NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:29.9k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

"Naik. Jangan banyak tanya kalau lo nggak mau gue gendong paksa ke atas jok ini."

Suara Bara yang berat dan parau membelah sunyinya area parkiran belakang sekolah yang hanya diterangi satu lampu merkuri yang berkedip-kedip. Aku berdiri mematung di samping sebuah motor besar berwarna hitam legam yang tampak sangat mengintimidasi—sama seperti pemiliknya. Jaket kulit milik Bara yang masih melingkar di bahuku terasa sangat berat, namun hangatnya masih tersisa, menjadi satu-satunya penghalang antara kulitku dan angin malam yang menusuk.

Aku menatap jok motor yang tinggi itu dengan ragu. "Tapi... aku harus pulang, Bara. Kalau orang tuaku tahu aku pergi dengan—"

"Dengan preman kayak gue?" Bara memotong kalimatku, sebuah seringai miring yang tampak berbahaya sekaligus sangat tampan terukir di wajahnya yang tegas. Ia mengenakan helmnya, namun membiarkan kaca depannya terbuka, memperlihatkan mata elangnya yang berkilat liar. "Loe sudah dikunci di perpustakaan sampai jam segini, Ra. Mereka bahkan nggak telepon sekolah buat nanya loe di mana. Lo pikir mereka peduli kalau loe telat satu jam lagi?"

Kalimat itu menghantamku telak. Rasa perih menjalar di dadaku karena kenyataan yang ia lontarkan begitu jujur. Benar. Ayah, Ibu, bahkan Airin... mereka mungkin sedang tertawa di meja makan sekarang, tanpa menyadari atau mungkin sengaja melupakan bahwa ada satu anggota keluarga yang tertinggal di kegelapan.

Tanpa kata lagi, aku naik ke atas jok belakang dengan susah payah. Bara tidak membantuku, tapi ia membiarkan lenganku berpegangan pada pinggangnya saat motor itu tiba-tiba menggerung keras, memecah kesunyian malam dengan suara mesin yang jantan.

Kami membelah jalanan kota yang mulai sepi. Angin malam menerpa wajahku, membuat air mata yang tersisa di pipiku mengering seketika. Aku memejamkan mata, membenamkan wajahku di punggung lebar Bara. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku merasa... bebas. Tidak ada bayang-bayang Airin, tidak ada tatapan benci Alvaro, dan tidak ada tuntutan Ayah yang mencekik. Hanya ada aku, Bara, dan deru mesin yang seolah meneriakkan pemberontakan.

Bara membawaku ke sebuah jalan layang yang sepi, tempat lampu-lampu kota tampak seperti hamparan berlian di bawah sana. Ia mematikan mesin motornya, membiarkan kesunyian kembali menyelimuti kami, hanya diselingi suara angin yang menderu pelan.

Ia turun dari motor, melepas helmnya, dan mengacak rambut hitamnya yang berantakan. Di bawah cahaya bulan, Bara tampak begitu tidak nyata. Garis rahangnya yang kokoh, tatapan matanya yang intens, dan luka kecil di sudut bibirnya memberikan kesan 'bad boy' yang sempurna.

"Gue nyari loe berbulan-bulan, Ra," ucapnya tiba-tiba, memecah keheningan. Ia menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas jalan layang, menatap lurus ke arah cakrawala.

Aku mengerutkan kening, berdiri di sampingnya dengan jaketnya yang kebesaran. "Mencariku? Kenapa?"

Bara menoleh, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Nyokap gue sembuh. Operasinya lancar. Sekarang dia sudah bisa jalan lagi meskipun pelan."

Jantungku berdegup kencang. Bayangan amplop cokelat berisi tabungan mesin jahitku melintas di kepala. "Aku... aku senang mendengarnya."

"Loe tahu nggak apa yang paling gila?" Bara melangkah mendekat, menghapus jarak di antara kami. "Waktu itu gue sudah siap mau ngerampok apotek. Gue sudah bawa pisau di balik jaket gue. Gue sudah nggak punya otak lagi karena liat Nyokap sesak napas di depan RS. Terus loe datang. Badan loe kecil, kacamata loe melorot karena hujan, dan loe naruh amplop itu di tangan gue seolah-olah itu cuma sekadar kembalian belanjaan."

Ia tertawa hambar, namun matanya tampak berkaca-kaca. "Gue nggak tahu siapa loe. Gue cuma tahu loe malaikat yang nyasar di trotoar malam itu. Gue nyari loe ke tiap sudut kota, tiap sekolah, sampai akhirnya gue liat loe di koridor SMA Garuda minggu lalu. Gue hampir nggak percaya kalau cewek jenius yang bikin Nyokap gue tetap hidup, ternyata diperlakukan kayak sampah di tempat ini."

