NovelToon NovelToon
Takluknya Boss Kecil Mafia

Takluknya Boss Kecil Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: NoorBee

Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17.Restu sang sahabat

Evan dan Reyhan yang baru saja hendak menyesap es teh manis kiriman pelayan langsung tersedak hebat seketika. Cairan dingin itu nyaris menyembur keluar. Mereka terbatuk-batuk hebat hingga wajah mereka memerah keunguan, menatap Gavin dengan pandangan horor dan syok yang tak terbendung.

"Lo... lo nidurin sahabat kakak sepupu gue, Vin?! Sahabat macam apa lo, bangsat?!" sembur Reyhan, emosinya langsung tersulut sebagai seorang adik yang besar bersama dengan aruna walaupun dia bukan sepupu sedarah.

"Kalau posisi lo saat itu berada dalam pengaruh alkohol yang sama beratnya, apa lo yakin bisa mengendalikan diri lo seutuhnya?" potong Gavin dengan suara bariton yang sangat tenang, meluruskan tuduhan tanpa ada seulas pun nada bercanda lagi di wajah tampannya.

Berbanding terbalik dengan Reyhan yang masih emosi, Evan justru memegangi kepalanya yang mendadak terasa berputar pening. Skala masalah ini terlalu besar.

"Gila... lo berdua beneran gila," gumam Evan tegas. Walaupun sehari-hari Evan terkenal petakilan dan gemar bercanda, bagaimanapun ia dan Ethan adalah cucu pertama di keluarga Erros, pemegang estafet kekuasaan tertinggi keluarga saat ini. Evan hanya takut akan ada dampak domino dari kegilaan ini bagi hubungan diplomatik keluarga Erros dan klan Sterling di dunia bawah.

 "Terus alibi pacaran di depan bokap waktu itu gimana Run? Bukannya kemarin waktu di rumah urusan sama si PNS itu sudah selesai? Kenapa bohongnya malah berlanjut sampai ke lapangan golf begini?!"

"Itu taktik darurat gue buat menyelamatkan Kak Aruna dari mas-mas PNS narsis pilihan Tante Inda," jelas Gavin santai, menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi rotan sembari melirik bahu kirinya yang dibalut perban.

 "Gue cuma menawarkan diri jadi pacar sewaan biar urusan cepat kelar. Tapi siapa yang sangka, Om Fiki malah langsung mengenali gue sebagai adiknya Dominic, dan langsung memberikan restu karpet merah VIP sampai ke pelaminan."

Evan dan Reyhan tertegun selama beberapa detik, terdiam seribu bahasa mencoba mencerna rentetan plot twist gila yang menimpa lingkaran pertemanan mereka.

Mata tajam Evan perlahan turun, menatap balutan perban tebal di bahu kiri Gavin yang tampak sedikit merembeskan warna merah samar akibat gerakan swing golf bertenaga yang dipaksakannya tadi.

"lo beneran suka sama aruna? Bukan buat mainan?" Evan merendahkan volumenya, nada bicaranya mendadak berubah menjadi sangat serius, dingin, dan penuh selidik.

"Ya, gue suka. Bahkan gue udah jatuh cinta pada pandangan pertama sama Kak Aruna waktu kita semua kumpul di Kelab Society kemarin," jawab Gavin tegas.

Sepasang netra phoenix-nya menatap Evan lurus tanpa ada secercah pun keraguan.

 "Malam itu, waktu ada Ethan, lo, Nareswari, dan Kak Aruna di meja yang sama... di situ gue tahu kalau gue nggak akan bisa lepas dari dia. Bahkan dari dia masuk buka pintu sama nares, mata gw udah keiket sama dia van"

Evan mengangguk pelan, lalu menunjuk perban di bahu Gavin.

 "Bahu lo... itu bukan karena ketiban palet barang di gudang logistik, kan? Gue tahu lo adiknya Dominic dan gue tahu persis siapa kakak lo itu. Luka itu... gara-gara urusan 'itu' kan?"Evan menghela napas berat.

