"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Menerima kematian dalam pikiran ternyata sangat berbeda dengan menghadapinya dalam kenyataan. Tidak peduli seberapa siap diriku, rasa sakit dan ngeri dari bilah pisau yang merobek leherku tak bisa hilang begitu saja.
Ketika kesadaranku terlempar kembali ke hari Sabtu, aku mendapati diriku berada di dalam bilik toilet pantai yang sunyi dan dingin. Rasa mual yang teramat sangat menghantamku; aku berlutut di depan kloset, terus muntah-muntah menguras isi perutku. Saat aku memaksakan diri bangkit dan menatap cermin, penampilanku sungguh mengerikan. Wajahku pucat pasi, mataku bergetar liar, dan napas lambat laun menderu kacau. Aku tidak bisa kembali ke saung dengan kondisi seperti ini. Karena itu, aku memilih mundur, terduduk lemas di lantai dengan punggung bersandar pada pintu toilet.
Sepuluh menit. Lima belas menit. Dua puluh menit. Waktu terus berlalu tanpa ampun. Sayup-sayup aku mendengar derap langkah kaki orang-orang yang bergantian keluar masuk area toilet. Sementara itu, aku masih meringkuk di dalam bilik, memeluk lutut, mencoba menjinakkan debar jantungku yang tak kunjung tenang. Tubuhku menggigil hebat.
Bip. Bip.
Ponselku bergetar berkali-kali. Pesan dari Rania dan Siti masuk berturut-turut, menanyakan keberadaanku yang terlalu lama menghilang. Dengan jemari yang kaku, aku hanya mengetik balasan pendek: aku sedang sakit perut. Aku tidak ingin mereka khawatir.
Hingga akhirnya, setelah satu jam penuh mengurung diri dalam peperangan batin, raut wajahku perlahan-lahan mulai membaik. Namun tidak dengan jiwaku. Jauh di dalam sana, aku masih gemetaran ketakutan.
“Kamu yakin tidak apa-apa, Luna?” tanya Rania cemas, langsung menghampiriku begitu aku kembali bergabung di saung.
Aku menatap wajahnya dalam diam. Detik itu juga, bayangan tentang Rania yang hancur, menangis histeris di bawah selimut pada lini masa sebelumnya, mendadak berputar di kepalaku. Kenyataan bahwa gadis ceria di depanku ini pernah mengalami neraka tersebut membuat jiwaku berguncang jauh lebih hebat daripada rasa sakit pisaunya.
“Ya. Tentu!” jawabku, memaksakan seulas senyum setulus mungkin agar ia percaya.
Rania terlihat ragu sejenak, meneliti mataku, namun ia segera mengabaikannya karena anak-anak lain sudah bersorak. Pertunjukan kembang api yang sempat tertunda karena menungguku akhirnya dimulai.
SREEEET... DUARRR!
Ketika kembang api dinyalakan, ledakan besar yang memekakkan telinga berdentum di udara, melukis pemandangan indah yang mekar di langit malam. Semua orang terpana, terpesona oleh pendar cahaya berwarna-warni yang memantul di atas air laut.
Aku terdiam. Aku menoleh ke samping, menatap Siti dan Rania yang sedang mendongak dengan mata berbinar-binar terpukau. Aku kembali melihat ke atas. Bibirku bergetar hebat. Di dalam saku, aku mengepalkan tanganku kuat-kuat, menyalurkan seluruh sisa keberanian untuk menguatkan diriku sendiri.
Rasanya air mataku ingin tumpah saat itu juga. Namun, aku harus menahannya mati-matian. Karena aku tahu, satu-satunya hal yang lebih menyakitkan daripada merasakan perihnya kematian adalah membiarkan monster dunia merenggut paksa senyuman di wajah mereka. Kematianku di dapur beberapa jam lalu adalah harga yang sangat pantas untuk melindungi binar di mata Rania malam ini.
Pukul 22.00
Ketika bus TransJakarta menurunkan kami kembali di halte dekat sekolah, rombongan kelas langsung terpecah. Suasana malam sudah larut. Ada anak yang langsung dijemput, ada juga yang memilih berjalan kaki berkelompok. Siti melambaikan tangan saat mobil ibunya merapat ke tepi jalan, pulang lebih dulu.
Kini, di bawah temaram lampu halte yang sepi, tinggal tersisa aku dan Rania.
“Uummmm…” Rania meregangkan kedua tangannya ke atas, menghirup angin malam. “Tadi seru banget, ya. Nggak terasa ternyata udah malam aja. Kalau gitu aku balik dulu ya, Lun.”
Rania melambaikan tangannya, berbalik dengan senyuman cerah yang sangat kurindukan. Dari titik halte ini, rute rumahku dan rumah Rania berlawanan arah. Aku harus memutar jauh jika ingin bersamanya. Tapi persetan dengan arah jalan.
“Tunggu, Ran,” sahutku cepat.
