Menceritakan tentang kehidupan seorang gadis yatim piatu yang mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya.
Semua bermula sejak kematian kakeknya yang tewas terbunuh saat dia masih kecil, hingga dirinya yang dijual dan dijadikan sebagai gadis penghibur di sebuah rumah bordil ternama yang mengubahnya menjadi salah seorang wanita penghibur yang menjadi favorit para bangsawan dan pejabat istana.
Hingga suatu saat, dia harus memutuskan untuk masuk ke lingkungan istana karena kematian kekasihnya yang ternyata dalang dari seseorang yang tinggal di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embun_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Selama tinggal bersama keluarga Jenderal Chang Yi, Mei Yin diperlakukan seperti anak mereka sendiri. Apa yang mereka makan, itu juga yang dia makan. Apa yang Liang Yi dan Jiao Yi dapat, maka Mei Yin pun dapat seperti yang mereka dapat.
Jenderal Chang Yi bahkan secara pribadi telah meminta maaf padanya atas kejadian sepuluh tahun lalu dan Mei Yin pun memaafkannya karena baginya, semua itu bukanlah salah Jenderal Chang Yi, tapi itu sudah merupakan suratan takdir untuknya.
"Kak Huanran, sebaiknya Kakak bersiap-siap. Kita akan pergi ke istana," ucap Jiao Yi pada Mei Yin yang sementara membantu Nyonya Yi memetik bunga untuk diletakkan di dalam vas.
"Kamu pergi saja dengan Kak Liang Yi, Kakak tidak bisa pergi karena harus membantu Ibu," tolak Mei Yin sambil meletakkan bunga di atas meja.
"Pergilah, temani adikmu itu. Dia sangat ingin pergi denganmu, katanya dia ingin memperkenalkanmu pada teman-temannya," bisik Nyonya Yi yang membuat Mei Yin terpaksa menurutinya.
"Baiklah, Kakak akan pergi denganmu," ucap Mei Yin yang langsung saja membuat Jiao Yi tersenyum sumringah.
Melihat senyum di wajah Jiao Yi membuat Mei Yin ikut tersenyum. "Inikah rasanya mempunyai sebuah keluarga?" batinnya yang membuat dia merasa sangat bersyukur karena semesta masih berbaik hati padanya.
Di dalam kamar, Jiao Yi mulai mencari baju yang di rasa cocok untuk kakak angkatnya itu. Baju yang semula tersusun rapi di dalam lemari mulai berantakan karena diacak-acak olehnya hanya untuk mencari baju yang sesuai dengan seleranya. Hingga tangannya berhenti mengacak ketika mendapati sebuah baju berwarna biru muda yang terlihat sangat elegan.
"Sepertinya, baju ini sangat cocok untuk Kakak," ucapnya sambil menyodorkan baju itu di depan Mei Yin dan menyuruhnya untuk segera memakainya.
"Kakak pasti akan terlihat sangat cantik. Cepatlah pakai baju ini. Kakak tahu tidak kalau Kak Liang Yi sangat tidak suka kalau menunggu kita berdandan terlalu lama. Jadi, Kakak harus cepat agar kita tidak dimarahi oleh Kak Liang Yi," bisik gadis itu pelan.
"Ayo, aku bantu Kakak berdandan," lanjutnya dengan senyum yang membuat Mei Yin hanya bisa menuruti setiap permintaan adik angkatnya itu.
"Memangnya, ada acara apa sampai kamu harus mengajak Kakak untuk ikut ke istana?" tanya Mei Yin ketika adik angkatnya itu sedang sibuk menyisir rambutnya di depan cermin.
Jiao Yi hanya tersenyum dan menusukkan konde berwarna emas ke rambut Mei Yin tanpa mempedulikan pertanyaannya. "Sudah selesai. Wah, Kakak sangat cantik. Aku yakin mereka pasti iri padaku," ucapnya yang membuat Mei Yin semakin bingung.
Setelah selesai berdandan, Jiao Yi dan Mei Yin akhirnya keluar dari kamar. Liang Yi yang merasa kesal karena sudah menunggu mereka dari tadi tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat dua orang adiknya itu keluar dengan dandanan yang terlihat sangat cantik, terutama Mei Yin. Dia tidak menyangka, kalau gadis yang sudah menjadi adik angkatnya itu ternyata memiliki wajah yang sangat cantik.
