-TAMAT-
Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.
Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.
Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.
Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 15 - Kejadian Tak Terduga
Mereka pun menonton Film Crows Zero, namun di tengah Film, mereka tertidur ditiga tempat yang berbeda. Akbar terlentang di tempat tidur, Ilham terlentang di atas karpet, dan Gus Faiz tidur terduduk sambil menumpukan kepalanya di tempat tidur Akbar.
Gus Faiz tentu tidak bisa tidur terlentang karena kepalanya masih berdarah di bagian belakang. Mereka pun tertidur hingga film usai. Mingkin ini karena efek ngantuk, lelah, dan rasa sakit di tubuh mereka masing-masing.
Jam menunjukkan pukul 11.00 WIB.
“Ugh!” Akbar melenguh, sambil melenturkan tubuhnya.
Akbar tak sengaja menendang kepala Gus Faiz, hingga Gus Faiz jatuh menimpa Ilham. Akbar yang merasa telah menendang sesuatu terbangun, dia melirik sekilas mencari tahu apa yang tengah terjadi. Lalu pura-pura tidur dengan wajah tanpa dosa.
“Aduh!” seru Gus Faiz dan Ilham berbarengan.
Gus Faiz langsung bangun, sambil meringis memegangi kepalanya.
“Ngapain si lo, Is. Masih doyan cewek gue.” rutuk Ilham.
“Saya juga masih normal. Saya ditendang Akbar.” kata Gus Faiz.
Ilham pun bangun. “Enak lo ya. Mentang-mentang sakit, nendang-nendang orang.” kata Ilham.
Akbar masih pura-pura tidur. Ilham yang mengetahui perubahan raut wajah Akbar langsung sadar kalau Akbar sudah bangun.
“Is, mumpung yang punya lagi tidur. Kita buang aja yu buaya sama ulernya Si Akbar.” Seru Ilham.
Gue Faiz yang tanggap sesuatu. “Sekalian tokeknya juga, Ham.” katanya.
Akbar yang mendengar hewan peliharaannya akan dibuang, terlebih mendengar kata-kata Gus Faiz yang hampir setiap perkataannya serius langsung bangun.
“Ehhh! Gue bangun, gue bangun. Jangan gitu lah.” kata Akbar. Langsung terduduk.
“Apa yang yang kamu mimpikan sampai menendang kepala saya?” tanya Gus Faiz.
“Tau lo. Mimpiin apa si?” tanya Ilham.
“Gue mimpi jadi Genzi, njirrr..” kata Akbar.
“Genji Genji pala lo Genji.” kata Ilham, sambil menoyor kepala Akbar,
“Ilham, Akbar masih sakit.” kata Gus Faiz mengingatkan.
“Aduh iya, nih, Is. Gue sakit banget.” kata Akbar.
Ilham dan Gus Faiz memutar bola mata. “Saya mau numpang mandi ya, Bar.” kata Gus Faiz.
“Iya, lo berdua pakai baju gue aja. Ambil aja di lemari.” kata Akbar.
Gus Faiz dan Akbar mengangguk.
Setelah mandi, Gus Faiz dan Ilham langsung bergegas ke Masjid.
“Eh, Gue ikut!” teriak Akbar.
“Lo kan masih sakit. Udah salat rumah aja sana.” kata Ilham.
“Lebay banget lo. Masih bisa gue jalan.” kata Akbar.
Mereka bertiga pun pergi ke Masjid.
***
“Eh, nyokap gue udah telepon.” seru Ilham.
“Yaudah kalo mau pulang gakpapa, pulang aja.” kata Akbar.
Gus Faiz mengamati raut wajah Akbar. Gus Faiz jelas tahu bagaimana rasa kesepian Akbar. Diapun dilema, nanti sore dia harus kembali ke pondok namun, dia tidak tega meninggalkan Akbar sendiri, setidaknya butuh satu atau dua hari untuk menemaninya, karena keluarga Akbar benar-benar terlihat tidak peduli pada putranya.
“Iya, kamu lebih baik pulang. Biar saya saja yang di sini.” kata Akbar.
“Lo nggak ke pondok, Is?” tanya Akbar.
“Tidak.” kata Gus Faiz.
Gus Faiz berniat untuk menelepon Ustaz Ridwan untuk meminta izin nanti. Yang jelas meski masih bisa jalan pelan-pelan, namun Akbar pasti kerepotan untuk mengurusi dirinya sendiri.
“Yaudah, gue pulang dulu. Nanti malem gue ke sini lagi deh.” kata Ilham.
Akbar dan Gus Faiz mengangguk.
“Assalamualaikum.” salam Ilham.