 "Dan gue tahu alasan kenapa Om Fiki langsung menerima lo tanpa ragu. Hubungan persahabatan antara kakek Erros dan orang tua lo di masa lalu terlalu kuat. Nggak mungkin keluarga gue bakal menolak seorang Sterling."

Suasana di meja kafe seketika berubah menjadi sangat tegang, hening, dan kaku. Sementara itu, Reyhan yang sejak awal tidak tahu-menahu soal identitas asli di balik topeng Gavin dan klan Sterling, hanya bisa kebingungan menatap bolak-balik ke arah Evan dan Gavin, mencoba mengartikan maksud dari ucapan berat mereka.

Evan menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan kasar ke udara. Kemarahannya perlahan luntur, digantikan oleh kesadaran pahit bahwa hubungan palsu yang berawal dari malam panas di Kelab Society itu ternyata telah mengikat takdir kedua orang di depannya terlalu dalam ke dalam dunia bawah yang sangat berbahaya.

Apalagi, dari sudut matanya, ia melihat jemari Aruna diam-diam menggenggam erat tangan Gavin di bawah meja kaca, sebuah gestur perlindungan yang tulus.

"Gue nggak akan membocorkan rahasia ini ke Papa Fiki atau Mama Inda," ucap Evan akhirnya, menunjuk wajah Gavin dengan jari telunjuknya.

 "Tapi ingat ya, Vin. Sebajingannya gue sebagai cowok, tetap saja gue nggak akan pernah sudi melihat adik perempuan kesayangan gue sakit hati. Biarpun lo adalah adiknya Dominic yang paling ditakuti di kota ini, kalau sampai lo bikin adik gue menangis, sakit hati, atau terancam... gue sendiri yang bakal maju paling depan buat menghajar lo! Nggak peduli seberapa banyak anak buah Dominic yang berdiri di belakang lo!"

Gavin kembali mengulas senyum miring andalannya. Kali ini, senyuman itu tampak sarat akan rasa hormat. Ia mengulurkan tangan kanannya yang sehat, menjabat erat tangan Evan di atas meja.

"Siap, Bos. Menjaga keselamatan Kak Aruna sudah resmi jadi prioritas utama di hidup gue sekarang."

" What the hell, Kak Evan?!" protes Reyhan tidak terima. "Lo mudah banget memberikan izin dan restu ke dia setelah semua kegilaan ini?!"

"Suatu saat nanti, lo pasti akan tahu kenapa gue memberikan izin ini, Rey. Gue nggak bisa kasih tahu lo sekarang," ucap Evan dengan nada penuh penekanan yang mutlak, membuat Reyhan terbungkam.

"Ini semua juga demi kebaikan Aruna, biar dia tetap aman di bawah radar."

Reyhan yang semakin kebingungan akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah. Ia menatap Aruna lekat-lekat, meneliti pancaran mata sepupu perempuannya itu.

 "Kak... apa lo bahagia sekarang bersama Gavin?"Aruna menatap balik manik mata Reyhan dengan seksama. Sebuah senyuman tipis yang sangat manis dan teduh terbit di wajahnya.

"Ya, Rey. Kakak bahagia," ucap Aruna perlahan. Tidak ada nada paksaan, tidak ada juga nada antusias yang meledak-ledak. Kalimat itu mengudara murni, terdengar seperti sebuah ketulusan yang keluar langsung dari lubuk hatinya.Mendengar pengakuan itu, pertahanan Reyhan runtuh seutuhnya. Ia menyandarkan punggungnya pasrah ke kursi rotan.

"Yaudah. Asal Kakak bahagia, Kakak mau sama siapa pun... gue nggak masalah," ucap Reyhan pada akhirnya, memberikan restu tulus dari lingkaran terkecil mereka.

***

Begitu Evan dan Reyhan pamit berjalan menuju mobil mereka sendiri, Aruna tidak membuang waktu. Ia langsung menarik lembut namun tegas lengan Gavin, membimbing pemuda itu menuju area parkir VIP, tempat mobil SUV hitam mewah milik Gavin berada.

