Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Beberapa jam berlalu, kali ini Kinara benar-benar merasa lelah. Tubuhnya seakan remuk, karena tak henti-hentinya menerima perlakuan dari Renald hampir setiap hari. Ia bahkan tak sadar kapan akhirnya ia tertidur setelah permainan mereka.
Ketika matanya terbuka, Renald sudah tidak ada di sisinya. Yang ia temukan hanyalah pakaiannya berserakan di lantai, sementara tubuhnya dibalut selimut dengan rapi.
Dengan malas, ia bangkit dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia keluar dengan bathrobe kebesaran milik Renald yang tergantung di sana.
Renald yang baru saja kembali ke kamar itu berdiri tak jauh dari ranjang. Pandangannya jatuh pada sosok Kinara yang terlihat mungil dengan bathrobe itu.
Senyum samar muncul di bibirnya. "Dia terlihat lebih seperti adikku daripada sekretarisku". Pikirnya, meski hatinya menolak menganggap Kinara hanya sebatas itu.
“Jam berapa sekarang?” suara Kinara memecah lamunannya.
“Jam enam,” jawab Renald santai.
“Ehh? Apa?! Sudah selama itu aku tertidur?”
Renald tak menjawab, tangannya sibuk membuka kancing kemejanya satu per satu.
“A-apa yang kau lakukan?!” Kinara kembali terkejut dengan apa yang pria itu lakukan. Terlebih setelah ia melihat dari balik kemeja Renald yang bagian atasnya sudah terbuka, otot dadanya yang kekar mulai terlihat. “Cepat pakai kembali bajumu!” Rona merah langsung merayapi pipinya.
Renald meliriknya sekilas, lalu tersenyum tipis. “Katamu mengajakku makan malam, tentu saja aku harus berganti pakaian, bukan? Padahal kita juga sudah sering melakukannya, kenapa kau masih malu?"
Kinara refleks menoleh dengan mata melebar, wajahnya langsung memanas mendengar kalimat Renald. "Apa yang kau katakan?! Jangan seenaknya mengingatkan hal-hal yang memalukan!” Serunya sambil menunduk, mencoba menutupi pipi yang memerah.
Renald tertawa kecil, suaranya berat dan terdengar menggoda. Ia melangkah pelan, mendekatkan tubuhnya hingga Kinara bisa merasakan hembusan napas hangatnya di dekat telinga. “Kalau kau terus menunjukkan wajah seperti itu, aku akan semakin sulit menahan diri, Kinara.”
Kinara menelan ludah, jantungnya berdegup kencang tak karuan. Ia melangkah mundur satu langkah, tapi Renald justru maju dua langkah, membuat jarak di antara mereka semakin sempit.
“Renald… j-jangan bercanda. Aku serius, kita harus segera berangkat. Keluargaku pasti sudah menunggu di rumah.”
Renald hanya tersenyum tipis, kemudian melangkah ke arah cermin besar di sudut ruangan. Dengan tenang ia merapikan kemeja dan jas yang sudah ia kenakan. Jemari panjangnya begitu terampil, membuat setiap gerakan tampak elegan.
Kinara tak sadar sedang memperhatikannya. Setiap detail kecil—gerakan tangannya, postur tegapnya, hingga sorot mata yang penuh percaya diri—membuat dadanya berdebar aneh.
Setelah selesai bersiap, Renald tampil memukau seperti biasa. Jas rapi, dasi sempurna, rambut disisir ke belakang. Aura ketampanannya membuat Kinara melongo tanpa sadar.
Renald yang sadar ia diperhatikan, meliriknya sambil tersenyum nakal. “Jangan menatapku seperti itu. Aku tahu aku tampan. Oh iya, air liurmu itu… cepat hapus.”
Kinara refleks mengusap mulutnya, tapi tidak ada apa pun. Ia baru sadar telah dipermainkan. “RENALD!” teriaknya kesal.
“Hahaha, kau memang mudah ditipu. Dasar otak udang.”
“Siapa yang kau panggil otak udang, ha? Dasar om-om tua!” balas Kinara, menatapnya sengit.
“Om-om?!” Renald nyaris tertawa. “Bagaimana bisa kau menyebutku om?”
“Tentu saja! Umurku baru dua puluh dua. Kau sudah dua puluh delapan. Itu jelas om-om!” Kinara bersedekap, pura-pura angkuh.
Renald mendesah panjang. “Awas saja kau, Kinara. Sudahlah, aku sudah siap. Kau mau pergi ke makan malam dengan pakaian seperti itu?”
“Ya, nggak. Aku mau pulang dulu ke apartemen,” sahut Kinara cepat. Ia langsung melangkah keluar kamar setelah selesai menggunakan pakaian kerjanya kembali.
“Kau mau ke mana?”
“Ya pulang. Aku mau ganti pakaian.”
“Aku antar.”
“Motorku?”
“Tinggalkan saja. Besok aku yang akan menjemputmu.” Tanpa memberi kesempatan Kinara membantah, Renald meraih tangannya dan menariknya keluar kantor.