"Wah, kalian berdua sangat cantik," puji Nyonya Yi yang membuat Jiao Yi tersenyum malu.
"Liang Yi, jaga adik-adikmu. Jangan sampai mereka diganggu dan kamu Jiao Yi, jangan tinggalkan Huanran sendirian, karena ini pertama kalinya dia ikut dengan kalian dan dia juga belum tahu situasi di sana," pesan Nyonya Yi.
"Jangan khawatir, Ibu. Aku tidak akan meninggalkan Kak Huanran sendirian. Aku akan terus menempel padanya, karena teman-teman Kak Liang Yi yang mata keranjang itu pasti akan terpesona dengan kecantikan Kak Huanran," jelasnya panjang lebar yang membuat Liang Yi merasa kesal.
"Jangan bicara terus. Ayo kita berangkat kalau tidak ingin terlambat," ajak Liang Yi sambil berjalan meninggalkan mereka.
"Kak Liang Yi, tunggu kami," teriak Jiao Yi yang menarik tangan Mei Yin dan mengikuti Liang Yi dari belakang.
Di depan pintu, sudah ada kereta yang menunggu mereka. Sedangkan Liang Yi sudah menunggangi kudanya sambil memandangi kedua gadis itu.
"Naiklah," ucap Liang Yi kepada Mei Yin yang terlihat ragu untuk naik ke dalam kereta itu.
"Ayo Kak, cepat naik," ajak Jiao Yi sambil meraih tangan Mei Yin dan dibawanya masuk ke dalam kereta.
Selama perjalanan, Mei Yin hanya terdiam. Dia lebih suka melihat keluar kereta sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang. Mei Yin terlihat tersenyum saat melihat seorang anak kecil yang sedang merengek pada ibunya karena ingin dibelikan mainan.
Sementara dari atas kuda, Liang Yi terus mencuri pandang padanya. Liang Yi seakan terpesona dengan senyuman dan sorot mata gadis itu, tapi kemudian dia segera mengalihkan pandangannya ketika tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan gadis itu.
Tak berapa lama kemudian, mereka telah sampai di depan istana. Mereka kemudian dipersilahkan masuk hingga mereka berhenti di depan sebuah bangunan yang sudah tidak asing lagi baginya.
Taman itu masih terlihat sama seperti saat terakhir dia tinggalkan. Dari dalam kereta, Jiao Yi dan Mei Yin melangkah keluar dan mendapati beberapa pemuda dan beberapa orang gadis yang terlihat seperti bangsawan yang juga baru datang.
Melihat kedatangan kedua kakak beradik dengan seorang gadis cantik yang tidak mereka kenali, membuat pemuda dan gadis-gadis itu menatap mereka dengan heran.
"Ayo kita masuk," ajak Liang Yi pada Mei Yin dan Jiao Yi yang sudah berjalan di sampingnya.
Di dalam ruangan itu, semua masih terlihat sama, tapi dia belum melihat Pangeran Zhao Li yang ternyata masih ada di kamarnya.
Para gadis kemudian duduk di sebelah kiri dari tempat duduk pangeran dan pemuda-pemuda itu duduk di sebelah kanan tempat duduk pangeran sehingga membuat mereka duduk saling berhadapan.
"Siapa gadis cantik yang datang bersamamu itu?" tanya seorang pemuda pada Liang Yi sambil berbisik.
Liang Yi tidak menjawab. Dia hanya memandang ke arah Mei Yin yang masih menundukkan wajahnya.
"Pangeran telah tiba," ucap seorang kasim yang tentu saja membuat mereka semua berdiri dan menunduk untuk memberi hormat.
Pangeran Zhao Li yang terlihat sangat tampan itu kemudian masuk dan segera duduk di tempat yang sudah disediakan untuknya. Setelah pangeran duduk, maka mereka semua kembali duduk.
