Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan yang Tertahan
Malam harinya, Oca beberapa kali membalikkan badan di atas kasur. Jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tetapi tetap saja ia tidak bisa memejamkan mata.
Pikirannya terus melayang pada pengakuan Dirga di sekolah tadi siang. Oca masih benar-benar tidak menyangka Dirga menyatakan perasaan padanya, apalagi di depan banyak orang.
Oca benar-benar bingung sekarang tentang pilihannya. Di satu sisi ia sudah memiliki Anthony sebagai suaminya, walaupun sebenarnya pernikahan mereka cukup rumit, tetap saja statusnya sekarang adalah sebagai seorang istri.
Namun, setiap kali mengingat Anthony, yang muncul justru jarak di antara mereka yang terasa semakin lebar. Di saat bersamaan, kehadiran Dirga perlahan membuat Oca bertanya-tanya, apakah ia memang pantas memberi kesempatan pada orang lain.
Oca kembali menghela napas panjang, kepalanya pusing karena terus memikirkan hal itu, hingga akhirnya ia memilih menggulir layar ponselnya berharap mungkin ia segera mengantuk.
Sampai beberapa detik kemudian tatapannya membeku pada sebuah postingan Instagram.
Sebuah foto baru, diunggah beberapa jam lalu, memperlihatkan Anthony dan Emma duduk berdampingan di kursi lipat lokasi syuting, jarak di antara keduanya nyaris tidak ada.
Emma tampak bersandar ringan ke bahu Anthony sambil tertawa, sementara Anthony sendiri menoleh ke arahnya dengan senyum tipis yang menurut Oca hampir tidak pernah ia lihat ditujukan untuk dirinya sendiri.
Keterangan foto itu ditulis oleh akun resmi rumah produksi, sekadar dokumentasi di sela syuting. Namun Emma sendiri sempat mengunggah ulang foto yang sama di story pribadinya, dengan tambahan emoji hati kecil dan tulisan singkat: "paling nyaman kalau syuting bareng dia ♡"
Oca membaca ulang tulisan itu dua kali, entah kenapa dadanya terasa semakin sesak. Dari nada tulisannya, Oca merasa kalau Emma tidak sedang berakting atau sekadar basa-basi profesional tapi seperti ada sesuatu yang lain di balik kalimat sederhana itu.
"Serasi banget."
"Chemistry mereka dapet banget."
"Semoga jadian beneran."
Oca mendengus pelan sambil memutar bola matanya.
"Serasi banget sih mereka," gumam Oca pelan dengan nada sinis, menirukan salah satu komentar di unggahan itu.
Dengan perasaan kesal dan cemburu yang tidak ingin ia akui, Oca akhirnya mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas nakas dengan sedikit lebih keras. Bukannya semakin mengantuk, matanya justru semakin terbuka lebar karena foto unggahan itu.
"Genit banget sih, pakai nempel-nempel segala. Mana tuh cowok juga diem aja lagi." Oca mendengus pelan. Setelah terdiam beberapa saat, ia kembali bergumam, "Hadeh... kenapa gue jadi kesel banget, ya?" ucapnya sambil menarik selimut hingga menutupi setengah wajahnya.
Namun baru saja ia mencoba memejamkan mata sekali lagi, suara mesin mobil terdengar samar dari halaman mansion.
Oca kembali membuka mata, karena penasaran ia pun bangkit dari kasur, melangkah pelan menuju jendela kamar lalu menarik sedikit gorden untuk mengintip ke bawah.
Ternyata, mobil hitam yang sangat ia kenal sudah terparkir di halaman depan. Tak lama kemudian, sopir bergegas turun dan membukakan pintu penumpang. Dari dalam mobil, Anthony melangkah keluar dengan wajah lelah dan masih mengenakan setelan jas.
Oca terdiam di balik tirai, memperhatikan sosok itu dalam diam. Entah kenapa, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, campur aduk antara rasa kesal yang belum reda dan sesuatu lain yang lain.
Menyadari Anthony mulai melangkah masuk ke dalam rumah, Oca buru-buru menutup tirai dan bergegas naik kembali ke atas kasur. Ia menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, lalu memejamkan mata berpura-pura sudah tertidur lelap.
Beberapa menit kemudian, suara pintu kamar terbuka pelan.
Oca yang masih memejamkan mata seketika menahan napas. Ia berusaha mengatur embusan napasnya agar terdengar senatural mungkin, berharap Anthony benar-benar mengira dirinya sudah tertidur.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki masuk ke dalam kamar dengan pelan, dan semakin lama terasa semakin dekat ke arah ranjang. Jantung Oca mulai berdetak lebih cepat. Kelopak matanya terasa gatal ingin terbuka, tetapi ia mati-matian menahannya.
Langkah kaki itu akhirnya berhenti tepat di samping ranjang. Suasana kamar kembali hening, tak terdengar apa pun selain suara pendingin ruangan yang berdengung pelan. Entah berapa lama Anthony hanya berdiri di sana, membuat Oca bertanya-tanya dalam hati.
Ngapain, sih…
Tiba-tiba, dari balik kelopak matanya yang terpejam, ia merasakan bayangan seseorang bergerak. Anthony perlahan mengangkat satu tangannya ke arah wajah Oca, jaraknya tinggal beberapa sentimeter.
Namun tangannya mendadak berhenti di udara.
Anthony terdiam beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Pada akhirnya, ia hanya mengembuskan napas pelan sebelum menarik kembali tangannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik meninggalkan sisi ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Ketika mendengar suara pintu kamar mandi tertutup, barulah Oca membuka matanya perlahan, kemudian menatap kosong ke langit-langit kamar. Ia mengangkat satu tangan, menyentuh pipinya sendiri, tepat di bagian yang tadi hampir disentuh Anthony.
"Aneh..." gumamnya lirih.
Entah kenapa, jantungnya justru berdetak semakin cepat.