Gloria Xerxes telah menderita ke tidak adilan dari keluarga barunya setelah ibu kandungnya meninggal, Ayah yang tidak perduli, ibu dan saudara tiri yang kejam telah menyiksa Glorya selama 3 tahun seperti seekor hewan. Suatu hari ketika Glorya berada di ambang kematian, Paman dan Bibi datang berkunjung yang kemudian melihat kondisi mengenaskan Glorya. Bibinya yang murka segera memutuskan untuk membawanya dari keluarga kejam itu, membesarkannya seperti anak sendiri sampai kondisi Glorya kembali pulih.
17 tahun berlalu akhirnya Glorya tumbuh menjadi wanita kuat yang sangat cantik, berkat kemampuan dan kecerdasannya Glorya telah menjadi aktor terkenal yang menjadi idola semua kalangan umur dan mendapat kesempatan untuk membalaskan dendamnya.
"Siapa Kau?! Kenapa Kau Melakukan Ini Kepada Keluarga Kami!!!."
Tersenyum.
"Hahaha... Coba Tebak Siapa Aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATALIA SITINJAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 9. Tidak sengaja masuk syuting.
***
Setibanya di sebuah Bar bernama 'Surga Pria' yang berada di bagian timur kota Lasferun. Glorya baru saja tiba langsung di sambut oleh pemilik bar ketika dia baru saja membuka pintu masuk. "Terlambat 12 menit Glorya."
"Sorry."
"Potong gaji 5 dollar."
"Apa!."
"Peraturan."
"Oh ayolah... Kenapa begitu kejam dengan seorang teman lama."
"Kau temanku dan Bisnisku tidak ada hubungannya, potong gaji 5 dolar."
"Tsk."
Glorya melewati ruang utama yang berfungsi sebagai restoran, menyambut beberapa tamu yang dia kenal dengan senyum hangat lalu masuk keruang ganti. Ada hal yang unik mengenai Bar 'Surga Pria' karena di pagi hari bagian luar akan beroperasi sebagai restoran yang di buka untuk umum sampai jam 7 malam. Sedangkan dari jam 7 sampai 3 pagi, tempat itu akan beralih fungsi menjadi sebuah bar di atas dan club malam yang hanya bisa di akses oleh orang-orang elit di ruang bawah tanah.
"Palma ada di mana seragam kerjaku?."
"Huh? Bukannya tadi aku taruh di sana?." Palma Safir, wanita keturunan inggris yang bertugas sebagai pegawai kebersihan.
"Tadi aku letakan disana."
"Kalau begitu ambilkan, aku sudah terburu-buru sekarang." Glorya melepas bajunya dan menunggu seragam kerjanya di ambil tetapi dia bahkan harus menunggu lama untuk mendapat seragamnya. "Oh ya ampun apa masih lama lagi Palma?."
"Ini dia ini dia! Hahaha... Aku salah letakan maafkan aku Glorya."
"Lain kali kalau tidak ingat baju yang lain, letakan saja di atas kursi supaya kamu tidak pusing membaginya."
"Aww... Aku minta maaf, banyak pegawai baru akhir-akhir ini."
Glorya mengetuk dahi wanita di depannya lalu segera keluar setelah berganti seragam kerja. "Jangan malas-malas nanti gajimu di potong Ruben."
"Ayaiii... Kapten!!!."
Glorya yang telah siap bekerja keluar dalam perasaan bagus. Kemudian dimulailah aktifitas sehari-harinya seperti biasa dari jam pagi jam 8 hingga jam kerja malam terakhir pukul 3 pagi. "Aihhh... Punggungku sakit sekali... Aduh... Kapan kau akan menaikan gajiku Ruben ini sudah lima tahun aku bekerja untukmu."
"Diam! Dari antara pekerja yang lain gajimu yang paling banyak jangan banyak meminta j-alang."
"Aihhhh.... Aku merasa di perlakukan seperti budak."
"PERSETAN CEPAT PULANG SANA!!!."
"pffft-."
Hari yang melelahkan sekali lagi berlalu, sekarang Glorya sedang dalam perjalanan pulang kerumahnya melewati gang-gang sepi dan gelap sambil membawa kue ultah yang di berikan oleh Ruben kepadanya barusan.
"Bawa ini... Istriku tidak memakannya jadi akan sayang kalau di buang."
