Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Sembilan
Aruna kini sedang melarikan diri dari kegilaan Elvio dengan alasan ke kamar mandi. Tadi ada seorang pengawal wanita yang mengikutinya tapi Aruna berhasil kabur. Ia tak tahu berada di mana saat ini, setidaknya bisa kabur dari ayahnya barang sejenak. Meskipun ia nyasar ke tempat asing sekali pun, Elvio pasti akan menemukannya dengan segera jadi tak ada yang perlu di cemaskan.
Tempat ini terlalu luas dan Aruna tidak tahu sebenarnya mereka berada di daerah mana. Ia juga tidak begitu perduli, sih. Setidaknya bisa sedikit lepas dari Elvio saja sudah lebih dari cukup. Anak itu berjalan mengikuti kakinya saja dan tiba di sebuah ruangan besar yang ternyata tempat untuk bermain ice skating. Matanya membulat lucu dengan mulut membentuk huruf O yang cukup jelas.
Ia melangkah masuk untuk melihat apakah ada orang di dalam atau tidak tapi ia tak melihat siapa pun. Aruna mendekati tempat itu dengan takjub, matanya tak kunjung lepas dari arena bermain ice skating. Seumur hidupnya ia baru pertama kali melihat tempat ini secara nyata selain di tv saja.
Namun, samar-samar Aruna agak bergidik ketika udara dingin mulai menusuk kulitnya. Pakaian yang ia gunakan terlampau tipis karena memang ia tak berencana bermain ice skating. Tapi ini terlalu sayang untuk di lewatkan begitu saja tanpa mencobanya sama sekali. Anak itu melihat ke kiri dan ke kanan untuk melihat di mana bisa ia temukan sepatunya tapi tak ada apa pun.
Apa niatnya harus di batalkan? Setidaknya ia ingin mencoba bermain ice skating sekali saja seumur hidupnya.
"Siapa di sana? Ini tempat pribadi yang sudah di sewa olehku," ucap sebuah suara dari arah sebelah kirinya. Tidak begitu bisa ia lihat jelas karena ruangan cukup gelap, hanya lampu di bagian arena skating saja yang menyala.
Tapi suaranya terdengar begitu familiar di telinganya.
Perlahan-lahan sosok itu mendekat dan Aruna bisa melihat wajahnya dengan jelas. Kedua mata anak itu melotor kaget tak percaya.
"Mahesa?!"
Mahesa sendiri megerjap lalu merubah ekspresinya yang tadi terlihat tak bersahabat kini lebih lembut.
"Aruna, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Mahesa bingung.
"Anggap saja aku sedang melarikan diri. Ngomong-ngomong, kau bermain ice skating?" tanya Aruna antusias sembari melihata sepasang sepatu skating di tangan anak itu.
Mahesa mengangguk meski ia masih tidak memahami maksud dengan ucapan awal Aruna. Ia tak ingin membuat Aruna merasa tidak nyaman dengan terus menanyakan maksudnya apa, jadi ia alihkan pembicaraan ke hal lain, "Ya, itu salah satu hobiku. Kau juga?"
"Ah, sayangnya tidak. Ini pertama kalinya aku datang ketempat ini. Aku bahkan tidak tahu cara bermainnya," ucap Aruna dengan ringisan pelan.
"Mau mencoba?"
"Boleh?" Aruna balas bertanya semangat.
Anak lelaki itu mengangguk lagi, "Aku akan memegangmu sampai kau bisa berdiri seimbang."
"Wah! Itu luar biasa! Tapi, aku tak punya sepatunya," ucap Aruna ketika menyadari ia tak memiliki sepatu yang di maksud.
"Aku punya dua, kau bisa pinjam satunya," tawar Mahesa dan diangguki oleh Aruna cepat.
"Terima kasih!"
Setelah Aruna memakai sepatunya di pantau oleh Mahesa, kemudian anak itu membantunya menuju arena dengan tubuh kaku. Bahkan Aruna tak bisa bergerak saking gugupnya.
