Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh Cinta Pada Kegilaanmu
Hening dua detik.
Erivo menatap Chloe, alisnya naik. Tapi tak lama setelahnya pria itu meraih tangan Chloe lalu mengecupnya dengan singkat.
PLUK
Eleanor membulatkan matanya, syok melihat apa yang dilakukan oleh putranya itu.
Nicholas yang biasanya datar... ikut mengerutkan dahi.
Alexander berteriak, "TUAN ERIVO... DIA HANYA WANITA GILA! TIDAK PANTAS MENJADI ISTRI ANDA!"
"Benar, Tuan..." tambah Serena. "Levin akan segera membawa Vivian kembali. Calon Anda Vivian, bukan wanita gila itu!"
Erivo tidak memedulikannya. Justru pria itu menggandeng tangan Chloe untuk pergi dari sana.
Eleanor sampai menganga melihat putranya yang seperti itu dengan seorang wanita asing.
"Ayo, Ma," ucap Nicholas kepada istrinya.
TAK.... TAK....
Langkah Erivo mantap, menarik Chloe melewati puing kaca. Tempat pesta pernikahan itu sudah sepi. Wartawan dan para tamu undangan sudah pergi.
Sesampainya di depan mobil, Erivo membuka pintu.
"Masuk," bisik Erivo.
Begitu pintu mobil tertutup — BRAK.
Di dalam mobil hanya ada keheningan. Hujan mulai turun membasahi kota Geneva di malam hari.
Eleanor dan Nicholas masuk ke mobil di belakang.
Eleanor masih syok. "Nick... itu... itu..."
Nicholas menarik dasinya. "Sudahlah, Ma... Dia putra kita. Dia tahu apa yang dia lakukan."
Di dalam mobil Erivo.
Erivo melepas dasinya, melempar. Lalu menoleh ke Chloe. "Kau baik-baik saja?"
Chloe mengangguk pelan, lalu setelahnya wanita itu menatap keluar jendela mobil, melihat kota Geneva yang diguyur hujan deras malam ini.
Tetes hujan menuruni kaca mobil. Sama seperti air mata Irina dan jiwa Chloe Weiss yang saat ini sudah tenang di alam barunya.
Dalam hati Chloe berkata, "Kau lihat kan, Bu... Kau lihat kan Chloe? Aku baru saja membuka permainannya dengan adegan yang sangat menyenangkan..."
Air mata Chloe atau jiwa Daisy jatuh membasahi pipinya. Tapi ia tersenyum tipis.
Erivo melihatnya dari samping. Rahangnya mengeras.
Ia mengambil selembar tisu lalu memberikannya kepada Chloe.
Chloe menerima, mengusap air matanya pelan.
"Terima kasih, Tuan," bisik Chloe, suaranya serak.
Erivo tidak menjawab. Ia juga menatap keluar jendela. Hujan, lampu kota, dan pantulan wajah Chloe di kaca.
Chloe menoleh. "Tuan... kenapa kau melindungi aku? Padahal aku ini hanya orang asing, yang tiba-tiba datang menghancurkan pernikahan Anda?"
Erivo menatap lurus ke depan. Kepalanya ia sandarkan ke kursi, menatap langit-langit mobil.
"Karena wanita gila sepertimu tidak seharusnya sendirian," Erivo menoleh ke Chloe. Matanya tajam tapi lembut.
Chloe mengernyitkan alisnya. "Kau mengataiku gila?"
Erivo menyipitkan matanya. Sudut bibirnya naik tipis.
"Gila," kata Erivo. "Karena kau berani masuk ke pesta pernikahan yang tidak aku inginkan. Menggantikan saudaramu yang pergi. Berani menyuruh orang melakukan penembakan, membuat semua para tamu undangan berlarian pergi."
Erivo mendekat. Satu jengkal dari wajah Chloe.
"Gila," bisik Erivo. "Setelah melakukan semua itu... kau masih duduk di sini, tenang, seolah bukan kau dalangnya."
Chloe menelan ludah. "Lalu?"
