“Gue ngelakuin itu tanpa ada rasa ke lo, Na.”
Hidup Alana yang sempurna berubah drastis ketika dia hamil anak mantan kakak kelasnya, Rayyan.
Mimpi Alana sudah di depan mata yaitu untuk kuliah di Seoul National University. Sedangkan Rayyan, laki-laki itu punya pacar yang sangat dicintai. Tapi bagaimana dengan bayi dalam rahim Alana?
Update hari jumat, sabtu, dan minggu!
Happy Reading, Guys
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Rumah Baru
Rayyan menghentikan motornya di depan rumah. Alana turun dari jok belakang motor itu dan melepas helm. Rayyan mengambil helm dari tangan Alana, kemudian meletakkannya di atas spion motor.
Alana menatap rumah sederhana yang ada di depannya. Rumah yang jauh berbeda dengan rumah Alana. Mungkin luas rumah Alana sepuluh kali luas daripada rumah itu.
“Ayo, masuk!” ajak Rayyan.
Alana mengikuti langkah Rayyan dengan ragu-ragu.
“Assalamualaikum. Bunda!”
“Wa'alaikumsalam.”
Ira keluar dari ruang keluarga, menatap Rayyan, kemudian kemudian menatap Alana yang berjalan lesu di belakangnya sambil menunduk.
Ira menatap Rayyan tajam. “Kamu maksa Alana ke sini?!”
Rayyan refleks menggeleng. “Enggak, Bun.”
Ira menghela napas lagi, kemudian segera mendekati Alana dan memeluknya erat. Ira mengusap lembut kepala Alana. Sedangkan Rayyan sudah duduk di kursi sambil menatap kedua perempuan itu.
“Sayang.” Ira mengusap lembut kepala Alana.
Alana sedikit mendongak, menatap Ira. “Lana, Lana mau pertahanin anak Lana, Bunda,” ucap Alana dengan air mata yang kembali menetes.
Ira terdiam sesaat, mengangguk pelan, dan kembali memeluk Alana. “Iya, Sayang, iya.”
Ira mengajak Alana ke kamar Rayyan untuk istirahat. Karena Alana datang hanya dengan pakaian yang menempel di tubuhnya, Ira juga memberikan baju ganti untuknya. Baju baru yang belum sempat dia pakai. Ukuran tubuh Alana dan Ira tidak jauh berbeda, kecil. Hanya saja Ira sedikit lebih tinggi dari Alana. Jadi, baju itu akan muat untuk Alana.
“Kamu istirahat dulu ya, Sayang.”
Alana yang sudah duduk di kasur hanya mengangguk pelan. Ira keluar dari kamar itu meninggalkan Alana sendiri. Alana menghela napas pelan. Alana menyandarkan kepalanya di dinding. Kasur Rayyan memang diletakkan tepat di samping dinding. Di sana lah Alana bisa bersandar.
Di luar, Rayyan menyandarkan kepalanya di dinding sambil memegangi kepalanya yang terasa berat. Dia memejamkan mata, mencoba melupakan apa yang sedang terjadi. Tapi bukannya lupa, semua kejadian itu berputar berulang kali di pikirannya, membuat Rayyan muak dan lelah.
“Ray.”
Rayyan menoleh pada Ira.
“Bunda mau ngomong.”
Ira berjalan keluar dari rumah, kemudian duduk di teras rumah. Rayyan menyusul di belakangnya. Ira membuka kotak obat yang dibawanya.
“Obati dulu luka kamu, Ray,” ucap Ira.
Rayyan mengambil obat yang dibutuhkan, kemudian mulai mengobati luka-luka di wajahnya.
“Orang tua Alana gimana, Ray?”
Pergerakan tangan Rayyan refleks berhenti karena mendengar pertanyaan Ira. Dia menghela napas pelan.
“Lana beneran diusir dari rumah, Bun.”
“Papanya Alana beneran ngelakuin itu?” tanya Ira memastikan.
Rayyan hanya mengangguk pelan.
“Kok bisa mereka sampai mengusir Alana dari rumah, padahal Alana anak mereka dan kondisi Alana sedang tidak baik-baik aja,” ucap Ira prihatin.