Aku menunduk, tidak tahu harus menjawab apa. "Aku cuma... aku nggak mau lihat orang lain kehilangan ibunya, Bara. Itu saja."

Bara mengulurkan tangannya, bermaksud merapikan rambutku yang tertiup angin. Namun, saat tangannya bergerak, tanpa sengaja ia menyibak lengan seragamku yang sedikit tersingkap di balik jaket kulitnya.

Gerakannya terhenti seketika.

Mata Bara terpaku pada pergelangan tanganku. Di sana, di atas kulitku yang pucat, terdapat bekas memar keunguan berbentuk jari tangan—bekas tarikan kasar Alvaro saat ia menyeretku di koridor dan memaksaku melepas sepatu kemarin. Memar itu tampak sangat kontras dan menyakitkan di bawah cahaya lampu jalan.

Suasana di sekitar kami mendadak berubah menjadi sangat dingin. Aku bisa merasakan aura beringas Bara yang tadinya tenang, kini meledak dalam diam.

"Siapa..." suara Bara merendah, nyaris seperti geraman serigala yang sedang terluka. Ia meraih lenganku dengan sangat lembut, seolah-olah kulitku terbuat dari kaca yang mudah pecah. Ibu jarinya mengusap pinggiran memar itu dengan tatapan mata yang berkilat penuh amarah. "Siapa yang bikin loe kayak gini, Ra?"

Aku mencoba menarik tanganku kembali, merasa malu karena kelemahanku terlihat. "Bukan apa-apa, Bara. Ini cuma... aku tidak sengaja menabrak pintu."

"Jangan bohong sama gue!" Bara membentak, membuatku tersentak. Ia menatap mataku, mencari kejujuran yang kupendam. "Si pangeran kaya itu? Si Alvaro bajingan itu yang ngelakuin ini sama loe?"

Aku terdiam, air mataku mulai menggenang lagi. Tatapan Bara yang penuh kepedulian justru membuat pertahananku runtuh. Aku mengangguk pelan, nyaris tak terlihat.

Bara melepaskan lenganku, namun ia langsung meninju pagar pembatas jalan layang dengan keras. Brak! Suara hantaman logam itu bergema keras. Rahangnya mengeras, dan napasnya memburu.

"Gue bakal habisin dia besok," desis Bara. Suaranya dingin, tanpa nada bercanda sedikit pun. "Gue bakal bikin dia ngerasain rasa sakit yang sepuluh kali lipat lebih parah dari apa yang loe rasain malam ini. Nggak ada satu orang pun yang boleh nyentuh loe kayak gini, Ra. Nggak satu pun."

Ketakutan menyergapku. Aku tahu Bara tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jika ia bilang akan menghabisi seseorang, ia benar-benar akan melakukannya. Aku tidak mau Bara kembali masuk penjara atau dikeluarkan dari sekolah hanya karena membelaku.

"Bara, tolong... jangan," aku meraih telapak tangannya yang masih mengepal keras. Jemariku yang kecil mencoba membuka kepalan tangannya yang kasar. "Aku mohon. Jangan ada kekerasan. Kalau kamu melakukan itu, kamu akan berada dalam masalah besar. Aku tidak mau kehilangan satu-satunya orang yang membelaku."

Bara menatapku. Matanya yang tadi liar kini meredup sesaat saat bersentuhan dengan tanganku. Namun, kemarahan di sana tidak hilang, hanya terpendam di bawah lapisan es yang sangat dingin.

Ia tidak menjawab permohonanku. Sebaliknya, ia justru menyeringai—sebuah seringai dingin yang membuat bulu kudukku meremang. Ia menarik tangannya dari genggamanku, lalu kembali menghidupkan mesin motornya dengan satu sentakan kuat.

"Loe terlalu baik, Aira. Dan orang baik kayak loe, nggak pantes hidup di dunia yang isinya iblis kayak mereka tanpa ada pelindung," Bara berkata sembari memakai helmnya. Suaranya terdengar sangat yakin, seolah ia sudah memutuskan sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat.

"Bara, janji padaku kamu tidak akan melakukan hal bodoh besok?" tanyaku lagi saat aku naik ke jok belakang.

Bara tidak menjawab. Ia hanya menarik gas motornya dalam-dalam, membuat suara knalpotnya meraung membelah malam. Melalui kaca spion, aku bisa melihat matanya yang berkilat berbahaya.

