Tidak ada yang menginginkan menjadi orangtua tunggal. Entah itu perpisahan karena perceraian ataupun kematian. Terkadang beberapa orang memutuskan untuk menjalin hubungan lagi dengan dalih awal untuk mengisi posisi yang kosong. Itu yang terjadi pada Davin dan Arini. Memutuskan menikah demi figur orangtua lengkap untuk anak-anak mereka.
Keluarga harmonis menjadi impian mereka. Namun ditengah perjalanan rumah tangga mereka ada ujian yang datang. Suami melakukan kesalahan fatal dan istri yang depresi.
Bagaimana cara Davin dan Arini mempertahankan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Pa, Aziza mau ikut ke rumah Tante Arini, boleh?" tanya Aziza pada Davin, yang membuat pria itu menghentikan langkahnya. Ia segera menghadap ke belakang karena ia dan Adit yag berjalan duluan.
"Za...," tegur Davin.
"Sesekali aja, Pa," rengek Aziza.
Davin terdiam dan tampak berpikir.
"Kalau Aziza mau, ngga apa-apa, Pak. Saya ngga keberatan kok," ucap Arini meyakinkan. Ia sendiri merasa tidak tega melihat Aziza yang masih ingin bermain dengan putrinya. Aya pun kelihatan demikian.
"Kamu serius, Rin? Ngga ngerepotin kamu?" tanya Davin.
"Sama sekali tidak, Pak. Aya juga masih mau main dengan Aziza," ucap Arini.
Davin masih terdiam menimbang-nimbang.
"Tenang saja, Pak. Anaknya aman kok sama saya," ucap Arini lagi yang mendapat senyuman dari Davin.
"Saya percaya sama kamu kok, Rin. Hanya saya merasa tidak enak sama kamu."
"Dibilang ngga apa-apa juga, Pak. Yaudah yuk Dit sini. Kita Pulang," ucap Arini yang mengulurkan tangan kirinya yang bebas pada Adit.
"Kalian naik apa tadi?" tanya Davin lagi.
"Saya bawa mobil, Pak," jawab Arini.
"Saya antar ke mobil," ucap Davin yang langsung mengambil Adit dan Alif yang ada di genggaman Arini.
Arini terkejut dengan sikap tiba-tiba Davin.
"Tidak biasanya Pak Davin kayak begini. Aneh," batin Arini.
Arini akhirnya berjalan menyusul yang lain menuju parkiran mobil.
"Siap maghrib saya jemput Azizanya ya, Rin," ucap Davin ketika telah siap membantu Arini memasukkan anak-anak ke dalam mobil.
"Iya, Pak. Kalau begitu saya pamit," ucap Arini.
"Ya, hati-hati Rin."
Davin melihat kepergian mobil Arini hingga mobil itu menjauh.
"Tadi rencana mau ngapain, ya?"
#####
Pukul setengah 7 malam, Davin keluar dan pekarangan rumahnya. Ia menjalankan mobilnya menuju rumah Arini.
Jarak antara rumahnya dengan rumah Arini sekitar 20 menit sebelhm berpisah tadi, Davin sudah menanyakan alamat lengkap rumah Arini.
Dipertengahan jalan, Davin mampir untuk membeli martabak sebagai buah tangannya ke rumah Arini. Pada saat itu pembeli belum terlalu ramai, mungkin karena warungnya baru buka.
Davin memarkirkan mobilnya ditempat yang disediakan. Saat berjalan ke dalam menuju kasir untuk memesan, Davin dipanggil oleh seorang wanita yang mana sangat membuat Davin terkejut.
"Davin, kan?" tanya wanita itu memastikan.
Davin mengangguk. "Kamu Angel, kan?" tanya Davin balik.
"Iya ini aku, Angel. Kamu apa kabar?" tanya wanita itu lagi.
Wanita yang bernama Angel itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Davin. Davin menerima uluran itu.
"Baik. Kamu gimana? Kok bisa ada disini? Katanya anak-anak siap wisuda kamu pindah ke Kalimantan," ucap Davin.
"Iya waktu itu aku pindah. Papaku pindah tugas disana. Kamu juga putus dari aku langsung nikah aja. Yaudah aku ikutan pindah deh waktu itu," jelas Angel yang membuat Davin hanya tersenyum.
"Aku pamit dulu ya, Vin. Aku nebeng teman soalnya. Nomor telepon rumahku masih yang lama, nanti hubungi saja," pamit Angel. Wanita itu langsung berlalu meninggalkan Davin dan masuk ke dalam mobil sedan yang didalamnya telah menunggu seorang wanita yang tidak asing bagi Davin.
"Sama Tania rupanya," ucap Davin. Davin melihat kepergian mantan kekasihnya itu dengan perasaan entah. Ia cukup senang karena kembali dipertemukan dengan mantan kekasihnya itu.
"Kalau dulu aku ngga nikah, apa kita masih terus bersama sampai sekarang?" batin Davin.