Aku terjebak dalam perasaan aku sendiri. Berawal dari intens nya chatingan, kemudian bertemu tak sengaja yang akhirnya menjadikan chatingan kami semakin intens
Hingga akhirnya kedekatan ini membuat nyaman dan aku benar-benar terjebak dalam situasi yang tidak pernah aku sangka sebelumnya
Terlebih dengan perhatian yang diberikannya, membuatku yang tidak mendapatkan perhatian dari suami ku sendiri menjadi merasa bahwa aku benar-benar disayangi olehnya
Bisakah aku lepas dari semua ini? Tuhan, tolong bantu aku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zandzana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MULAI KERJA LAGI
Setidaknya aku lega karena mas Rafli tidak berbohong. Jadi tinggal aku istirahat saja sampai besok baru aktifitas seperti biasa. Ternyata sendirian di rumah dan nggak ada kegiatan itu benar-benar membosankan.
Hp yang tadi aku lepas, aku ambil kembali karena kali ini hp tersebut berdering. Aku terkesiap karena itu adalah panggilan video dari Arash. Aku memundurkan kepalaku, kemudian maju kembali memastikan jika yang menelepon adalah nomor Arash
“Kenapa harus video call sih?” rutuk ku dengan takut
Entah kenapa, ada rasa deg-degan dalam dadaku, khawatir dan takut campur jadi satu. Tapi jika tidak aku angkat apa kata Arash ya?. Aku menarik nafas panjang karena panggilannya aku abaikan dan sekarang hp ku diam. Ternyata dak lama benda tersebut berdering kembali dan dengan menarik nafas panjang aku menerima panggilan video tersebut, tapi dengan cepat aku menekan icon kamera agar kameranya berubah kamera belakang
“Lah wajah kamu mana Ra?”
Aku menarik nafas lega karena ternyata yang video call beneran Arash. Dengan segera aku mengganti menggunakan kamera depan. Dan Arash langsung menampilkan senyum begitu melihat wajahku
“Mas ngapain video call aku?. nggak kerja apa?”
“Kerja” ucapnya memutar kamera menampilkan ruang kerjanya
“Lah terus?”
“Pengen aja lihat wajah kamu”
Aku tersenyum dan membuang wajahku karena malu tiba-tiba melanda hatiku
“Ya udah, lanjut kerja lagi aja. Kan lihat wajah aku nya sudah” ucapku
“Nggak boleh lama-lama gitu video call nya?”
Aku menggeleng
“Nggak boleh, kan mas kerja. Nanti gara-gara video call aku kerjaannya malah keteteran”
“Ya udah deh kalau gitu maunya kamu….”
Aku tersenyum dan melambaikan tanganku kearah Arash yang juga tersenyum ke arahku. Video call berakhir, tapi dadaku masih berdebar tak karuan. Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku
“Ngapain sih aku jadi gugup gini?” rutuk ku
...****************...
Karena malam ini mas Rafli nggak pulang, belum jam delapan malam seluruh lampu di dalam rumah sudah aku padamkan. Dan aku segera masuk ke dalam kamar. Dan masih seperti siang tadi, aku hanya bengong sendiri.
Aku menimbang-nimbang hp, berfikir apakah aku harus menghubungi mas Rafli atau tidak, karena seperti sudah-sudah segala pesan dan panggilan ku akan diabaikannya saja. Tapi tak apalah aku mencobanya, kalo rejeki nggak akan kemana
Dengan menatap layar hp memastikan jika panggilanku berdering, barulah benda tersebut aku tempelkan ke telingaku. Dan apa yang sering terjadi kembali terjadi, dasar akunya saja yang bebal
Dengan tersenyum kecut aku meletakkan hp dan mulai berbaring. Aku yang sudah berbaring dengan cepat mengambil hp karena berdenting tanda pesa masuk
Belum tidur kan Ra. Sudah minum obat belum
Aku menarik nafas panjang karena yang mengirimiku pesan bukanlah suamiku melainkan Arash
Belum. Tapi ini sudah mulai rebahan
Langsung centang dua, dan langsung terlihat jika Arash sedang mengetik pesan
Suami kamu mana?
Aku mendecak, bohong rasanya juga percuma, toh Arash pernah kesini dan mengetahui jika mas Rafli selalu pulang malam
Belum pulang. Balasku singkat
Kamu belum sehat betul tapi suami kamu jam segini belum pulang juga?