Besok, SMA Garuda tidak akan pernah sama lagi. Sang Serigala telah menemukan alasannya untuk bertarung, dan kali ini, ia tidak akan membiarkan mangsanya lolos begitu saja.```

1
Ma Em
Wah pak Prasetya ditantang Aira untuk melakukan tes DNA malah kabur , berarti benar Aira bkn anaknya pak Prasetya .
Allea
kalo lo ga bongkar kebusukan si airin trus kpn bales kebusukannya ,enak si airin dong aman2 bae 😁
Salwa Blora
kak lantoot semangat kak😁😁
M ipan
semangat ya💪
Aletheia: thanks, atas komen dan like nya kak👍
total 1 replies
Ma Em
Prasetya , Ratna dan Airin kenapa selalu jadi duri dlm setiap ada kegiatan atau acara yg Aira adakan , kapan Prasetya , Ratna juga Airin akan dapat karmanya dan membiarkan Aira hdp bahagia tanpa diganggu ketiga iblis berbentuk manusia ini , semoga kebohongan Airin segera diketahui Alvaro bahwa anak yg dikandung Airin bkn darah daging Alvaro tapi benih dari tuan Burhan .
Aletheia: terimakasih kak atas komennya,bisa tulis di rating ya kak terus kesan novelnya di disana🤭
total 1 replies
Tetii Riiani
ceritanya seru n gak bertele tele
Aletheia: thanks kak atas ratingnya, semoga sehat selalu dan lancar rejekinya 🙏
total 1 replies
Rinrin Novani
sangat bagus
Aletheia: terimakasih kak atas ratingnya semoga sehat selalu dan lancar rejekinya 🙏
total 1 replies
andi tahang
lanjutyy
Ma Em
Semoga secepatnya Aira menikah dgn Bara jgn ditunggu lama lagi karena terlalu banyak orang yg akan menghancurkan Aira .
Ma Em
Aira kamu berani melawan dan hilangkan rasa trauma kamu Aira dan jgn sampai kamu tertipu oleh bapakmu , ibumu juga Airin yg licik itu mereka hanya mau memanfaatkan kamu Aira , Aira jgn terlalu senang dulu dgn modal yg diberikan pak Darmawan karena ada Alvaro yg sdh mengincar dan akan membuat usaha Aira gagal , Aira hrs hati hati jgn sampai lengah .
Aletheia: thanks ya kak udah komen,minta ratingnya karena besok mau up banyak
total 1 replies
Allea
sebenarnya Aira itu tangguh ga sih 😁
Ma Em
Ada hubungan rahasia antara Prasetya dgn tuan Galaksi tentang Aira yg selalu dikurung didalam gudang bawah tanah , apakah Aira bkn anak kandung pak Prasetya , tapi aku agak kecewa pada Aira sepertinya Aira msh suka pada Alvaro setelah Alvaro menyakiti dan selalu menghina Aira tetapi Aira diam saja saat dipeluk Alvaro , hati2 Aira kamu jgn mengecewakan Bara karena Bara yg sdh menolong mu dan mengangkat derajatmu sehingga jadi desainer yg hebat jadi lupakan Alvaro itu cuma masa lalu yg menyakitkan Aira jgn luluh dgn Alvaro .
Yeni Astriani
Alvaro sungguh pria tidak tahu malu dan gak punya harga diri sama sekali
Ma Em
Aira lawan jgn takut lagi sama Airin juga ibumu kasih pelajaran untuk Airin juga ibumu agar kapok dan tdk akan mengganggu Aira lagi , masa Aira sdh jauh2 belajar di Milan msh bisa ditekan dan diancam sama Airin .
Ma Em
Bagus Aira kamu jgn lupakan pengorbanan Bara yg sdh menolong dan menjadikan Aira designer yg handal , biarkan Alvaro menyesal karena kebodohan nya , mau tau juga bagaimana nasibnya Airin juga bapak dan ibunya , manusia sombong dan pilih kasih pada anak sendiri bagaimana kehidupan nya sekarang setelah ditinggalkan Aira .
Ma Em
Aira lupakan Alvaro masa kamu msh mau menerima Alvaro lelaki yg selalu menghina dan merendahkan kamu , ingat Aira kamu sdh diangkat derajatmu sama Bara dan sekarang sdh jadi designer yg hebat disekolahkan di Milan ingat itu Aira jgn melupakan jasa Bara hanya karena lelaki teman masa kecilmu yg sdh melupakanmu Aira , jgn sampai jadi manusia yg tdk bisa balas budi .
partini
dah ada filing akan macam ini ,, teringat novel th 2018 tapi luka karya siapa gitu di NT
si cewe ending nya sama yg lama yg baru hempas
Aletheia: haha,tunggu aja ya kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh kumat lolanya aira
Allea
cari masalah si aira harusnya lgsg geser biar ngegabruk tuh si al ngapain malah bernarasi dalam hati 😅
Aletheia: haha,biar greget kak🤭🤭🙏
total 1 replies
Ma Em
Buat Maheswari bangkrut dan Airin nasibnya hancur dan tersebar semua kelakuan Airin yg sdh menjual diri demi kemewahan .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!