NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Kerjasama

"Mami, kami tadi kan nolongin nenek-nenek yang diambil tasnya oleh penjahat, pas nenek itu kasih uang jajan sama Abang langsung ditolak. Abang itu sok kaya! Seharusnya kita sekarang pegang duwit buat jajan."

Dari situ Ayuna tahu kenapa Kenzie terlihat begitu jengkel terhadap kembarannya. Sebagai orang tua ia harus memberikan nasehat yang baik agar mereka mengerti.

"Jadi itu alasannya kenapa kamu ngambek sama Abang?" tanya Ayuna.

"Iya. Abang sih, sok kaya!" Kembali Kenzie mengulanginya dengan mengempoutkan bibirnya. "Padahal uangnya banyak mam, lumayan buat jajan atau buat beli makanan enak."

Ayuna terkekeh menanggapinya. "Sayang, dengerin mami!" Ayuna menarik tangannya dan meminta Kenzo duduk di pangkuannya. "Menurut mami apa yang dilakukan Abang itu sudah benar. Kita kalau niatnya mau menolong jangan pernah mengharapkan imbalan."

"Jadi mami nyalahin aku nih?"

"B—bukan, mami nggak juga menyalahkanmu, hanya saja menurut mami kita nggak harus menerima pemberian orang, karena kita juga nggak tahu kondisi orang yang kita tolong. Bisa jadi kan, orang yang kita tolong juga membutuhkan uang itu, hanya saja dia tidak enak hati karena sudah kalian tolong, jadinya dia berniat kasih uang sama kalian."

"Pantesan mami suka dimanfaatin orang," sungut Kenzie. "Mami selalu nggak enakan, jadinya dimanfaatin orang mulu!"

"Udahlah mam, si Kenzie ini memang mata duitan. Dia mana bisa dinasehati, di benaknya hanya terpikir duwit mulu," sahut Kenzo yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.

"Ih Abang! Semua orang juga butuh duwit," bantahnya dengan mengempoutkan bibirnya. "Memangnya kamu makan nggak pakai duwit. Memangnya kamu sekolah nggak pakai duwit. Jangan gitu kamu bang!"

"Udah! Udah! Nggak usah ribut!" Ayuna gemas sendiri. Setiap hari ada saja acaranya, dua bocah yang dilahirkan bersamaan selalu menciptakan keributan meskipun mereka saling menyayangi.

Tok... Tok... Tok...

Terdengar suara pintu diketuk. Ayuna dan kedua anaknya saling bertatapan.

"Sepertinya ada orang di luar," gumam Ayuna.

"Siapa yang datang mam?" tanya Kenzie.

"Palingan nenek Lampir," sungut Kenzo. "Nggak usah dibuka mam, dia suka buat keributan. Palingan juga minta duwit."

Ayuna sendiri juga penasaran. Saat pindah rumah ia tak memberitahu alamat barunya pada orang tua angkatnya. Ia sengaja tidak memberitahunya karena tidak ingin diganggu.

"Coba mami intip dulu ya? Takutnya ada hal penting yang mau disampaikan."

"Terserah mami saja! Tapi kalau nenek yang datang mendingan nggak usah dibawa masuk," celetuk Kenzo yang memang tidak pernah menyukai Lastri.

Ayuna beranjak dari tempat duduknya dan bergegas untuk mengintipnya. Di luar terdapat seorang pria, namun hanya terlihat punggungnya. Sebenarnya ia ragu untuk membukanya, namun ia juga penasaran oleh sosok tersebut.

"Permisi..."

Kembali pria itu mengetuk pintunya. Berhubung penasaran, pada akhirnya Ayuna membuka pintunya.

"Iya..., tunggu sebentar."

Pintu pun terbuka. Begitu terkejutnya ia saat mendapati sosok di depan pintu. "Pak Erlangga?"

Bola mata Ayuna membulat sempurna melihat majikannya sudah berdiri tepat di depannya.

"Kok Bapak ada di sini?" Tangan Ayuna masih memegang knope pintu dengan tubuhnya gemetaran. Pikirannya gelisah tak karuan mengingat Erlangga berkali-kali menanyakan identitasnya.

"Jadi kamu tinggal di sini?"

Ayuna mengangguk. "Iya pak, saya tinggal di sini."

"Terus saya nggak diizinkan masuk gitu?"

Ayuna tercengang dengan mulut terbuka. Haruskah ia menyuruhnya masuk? Sedangkan statusnya lajang. Lalu bagaimana tanggapan tetangga sekitarnya?

"Kenapa bengong?"

Pria itu membuyarkan lamunannya.

