Pondasi sbuah hubungan adalah kepercayaan, jika kepercayaan telah retak bahkan pecah hubungan itu akan hancur. Kejujuran, keterbukaan dan juga saling mengisi satu sama lain itu juga pnting dalam sebuah hubungan. Ikuti kisahnya dan jangan lupa like, komen dan subscirbenya gais.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
" Sudahlah mas ikut saja dengan dia. Istri muda kamu kan sudah terbiasa merebut hak orang lain. Aku sudah tak heran lagi dengan tingkahnya. " ucap karin kemudian masuk kedalam mobil dengan cepat.
" Ciiih, kamu dengar itu pah istri tua kamu. Pantas anaknya begitu kelakuannya sama kaya emaknya. " ucap wulan
" Sudahlah mah, mau sampai kapan mama sama karin begitu. Mama ngalah dong mah kan emang betul mamah istri kedua papah. " Ucap lujeng .
" Jadi papah setuju mama dibilang perebut? bukanya papah ya yang ngajakin mamah nikah, mana mamah tau kalau dulu papah ada anak istri. Papah aja yang dasarnya doyan kawin. " Gerutu wulan sembari masuk kedalam mobil diikuti Lujeng dari belakang.
" Horeee papah ikut mobil aku. " Dimas tampak girang saat melihat Lujeng ada disebelahnya.
Dimobil belakang damar dan alika terlihat murung dan lesu . Disepanjang perjalanan tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka. Alika yang biasanya sangat ceria dan berceloteh saat ini pun nampak diam. Karin menghela nafas melihat betapa berpengaruhnya masalah yang dia hadapi berdampak pada anak-anak.
" Deek,nanti adek sama kaka harus pindah sekolah gapapa kan nak? " Karin mencoba membuka obrolan. Alika hanya menjawab dengan anggukan sedangkan damar cuek dan sibuk dengan melihat pemandangan diluar.
" Kaka bunda nanya ko gak dijawab? " Ucap karin
" Terserah saja bun, kaka gapapa ko mau dipindah kemana aja asal satu sekolah sama adek damar gak mau satu sekolah sama dimas bund. " Ucap bocah itu dengan penuh permohonan.
Betapa sakitnya hati karina melihat bagaimana mental anak-anaknya diserang karna masalah yang menimpa rumah tangganya.
" I-iya sayang, nanti kita cari sekolah lain ya nak. Damar harus sabar ya sayang, alika juga harus sabar. " Ucap karin. Tes tes air mata karin tanpa sadar mulai menetes dan karin dengan cepat mengusapnya karna ia tak mau anak-anaknya melihat dia menangis.
Stelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit ahirnya mereka sampai didepan sebuah rumah yang tak terlalu besar dan sangat sederhana terlihat dari tampilan luarnya.
" Naah sudah sampai. Dimas , ibu ayo turun! Mamah ayo mah kita turun. " Ajak lujeng .
" Ini rumah kita pah? aduuuh yang benar saja pah, apa didalamnya ad ac seprti rumah kita yang dulu. Apa kamar mandinya didalam? " Ucap wulan yang seprtinya tidak suka dengan rumah barunya.
" Bersyukur wulan! Untung saja kita masih ada sisa uang untuk biaya sewa kontrakan selama 1 tahun. Coba kalau tidak mau tinggal dimana kita? Sudah lah terserah kamu saja. Kalau mau mari turun dan kalau tidak silahkan cari tempat tinggal sendri. " Ucap lujeng sembari membayar uang taxi lalu turun.
Sementara karin dan anak-anaknya sudah turun dan duduk diteras rumah sembari menunggu lujeng membuka pintu karna kuncinya ada pada lujeng.
"Maaf ya bund hanya rumah seprti ini yang mampu ayah sewa. Ayah harap bunda tidak keberatan jika kita sementara tinggal disni. Nanti ayah akan cari pekerjaan. " Ucap lujeng sembari membuka pintu dan mempersilahkan anak dan istrinya masuk.
" Awas minggir! " Dari arah belakang wulan mendorong karin hingga karin terbentur dinding.
" Awwwh. " karin mengaduh saat kepalanya terbentur dinding cukup keras.