"Lalu?" Erivo tertawa pelan. Suaranya rendah. "Lalu aku jatuh cinta pada kegilaanmu. Kegilaanmu itu sama persis dengan wanita masa laluku."
DUG
Chloe membelalakkan mata. "T-Tuan..."
Erivo mengusap pipi Chloe dengan ibu jarinya. "Aku sudah dua puluh tujuh tahun diatur oleh ibuku, Chloe. Pasangan diatur, pernikahan diatur, bisnis diatur, hidupku diatur."
"Tapi kau satu-satunya orang yang berani masuk dan membakar semua aturan itu."
Erivo menghela napas. "Jadi ya... aku juga gila. Gila karena mau melindungi mu."
Hening.
Hanya suara wiper mobil yang mengusap hujan di kaca. Kota Geneva malam ini terasa sangat dingin.
Chloe menunduk. Jantungnya berdetak terlalu kencang. "Apa aku boleh tahu, di mana sekarang keberadaan wanita masa lalu mu itu, Tuan?" tanya Chloe.
Erivo terdiam. Tangannya yang mengusap pipi Chloe berhenti.
"Dia... dia sudah tiada," jawab Erivo, suaranya datar. Tapi ada retak kecil di sana.
"Maaf, Tuan. Aku tidak tahu," ucap Chloe.
Erivo hanya mengangguk singkat. Mobil memasuki gerbang tinggi, kediaman keluarga Reinhard.
Lampu-lampu mansion menyala redup. Hujan masih turun.
Anak buah yang berjaga di mansion itu langsung membuka pintu mobil sambil membawa payung.
Erivo turun lebih dulu. Tanpa kata. Hujan mengguyur jas hitamnya tapi ia tidak peduli.
Ia berjalan ke sisi Chloe, membuka pintu.
Chloe masih duduk diam, dengan wajah datarnya.
"Turun," kata Erivo pelan.
Chloe mengangguk. Saat melangkah keluar, Erivo merangkul bahunya, menutupi Chloe dengan tubuhnya dari hujan. Payung dari anak buahnya bahkan tidak sempat dipakai.
Mereka masuk ke dalam mansion.
Hangat. Aroma kayu dan lavender.
Eleanor dan Nicholas yang masih berada di dalam mobil, keduanya diam, melihat perlakuan lembut Erivo kepada Chloe, gadis yang tiba-tiba menjadi istrinya karena menggantikan saudara tirinya yang menghilang entah ke mana.
DUG
Eleanor mengepalkan tangannya di pangkuan. "Pak," bisik Eleanor. "Itu... itu kedua kalinya aku melihat Erivo melindungi seseorang seperti itu."
Nicholas menghela napas. "Kau benar, Ma... Sepertinya Erivo melihat sosok Queen di dalam diri wanita itu, sehingga dia seperti itu."
Pintu mobil terbuka. Anak buah membukakan payung.
Eleanor turun dulu. Wajahnya tegang. Nicholas menyusul. Tatapannya lurus ke pintu mansion yang terbuka lebar.
Di dalam mansion, tepatnya di ruang tengah.
Erivo melepas jas basahnya, menyampirkannya ke bahu Chloe.
"Pelayan akan mengantarmu ke kamar," ucap Erivo.
Chloe hanya mengangguk kecil.
"Erivo," panggil Eleanor. Suaranya bergetar.
Erivo menoleh, dengan wajah datarnya.
Eleanor melangkah ke arah putra dan menantunya itu, disusul Nicholas di belakangnya.
Saat sudah berada di hadapan Erivo dan Chloe, Eleanor menatap Chloe dari atas hingga bawah. Lalu dari bawah ke atas.
Erivo menghela napasnya dengan pelan. Ia menatap ibunya dengan datar. "Jika Mama ingin protes dan ingin mengatur hidupku lagi..."
Erivo melangkah maju. Berdiri tepat di depan Eleanor, menutupi Chloe.
"Maka silakan," potong Erivo, suaranya rendah. Tajam.