Langkah kaki Rania yang baru berjalan tiga langkah langsung terhenti. Dia menoleh ke arahku dengan dahi mengkerut. "Kenapa, Lun?"
"Aku akan menemanimu pulang," lanjutku tegas, melangkah mendekatinya.
Rania terlihat sedikit bingung, lalu tertawa kecil. “Nggak usah, Luna. Lagian rumah kita kan beda arah, nanti kamu malah—”
Kalimat Rania mendadak terputus. Dia menatapku lekat-lekat, seolah menangkap sesuatu yang ganjil dari sorot mataku atau garis wajahku yang tegang, meskipun aku sendiri tidak tahu ekspresi apa yang sedang kuperlihatkan sekarang.
Senyumnya perlahan berubah, meluas hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Mau sekalian menginap di rumahku?” tawarnya gembira.
Mendengar kalimat itu, seberkas cahaya harapan yang besar langsung meledak di dadaku. Meskipun aku tahu masalah ini belum selesai sedikit pun, tawaran itu adalah pelindung terbaik yang bisa kudapatkan.
“Ya! Mau!” jawabku dengan nada girang yang tak bisa kusembunyikan.
“Yey! Asyik!” Rania justru terlihat jauh lebih senang dariku. Dia langsung menyambar lenganku.
Aku menyusul langkahnya, dan kami mulai berjalan beriringan membelah keheningan malam. Suasana jalanan sangat sepi. Begitu kami berbelok masuk ke arah area perumahannya, jalan raya berganti menjadi gang-gang sempit yang hanya cukup dilewati oleh pejalan kaki dan sepeda motor. Minim lampu, dikepung dinding-dinding rumah yang tertutup rapat.
Meskipun situasi ini sudah berbeda dengan lini masa sebelumnya karena aku berada di sini, aku tidak boleh lengah sedikit pun. Tidak ada jaminan kalau Rania akan aman dari serangan hanya karena ada aku di sampingnya. Kemungkinan terburuknya, pria keparat itu bisa saja menyerang kami berdua sekaligus. Sambil berjalan, tangan kananku diam-diam merogoh saku, menggenggam ponsel erat-erat, bersiap menekan nomor darurat polisi jika ada bayangan mencurigakan yang mendekat.
“Nggak terasa, sebulan lagi kita udah mau ujian sekolah, ya,” Rania memulai obrolan setelah kami sempat terdiam beberapa saat, memecah kesunyian gang. “Aku bener-bener belum ada persiapan nih. Bagaimana denganmu, Lun? Kamu pasti udah siap seratus persen, kan?”
“Y-ya... begitulah,” jawabku agak gugup, mataku tetap waspada melirik ke sela-sela gang gelap di depan kami.
“Habis US, pasti ada acara perpisahan. Terus kita harus lanjut ke SMA,” Rania menunduk, menendang kerikil kecil di jalurnya. “Entah nanti kita bakal satu sekolah lagi atau nggak... tapi rasanya sedih banget ya kalau mikirin kita bakal berpisah nanti.”
Aku menoleh, menatap wajah sampingnya yang sedang tersenyum pahit di bawah temaram lampu tiang. Hatiku menghangat.
“Nggak apa-apa, Rani. Meskipun nanti kita berada di sekolah yang berbeda, kita akan tetap menjadi sahabat selamanya. Janji,” ucapku sungguh-sungguh.
“Hehe… kamu benar.” Rania tertawa kecil, rasa sedihnya menguap. “Kamu sendiri udah nentuin mau masuk SMA mana?”
“Tidak. Masih belum tahu. Bagaimana denganmu?”
“Sama sekali nggak kepikiran! Lagian aku agak ragu, kira-kira aku bisa selamat dan lulus dari US ini atau nggak, ya?” godanya pada diri sendiri.
Aku mendengus geli, mencoba mengimbangi keceriaannya demi mengusir ketegangan. “Kalau sampai kamu nggak lulus, kamu harus panggil aku dan Siti dengan sebutan 'Kakak'. Karena kamu bakal jadi junior kami tahun depan.”
"Ih, ogah banget! Kalau gitu aku harus belajar mati-matian biar jangan sampai gagal!" seru Rania sambil mengerucutkan bibirnya.
Kami berdua tertawa kecil bersama. Suara tawa Rania yang renyah menggema di gang sepi itu. Dan anehnya, semua kekhawatiran, keresahan, serta rasa ngeri sisa kematian yang merantai pikiranku sejak tadi... seketika lenyap begitu saja, tersapu oleh kebahagiaannya.
Ah, sudah kuduga. Di dalam hidupku yang dikutuk oleh lingkaran maut ini, kamulah alasan utama kenapa aku memilih bertahan dan berjuang keras untuk menjadi diriku yang sekarang. Dan aku bersumpah, malam ini, tidak akan kubiarkan siapa pun merusak tawa itu.