Sejak kepergian Mei Yin waktu itu, telah membuat Pangeran Zhao Li sering mengundang teman-temannya ke istana untuk berpesta bersamanya. Ditambah lagi dengan pencalonannya menjadi raja dan pemilihan permaisuri yang sama sekali tidak disukainya itu membuat Pangeran Zhao Li merasa tertekan.
"Aku senang kalian sudah datang memenuhi undanganku. Selagi aku belum menjadi Raja, aku ingin bersenang-senang dengan kalian karena jika aku sudah menjadi Raja, maka kita tidak bisa lagi berkumpul seperti sekarang ini," ucap Pangeran Zhao Li sambil mengangkat sebuah gelas berisikan arak dan kemudian meneguknya.
"Bawa penari itu masuk," ucap Pangeran Zhao Li yang menyuruh seorang penari untuk masuk.
Mei Yin memandangi penari itu dan dia sempat terkejut karena penampilan penari itu yang terlihat menutupi wajahnya, sama seperti penampilannya dulu.
"Liang Yi, mainkan kecapimu," perintah Pangeran Zhao Li.
Liang Yi kemudian mengambil kecapi yang sudah diletakkan di dekat tempat duduknya dan mulai memainkan kecapi itu. Awalnya, petikan kecapi masih melambat dan bisa diimbangi oleh penari bercadar itu, tapi kemudian petikannya semakin cepat hingga membuat penari itu tidak bisa mengimbanginya dan akhirnya penari itupun terjatuh ke lantai.
"Cepat!! Seret dia dari sini!!" Perintah Pangeran Zhao Li marah sambil memukul meja dengan tangannya.
Dua orang penjaga yang sedang berdiri di luar kemudian masuk dan menyeret wanita itu keluar. Mei Yin terkejut melihat sikap Pangeran Zhao Li yang sudah berubah. Pangeran tidak sama seperti dulu. Pangeran terlihat kejam dan ambisi. "Apa ini semua karena aku?" batin Mei Yin.
Pangeran Zhao Li mulai berubah ketika dia ditinggal pergi oleh Mei Yin bersama kekasihnya. Ternyata, Pangeran Zhao Li sudah jatuh cinta pada Mei Yin hingga membuatnya nekat mengeluarkan gadis itu dari rumah bordil yang harus dia bayar dengan harga yang cukup mahal.
Bukan hanya itu, Pangeran Zhao Li ternyata sangat kecewa karena Mei Yin menolak untuk tinggal di istana. Padahal, dia berniat menjadikan Mei Yin sebagai permaisurinya walau keputusannya itu akan ditentang oleh Raja.
Walau dia mengijinkan Mei Yin pergi bersama kekasihnya itu, tapi sebenarnya dia tidak rela melepaskan gadis itu begitu saja hingga membuatnya begitu terobsesi dengan penari yang menutup wajahnya.
Selama ini, dia selalu memanggil penari untuk menari di istananya dan penari itu diwajibkan untuk memakai penutup wajah sama seperti yang dilakukan oleh Mei Yin. Namun, semua itu percuma karena tidak seorangpun dari penari-penari itu yang bisa membuatnya melupakan Mei Yin karena tarian mereka tidak sama dengan tarian gadis itu.
Bahkan, dia sempat menyuruh prajurit terbaiknya untuk mencari tahu keberadaan Mei Yin, tapi mereka tidak berhasil menemukan jejaknya.
"Pelayan, bawa masuk makanannya!!" Perintah Pangeran Zhao Li yang membuat siapa saja di tempat itu ketakutan kecuali Liang Yi dan Mei Yin.
Semua teman-temannya sudah tahu dengan perangainya yang mulai tempramen. Sejak tiga bulan lalu, sikap Pangeran Zhao Li mulai berubah, tepatnya setelah kepergian Mei Yin.
"Sepertinya, ada orang baru yang datang ke istanaku ini," ucap Pangeran Zhao Li ketika melihat Mei Yin.
"Benar, Pangeran. Ada seorang teman yang ingin hamba perkenalkan pada Pangeran," jawab Liang Yi sambil menuduk.
Mei Yin yang seakan paham kemudian maju dan berdiri di depan pangeran sambil menundukkan wajahnya. Dia kemudian duduk dan berlutut di depan Pangeran Zhao Li. "Hormat hamba untuk Pangeran," ucap Mei Yin sambil menunduk.
