Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Dua Wajah
Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah gorden, memantulkan berkas cahaya keemasan di atas lantai marmer dan sprei yang berantakan.
Udara dingin dari pendingin ruangan perlahan mulai kalah oleh kehangatan fajar yang mulai meninggi di perumahan Blok C-12.
Reza perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat. Hal pertama yang menyapa kesadarannya adalah aroma harum sisa mandi dan keringat yang bercampur di atas ranjang.
Ia mengerjap, menyadari bahwa dirinya masih tertidur dalam posisi menelungkup, menindih punggung mulus seorang gadis.
Alya masih terlelap di bawah beban tubuhnya. Wajahnya yang damai miring ke arah kanan, menyembunyikan sebagian parasnya di balik bantal putih.
Melihat raga polos yang begitu ranum di bawah kilatan cahaya pagi, ingatan Reza seketika ditarik kembali pada pergolakan berahi beberapa jam lalu.
Kehangatan, jepitan intens, dan lenguhan pasrah Alya di tengah malam tadi mendadak memicu kembali ego kelakiannya. Rasa bersalah yang sempat menahannya semalam kini telah sepenuhnya menguap, digantikan oleh arogansi instingtif seorang pemilik yang merasa memiliki hak mutlak atas tubuh di bawahnya.
Senjata Reza kembali menegang dengan cepat, mengeras di antara pangkal paha mereka. Tanpa ada kata sapaan pagi, tanpa ada ciuman lembut di tengkuk, dan sepenuhnya tanpa pemanasan, Reza langsung memposisikan dirinya.
Ia mencengkeram pinggul Alya, mengangkatnya sedikit, lalu memaksakan miliknya yang tegang untuk menghantam masuk kembali ke dalam goa keintiman istrinya.
Sentakan itu kasar dan tiba-tiba.
"Ahhh! Sakit, Mas! Jangan..."
Jeritan perih seketika pecah dari mulut Alya, merobek keheningan pagi. Kesadarannya ditarik paksa dari alam mimpi oleh rasa panas dan nyeri yang menyengat di bagian sensitifnya.
Goa keintiman yang beberapa jam lalu melunak karena kantuk dan stimulan lembut, kini dalam keadaan kering dan belum siap menerima hantaman.
Alya tersentak hebat, kedua tangannya secara naluriah mencengkeram sprei, berusaha mendorong tubuhnya maju untuk melarikan diri dari tusukan di belakangnya.
"Mas Reza, lepas... sakit, Mas! Aku mohon..."
Air mata Alya kembali meleleh deras, membasahi pipinya yang menempel di atas bantal. Hatinya kembali mencelos ke dalam jurang keputusasaan yang teramat dalam.
Ia menangis bukan hanya karena rasa sakit fisik yang merobek bagian bawah tubuhnya, melainkan karena syok psikologis yang luar biasa melihat perubahan sikap suaminya.
Baru beberapa jam lalu pria ini memperlakukannya dengan ketelatenan yang luar biasa—memberinya sentuhan lembut, memanjakan raganya dengan ritme pelan yang membuatnya merasakan sensasi nikmat yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.
Namun kini, begitu pagi tiba, pria yang sama kembali berubah menjadi sosok egois yang dingin, yang merenggut raganya tanpa memedulikan rasa sakit yang ia derita.
Dua wajah Reza dalam satu malam membuat Alya menyadari betapa tidak terprediksinya iblis yang sedang hidup bersamanya ini.
Namun, posisi tengkurap yang mengunci ruang geraknya, ditambah dengan dominasi berat tubuh Reza yang jauh lebih besar, membuat perlawanan tangan-tangan kecil Alya sama sekali tidak berarti.
Reza mengabaikan tangisannya. Pria itu terus menggerakkan pinggulnya dengan hantaman-hantaman cepat, memburu pelepasan pribadinya sendiri tanpa memikirkan apakah pasangannya ikut merasakan hal yang sama.
Pagi ini, tidak ada keajaiban biologis bagi Alya. Tidak ada aliran hangat yang merayap di perutnya, tidak ada getaran hebat yang membuatnya melayang.
Yang ada hanyalah rasa kesat yang menggesek kulitnya dan air mata yang terus mengalir dalam diam.
Dalam hitungan lima belas menit yang terasa seperti siksaan panjang bagi Alya, gerakan Reza mendadak mengencang.
Pria itu mengerang pelan, lalu mengeluarkan seluruh cairannya di dalam tubuh Alya sebelum akhirnya menarik dirinya kembali dengan napas yang memburu pendek.
