"Tanpa kita sadari, perasaan ini tumbuh seiring berjalannya waktu."
— Naura dan Rahsya —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunny0065, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandaran
Angin berhembus lembut, meniup helaian rambut panjang Naura.
Berkali-kali jemari lentik Naura menyelipkan rambutnya ke daun telinga.
Disadari Naura banyak bergerak, Rahsya menepikan sepeda dekat penjual aksesoris di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti di sini, katanya mau ke taman?" tanya Naura.
"Gue atasi dulu keresahan Lo," jawab Rahsya.
"Gue nyaman kok dibonceng gini, maju aja," kata Naura.
Rahsya mencabut bando merah bertelinga kelinci. "Harganya berapa, Bang?" tanyanya pada penjual aksesoris.
"Tambah lagi dong biar dagangan saya laris, cepat abis."
"Gue cuma butuh benda ini, dijual apa enggak?"
"Buat cewek di belakang? Ambil aja gratis," ucap penjual.
Rahsya merobek kemasan, berbalik badan memakaikan bando putih di kepala istrinya. 'Cantik,' memuji dalam hati.
Wajah Naura bersemu merah, ditatap lama oleh Rahsya.
"Keburu panas, jalan lagi," titah Naura.
Rahsya mengangguk, membayar sepuluh ribu benda dipakai Naura meskipun tukang aksesoris menolak tidak ingin dikasih uang.
"Pegangan," ucap Rahsya, siap mengayuh kembali sepeda.
Belum terbiasa melalui hari bersama sedekat ini, Naura memeluk canggung perut Rahsya.
Sepeda melaju dengan kecepatan sedang sehingga Naura dapat menikmati indahnya pemandangan gedung-gedung di sepanjang jalan raya.
"Mau cari makan dulu enggak?" tawar Rahsya.
"Lo laper?" balik tanya Naura.
"Gue nanya bukan mau ditanya balik, ngerti enggak?"
"Iya ngerti."
"Mampir apa enggak?"
"Enggak usah, tadi udah sempat makan kok," tolak Naura.
"It's okay."
Tiba di lokasi, Rahsya mengerem sepeda, berhenti di sekitar taman Asteena yang lengang pengunjung.
"Kita neduh di pohon rindang itu, Lo duluan jalan ke situ, gue mau cari ice cream." Rahsya menunjuk pohon berdaun lebat di seberang.
"Iya."
Naura turun, mendekati pohon di sudut taman dan bernaung di bawahnya, menunggu Rahsya membeli ice cream.
Tak butuh waktu lama, Rahsya sudah membeli ice cream dan mendorong sepeda ke arah Naura.
"Gue beli berbagai rasa ice cream. Tinggal Lo pilih suka ice cream rasa apa." Rahsya menyerahkan kantong plastik kecil.
"Banyak banget kayak bakal abis aja," kata Naura menatap tumpukan ice cream stik dalam plastik.
"Sekiranya enggak akan abis, bagikan aja ke anak kecil di sekitar taman," balas Rahsya.
Naura mengeluarkan satu ice cream, merobek kemasannya dan menggigit sedikit ujungnya.
"Eh, gimana kalau semua ice cream ini sanggup gue abisin?" tanya Naura.
Rahsya duduk bersebelahan dengan Naura.
"Kalau habis ya, bagus."
"Lo enggak nyoba? Ice cream nya enak loh, manis, kalau mau gue bukain satu," tawar Naura.
"Gue enggak suka ice cream."
"Terus sukanya apa?"
Rahsya membaringkan tubuh di hamparan rerumputan kecil dengan kepala diletakkan di pangkuan Naura.
Naura canggung untuk kali kedua pangkuannya dijadikan bantalan oleh Rahsya.
"Favorit gue minum kopi espresso," jawab Rahsya.
"O-oh, kalau gitu kita cari kopi biar Lo enggak kehausan," gugup Naura.
"Gue enggak haus, butuhnya dikasih cium."
"Eh."
Rahsya memandang dari posisi tidurannya, tidak bicara apapun lagi.
Gugup sepenuhnya diperhatikan, Naura tidak punya opsi lain untuk menghindari tatapan berbeda Rahsya, selain harus malu-malu merunduk mengecup hidung cowoknya.
Rahsya tersenyum simpul.
Naura mengangkat wajah meronanya, mengacuhkan lalu lalang pejalan kaki yang mencuri pandang ke arahnya.
"Lo malu pacaran sama gue?" tanya Rahsya.