"Tapi kali ini aku tidak akan diam."
DUG
Eleanor mundur setengah langkah, terkejut.
"Erivo—"
Erivo menaikkan tangannya, menghentikan ucapan ibunya itu. "Dua puluh tujuh tahun, Mama selalu mengatur hidupku. Dan aku selalu menuruti apa yang dikatakan Mama... tapi"
Erivo mengepalkan tangannya.
"Tapi tidak kali ini."
Hening. Hanya suara hujan di luar.
Erivo menoleh ke arah pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Tolong antar istriku ke kamar. Siapkan pakaian ganti untuknya."
Pelayan itu terkejut, lalu langsung membungkuk. "Baik, Tuan."
Erivo menoleh ke Chloe. Suaranya melunak.
"Ikutlah bersamanya. Mandi air hangat. Jangan sampai kau sakit."
Chloe mengangguk pelan. "Baik, Tuan."
Sebelum pergi, Chloe melirik Eleanor sekilas. Lalu membungkuk. "Permisi, Nyonya."
Eleanor tidak menjawab. Hanya menatap punggung Chloe yang pergi bersama pelayan.
Begitu Chloe hilang, Erivo kembali menatap Eleanor.
Nicholas langsung maju. Ia menatap putranya dengan wajah yang sangat serius. "Apa kau sudah yakin dengan pilihanmu ini?" tanyanya.
Erivo tersenyum tipis. Pria itu melangkah ke arah sofa dan duduk di sana.
Ia menyandarkan punggung, melepas jam tangan dan melemparnya ke meja. TAK
"Aku sangat yakin, Pa," jawab Erivo, santai. Tapi mematikan.
"Lebih yakin dari apa pun yang pernah aku yakini."
DUG
Eleanor kembali ingin berbicara tapi Nicholas menggelengkan kepalanya. "Baik... Kali ini Papa dan Mama tidak akan melarangmu lagi."
TAK
Eleanor menoleh kaget. "Nicholas?!"
Nicholas memegang bahu istrinya itu dengan lembut. "Cukup, Ma. Selama ini Mama yang selalu mengatur kehidupan Erivo. Dan dia tidak pernah melawan kita. Itu artinya dia sudah benar-benar dewasa. Dan dia sudah pantas memilih yang terbaik untuknya."
Eleanor menggeleng. Air matanya jatuh. "Tapi Nicholas... kita belum tahu seperti apa wanita itu. Aku tidak ingin putraku salah pasangan. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya."
Erivo tertawa kecil. Pahit.
"Yang terbaik, Ma?"
Erivo berdiri, menatap ibunya dengan lekat.
"Dua tahun yang lalu, Mama memintaku memutuskan hubungan dengan Queen, karena Mama mengatakan dia bukan yang terbaik..." suara Erivo bergetar.
"Tapi tanpa Mama ketahui... jika Queen-lah yang membantu aku membalas kematian kakek dan paman. Dia bahkan rela mati bersamaku."
Eleanor menangis, sedangkan Nicholas ia terdiam.
"Tapi Mama tetap mengatakan dia bukan yang terbaik."
Hening sejenak.
"Dan lihat aku, Ma," bisik Erivo.
"Dua tahun aku hidup seperti mayat. Bekerja, minum, tidur. Karena yang terbaik versi Mama tidak pernah mengisi hatiku."
Erivo menunjuk dadanya. "Bahkan sampai Queen mati, hanya dia yang ada di hatiku."
Erivo menoleh ke arah tangga. "Chloe dia memang bukan Queen, tapi aku bisa melihat sosok Queen di dalam dirinya. Keberaniannya, bahkan tatapan mata dan senyumnya."
Erivo menarik napasnya pelan. "Jadi mulai sekarang tolong terima Chloe sebagai menantu Mama... Karena menantu pilihan yang menurut Mama terbaik itu justru menghilang dan entah ke mana."
Setelah mengatakan itu, Erivo melangkah pergi.
---
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys 🙏 Like, komen dan Vote 🥰 🥰 🤗.
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,