Reza berdiri di tepi ranjang. Ia sama sekali tidak menatap ke arah Alya yang masih menelungkup memeluk bantal dengan bahu yang bergetar karena sisa tangis.
Tanpa sepatah kata apa pun, tanpa ada pelukan penenang atau sekadar ucapan maaf, Reza melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Suara gemercik air shower terdengar beberapa saat kemudian, membasuh sisa-sisa pergulatan fajar mereka.
Dua puluh menit kemudian, Reza keluar dengan setelan kerja yang sudah rapi sempurna—kemeja biru tua, celana bahan hitam, dan rambut yang disisir klimis ke belakang.
Ia meraih jam tangan, ponsel, dan kunci mobilnya di atas meja rias dengan gerakan tak acuh. Pandangannya sempat melirik sekilas ke arah ranjang sebelum ia melangkah keluar, namun egonya memilih untuk tetap membisu.
Pintu kamar utama tertutup dengan bunyi klik pelan. Suara deru mobil mewahnya terdengar menyala di garasi bawah, lalu perlahan bergerak menjauh, meninggalkan rumah Blok C-12 menuju hiruk-pikuk kantornya.
Reza pergi, kembali menjadi pengusaha dingin yang terbiasa memegang kendali.
Di atas ranjang yang berantakan, Alya perlahan membalikkan tubuhnya menjadi telentang.
Selimut krem ia tarik perlahan untuk menutupi tubuh polosnya yang terasa lengket dan lemas. Matanya yang sembab menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang tinggi, sementara sisa air mata mengering di pelipisnya.
Ia mencoba merasakan tubuhnya sendiri. Anehnya, meskipun babak fajar tadi terasa menyakitkan dan kasar, pagi ini ia memeriksa lengannya, bahunya, dan lehernya—tidak ada memar baru.
Tidak ada luka cengkeraman ungu kebiruan seperti malam kebrutalan tempo hari. Kulit pualamnya tetap bersih di permukaan. Reza tidak memukulnya pagi ini; pria itu hanya mengambil apa yang dianggapnya sebagai hak hukum seorang suami, meski dengan cara yang tidak berperasaan.
Alya menyandarkan kepalanya di tumpukan bantal, mengembuskan napas panjang yang sarat akan konflik batin yang teramat rumit. Di usianya yang baru delapan belas tahun, jiwanya dipaksa menghadapi dualitas emosi yang sangat membingungkan.
Pagi ini ia menangis karena kekasaran Reza, itu benar. Namun, di dalam relung hatinya yang paling dalam, ingatan saraf tubuhnya tidak bisa berbohong.
Sensasi yang ia dapatkan beberapa jam lalu di tengah kegelapan malam tetap membekas kuat di dalam ingatan biologisnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia telah merasakan apa yang namanya kenikmatan seksual. Sentuhan lembut yang presisi, remasan intim di bukit kembarannya, dan permainan lambat yang membawanya hingga kejang-kejang mengalami tiga kali klimaks berturut-turut adalah sebuah dunia baru yang sangat dahsyat bagi seorang gadis polos sepertinya.
Raganya telah mencicipi candu itu, dan ingatan akan kenikmatan itu kini berdampingan dengan rasa benci yang ia miliki untuk suaminya.
Alya tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang sangat dingin terpapar di balik bibirnya yang pecah. Ia menyeka sisa air matanya dengan punggung tangan, lalu bangkit berdiri dengan perlahan untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Saat air hangat shower membasahi tubuhnya, membasuh semua sisa benih Reza dari sela pahanya, pikiran Alya kembali mengeras bagai baja. Perlakuan berubah-ubah dari Reza hari ini justru memberinya sepotong pelajaran berharga tentang bagaimana menghadapi pria itu ke depan.
Kau bisa menguasai ragaku kapan pun kau mau karena status hukum ini, Reza, bisik Alya di dalam hatinya di balik gemercik air. Tapi dengan raga yang sama, yang kini sudah tahu cara menikmati perannya, aku akan memastikan bahwa setiap jengkal kepatuhan fisikku di atas ranjang ini akan menjadi racun manis yang membuatmu menurunkan kewaspadaan terhadap kuliah malamku.
Alya melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya, menatap ke arah jendela luar tempat rimbunnya pohon kenanga melambai ditiup angin pagi.
Rasa sedih itu masih ada, tetapi fajar dua wajah hari ini tidak membuatnya mundur satu langkah pun dari jalur perlawanan sunyi yang sudah ia mulai.
jangan lupa mampir yaa🤭