" Bunda tidak apa-apa bun? Maaah bisa tidak hati-hati kalau jalan. Tadi gak mau turun tapi sekarang main tabrak aja, sebenarnya mau mamah apa sii?? " Berang lujeng yang merasa jengkel melihat tingkah wulan.
" Nak karin kamu tidak apa-apa? " Tanya anik.
" Tidak bu, nasehati anak ibu agar punya tata krama dan jangan terbiasa main serobot saat masuk rumah orang. " Ucap karin.
" Heeem sempit bener nih rumah mana kamarnya cuman ada empat lagi. Pah aku mau pake kamar utama yang paling gede. Sebelahku kamar ibu dan yang depan buat dimas. Yang lain terserah mau tidur diteras ke ,ruang tengah ke, dapur ke masa bodoh!" Dengan pongah wulan masuk kekamar yang sudah ia tunjuk.
Karin hanya diam dan sembari mengurut dadanya.
" Bund damar? " ucap damar dengan wajah tertunduk.
" Ayo sayang damar sama alika bobo sama bunda. Kan alika sama damar selama ini pengin banget kan tidur bareng bunda? Ayo nak kita beberes kamar dulu, baru kalian bisa istirahat. Nanti bunda masakin kalian makanan yang enak. Okeee! " Karin merangkul dua anaknya dengan sejuta kesedihan dalam hatinya. Tak hanya ayahnya yang direbut namun haknya pun direbut.
Rumah yang mereka tempati memang sudah lengkap dengan segala perabot dari ranjang,kasur,lemari ,kulkas dan segala peralatan dapur. Rumah itu adalah rumah milik salah seorang warga dikampung itu yang hidup diperantauan. Rumah itu biasa ditempati saat mereka pulang kampung. Namun stelah orangtuanya meninggal rumah itu ahirnya dikontrakan. Beruntung lujeng dapat rumah itu lengkap dengan segala perabotanya jadi dia tidak perlu membeli perabotan baru.
Stelah membereskan tempat tidur alika dan damar ahirnya bisa istirahat. Sementara karina melihat-lihat area dapur. Tidak ada bahan makanan sama sekali dalam kulkas karna rumah itu memang sudah beberapa bulan kosong. Ahirnya karina memutuskan untuk mencari warung terdekat untuk membeli bahan makanan karna anak-anaknya lapar dan ia juga belum sempat makan apapun seharian.
" Eeh bu, orang baru ya? " Sapa salah satu tetangga yang tanpa sengaja berpapsan dengan karin.
" Iya bu, maaf mau tanya warung sembako sebelah mana ya bu? " Tanya karin
" Ooh dari sini ibu lurus aja, nanti diujung ada persimpangan naaah dikiri jalan ada warung sembako lengkap. Yang punya namanya bu kokom. " Ucap orang tersebut sembari menunjukan arah pada karin.
" Terimakasih banyak bu, rumah saya diujung sana bu. Kami baru saja datang dan ngontrak dirumah bu Halimah. Kapan-kapan mampir kalau ada waktu mampir bu kerumah kami. Oh ya perkenalkan nama saya Karina tapi ibu bisa panggil saya karin saja. " kemudian katrin mengulurkan tanganya dan orang tersebut menyambutnya dengan baik.
" Ooh ibu karin, salam kenal ya bu. Nama saya Kinasih rumah saya itu disebah kanan ibu yang ada pohon nangkanya. " Ucap kinasih sembari menunjuk rumahnya.
" Iya bu, ya sudah mari saya kewarung dulu bu. Terimakasih. " Ucap karin kemudian melanjutkan perjalananya sesuai dengan arah yang ditunjukan oleh kinasih.
Kurang dari 50 meter karin sampai diwarung yang ditunjukan oleh kinasih. Benar saja warung bu kokom lengkap dengan semua sembako dari beras, sabun, bumbu-bumbu bahkan sayur-sayuran pun ada disana hingga karin tak perlu lagi mencari bahan lain ketempat lainya.
" Permisii! " ucap karin.
" Yaa, cari apa ya bu? " terdengar suara seorang perempuan namun belum terlihat orangnya.
Karin celingukan mencari dari mana sumber suara yang dia dengar.
" Maaf bu tadi lagi ambil uang yang jatuh ke kolong. " karina terkejut saat tiba-tiba seorang wanita menepuk pundaknya dari samping.