“Waalaikumsalam.” Jawab Akbar dan Gus Faiz.
Ilham berbalik dan melangkahkan kakinya dengan ragu-ragu, saat membuka pintu, Ilham mendengar sebuah benda yang dijatuhkan.
PRANG!
“Lihat, Bang. Kelakuan anak kamu! Selalu pulang berdarah-darah!” teriak Yuni, ibu Akbar.
“Kamu kan ibunya. Ibu macam apa yang tidak becus mengurus satu anak!” teriak Robby, Ayah Akbar dan suami Yuni.
Ilham buru-buru menutup pintu kamar. Dia tidak jadi keluar kamar. Dia berharap dengan menutup pintu Akbar tidak mendengar pertengkaran antara ibu dan ayahnya dari lantai bawah. Hati Akbar tak jauh beda dengan Nindy. Meski masalah Nindy dan Akbar berbeda namun mereka sama-sama ada masalah dengan keluarganya.
Akbar bangkit. Dia mendengar suara Ibu dan Ayahnya. Hal ini membuat dia benar-benar malu kepada kedua sahabatnya.
“Ayo, gue anterin lo ke bawah.” kata Akbar.
Akbarpun mencoba berdiri, dia tak lagi menghiraukan tubuhnya yang masih nyeri di sana sini.
“Eh, gak usah, Bar. Gue nggak jadi pulang. Gue masih pengen di sini, hehe.” kata Ilham.
“Udah lo nggak usah bohong, gue nggakpapa, ayo.” kata Akbar.
Gus Faiz membantu Akbar. “Nggakpapa, Is. Gue masih bisa jalan.” kata Akbar keras kepala.
Akbarpun membuka pintu. Dan berjalan keluar. Gus Faiz dan Ilham mengekorinya dari belakang. Gus Faiz dan Ilham saling melirik, bingung harus melakukan apa. Akbar menahan emosinya. Dia terus berjalan.
“Cukup, Bang! Kenapa semua kesalahan yang dilakukan Akbar itu selalu jadi salah aku?” teriak Yeni kepada Robby.
“Ya kamu ibunya. Ibu yang gak becus!” Robby balas berteriak.
PRANG!
Akbar tidak kuat lagi menahan gejolak dalam hatinya. Dia membanting sebuah vas bunga yang ada di dekatnya ke lantai.
“Lihat, Yun. Hasil didikanmu, benar-benar tidak punya sopan santun!” seru Robby.
Mata Robby tajam menatap Akbar.
“Cukup, Ma, Pa!” teriak Akbar.
“Kamu berani meneriaki orang tuamu sendiri?” teriak Robby murka. “Benar-benar anak tak beradab tidak tahu sopan santun!” teriak Robby.
Ilham dan Gus Faiz bergeming. Mereka benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Masalah ini tentu masalah keluarga Akbar, mereka berdua merasa tidak berhak ikut campur.
“Kamu benar-benar keterlaluan Akbar!” teriak Yuni.
“Yang tidak berdadab, tidak punya sopan santun, dan keterlaluan itu, Papa dan Mama!” teriak Akbar.
Gus Faiz menghampiri Akbar lalu mengelus bahu Akbar menenangkan. Ilham ikut menghampiri Akbar dan berdiri di sampingnya.
Baru saja Yuni dan Robby hendak membuka mulut. Akbar buru-buru memotongnya. “Akbar itu malu! Di sini ada teman-teman Akbar tapi kalian justru berantem kayak gini!” teriak Akbar.
“Ini semua gara-gara kamu!” teriak Robby.
“Ya, salahkan saja Akbar. Salahkan kalau memang itu bisa membuat kalian lega. Usir sekalian saja. Akbar benar-benar sudah tidak tahan. Akbar iri pada Ilham dan Faiz yang punya keluarga lengkap dan hangat. Tidak seperti Akbar yang tidak pernah merasakan kasih sayang. Punya kedua orang tua yang masih hidup tapi serasa sudah mati.” seru Akbar, sambil meludah ke lantai.
“Anak kurang ajar!” teriak Robby. Dia berlari ingin menggampar Akbar.
Gus Faiz yang cepat tanggap dalam membaca situasi langsung bergerak menahan tangan Robby.
“Om, saya mohon. Bukannya saya ingin menggurui, namun kekerasan bukanlah jalan yang baik untuk menyelesaikan masalah.” kata Gus Faiz.
“Lancang sekali kamu!” seru Robby. Kali ini tangannya teracung pada Gus Faiz.
Akbar yang tidak mau sahabatnya ditampar oleh ayahnya langsung mendorong Gus Faiz, hingga membuat tamparan itu mendarat mulus pipi kirinya.