"Kalian bertengkar lagi rupanya... Makanya jangan suka selingkuh bajingan sialan."
"AKU TIDAK SELINGKUH!!!."
"BUAHAHAHA KAU KETAHUAN."
"Pffft- mereka masih saja seperti du- Hem??? Apa itu?." Glorya berhenti berjalan setelah melihat sebuah tanda peringatan di jalan yang biasanya dia lewati. "Aku tidak melihat ini tadi pagi?." melihat jalanan yang sepi Glorya jadi memilih mengabaikan peringatan di papan itu karena terlalu malas mengambil jalan yang lebih jauh.
Berkedip.
Selama Glorya berjalan dia tidak melihat tanda-tanda yang harus dia hindari kecuali hanya lampu gang yang padam. "Ohhh... Sepertinya karena lampu rusak makanya di beri tanda peringatan." Mungkin bagi sebagian orang akan merasa kesulitan saat berjalan di jalanan yang gelap tetapi karena Glorya yang sejak kecil telah dibiasakan melihat dalam gelap hal ini hanya seperti permainan anak-anak untuknya sehingga dia hanya berjalan santai seperti biasa sampai akhirnya.
Srak.
"Hem?."
"Wah wah... Coba lihat ini, masih ada gadis cantik yang lewat sepagi ini."
"Mungkinkah dia tersesat?."
"Jam segini? Yang benar saja... Ngomong-ngomong dia sangat cantik Jangan takut gadis manis bagaimana kalau kakak-kakak ini mengantarmu pulang bagaimana?."
Tiga orang pria bertubuh besar yang memiliki wajah kembar muncul entah darimana berbicara sok ramah padanya sambil mengelilinginya di pagi hari yang masih gelap.
"Apa kau mau aku temani ke depan rumahmu?." tanya pria di kanan.
"... Tidak perlu aku bisa pulang sendiri." Glorya menjaga jarak dari ketiga pria yang dua anggap aneh tersebut tapi ketika dia akan kembali berjalan tangannya ditarik. "Apa mau kalian?."
Pada saat Glorya bertanya dengan nada ramah, ketiganya malah semakin mendekat dan memberi ancaman padanya terutama pria berbaju garis biru yang telah mengeluarkan pisau lipat dari sakunya, tapi sayangnya Glorya hanya memandangi benda tajam itu seperti menatap mainan anak-anak. ".... Kau ingin mengancam ku dengan benda menyedihkan itu?."
"Wah wah wah... Lihat gadis pemberani ini... Sepertinya dia tidak takut pada kematian."
Glorya tersenyum sambil melihat kearah dinding beton di sebelah kanannya. Sepertinya mereka ini masih amatir. Rasanya Glorya seperti ingin tertawa tapi dia menahannya supaya masalah tidak semakin panjang tapi justru ketenangannya itu menjadi memancing masalah.
"Sepertinya dia mengolok-olok kita hei pelacur sialan apa di matamu kami ini terlihat menyedihkan?." Ketiganya berbaris berjajar sambil memasukan tangan kedalam kantung celana berusaha untuk terlihat mengintimidasi.
"Pulanglah ini sudah malam." Glorya masih tidak ingin menanggapi ketiganya sampai akhirnya salah satu dari ketiganya pria itu mendorong bahunya dan membuat kue di dalam plastik putih terjatuh.
Glorya menatap kue yang jatuh, dia tidak bisa melihat isinya tapi bisa menebak bentuknya telah berubah dan itu membuatnya sangat kesal. "Jadi kalian memilih untuk di hajar rupanya."
"Puahaha... Aku suka keberanian mu."
Glorya mengangkat kepalanya keatas, melihat bulan purnama yang bersinar terang tanpa ada sedikitpun awan. "Dari pada itu ... Aku lebih suka dengan keberanian kalian." Dari balik softlens berwarna ungu tua kilau biru mulai mendominasi matanya. "Tetap berdiri di disana dan jangan bergerak."
"Apa-."
GEDBUK.
Satu pukulan keras mengenai wajah pria kekar yang berada di tengah. BUKK... BUKK... . Pukulan beralih haluan mengincar kedua orang lainnya tanpa perlawanan. Kata Glorya sambil memukul. "Ini kue pemberian tahu... Aku bahkan belum mencicipi krimnya karena terlihat mahal."