Aku tersenyum getir membacanya. Nggak tahu saja dia bagaimana perlakuan suamiku padaku. Mana oeduli dia sama aku. Bahkan suami ku itu lebih senang jika aku mati dari pada hidup karena aku terlalu merepotkan buatnya
Kan suami aku sibuk
Aku masih berusaha untuk menutupi aib suamiku depan Arash. Arash orang yang baru aku kenal, tidak mungkin aku menceritakan tentang keadaan rumah tanggaku pada orang asing
Aku juga sibuk Ra. Tapi aku masih sempat ngechat kamu. Diikuti emoticon tertawa
Iya mas aneh deh. Ngapain juga ngechat aku
Nggak boleh gitu?
Nggak. Bukan gitu maksudnya, Cuma….. tau ahhhh. Balasku
Berarti kamu sendirian terus kalau suami kamu belum pulang?
Ya mau gimana lagi, anak aku belum punya. Jadi yaa sendirian lah
Maaf Ra, maksud aku bukan kek gitu
Selow aja mas. Nggak apa-apa kok, btw mana mamanya anak-anak?
Ada, lagi ngajarin si sulung
Malika?
Ada, sedang main sama abangnya yang nomor dua
Aku tersenyum membaca balasannya. Entah, ada rasa bahagia mengetahui tentang anak dan istrinya Arash.
Malika pasti cantik
Tentu. Dia sangat cantik. Cantik banget. Dan aku sangat sayang sama dia.
Kembali aku tersenyum, aku rasa Arash adalah sosok papa yang sangat menyayangi dan mencintai keluarganya. Tak lama ada pesan masuk kembali, pesan gambar
Gambar yang dikirim Arash langsung aku perhatikan dengan seksama. Sejurus kemudian aku tersenyum. Benar yang dikatakan Arash, anak bungsunya sangatlah cantik. Dan wajahnya sama persis dengan wajah Arash
Ini sih plek ketiplek kamu mas
Arash membalas kembali dengan emoticon tertawa. Lalu dibawahnya kembali dia mengirim pesan teks
Kamu adalah orang ke dua puluh ribu yang bilang jika Malika mirip banget sama aku
Aku langsung terkekeh. Ya kali dua puluh ribu, ada-ada saja Arash
Foto mamanya ada?
Aku memberanikan diri bertanya demikian, karena aku penasaran wanita seperti apa istrinya Arash
Tak lama kembali Arash mengirimiku pesan. Dan kali ini aku cukup lama meneliti wajah dan penampilan istri Arash
Sempurna. Istri mas cantik banget.
Pujiku, karena memang begitulah kenyataannya. Istri Arash terlihat sangat cantik di foto tersebut
Terima kasih, balas Arash
Aku tersenyum, kemudian aku keluar dari aplikasi what’s app, mematikan data kemudian meletakkan hp di bawah ranjang, setelah itu aku turun dari ranjang mengambil obat dan meminumnya. Selesai itu aku berbaring dan mencoba memejamkan mataku
“Sehat ya Ra….. kamu wanita kuat. Kamu wanita tangguh. Kamu tahu bahwa kamu sanggup melewati ini semua. Semangat Rara…..” lirihku sambil menepuk-nepuk pelan dadaku
...****************...
Aku sengaja datang lebih awal ke kantor. Aku tidak ingin gara-gara kemarin aku sakit, terus hari ini aku datang sudah mepet jam kantor mulai beraktifitas
“Pagi mbak Rara….?. sudah sembuh mbak?”
Aku yang hendak berjalan masuk lewat belakang tersenyum kearah mas Leo yang memang setiap pagi selalu datang lebih awal dibanding yang lainnya
“Iya mas, sudah sembuh. Makasih ya untuk doanya”
Mas Leo terkekeh mendengar ucapanku
“Mas pasti doain aku semoga cepat sembuhkan begitu tahu aku sakit dan nggak masuk tiga hari ini?” lanjut ku sambil terkekeh juga
“Mbak tahu aja. Kantor sepi tahu mbak nggak ada mbak”
“Masaaa….?” jawabku dengan nada bercanda
Mas Leo kian terkekeh
“Teh hangat dengan gula sedikit kan mbak?” ucapnya sebelum aku masuk. Aku mengangguk dan tersenyum kembali kearahnya yang memang sudah hafal kebiasaanku
Aku masuk kantor, segera meletakkan tas kerjaku. Dan menyapa cleaning service yang sedang mengepel lantai. Dia juga membalas menyapaku dan turut senang karena aku sudah sembuh dan bisa beraktifitas seperti biasanya
Sepertinya aku adalah pegawai pertama yang datang. Terbukti baru aku yang datang, yang lain belum ada satupun. Dan itu memang wajar, karena jam baru menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh. Sedang jam operasional kantor jam delapan.