Begitu pintu kabin tertutup rapat, menghalau hawa terik lapangan golf dengan embusan AC yang dingin, Gavin langsung menyalakan mesin mobil menggunakan tangan kanannya. Sementara itu, Aruna memutar seluruh tubuhnya menghadap Gavin. Sepasang matanya langsung tertuju tajam pada noda kemerahan yang perlahan semakin melebar di balik kain kaus golf putih yang dikenakan pemuda itu.

"Tuh, kan! Apa saya bilang!" omel Aruna. Suaranya sedikit bergetar, berada di antara rasa kesal dan panik yang bercampur aduk.

"Jahitannya pasti ada yang lepas gara-gara kamu sok jagoan pakai acara melakukan swing"

Gavin hanya terkekeh pelan, sebuah tawa bariton yang renyah meskipun keningnya sedikit mengernyit dalam demi menahan rasa perih yang menyengat sarafnya.

"Santai, Kak," jawab Gavin.

"Cuma rembes sedikit, nggak sampai bikin gue mati di tempat kok."

"Jangan bercanda, Gavin!" potong Aruna ketus.

Namun, berbanding terbalik dengan nada bicaranya yang judes, jemari lentik Aruna bergerak dengan sangat lembut saat membantu melepaskan dua kancing bagian atas dari kaus golf Gavin.

Aruna merogoh tas kerja branded miliknya. Sifat perfeksionisnya membuat ia sudah bersiap sejak awal; ia mengeluarkan sekotak tisu antiseptik dan beberapa lembar kain kasa cadangan yang sengaja ia bawa sejak keluar dari apartemen subuh tadi. Dengan napas yang tertahan di dada, Aruna perlahan menyibak kain baju Gavin, memamerkan bahu kiri kokoh milik pemuda 19 tahun itu yang kini kembali dihiasi oleh perban putih bernoda darah segar.

Aruna mengambil selembar tisu antiseptik, lalu dengan kehati-hatian tingkat tinggi mulai membersihkan sisa-sisa darah yang merembes di sekitar pinggiran perban Gavin.

Jarak yang begitu dekat di dalam kabin mobil yang kedap suara membuat Gavin bisa menghirup dengan jelas aroma kamomil dan lavender yang menenangkan dari tubuh Aruna. Sementara di sisi lain, Aruna bisa merasakan kehangatan napas Gavin yang berembus pelan di puncak kepalanya. atmosfer di dalam SUV itu mendadak berubah menjadi sangat intim dan sarat akan ketegangan romantis.

"Sakit?" bisik Aruna lirih. Matanya fokus menempelkan kain kasa baru di atas luka, sama sekali tidak berani mendongak untuk menatap mata Gavin.

"Nggak berasa sakit sama sekali, kalau yang mengobati secantik ini," goda Gavin.

Suara bariton rendahnya terdengar begitu seksi dan dalam di tengah deru pelan AC mobil.Aruna mendengus pelan mendengar gombalan itu, namun tangan kanannya tetap bergerak telaten dan penuh perasaan saat merekatkan plester medis di bahu Gavin.

"Kamu itu aneh, ya," tutur Aruna perlahan. "Di luar sana bisa memimpin pertempuran bersenjata dan baku tembak di pelabuhan bawah tanah klan Sterling, tapi di depan Papa bisa-bisanya membual soal ketiban palet barang di gudang logistik dengan muka yang sepolos itu."

Gavin tersenyum miring, menatap lekat-lekat wajah serius Aruna dari samping. Tangan kanannya yang sehat terangkat perlahan, lalu dengan gerakan yang luar biasa halus, jemari kokohnya menyelipkan beberapa anak rambut Aruna yang terurai bebas ke belakang daun telinga gadis itu.

"Gue terbiasa pakai topeng di depan orang lain, Kak. Di depan rekan bisnis, di depan musuh-musuh Kak Dom, bahkan di depan Reyhan sekalipun," tutur Gavin, nada suaranya kini berubah sepenuhnya menjadi sangat tulus, hangat, dan dewasa.Gavin menjeda kalimatnya, mengunci pandangan Aruna.