Naura beku.
"Lo ragu-ragu memperlakukan gue di depan umum," komentar Rahsya.
"G–gue belum terbiasa bersikap romantis," terbata Naura.
"Tapi tindakan Lo mencium gue emang tulus?"
"I–iya. Gue tulus."
Naura menjauhkan ice cream yang meleleh lama didiamkan, lalu memberanikan diri mengelus surai hitam Rahsya.
"Pasti Lo bertanya, kenapa bu Salma hadir di pernikahan kita," cakap Rahsya.
"Lo baca pikiran gue?"
Rahsya menggeleng. "Keterkejutan di wajah Lo pas lihat bu Salma di hari pernikahan kita, gampang buat ditebak."
Naura meringis pelan, memang benar keterkejutannya saat itu tak dapat disembunyikan.
"Papa gue namanya Evander. Bunda gue, bu Salma. Adik gue, Adara Lathesia. Kami ditinggal Papa delapan tahun silam dalam keadaan ekonomi sedang bagus-bagusnya. Pada saat itu, gue masih kanak-kanak belum mengerti tentang keluarga. Kabar pahit tentang jatuhnya pesawat dapat kami ketahui melalui channel TV. Ketika pesawat ditumpangi almarhum Papa jatuh tenggelam di laut, gue bingung. Belum sepenuhnya mengerti apa yang dialami Papa. Tetapi bunda menangis histeris."
"Ketika jenazah Papa di pulangkan ke rumah kami, oleh petugas ambulance rumah sakit tempat mengotopsi para korban, barulah tangis gue dan Adara pecah. Kepergian Papa menorehkan luka trauma bagi kami. Bunda jatuh depresi karena kehilangan sosok almarhum. Di fase itu, gue sama Adara sedih banget. Gue kehilangan kasih sayang seorang ibu, kehilangan peran Papa. Namun yang lebih menyedihkannya lagi, itu Adara. Dia kehilangan semua kasih sayang anggota keluarga, karena bunda belum bisa menerima kenyataan pahit tersebut dan gue murung mengabaikan dia."
"Semenjak kehilangan Papa, bunda sedikit pilih kasih menyayangi anak-anaknya, selaku putra sulung, gue dituntut hidup mandiri dan mencintai Adara tanpa harus mengeluh. Kata bunda, kasih sayang gue pengganti peran Papa buat Adara."
"Bertahun-tahun gue turuti kemauan bunda sampai menginjak kelas sembilan SMP, barulah gue capek ngasih perhatian ke adik gue. Gue ngerasa apa yang gue lakukan kepada Adara adalah salah."
Cerita Rahsya, mengingat kenangan duka yang tersimpan baik di memori kepala.
"Perlakuan salah gimana?" tanya Naura.
"Gue tidur sekamar dengan Adara. Keseharian gue memperlakukan dia layaknya princess, sampai-sampai kasih sayang gue dijadikan ketergantungan emosional oleh dia," jelas Rahsya.
Usapan jemari Naura terhenti.
"Ketergantungan Adara berubah obsessive love disorder," tambah Rahsya.
"Apa artinya?"
"Kondisi seseorang mengalami cinta yang obsesif dan tidak seimbang terhadap orang lain. Itu hasil pemeriksaan psikiater waktu menangani Adara pas kelas sepuluh," terang Rahsya membagi rahasia keluarganya selama ini ditutupi.
Naura bergeming, tidak menyangka Adara mengidap gangguan psikologis, dan selama ini Rahsya berjuang sendirian menjaga kewarasannya agar tidak tergoda oleh obsesi dimiliki adiknya.
"Kenapa Lo sembunyikan masalah sebesar ini. Gue enggak suka sikap tertutup Lo yang enggak mau terbuka kepada siapapun. Lihat dampak negatifnya, Lo terjebak," lirih Naura.
Rahsya mengalihkan pandangan. "Ini masalah keluarga gue. Orang lain enggak perlu tau apalagi ikut campur."
"Ternyata beban hidup Lo berat," prihatin Naura.
Rahsya bangun, menepuk kaus belakangnya barangkali ada debu menempel.
"Gue nyesel cerita sama Lo," ucap Rahsya.
"Apa? Lo nyesel udah cerita ke gue?" beo Naura.
"Ya."
"Kenapa nyesel? Selama Lo cerita, dari tadi kerjaan gue cuma dengerin, enggak motong sepatah kalimat pun, terus salah gue di mana?"
"Lo jadi ikut khawatir."