“Mau gimana lagi, Bun? Ray udah usaha, Ray udah mohon-mohon sama papanya Lana buat gak ngelakuin itu. Tapi ya, percuma, Bun, orang papanya Lana aja benci banget sama Ray.”
Ira menghela napas pelan. “Biar besok Bunda yang ke sana, ngomong baik-baik ke orang tuanya Alana ya.”
Rayyan mengangguk mengiyakan. Dia kemudian diam. Rasa bersalah menjalar semakin parah di hatinya. Rayyan merasa bersalah sudah memisahkan Alana dari orang tuanya. Dan Rayyan merasa bersalah sudah menghancurkan keluarga Alana karena perbuatannya.
Andai saja Rayyan tidak ceroboh. Andai saja malam itu Rayyan tidak melakukan hal bodoh. Pasti semua ini tidak akan terjadi. Tidak akan ada banyak air mata dan amarah seperti ini.
...***...
Rayyan sudah selesai membasuh tubuhnya. Dia berjalan menuju kamar dengan bertelanjang dada, hanya ada handuk yang disampirkan di bahu. Rayyan membuka pintu kamar.
Alana yang sedang duduk di kasur dengan posisi menghadap pintu terkejut, apalagi melihat Rayyan yang bertelanjang dada. Alana mengalihkan pandangannya.
“Njir, gue lupa,” gumam Rayyan.
“Na, sori, gue cuma mau ambil baju aja. Baju gue di lemari semua,” ucap Rayyan lagi pada Alana yang kini membelakanginya.
Alana hanya mengangguk pelan.
Rayyan berjalan mendekati lemari dan mengambil kaos secara asal dari dalamnya. Setelah memakai baju, Rayyan berjalan mendekati Alana, berdiri tidak jauh dari Alana.
“Na, sori ya, rumah gue gak segede rumah lo. Kamar gue juga pasti gak seluas kamar lo. Malah mungkin kamar gue cuma seluas kamar mandi di rumah lo,” ucap Rayyan.
Alana mengangguk pelan.
“Na, makan dulu yuk!”
Alana kembali menggeleng pelan, masih dengan posisi membelakangi Rayyan.
Rayyan menyeletuk, “gue udah pakai baju, btw.”
Sok tahu aja. Rayyan tidak tahu Alana memunggunginya karena melihat Rayyan yang bertelanjang dada atau memang Alana tidak mau melihat wajahnya.
“Ayolah, Na. Lo harus makan, lo belum makan seharian. Bubur ayam yang gue beliin aja gak jadi lo, makan,” celetuk Rayyan yang tiba-tiba teringat bubur ayam yang dia dapatkan langsung dari rumah pembuatnya. Itu pun untungnya bapak bubur ayam itu mau membuatkan bubur ayam lagi, karena sebenarnya bubur ayam yang dijual sudah habis.
“Na, lo harus minum obat loh,” bujuk Rayyan lagi.
Lagi, Alana hanya menggeleng tanpa mengeluarkan suara.
Rayyan menghela napas lelah. “Gue harus apa, Na, biar lo mau makan?”
Alana diam. Rayyan berdecak pelan. Lebih susah membujuk Alana makan dibanding membujuk anak-anak.
Rayyan ikut duduk di kasur, di belakang Alana.
“Na, makan yuk,” bujuk Rayyan lemah.
Jujur saja Rayyan sangat lelah hari ini. Tapi, dia harus membujuk Alana untuk makan.
Ira yang tanpa sengaja lewat di depan kamar Rayyan yang terbuka ikut masuk karena melihat Rayyan dan Alana hanya duduk diam di kasur yang sama.
“Kenapa?” tanya Ira pelan pada Rayyan.
“Lana gak mau makan, Bun. Padahal Lana belum makan dari pagi. Lana kan harus minum obat juga.”
Ira mengangguk pelan, paham. Dia mendekati Alana, berjongkok di depan Alana dan menggenggam tangan Alana.
“Alana kenapa gak mau makan, Sayang?” tanya Ira lembut.
“Lana gak pengen makan, Bunda. Lana gak nafsu makan.”
“Alana kepikiran mama papa?” tebak Ira yang diangguki pelan oleh Alana.