"Tapi cuma di depan Kak Aruna, gue merasa nggak perlu memakai topeng apa-apa. Di depan Kakak, gue bisa menjadi berondong manja yang cuma butuh ditiupin lukanya, atau menjelma menjadi seorang pria yang siap pasang badan buat melindungi Kakak seumur hidup gue."

Sentuhan lembut jemari Gavin yang kini beralih mengusap pipinya membuat gerakan tangan Aruna seketika membeku di tempat. Ia perlahan mendongakkan kepalanya, mengunci pandangannya tepat pada sepasang mata gelap milik Gavin yang memancarkan kesungguhan tanpa ada secuil pun keraguan atau kebohongan.

Gengsi dan dinding es yang selama bertahun-tahun ini Aruna bangun dengan kokoh demi menjaga karier dan kehormatannya di Mahesa Group, kini benar-benar telah luntur total.

Dinding itu menguap tanpa sisa di dalam kabin mobil ini, dikalahkan seutuhnya oleh ketulusan luar biasa dari seorang berondong mafia berusia sembilan belas tahun.

Aruna tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang sangat manis, tulus, dan hangat, jenis senyuman langka yang belum pernah ia perlihatkan pada dunia luar sebelumnya. Ia menepuk pelan bahu kanan Gavin yang sehat.

"Sudah selesai dibersihkan. Sekarang pasang sabuk pengamanmu, Adik Gavin," ucap Aruna dengan nada yang melembut namun tetap tegas memegang kendali.

"Kita pulang ke apartemen sekarang, dan kamu harus istirahat total di atas kasur tanpa ada bantahan sedikit pun."Gavin tertawa renyah, suara tawanya terdengar begitu lepas.

Rasa puas dan bahagia yang membuncah memenuhi rongga dadanya saat ia menarik dan memasang sabuk pengamannya menggunakan tangan kanan dengan patuh.

"Siap dilaksanakan, Bos Manajer," sahut Gavin penuh kepatuhan.

Mobil SUV hitam mewah itu pun perlahan bergerak mulus, membelah jalanan kota yang mulai padat di hari Minggu siang. Membawa sepasang manusia yang terpaut beda usia enam tahun itu menuju ke arah masa depan baru, sebuah masa depan yang kini terasa jauh lebih hangat karena mereka tahu, mereka tidak lagi menghadapinya sendirian, melainkan bersama-sama.

***

1
Jingga
Menarik, fresh, menghibur
Alam2719
Thor, sehari up tiga kali yah????
QueenBee: di usahkan tiga kali yah, pagi, siang sama malam🙏🙏
total 1 replies
Alam2719
gw juga kecewa kalau jadi papa fiki
Alam2719
Thor, ganteng amat si gavin!!
QueenBee: iyah aku juga merasa dia ganteng banget🤣
total 1 replies
Musafa87
Thor thor, visul yang lain dong, 🤣🤣🤣
QueenBee: hahahaha.... oke aku usahakan yah kaaaa 😍
total 2 replies
Musafa87
Gavin lo ganteng amat!!!! sesuai ekspektasi gw 😍😍😍😍😍
QueenBee: terimakasih kaaa
total 1 replies
HD1
aruna run 🤣
hayroco
berondong obses🤣
hayroco
berondong meresahkan
Anonymous333
ih seru thor!!!
Anonymous333
vin, tokcer amat lo 🤣
Jingga
sumpah, seru 🤣🤣🤣
Jingga
anjrit, hamil 🤣🤣🤣🤣
Jingga
cantik banget cewenya 😍
Bocil323
thor kapan up lagi, rame dong 🤣🤣🤣
Bocil323
ighhh ko gemes 😍😍😍
Bocil323
wkwkwkwkwkkw malah di restuin sama om fiki 🤣🤣🤣
Bocil323
please banget, mau satu berondong yang kaya gini!!!
Bocil323
evan rey, usil banget loh 🤣🤣🤣
Bocil323
aaaahhhhh!!! asli bagus banget, suka banget!!!!! karakter cowonya kuat, dan cewenya cantik banget!!! dom juga kepala mafia tapi secy banget kata gw mah!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!