Tatapannya masih menusuk tajam, tangannya mengunci dua lenganku ke atas. Menghimpitku ke dinding, aku seperti dejavu dengan posisi ini.
Mimpi itu ...
"Kamu kira aku bodoh, Gauri? Jika seseorang ingin menghancurkanku, maka bukan Yosita kuncinya." katanya penuh penekanan.
"Pria itu sudah kamu libatkan dalam masalah serius seumur hidupnya jika berhasil meniduri Yosi. Apa kamu tahu? Kenapa dia tak kunjung hamil, heh?"
Dengan kasar dia menarik bajuku hingga robek. Tubuhku terekspose hanya tertutup tanktop saja. Dia mencengkeram dagu dengan kuat. Menciumku secara brutal. Mataku mulai basah dengan sikapnya.
"Kamu terlalu naif dan gegabah, Gauri! Jangan salahkan aku jika kamu akan benar-benar tak bisa lepas dariku!" bisiknya di sela hembusan nafas.
"Kamu sudah ada dalam genggamanku. Adik-adikmu tak akan bisa memperbaiki kondisimu sekarang. Hanya aku. Aidam Ishwar Sura! Aku tak akan pernah membiarkanmu terluka, Gauri! Jadi, bersikaplah yang manis, hm?"
Klik Subscribe dulu sebelum baca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iftiati Maisyaroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Saudara Sepersusuan
Bab 14 Saudara Sepersusuan
"Kenzie ... Huruf M di depan namanya adalah Mouru? Jadi selama ini dia cerita Umi adalah di sini? Kenapa bisa sekebetulan ini?" batin Gauri bertanya-tanya sambil terus menghindar ke arah Pondok Putri.
"Kamu kenapa, Mbak? Sakit?" tanya seorang santri yang memergokinya seperti memegang perutnya.
Gauri hanya mengangguk dan meringis. Dia baru ingat bahwa sedang berbadan dua. Dan entah kenapa melihat Kenzie membuat dia kembali merasa mual. Padahal hanya dari kejauhan dan selama ini biasa saja. Tak merasakan apapun bahkan hampir saja melupakan kehamilannya.
Santri putri itu memapahnya ke klinik di dekat kantor administrasi yang harus melewati rumah Umi. Gauri menggeleng saat sudah beberapa langkah di depan pintu. Pria berwajah khas Asia Timur itu berdiri sambil menatap padanya yang semakin gugup dan tak tahan lagi.
"Ri-- ri?"
"Uuuwwweeeek!!!"
Keterkejutan Kenzie disambut dengan semburan mun-tahan dari mulut wanita yang berjongkok di pojok dinding.
"Jangan mendekat lagi, Ken!" seru Gauri memperingati pria yang hampir membantunya bangun.
Dua santri yang memapahnya tadi yang akhirnya mengusap dan memapah kembali menuju klinik.
"Umi tahu Gauri di sini dan nggak kasih tahu Onii-san?" protes Kenzie saat ibunya keluar dan kaget dengan Gauri yang dipapah menuju klinik.
"Loh, Umi kira kamu tahu kalo dia akan kemari? Bukankah selama ini kalian juga sangat dekat? Apa ada kabar yang tak Umi ketahui, Nak?"
"Gauri sudah menikah dengan orang lain, Umi. Dia sekarang sedang ada masalah dengan suaminya dan menghilang seminggu ini." terang Kenzie menghembuskan nafas berat.
...***...
"Apa pria tadi yang kalian panggil dengan nama Mouru? Anaknya Umi?" tanya Gauri setelah keadaannya lebih baik.
"Iya Mbak. Jadi bener kan Mbak udah kenal? Umi banyak ambil contoh kehidupannya sendiri. Agar kita para santri bisa mengambil hikmah dan pelajaran. Tak sampai melakukan kesalahan Umi waktu dulu, Mbak." balas salah satu santri sedikit menjelaskan yang malah membuat Gauri mengernyitkan dahi.
"Maksudnya?"
Umi dulunya adalah TKW di Jepang yang pulang dalam keadaan hamil karena korban pemerkosaan. Heiji Mouru, majikannya sudah beristri dan Umi tak mau menghancurkan sebuah pernikahan. Memilih menanggung aibnya sendiri dengan pulang ke Indonesia. Di tempat inilah akhirnya dipertemukan dengan Abah.
Seorang Ustadz miskin yang men oba dakwah dari rumah ke rumah. Sampai akhirnya difasilitasi oleh seorang pengusaha kaya yang menitipkan bayinya pada Umi. Disusui bersama putranya, Kenzie. Hanya beberapa hari karena urusan genting dalam keluarga mereka. Bayi perempuan bernama Gaurika Yada.
"Itu nama Mbak Riri, kan? Seneng akhirnya bisa lihat Mbak Riri tinggal di sini. Setelah sekian lama hanya dengar cerita dari Umi dan Abah saja."
"Aku? Dan Kenzie? Disusui bersama oleh Umi? Umi Siti?" gumam Gauri tak percaya.
Dia membuka mulutnya lebar dengan pandangan kosong lurus ke depan tirai. Tatapannya jatuh pada sosok wanita paruh baya dan pria yang merangkul Umi, tersenyum padanya.