“Bunda paham, Sayang. Alana pasti sedih, Alana pasti kangen sama mama sama papa. Tapi Alana harus makan. Kan Alana sendiri yang bilang mau mempertahankan anak Alana. Iya kan? Anak itu perlu nutrisi untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Dari mana lagi dia bisa mendapatkan nutrisi kalau bukan dari kamu, ibunya?”
Alana menunduk semakin dalam.
“Iya, Sayang. Makan ya, sedikit aja biar anak kamu dapat bisa tumbuh dengan baik. Makan sedikit aja. Kalau bukan untuk kamu, lakukan ini untuk anak kamu, Sayang. Alana gak boleh egois sekarang, ada anak di dalam kandungan kamu loh, Nak. Iya? Mau makan?”
Alana mengangguk pelan. Di belakang, Rayyan mengerutkan kening.
“Yuk, kita makan.”
Ira membawa Alana keluar dari kamar menuju ruang makan. Di dalam kamar, Rayyan masih terheran-heran.
“Jadi gitu cara bujuknya?”
...***...
Selesai makan malam, Rayyan duduk di ruang keluarga sambil memakan buah. Ira sudah masuk kamar sejak tadi, begitu juga dengan Alana. Mereka sudah tidur.
Rayyan sedang memainkan ponselnya, bercakap dengan teman-temannya, ketika sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Panggilan dari Vanya.
“Njir, lupa, gue masih punya pacar,” gumam Rayyan pelan. “Mana gue harus putusin Vanya lagi.” Rayyan mengacak rambutnya frustasi.
“Sayaannngggg,” panggil Vanya dari ujung telepon.
“Iya, kenapa?”
“Kamu kemana sih? Ditelfonin gak ngangkat, aku cari-cari di kampus katanya kamu gak masuk kelas. Kamu kemana?”
“Aku ada urusan, Yang, makanya gak masuk. Kenapa?”
“Kangeennn,” rengeknya manja.
Rayyan menghela napas pelan. Kalau saja Rayyan masih punya tenaga, dia ingin sekali menemui Vanya. Tapi Rayyan capek. Lagipula, Rayyan harus mengumpulkan niat untuk memutuskan hubungannya dengan Vanya.
Tiba-tiba terbesit di pikirannya untuk tidak perlu memutuskan Vanya.
Rayyan menggelengkan kepalanya secepat mungkin untuk menghilangkan pemikiran itu. Ngaco ngaco aja. Ini saja kepala Rayyan rasanya mau meledak malah mau aneh-aneh.
“Yang, kok diem aja?”
“Besok deh aku jemput kamu, kita pergi, ya?”
“Beneran loh.”
“Iya, kapan sih aku pernah bohong.”
“Ya udah. Aku tunggu besok.”
“Udah dulu ya, Yang. Aku capek banget pengen tidur.”
“Okei, sampai ketemu besok.”
Rayyan memutus sambungan telepon itu, lalu meletakkan ponselnya dengan kasar. Rayyan baru saja menghancurkan hidup Alana, tapi besok Rayyan juga harus menghancurkan hati Vanya. Kepala Rayyan ingin meledak rasanya. Rayyan sampai tidak bisa memikirkan tentang dirinya sendiri.
Rayyan mengambil jeruk dan memakannya. Tapi tindakannya berhenti saat Rayyan melihat biji jeruk itu. Rayyan tiba-tiba kepikiran hasil USG tadi pagi.
Kacang polongnya sekarang segede apa ya?
Entah dorongan dari mana, Rayyan bangun dan memasuki kamarnya. Dilihatnya, Alana sedang tidur pulas di kasur setelah minum obat. Rayyan mengamati perut datar Alana, membayangkan seperti apa anaknya nanti.
Tidak lama kemudian, karena tidak ingin mengganggu Alana tidur, Rayyan memutuskan untuk keluar. Sebelum itu, dia menaikkan selimut Alana untuk menutupi tubuhnya.
Namun, saat sedang menaikkan selimut itu, Alana tiba-tiba saja membuka matanya.
“Eh, Na, sumpah! Gue gak mau ngapa-ngapain. Demi Allah! Gue cuma mau naikin selimut lo aja,” jelas Rayyan panik.
...***...
lanjuuuut..