Pernikahan identik dengan sepasang laki laki dan perempuan yang saling mencintai,
Namun bagaimana dengan pernikahan yang dilakukan untuk membayar hutang??
Akankah berjalan bahagia atau bahkan menderita??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Encha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesedihan
Titan terus setia menemani Adel yang masih belum sadar,, dia sama sekali tidak pernah meninggalkannya..
Ceklek,,
Pintu terbuka, terlihat Bima berjalan masuk..
" Maaf Tuan,, Semua sudah selesai.. Ucap Bima
Titan menghela napasnya dan kembali memijat pelipisnya,, dia masih belum tau bagaimana nanti menjelaskan semua kepada Adel..
Dia pun beranjak menjauh dari Adel dan diikuti Bima..
" Bim,, tolong rahasiakan semua dari Istri Saya termasuk,, Ucap Titan menghela napasnya..
" Termasuk masalah kegugurannya..
Tiba tiba terdengar suara dari belakang mereka..
" Keguguran,, Maksud kamu.. Ucap Adel lemas..
Adelia membuka matanya dan mendengar semua percakapan Mereka..
Titan langsung menoleh,, dia terkejut dengan Adel yang terbangun dan mendengar semuanya..
" Adelia,, Ucap Titan berjalan mendekat..
" Siapa yang kamu maksud keguguran,, terus maksud kamu pemakaman..
Titan terdiam dan hanya bisa menunduk,,
" Titan,, jawab aku.. Ucap Adel
Titan masih terdiam,,
Adel kesal dan langsung beranjak namun dia merasakan sakit di bagian perutnya..
" Aww.. Rintih Adel dengan memegang perutnya..
" Adel,, kamu kenapa..
" Jawab aku,, Bentak Adel
" Ibu Kamu meninggal dan kamu keguguran..
Deg,,
Adel kaget dengan semua yang di ucapkan Titan,, penderitaan terus saja menghampirinya bahkan dia harus mengalami keguguran,,
" Engga,, Engga mungkin,,
Adel kembali histeris,, dia pun menangis..
Titan menenangkannya, dia berusaha memeluk Adel yang terus memberontak namun akhirnya Titan mampu memeluk Adel..
-
" Aku mau ke pemakaman,, Ucap Adel dalam pelukan Titan
" Tapi kamu masih sangat lemah,,
" Aku mohon,,
Titan akhirnya mengalah,, dia membantu Adel dan mereka menuju pemakaman..
-
Adel terduduk di depan dua makam, dia menangis di sana meluapkan semua isi hatinya, Titan menemaninya dan mengusap bahu Adel..
Hatinya sangat teriris melihat wanitanya seperti ini bahkan dia merasa bersalah dengan semua kejadian ini..
" Kita pulang ya,, kamu perlu istirahat Ucap Titan
" Engga mau,, aku mau di sini..
" Tapi kamu butuh istirahat, Saya janji besok kita akan kembali ke sini
Adel pun mengangguk, Titan membantu Adel bangun dan mereka berjalan menuju mobil..
-
Selama dalam perjalanan Adel terus terdiam,, dia merasa semua tidak adil untuk dirinya bahkan dirinya keguguran disaat tidak tau akan kehamilannya,,
Mobil mereka sampai di depan rumah mewah, Titan segera membuka pintu dan membantu Adel..
Titan membawa Adel menuju kamarnya,,
" Sekarang aku sudah tidak punya siapa siapa lagi,, Ayah,, Ibu bahkan anak ku semua meninggalkan aku,,
" Ssst,, Kamu masih punya saya..
Saya akan selalu menemani kamu,, kamu jangan pernah lagi bicara seperti itu..
Adel terdiam,,
Dia terus meneteskan air matanya,,
Titan menyeka air mata melihat Wanitanya seperti ini..
" Saya keluar sebentar,, kamu gak papa kan saya tinggal..
Adel mengangguk,,
Tian mengecup kening Adel dan berjalan keluar..
-
Titan masuk ke dalam ruang kerjanya, dia menangis melihat Adel seperti ini..
Dia merasakan apa yang Adel rasakan bahkan dia merasa bersalah akibat keguguran Adel..
Dia pun merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel..
Dia langsung menghubungi Bima..
" Bim,, Kamu Handle Kantor, beberapa hari ini saya tidak ke kantor..
Titan menutup telponnya dan mengganti pakaiannya, dia segera kembali ke kamar Adel..
-
Titan berjalan mendekat dan mendapati Adel yang sudah tertidur,, dia pun membenarkan selimutnya..
Wajahnya sangat pucat, matanya sembab bahkan Adel terlihat kurus..
Titan menggenggam tangan Adel dan menciumnya..
" Saya akan selalu ada untuk kamu Adelia, Saya tidak akan pernah meninggalkan kamu, Saya janji akan selalu membahagiakan kamu"
Titan mengecup kening Adel dan terus menggenggam tangannya..
*******
Seminggu telah berlalu,,
Adel masih bersikap sama, dia terus terdiam dan hanya berbicara sedikit bahkan Titan pun belum sama sekali ke Kantor dia terus menemani Adel di rumah..
Seperti saat ini,,
Adel berada di dalam kamarnya memeluk boneka yang sengaja Titan belikan,
Titan berada di sofa membuka laptopnya.. Walaupun dia tidak ke kantor namun dia tetap mengecek semua dari rumah..
Semenjak Adel keluar rumah sakit,, Mereka sudah tidur sekamar..
Adel tidak mau di tinggalkan dan Titan pun menemani..
Titan menoleh,
Dia menutup laptopnya dan berjalan menghampiri Adel yang masih berbaring..
Titan duduk di tepi ranjang dan mengusap rambut Adel..
" Apa kamu mau kita keluar jalan jalan,, Ucap Titan lembut..
Adel menatap Titan,,
Dia merasa Titan sangat menyayangi juga baik kepadanya, selama dirinya terpuruk Titan sama sekali tidak meninggalkannya bahkan Titan selalu ada untuknya..
" Kemana,, Ucap Adel
" Kemana saja,, Kamu mau..
Adel mengangguk,,
Titan tersenyum dan menggenggam tangan Adel..
" Kamu siap siap dan aku juga akan siap siap..
Titan berjalan keluar,,
Walaupun mereka sudah tidur sekamar namun Titan masih ke kamarnya jika akan berganti pakaian..
-
Titan telah siap dengan pakaian santainya,, dia pun mengetuk kamar Adelia..
Tok,, tok,, tok,,
" Adel,, Kamu sudah siap..
Ceklek,,
Pintu terbuka dan terlihat Adel dengan menggunakan dress selutut dan rambut yang diikat tinggi berjalan keluar..
Adel masih saja terlihat cantik walaupun tanpa menggunakan Make Up dan wajahnya masih terlihat pucat..
" Kenapa kamu tidak pakai jaket,, Ucap Titan..
Adel mengernyitkan keningnya,, dan terlihat Titan berjalan masuk ke dalam..
Titan kembali dan memakaikan jaket di tubuh Adel..
" Kamu masih belum sembuh total,, kamu harus pakai jaket..
Adel terus menatap Titan,, dia sangat merasa bersalah selama ini..
Dia terlalu terpuruk dengan Keadaannya bahkan dia tidak peduli jika Titan ada untuknya dan selalu menemaninya..