ibu ketika mendengar suara tangisan anaknya.
Sukame yang sudah berada didekat anak itu, dia mendekap melindungi anak kecil itu.
"Kurang ajar kau anak kecil berani sekali menghadang rombongan menteri muda." teriak pengawal itu yang mempunyai badan besar dan tinggi sambil menendang Sukame.
prakkk...
Sukame terlempar kedepan dan terguling sedangkan anak kecil itu berhasil diangkat ibunya untuk menepi.
"B*ngs*t, apa kamu ingin mati?" teriak pengawal itu lagi.
Sukame yang mendapatkan tendangan dan tersungkur berusaha bangkit namun apa daya dia tidak mampu, badannya terasa sakit, wajahnya pucat serta meringis kesakitan.
Akibat kejadian itu perjalanan rombongan terganggu dan terhenti, tiba tiba keluarlah dari dalam tandu seorang wanita muda, berumur 15 tahun, kulitnya putih bersih,dengan mengenakan pakaian yang begitu indah, rambutnya terurai panjang, bulu matanya lentik bertanya kepada pengawalnya.
"Apa yang terjadi paman?" tanya wanita itu dengan lembut.
"Maaf Putri Wangi, anak ini telah menghalangi perjalanan kita"
Mata putri wangi yang lembut tiba-tiba berubah menjadi tajam ketika melihat seorang anak laki-laki kurus sedang meringis kesakitan, Sukame berusaha pelan-pelan bangkit dan berlutut.
"Maafkan hambamu ini Tuan putri, hamba tidak bermaksud menghalangi perjalanan anda beserta rombongan, hamba berusaha menolong adik kecil itu" sambil berkata Sukame menunjuk dimana anak kecil itu sudah berada dalam gendongan ibunya.
"Tutup mulut kamu!, dasar penipu!" teriak pengawal itu kepada Sukame.
"Maaf ampun, apa yang saya katakan barusan memang benar" ucap Sukame lagi.
"Tutup mulutmu!" seru pengawal itu hendak menampar wajah Sukame, akan tetapi tiba tiba gerakan tangan orang itu terhenti oleh sarung pedang milik Putri Wangi.
"Sabar paman, sepertinya anak ini berkata jujur, lihatlah matanya!" seru Putri Wangi.
"Ibu apakah benar yang dikatakan anak ini?" tanya Putri Wangi kepada ibu yang menggendong anak yang tak jauh dari Putri itu berdiri.
"Iya, benar tuan putri, hamba tadi lupa menarik tangan anak hamba ketepi untungnya anak itu berhasil menolongnya" ujar ibu itu sambil menundukkan kepalanya.
R I P 💐
1. Berlari di atas Awan
2. Tangan Penyembah.
Jurus yg laen pada kmna..!??