"Siapa namamu?"
"Hamba Huanran, anak angkat Jenderal Chang Yi," jelasnya.
"Jadi, kamu adalah adik angkat Liang Yi? Aku tidak menyangka kalau Liang Yi akan mempunyai adik angkat yang sudah sebesar ini," ucap Pangeran Zhao Li yang memandang ke arah Liang Yi sambil tertawa.
Melihat Pangeran Zhao Li tertawa membuat mereka juga ikut tertawa. Baru kali ini mereka melihat Pangeran Zhao Li tertawa seperti itu.
Tawa mereka terhenti ketika seorang gadis tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Gadis itu terlihat sangat cantik. Dengan anggunnya, gadis itu kemudian melangkah dan duduk di depan Mei Yin seakan ingin menutupi Mei Yin dari pandangan Pangeran Zhao Li.
"Hormat hamba untuk pangeran," ucapnya sambil menundukkan wajahnya.
Pangeran Zhao Li menganggukan kepalanya dan tersenyum pada gadis itu.
"Ampunkan hamba Pangeran. Izinkan hamba menari untuk pangeran," ucapnya sambil memakai penutup wajah berwarna hitam dan mulai berdiri untuk menari.
Mei Yin yang sementara duduk di belakangnya kemudian berdiri dan kembali ke tempat duduknya.
Liang Yi kemudian memainkan kecapinya dan gadis itu terlihat mulai menari. Mei Yin hanya memandangi gadis itu dengan rasa penasaran. Petikan kecapi yang lambat mulai terdengar semakin cepat dan gadis itu mampu mengimbangi iringan petikan kecapi dengan tariannya yang indah.
Pangeran Zhao Li memandangi gadis itu dengan rasa penasaran. Walau tarian gadis itu terlihat sempurna, tapi di mata Pangeran Zhao Li, tarian Mei Yin jauh lebih sempurna.
Setelah selesai menari, gadis itu tidak langsung membuka penutup wajahnya. Dia seakan tahu kalau Pangeran Zhao Li suka melihatnya memakai penutup wajah.
"Terima kasih, karena kamu sudah menghibur kami dengan tarian yang sangat indah," ucap Pangeran Zhao Li memuji.
"Nona Liu, ayo kita bersulang," ucap Pangeran Zhao Li pada gadis itu sambil mengangkat gelas berisikan arak dan kemudian meneguknya. Gadis itu lalu membalas dengan meneguk arak dan diikuti oleh semua orang yang ada di tempat itu.
Karena bosan, Pangeran Zhao Li kemudian keluar dan memilih duduk di bangku taman dekat kolam dan ditemani Liang Yi. Sementara tamu-tamunya, dibiarkan menikmati hidangan yang sengaja diletakkan di sebuah tenda di depan halaman bangunan itu.
"Zhao Li, ada apa denganmu? Aku tahu kamu masih mengingat Mei Yin, tapi kamu tidak bisa selamanya akan hidup seperti ini," ucap Liang Yi yang mencoba mengingatkan sahabatnya itu.
"Aku tahu, tapi aku masih merindukannya. Kamu tahu kan kalau aku sangat mencintai dia dan aku belum sanggup untuk bisa melupakannya," jelas Pangeran Zhao Li sedih.
"Kamu harus bisa melupakan dia. Bagaimanapun, kamu akan menjadi Raja dan kamu akan memilih permaisuri untuk mendampingimu."
Pangeran Zhao Li terdiam. Dia sadar, cepat atau lambat dia harus melupakan Mei Yin.
Mei Yin sudah membuat Pangeran Zhao Li jatuh hati sejak pertama kali melihat gadis itu datang ke istana untuk menari. Sejak malam itu, saat dia melihat sikap berani Mei Yin yang membela dirinya sendiri dari hinaan beberapa pemuda, telah membuat Pangeran Zhao Li penasaran dengannya. Hingga benih-benih cinta itu muncul walaupun cinta itu tak pernah dia ungkapkan.
Apa Lian itu kekasih yg di sebut di prolog itu.... Yg mati krna orang istana??
bingung aku🤔🤔