"Aruna, rileks. Kau terlalu kaku, seperti ranting kayu," tegur Mahesa.
"Aku berusaha tapi aku terlalu takut jatuh, Mahesa!" Aruna tanpa sadar memekik ketakutan.
Melihat tingkah Aruna membuat Mahesa terkekeh pelan, "Aku memegang kedua tanganmu dan aku akan mencegah kau jatuh, kalau pun jatuh kau takkan merasa terlalu sakit nantinya. Jadi jangan cemas."
Meski berkata begitu tidak membuat rasa takut Aruna menghilang begitu saja. Ia tetap merasa takut dan tubuhnya masih terasa begitu kaku.
"Jangan lepaskan aku, Mahesa!" Aruna tanpa sadar memekik ketika Mahesa membawanya meluncur agak lebih cepat. Tangan gadis itu sampai mencengkram kuat tangan Mahesa. Ia berusaha mengikuti alur Mahesa dan berusaha menjaga keseimbangan dirinya sendiri jika tak ingin jatuh memalukan.
Mahesa tersenyum dan semakin memegang kuat tangan Aruna, "Tentu saja. Aku takkan melepasmu."
Aruna tidak tahu sudah berapa lama mereka bermain ice skating karena ia yang terlalu menikmati permainnya. Sampai-sampai ia lupa tentang Elvio dan ada kemungkinan pria itu kini mencarinya.
"Kau semakin bisa," ucap Mahesa yang telah melepas genggamannya pelan-pelan pada Aruna.
"Tapi aku tetap takut jatuh! Pegang aku, Mahesa! Please!" Aruna memohon takut dan berusaha meraih tangan Mahesa lagi, tapi anak itu sengaja terus menerus menjauhkan dirinya dan membuat Aruna seperti mengejarnya.
"Pelan-pelan saja Aruna, kau semakin bisa, kok"
Setelah beberapa kali mencoba sendiri, Aruna mulai semakin lincah dan tidak begitu membutuhkan tangan Mahesa lagi. Tapi anak itu terus saja mengawasi pergerakan Aruna jangan sampai terjatuh.
"Woaah! Ini keren! Aku seperti terbang!" pekik Aruna senang ketika ia semakin lincah meluncur sendirian tanpa ada yang menganggunya sama sekali. Bahkan Mahesa memilih untuk menepi dan memperhatikan Aruna dari tempatnya saja.
"Astaga! Nona Aruna!"
Aruna menoleh cepat ketika namanya di panggil, hal itu membuat keseimbangan Aruna goyah hingga berakhir jatuh.
BUGH!
"Aduh!" Aruna meringis kesakitan sembari mengelus bokongnya yang tepat menghantam lapisan es tersebut.
"Aruna!" Mahesa berteriak kaget dan langsung menghampirinya cepat, membantunya berdiri dan terus melihat apakah anak itu baik-baik saja atau tidak. Kemudian membawanya keluar dari arena skating agar anak itu tidak terjatuh kembali.
"Kau baik?" tanya Mahesa. Membawa Aruna duduk di salah satu kursi dengan pelan dan memperhatikan anak itu dari atas sampai bawah hanya untuk memastikan memang tak ada luka serius.
Aruna sedikit meringis karena memang jatuhnya cukup keras, "Ya, aku tidak apa."
"Nona! Anda baik-baik saja?" tanya si pengawal wanita itu sembari mendekatinya cepat.
"Ya, hanya kaget."
"Maaf, saya mencari anda sedari tadi dengan panik bahkan Tuan Adiajaya sampai menyuruh orang-orang berpencar. Saya mohon lain kali jangan pergi tanpa mengatakan apa pun, Nona."
Tuh, apa ia bilang. Di mana pun dirinya berada, Elvio yang akan mencari dan menemukannya.
"Kau sudah menghubungi Ayah?" tanya Aruna memastikan.
"Ya, saya langsung memberitahu Tuan Adijaya. Mungkin sebentar lagi ia akan—"
"Aruna!"