Karena tak ada kerjaan, aku membereskan meja Reni. Meja temanku satu ini memang selalu berantakan, jam kantor habis apapun yang ada di atas mejanya dibiarkannya berserakan. Alasannya simple, besok akan aku bereskan
Jam setengah delapan lewat mulai pegawai berdatangan satu persatu sampai akhirnya semua sudah hadir semua. Dan semuanya yang melihat ku sudah berada di kantor langsung menghambur memelukku. Dan itu benar-benar membuat ku terharu
“Sumpah, makan siang kita nggak asyik banget nggak ada kamu Ra” ucap mereka yang membuatku semakin mengembangkan senyumku
“Kamu itu kan yang paling rame dan paing care sama kita semua. Jadi ketika kamu nggak ada rasanya ada yang kurang. Nggak ada yang perhatian sama kita, rasanya ada kasih sayang yang hilang dalam tiga hari ini” ucap mereka lagi yang membuatku merasa jika mereka semua sangat menyayangiku
“Ra…?”
Aku langsung mengangkat kepalaku dari duduk bersama teman-temanku ketika pak Satria masuk. Pak Satria mendekat dan aku langsung mengulurkan tanganku kearah beliau
“Keruangan sebentar Ra…….” Sambung beliau. Dan aku menganggukkan kepalaku
Segera aku menyusul beliau yang telah lebih dulu berjalan. Karyawan yang lain hanya menaikkan alis mereka ketika aku berpamitan sama mereka
“Udah nggak usah khawatir. Pak Satria itu kan kakak angkatnya Rara” ucap Reni membuat yang lain menganggukkan kepala mereka dan merasa agak lega
Dan aku yang masuk ke kantor pak Satria segera duduk begitu beliau mempersilahkan
“Sudah benar-benar sehat?” tanya beliau menatap serius ke arahku
“Sudah pak” jawabku sambil mengangguk
“Kalau cuma kita berdua, panggil kakak aja Ra”
Aku tertawa kecil, dan menganggukkan kepalaku berkali-kali
“Mama nanyain kamu. Sudah sangat lama kamu nggak ke rumah mama”
Aku menelan ludahku ketika pak Satria menyebut mamanya, yang juga adalah mama angkat ku
“Mama sehat kan kak?. Aku minta maaf kak karena tidak pernah mengunjungi mama. Kakak tahulah aku kerja pagi, pulang sore. Nggak ada waktu untuk keluar rumah selain berangkat kerja”
Terlihat pak Satria menarik nafas panjang
“Mama mengkhawatirkan kamu Ra…..”
Aku makin merasa bersalah ketika mengetahui jika mama sangat mengkhawatirkan aku
“Pulang kerja ini mampirlah ke rumah mama. Ajak suami kamu”
Aku menelan ludahku. Bagaimana caranya aku menjelaskan depak pak Satria jika mas Rafi semalam tak pulang
“Suami kamu ada kan Ra?”
Aku dengan cepat mengangguk, aku khawatir jika Pak Satria tahu kelakuan suamiku
“Ya sudah, pulang nanti langsung saja kamu ajak suamiku ke rumah mama. Kakak akan telepon mama jika kamu akan ke rumah” sambil berkata seperti itu Pak Satria sudah menempelkan hp ke telinganya
Dan aku tidak mampu berbuat apa-apa selain menatap kearah beliau dengan wajah tegang. Jika aku mencegah jelas ketahuan jika aku berbohong
“Ma, sore nanti Rara ke rumah” ucap pak Satria sambil menatap ke arahku yang balas dengan tersenyum kaku
“Mati aku…..” batinku
semoga makin maju dan sukses.
Ditunggu kisah lainnya yaaaa🥰
aku suka/Heart/