Gauri merasakan ada gejolak lagi saat beradu pandang dengan Kenzie.
"Ck! Kenapa sih sama bumil? Emang muka onii-san eneg banget ya, Umi?" omel pria itu beranjak pergi dari bilik rawat.
Dua santri melotot kaget menatap Gauri dan Umi bergantian. Mendengar kata bumil membuat keduanya mengangguk dan memilih undur diri. Memberi kesempatan Umi lebih leluasa bicara dengan putrinya. Putri yang disusuinya saat bayi. Hukumnya seperti anak kandung meski tak terlahir dari rahimnya.
"Kenapa nggak bilang kalo sedang mengandung? Kan nggak perlu naik turun tangga ke kamar? Bisa pake kamar Kenzie di rumah Umi, sementara?"
"Pasti mual-mual terus lah, Umi!" sahut Kenzie dari bilik sebelah yang terhalang tirai.
"Onii ... san? Kenapa masih di situ?" tegur Umi menggeleng.
"Ya habisnya, Riri mual liat mukaku! Kenapa sih, Ri? Pantesan aja Aidam nuduh ak--" ucapannya terhenti dan memukul kepala sendiri. Kenzie hampir keceplosan mengatakan sesuatu yang tak perlu diketahui Gauri.
"Nuduh apa Ken? Kenapa nggak dilanjutin? Dia nuduh kamu ayah dari bayi ini?" tebak Gauri sambil berdecih geram.
"Sudaaah, kalo kamu sudah baikan. Nanti kita bicarakan masalah ini di rumah, hm? Kamu istirahat dulu, Nak! Biar Umi suruh santri pindahin barang kamu dari kamar atas." ucap Umi mengusap kepala Gauri lalu pindah ke perut dan mendoakannya.
"Onii-san, ayo pulang! Jangan ganggu Gauri di sini!"
Onii-san adalah panggilan dalam bahasa Jepang yang bermakna seperti kakak atau abang atau mas dalam bahasa Indonesia. Sejak kecil Umi sedikit mengajarkan putranya dengan bahasa Jepang. Sebagai pengingat akan dosanya, menjadi cambuk bagi Umi agar lebih bersungguh-sungguh dalam bertaubat.
"Sejak kapan kamu tahu hubungan kita sedekat ini, Ken?"
"Sedekat apa? Kamu yang terlalu bucin padaku, kan?" kekeh Kenzie membaringkan diri di brangkar klinik samping bilik Gauri.
"Ah ... aku yang terlalu bodoh. Kenapa baru terpikir, ya?" balas Gauri dengan terkekeh juga.
Kenzie yang dikenal anti pati dengan wanita waktu sekolah dulu, tanpa pikir panjang menerima ajakan pacaran oleh Gauri.
"Gila tuh cowok komik! Beneran nggak mau kesenggol cewek? Bahkan selalu nunduk nggak mau tatap muka? Dia punya phobia?"
"Gimana kalo Lo deketin dia, Ri? Jadiin dia cowok Lo?"
"Berani berapa, Lo nantang gue?"
"Motor gue!"
Berawal dari taruhan itu sampai lulus pun Gauri tak berhasil memenangkan taruhan. Hingga tiba-tiba saja dalam sebuah pertemuan reuni sekolah. Kenzie mengajaknya menjalin kasih.
Gauri yang sedang dilanda kesedihan karena Aidam menikahi seorang artis. Menjadikan kesempatan itu pelampiasan sakit hatinya. Wanita itu luluh dengan semua perhatian Kenzie yang seolah mengerti yang dia rasakan.
"Waktu ngungkapin perasaanku dulu. Aku nggak tahu kamu bayi yang berbagi ASI Umi. Setelah kamu menerimanya, aku kasih lihat ke Umi, foto dan keluarga kamu. Dan kenyataan harus mengubur rasa cintaku itu adalah saat yang sulit." ujar Kenzie menerawang menatap langit-langit.
"Lalu, kenapa sampai melamarku?"
"Itu ... sebuah ... kamu nggak perlu tahu alasanku, Ri! Aku pulang, ya? Umi pasti marah, tahu aku masih betah di sini." kekehnya beranjak pergi meninggalkan klinik.
"Ken!" panggil Gauri turun dari brangkar.
Hendak mengejar, sudah berdiri di depan pintu klinik yang terbuat dari kaca tembus pandang. Gauri mematung melihat seseorang yang berdiri berhadapan dengan Kenzie di luar sana.
Keduanya berjalan beriringan tampak mengobrol akrab menuju rumah Umi.
"Yosita? Mengenal Ken juga? Bahkan sudah sampai di sini? Teka- teki apalagi yang tak kuketahui selama ini?"
Gauri terhuyung dan memegang dadanya yang berdenyut hebat. Matanya berkunang-kunang dan pandangan mulai kabur. Fisiknya tak setangguh dulu. Hatinya pun mulai rapuh menerima fakta yang semakin sulit dimengerti.
Seorang santri yang bertugas berlarian menahan tubuh Gauri yang rubuh ke lantai.
Takdir apa yang harus dijalaninya setelah ini?
...***...
^^^Bersambung ....^^^
mgkn lbh baik
Sendiri...
🤭😵💫🤕
okelah, Thor...
Lanjutkan. kebingunganku ini.. 😁🤣