"Ah..., yaudah silahkan masuk pak." Terpaksa ia menyuruhnya masuk. Sangatlah tidak sopan jika membiarkan tamu tetap berdiri di luar pintu.

Erlangga masuk ke dalam rumah itu dengan mengamati setiap sudut di dalamnya.

"Ini rumah kamu sendiri atau ~~

"Ngontrak pak," jawab Ayuna.

"Terus rumah kamu sendiri di mana?"

Sebenarnya Ayuna cukup risih dengan pertanyaan-pertanyaan itu, tapi haruskah ia marah dan langsung mengusirnya?

"Kalau saya memiliki rumah tentu saya nggak bakalan tinggal di kontrakan pak!"

Pria itu mengerutkan keningnya. "Jadi kamu nggak punya rumah? Terus keluarga kamu? Maksudnya orang tua kamu ada di mana? Apa mereka juga tinggal di sini bersamamu?"

"Kedatangan Bapak ke sini sebenarnya buat apa?" Ayuna yang merasa terusik langsung membantahnya. "Kalau kedatangan Bapak ke sini buat menyurvei saya lebih baik silahkan pergi saja. Anda bukan petugas sensus penduduk. Tempat anda di kantor sebagai atasan saya."

Erlangga bukannya marah, tapi dia tertawa kecil dengan meletakkan paperbag di atas meja. Dia mengambil tempat duduk di kursi usang yang kurang membuatnya nyaman.

"Memangnya saya seperti petugas sensus ya?"

"Hm...iya. Anda datang-datang langsung menanyakan banyak hal yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Lagi pula saya ini cuma pegawai rendahan du kantor anda. Apa anda tidak risih mengunjungi pegawai macam saya. Kalau ada perlu kan bisa minta asisten anda buat menemui saya."

"Saya tertarik denganmu!"

Deg,, "Maksud Bapak?" Ayuna benar-benar dibuat tak tenang dengan kehadirannya.

"Maksudnya saya tertarik dengan desainmu!"

"Oh..., syukurlah." Ayuna bernafas lega setelah tahu maksud dari ucapan pria itu.

"Rencananya saya ingin mempromosikan desainmu. Tapi kalau boleh saya minta beberapa desain agar bisa saya promosikan."

Ayuna terdiam. Sebenarnya ia senang mendengarnya, tapi ia juga tidak ingin terlalu berharap, apalagi masih banyak desain yang lebih bagus dari buatannya.

"Kamu tak keberatan kan, kalau saya minta lima desain baru untuk  dipromosikan?"

Ayuna mengerjabkan matanya dengan meremas jemarinya gelisah. "Tapi pak, bukannya desain milik yang lain juga nggak kalah bagus dari desain saya? Takutnya mereka iri jika anda lebih memilih desain saya."

"Siapa bilang desain mereka lebih bagus darimu? Saya bahkan sudah melihat hasilnya satu persatu, dan saya tertarik dengan desainmu. Bukan cuma saya saja yang tertarik, tapi beberapa klien saya juga tertarik. Bisakah kamu bekerja sama dengan saya?"

Ayuna mengatupkan bibirnya. Ia masih belum bisa langsung setuju. Ia belum tahu apa keuntungan yang diperolehnya.

"Kamu tenang saja. Saya tidak akan menyulitkanmu. Jika kamu berhasil, saya akan memberikan empat puluh persen dari hasil yang saya peroleh, dan kamu tidak akan hidup dalam kekurangan."

"E—empat puluh persen pak? Bapak serius?"

Bukan hal sepele. Jika sampai ia memenangkannya, empat puluh persen dari hasil penjualan desainnya akan sangat bermanfaat untuk kehidupannya, tentu ia bisa memberikan kehidupan yang lebih layak untuk anak-anaknya.

"Saya tidak pernah membohongi siapapun, apalagi sama karyawan saya sendiri," bantah Erlangga. "Tapi syaratnya kamu juga harus jujur sama saya."

Ayuna langsung menghilangkan rasa keraguannya. Dia langsung menyanggupi ajakan kerjasama atasannya.

"Baik pak, saya setuju. Saya akan buatkan beberapa desain yang anda minta. Beri waktu satu Minggu untuk bisa menyelesaikannya."

Erlangga manggut-manggut. "Hm..., tidak masalah. Saya kasih waktu satu Minggu mulai dari sekarang."

Dalam hati pria itu menggumam, 'aku melakukan semua ini tentu ada maksudnya Ayuna. Aku merasa diantara kita memiliki ikatan yang kuat, hanya saja kamu masih belum menyadarinya.'

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!