Perjalanan hanya memakan waktu lima belas menit karena jalanan malam itu cukup lengang. Setibanya di apartemen, Kinara langsung masuk tanpa menawari Renald. Namun tentu saja, pria itu tetap mengikutinya dari belakang.
Apartemen Kinara bisa dikatakan kecil namun cukup rapi. Begitu masuk, tampak lorong sempit dengan kamar mandi di sisi kanan. Di ujung lorong ada kamar tidur sederhana, berisi lemari, ranjang, dan sebuah sofa—hadiah dari Renald.
Renald menatap sofa itu sambil tersenyum penuh arti. Ia duduk dengan santai, sementara Kinara memilih mengabaikannya. Gadis itu segera mengambil pakaian yang akan ia kenakan untuk makan malam dan masuk ke kamar mandi.
“Kenaoa tidak ganti di sini saja?” celetuk Renald dengan nada menggoda.
Kinara mendengus kesal, tak ingin menanggapi.
Setelah beberapa menit, ia keluar dengan dress hitam selutut, kerah tinggi hampir menutupi lehernya, rambut dibiarkan tergerai, dan heels sederhana. Penampilannya elegan meski tidak berlebihan.
Renald menatapnya lama. Dress itu menonjolkan pinggang ramping dan lekuk tubuhnya. Ia menelan ludah, lalu mengingatkan dirinya sendiri, "Sabar, Renald. Kau baru saja melakukannya tadi."
Kinara sengaja memakai kerah tinggi karena ulah Renald yang kerap meninggalkan tanda merah di leher jenjangnya. Ia bahkan berniat menyetok pakaian berkerah untuk menutupi bekas-bekas itu.
Renald tersenyum nakal. “Apa kau tidak ingin mencoba sofa ini dulu denganku sebelum pergi?”
“Dasar om-om mesum!” Kinara melotot kesal.
Renald hanya terkekeh, matanya tak lepas mengamati Kinara yang sibuk bersiap.
Beberapa menit berlalu, hingga akhirnya gadis itu selesai berdandan. Meski hanya mengenakan make-up tipis, kecantikannya justru semakin terpancar alami.
“Aku sudah siap,” ucap Kinara sambil menoleh ke arahnya.
Renald mengangguk pelan, senyum tipis terukir di wajahnya.
•••
Tiba di rumah orangtuanya, Kinara disambut hangat oleh Arbian dan juga Rani. Keduanya berlagak seolah tidak pernah terjadi konflik dengan Kinara.
“Kinara sayang, kamu pasti tidak menjaga pola makanmu, ya? Lihat tubuhmu, sepertinya berat badanmu berkurang,” ujar Rani dengan nada seolah ia begitu perhatian.
“Hm.” Kinara hanya menjawab singkat, enggan menanggapi.
Arbian ikut menimpali, “Lihatlah, Mama-mu selalu memperhatikanmu. Sampai berat badanmu turun saja dia tahu.”
Kinara menahan rasa muaknya. Mama? Sejak kapan dia jadi mamaku? batinnya pedas.
Rani segera melirik Renald dan tersenyum ramah. “Ayo masuk, Nak Renald. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri.”
Renald tak menanggapi dan hanya melirik sekilas. Ia tahu keluarga ini sedang berusaha menunjukkan sisi terbaik mereka.
Di sisi lain, Rani yang masih memasang senyum manisnya, mulai merancang rencana lain. Melihat begitu tampannya Renald dan berwibawanya pria itu, ia kini berencana untuk mendekatkan Renald dengan putrinya, Diana.
Bagi Rani, Renald kini jauh lebih berharga daripada Bayu. Dan kekayaan yang dimiliki pria itu tentu saja bisa menjamin hidup tujuh turunan anak cucunya.
"Renald harus menikah dengan Diana", batinnya mantap. Sedangkan Bayu?… biarlah, ia pikirkan caranya nanti untuk membatalkan pertunangan mereka.
Mereka pun masuk ke ruang makan. Arbian duduk di kursi kepala meja, Rani di sebelahnya. Sementara Renald sengaja memilih duduk di samping Kinara, membuat Rani sedikit jengkel namun tetap tersenyum manis.
Diana sejak tadi memang belum turun ke bawah. Ia memilih sengaja menunggu Bayu datang agar bisa masuk bersama.
Suasana meja makan yang semula hening kini mulai sedikit hidup ketika Arbian membuka suara. "Kami berterima kasih, Pak Renald, karena sudah berkenan hadir di rumah sederhana kami. Padahal kami tahu, Anda pasti memiliki banyak kesibukan di luar sana," ujarnya sekadar basa-basi.”
"Ya." Ujar Renald singkat.
Setelah jawaban Renald, suasana kembali menjadi sedikit canggung. Rani yang merasakan hal itu, segera melihat ke arah Kinara. “Mama senang sekali kamu akhirnya mau pulang ke rumah. Makan malam ini terasa lengkap kalau kamu ada di sini.”
"Aku nggak pulang. Aku hanya memenuhi undanganmu malam ini.”
Renald menoleh sekilas, melihat ada ketegangan halus yang terselip. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, siap menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.