BUK BUK BUK...
Pukulan demi pukulan terus menghantam mereka di bagian perut, wajah, leher hingga mereka bertiga yang tubuhnya lebih besar dari Glorya jatuh tersungkur ketanah dan mengeluarkan darah dari mulut masing-masing.
"AAARG- HENTI-HENTIKAN!!! AMPUN!."
"SA-AAARG- SAKIT SEKALI!."
"AAARG- TOLONG-TOLONG!!!."
"Seperti bayi saja ada dimana pria preman barusan." Dengan santainya Glorya menarik kaki salah pria yang berada di tanah, mencekik lehernya, lalu menariknya keatas untuk berdiri di tiang listrik, membuat posisi keduanya saling berhadapan di bawah terangnya cahaya bulan. "LP-LEPASKAN! LEPASKAN AKU!!!."
Tersenyum.
"Gigit lidah mu."
DEG.
"UUUM-!!!." Setelah mendengar perintah dari wanita di depannya dia langsung mengigit lidahnya tanpa ada niat untuk melawan akibatnya rasa sakit yang mengerikan menyambar seperti petir di tubuhnya. "AAARG-!!!." Tubuhnya kekarnya mengejang beberapa kali lalu setelahnya cairan urin membasahi bagian tengah celana jins yang dia pakai.
"CUT!."
Lampu jalanan yang padam langsung menyala kembali menerangi seluruh area gang. "Apa Yang Kalian Bertiga Lakukan! Seharusnya Kalian Yang Tampil Menakutkan Tapi Kenapa-."
"Sutradara Xian tahan sebentar." Di saat keheningan mengambil alih situasi Glorya melepas tangannya. Huhh??? Apa ini? Kenapa banyak sekali orang di sini???. Secara acak Glorya melihat lingkungan sekeliling yang dikiranya sepi ternyata cukup ramai.
Sruk.
Tangan yang memegang leher itu di lepaskan membuat pria itu jatuh di tanah yang keras sambil menyeka darah di mulutnya. "Uungh.... Lidah- ku... Lidahku Patah!!!"
"...."
Menatap.
"...."
Glorya dan pria yang menjadi Produser dalam pembuatan film amatir itu saling menatap sebentar kemudian sang Produser berbicara. "Aku minta maaf nona...."
"Nic!."
"Tidak." Dia menghentikan sutradara yang berusaha untuk berjalan kedepan. "Syuting kita selesai hari ini jadi segera susun barang-barang kalian kedalam mobil baru setelah itu kalian boleh pulang."
"Huh???."
"Sudah selesai?."
"Apa begitu?."
"Pengambilan gambarnya masih belum selesai bagaimana jika-."
"Kita sudah mendapat gambar yang bagus, selebihnya akan kita lakukan jam tuju pagi."
"Oh oke baiklah." Wakil sutradara melakukan apa yang di perintahkan kepadanya, dia langsung mengarahkan para pekerja untuk segera merapikan barang-barang syuting. "Ayo cepat kumpulkan semuanya! Jangan sampai ada yang ketinggalan."
"...."
"HI!!!." Ketiga orang yang telah di hajar oleh Glorya mendapat luka yang cukup serius di wajah mereka. Memar biru dan bercak darah terlihat jelas di tubuh dan bagian wajah mereka bertiga yang mengeluh kesakitan terutama pria yang mengigit lidahnya, dia bahkan harus di gendong sampai ke mobil karena lukanya yang lebih parah.
"Kalian tidak beri tanda bahwa ada syuting di tempat ini." kata Glorya yang canggung sambil menyentuh leher bagian belakangnya yang berkeringat dingin.
"Maafkan saya nona...." Sutradara yang berdiri di belakang Produser ikut berjalan bersama kearah Glorya yang merasa tidak nyaman. Gila apa aku memukuli wajah artis terkenal? Gawat bisa-bisa aku gagal untuk-.
"Halo perkenalkan saya Nicolas Emimma, produser dari film 'The Gangster' saya minta maaf karena melibatkan anda secara tidak langsung dalam proyek film kami."
"Eh????."
masih lanjut kah Thor?
jangan lupa mampir juga di BEHIND THE CAMERA ya, saling dukung (like,komen dan subscribe)