"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Keesokan harinya....
Meysa semalaman duduk di kursi dekat jendela, tertidur dengan kepala tertunduk di atas lengan, terbangun oleh suara monitor detak jantung yang berdetak teratur.
Ia mengucek matanya, lalu menatap ke arah tempat tidur. Rangga masih terbaring lemah..
Pak Soerya masih duduk di kursi di samping tempat tidur, tapi wajahnya tampak lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat tebal
"Ayah," panggil Meysa. "Ayah pulang dulu. Istirahat. Biar Meysa di sini merawat Rangga."
Pak Soerya menggeleng. "Ayah tidak bisa meninggalkan dia, Nak."
"Ayah, Rangga butuh Ayah sehat. Jika Ayah jatuh sakit karena kelelahan, siapa yang akan mengurus semuanya?" Meysa berjalan mendekat, tangannya menggenggam lengan Pak Soerya."Meysa janji akan telpon Ayah jika ada perkembangan apa pun. Pulanglah, Ayah. Mandi, makan, istirahat..."
Pak Soerya menatap Meysa. Matanya berkaca-kaca, tapi akhirnya ia mengangguk pelan. "Kamu benar, sebaiknya ayah pulang dulu. Tapi janji, kamu telpon Ayah kalau Rangga sadar."
"Meysa janji Yah"
Pak Soerya menghela napasnya, lalu ia berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan itu..
****
Beberapa jam setelah Pak Soerya pulang, ruang rawat inap menjadi sunyi.
Waktu bergulir tanpa suara.
Perlahan Rangga membuka matanya.
Pandangannya kabur pada awalnya, ia hanya melihat langit-langit putih. Ia mencoba menggerakkan kepalanya, tapi rasa sakit segera menyambarnya.
Ketika matanya mulai fokus, ia melihat sesuatu yang membuatnya mendecak pelan, bola matanya berputar malas.
Meysa.
Perempuan itu tertidur di samping tempat tidurnya. Kepalanya tertunduk di atas lengan yang bersilang di tepi kasur. Rambut hitam panjangnya terurai ke bahu, menutupi setengah wajahnya. Tangan Meysa menggenggam tangannya.
Rangga terkejut. Dengan cepat ia menarik tangannya secara kasar..
Meysa tersentak kaget. Ia mengangkat kepalanya, mata yang masih sayu mencoba fokus pada wajah di depannya. Begitu menyadari Rangga sudah sadar, matanya langsung berbinar.
"Mas, kamu sudah sadar..." ucap Meysa lega. "Aku panggil dokter—"
"Jangan."
Suara Rangga terdengar parau. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, menjauhi Meysa. Perban di kepalanya masih melilit rapi, tapi matanya penuh dengan kebencian yang tidak berusaha ia sembunyikan.
"Mas, kamu harus diperiksa—"
"Aku bilang jangan," potong Rangga lagi. Nadanya dingin, menusuk. Lalu ia menarik napas panjang, dan mengucapkan kalimat yang membuat Meysa membeku.
"Lebih baik aku mati waktu di jembatan itu daripada hidup dan dirawat oleh perempuan kampung sepertimu."
Meysa menatap suaminya.
"Sebenci itukah kamu sama aku, Mas?" ucap Meysa."Aku memang kampungan, aku tidak pernah menyangkal itu. Tapi bukan berarti kamu bisa menghinaku seperti itu. Aku juga punya harga diri, Mas, dan memangnya kenapa dengan wanita kampungan sepertiku? Apa itu membuat keluargamu jatuh miskin?"
Rangga tidak menoleh. Matanya tetap tertuju ke jendela, ke luar sana, ke tempat di mana ia ingin berada jauh dari Meysa..
"Tapi aku tidak menginginkan perempuan sepertimu," jawabnya dengan ketus
"Lantas kenapa kamu tidak menikahi Emily saja?" tanya Meysa,"Bukankah Mas Rangga menyukai perempuan itu? Bukankah dia yang Mas panggil-panggil semalaman saat mabuk? Bukankah dia yang Mas cium dan Mas peluk, lalu Mas kira saya adalah dia?"
Kalimat itu meluncur dari mulut Meysa, seperti air yang sudah lama tertahan dan akhirnya menemukan celah untuk keluar.
Rangga terperanjat.
Ia menoleh, menatap Meysa dengan mata membelalak. "Apa maksudmu? Aku tidak pernah—"
"Mas tidak ingat?" potong Meysa, matanya mulai berkaca-kaca. "Malam itu Mas pulang dalam keadaan mabuk. Lalu Mas mengira saya adalah Emily. Mas sendiri yang memeluk saya, mencium saya, dan—" Meysa berhenti. Ia tidak bisa melanjutkan kalimat itu. Terlalu sakit, dan terlalu memalukan untuk diucapkan.
"Dan Mas mengambil sesuatu dari saya yang tidak bisa Mas kembalikan," lanjutnya lirih. "Jadi jangan bilang Mas tidak pernah melakukan apa-apa pada saya. Karena Mas sudah melakukan hal yang paling kejam sekalipun tanpa sadar."
Rangga terdiam. Wajahnya yang tadinya pucat, kini berubah merah padam bukan karena malu, tapi karena amarah dan keterkejutan bercampur menjadi satu.
"Bohong kamu—"
"Aku tidak bohong Mas, kalau saja waktu itu mas lihat noda merah di sofa, itu—"
Tiba-tiba, Rangga merasakan denyut sakit yang luar biasa di kepalanya. Kepalanya terasa seperti dihantam palu berulang kali. Dunia di sekelilingnya terasa berputar. Perban di kepalanya terasa terlalu ketat, kepalanya terasa mau pecah.
"AARRGHH!" Rangga memegang kepalanya dengan kedua tangan, tubuhnya bergoyang di tempat tidur.
Meysa panik. "Mas? Kamu kenapa? Sebentar, aku panggil dokter!"
Ia berlari ke sudut ruangan, menekan tombol panggil darurat di samping tempat tidur.
Pintu ruangan terbuka. Seorang perawat masuk, diikuti oleh dokter yang masih mengenakan jas putih dengan stetoskop melingkar di leher.
"Ada apa?" tanya dokter sambil menghampiri Rangga yang masih memegangi kepalanya.
Dokter memeriksa tekanan darah Rangga, lalu memeriksa pupil matanya dengan senter kecil.
"Pasien harus tenang," ujar dokter."Jangan dulu memikirkan apa pun yang bisa memicu emosi. Kondisi kepalanya masih dalam masa pemulihan. Jika dipaksakan berpikir keras atau emosi naik turun, bisa menyebabkan pendarahan ulang."
Meysa mengangguk. "Baik, Dok terima kasih."
Setelah dokter dan perawat keluar, ruangan kembali sunyi. Rangga terbaring dengan mata terpejam, napasnya mulai stabil meskipun wajahnya masih terlihat tegang.
Meysa duduk kembali di kursi dekat jendela. Kali ini ia tidak mendekat. Ia hanya menatap Rangga dari kejauhan.
"Tolong... jangan pernah bilang lebih baik Mas mati. Karena masih ada orang yang sayang sama Mas, meskipun Mas tidak pernah menganggapnya ada."
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey