Karena kecelakaan yang menimpa suaminya, Reyhan. Shanaya Almira Frederica terpaksa menerima tawaran yang di berikan oleh Sonia, adik Ipar nya sendiri untuk membayar biaya pengobatan Reyhan yang saat itu sedang terbaring koma di rumah sakit.
Shanaya harus menikah dengan cucu dari keluarga Anggara, Vano Anggara yang sedang mengalami gangguan kejiwaan. Shanaya juga harus melahirkan keturunan darinya.
Sonia dengan tega berbohong kepada Shanaya, termasuk uang yang di dapat dari assisten kepercayaan keluarga Anggara. Itu sama saja jika Sonia menjual dirinya kepada keluarga Anggara.
Sungguh Shanaya amat sangat marah kepada adik Ipar nya itu. Tetapi untuk mundur ia tidak bisa, karena pasti akan berurusan dengan hukum karena ia sudah menandatangani kontrak perjanjian.
Bagaimana kehidupan Shanaya setelah ini? apakah ia akan kembali bersatu dengan suaminya, Reyhan ? atau justru terjebak dengan pernikahan nya bersama Vano Anggara, cucu dari keluarga Anggara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Yuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Tekad Shanaya bulat ingin meluluhkan hati Vano. Segala macam cara ia lakukan agar lelaki dingin itu mau membuka hati untuknya. Tetapi sayangnya, gadis bernama Anaya itu hampir menguasai sepenuhnya hati Vano.
"Aku akan membantu kamu!" Shanaya hendak meraih tas yang akan Vano bawa. Tanpa menoleh pada Shanaya. Vano meninggalkan Shanaya yang berdiri di samping bibir ranjang.
Pak Hendra menatap iba pada Shanaya. Lelaki itu tau jika Shanaya sedang berjuang.
Hari ini Vano sudah diizinkan untuk pulang dari rumah sakit. Pak Hendra sendiri diperintahkan oleh Tuan Bramastya untuk menjemput Vano.
Lelaki bertubuh tinggi besar, kulit putih itu sudah lebih dulu meninggalkan ruangan. Pak Hendra mendekati Shanaya yang masih mematung dengan tali tas berukuran sedang yang bertaut pada bahunya. Lalu menepuk lembut bahu Shanaya.
Shanaya menoleh pada Pak Hendra dengan senyuman getir. Senyuman yang seolah sedang menertawakan dirinya sendiri.
"Semangat, jangan menyerah! ingat suami kamu pasti menunggu. Selesaikan pekerjaan ini dengan baik," tutur Pak Hendra menyemangati Shanaya yang tampak ingin menyerah.
Mobil luxury berwarna hitam mulai melaju meninggalkan rumah sakit. Seminggu karena telah menghabiskan waktunya di gedung berlantai 4 itu. Keadaannya kini jauh lebih baik. Begitu juga dengan kejiwaannya. Ia sudah tidak pernah mengalami halusinasi lagi. Pasti karena Vano sudah tidak mengkonsumsi obat pemberian Bik Inah.
"Pak Hendra!"
Ekor mata Pak Hendra melirik kaca spion yang berada di atas kemudi. Bayangan lelaki berwajah dingin tanpa ekspresi muncul di sana.
"Iya Mas?"
"Bagaimana dengan pencarian Anaya? Bara kemarin datang menjenguk ku, dia mengatakan jika polisi menemukan kejanggalan pada mobil Anaya. Sepertinya ada orang yang sengaja merusak rem mobil Anaya." Vano menjeda ucapannya. Tatapan serius menatap pada Pak Hendra.
Tidak ada ekspresi apapun yang Pak Hendra tunjukkan. Lelaki tua itu sebenarnya sudah mengetahui tentang hal itu. Hanya saja ia tidak ingin berharap lebih. Melihat kondisi mobil sekarang juga gadis itu masih hidup. Apalagi di bawah jurang ada aliran sungai yang mengalir sangat deras, jikalau pun terjatuh pasti Anaya sudah meninggal.
"Saya akan berusaha menyelidikinya lagi, Mas!" jawab Pak Hendra memilih untuk tidak merusak suasana hati Vano.
Tiga bulan bukanlah waktu yang sebentar. Jika Anaya masih hidup, seharusnya dia sudah kembali.
"Lebih baik saat ini Mas Vano memikirkan kondisi Mas Vano saja dulu. Tenangkan pikiran dan banyak-banyak mendekatkan diri pada Tuhan."
Vano menarik sebelah sudut bibirnya tersenyum sinis. Ekor matanya sekilas melirik ke arah kaca mobil yang berada di samping nya.
"Jangan bicara Tuhan di hadapanku, Pak Hendra. Karena Tuhan itu tidak pernah ada."
"Astaghfirullahadzim, Mas Vano!" Sela Shanaya menggelengkan kepalanya. Matanya membulat menatap penuh keterkejutan pada Vano.
Vano menoleh cepat pada Shanaya yang duduk di sampingnya. Dengan tatapan wajah tidak suka.
"Allah itu ada Mas Vano. Allah maha menghidupkan dan mematikan kit. Allah maha memberi kita segalanya. Bahkan udara yang kita hidup saja ..." Shanaya menghela nafas panjang. Menghirup udara sebanyak-banyaknya. "juga Allah yang memberikannya."
Mata Vano memicing pada Shanaya. Rahangnya mengeras." Jika kamu ingin ceramah jangan di sini. Di mesjid sana!" pekik Vano.
Wajah Shanaya mendadak berubah pucat. Bibirnya yang masih terbuka. Tertutup pelan. Ia beringsut membenarkan posisi duduknya. Menatap lurus ke depan dengan tatapan takut.
"Berhenti Pak!" cetus Vano.
Pak Hendra dan Shanaya melongo. Menatap wajah datar Vano.
"Kenapa berhenti, Mas?" lirih Pak Hendra terdengar berhati-hati saat mobil mulai menepis.
"Di depan ada mesjid, kamu bisa turun dan berdakwah di sana!" cerca Vano penuh penekanan. Matanya memicing kesal pada Shanaya.
Wajah Shanaya berubah penuh penyesalan dan ketakutan dan bercampur heran. Baru kali ini ia bertemu dengan orang yang tidak mengakui kekuasaan Allah.
"Cepat turun!" sentak Vano saat mobil benar-benar berhenti.
"Maaf Mas Vano, aku tidak ...!" Shanaya mencoba menjelaskan.
"Mas, tenang Mas Vano. Maksud Mbak Shanaya tidak seperti itu. Ia hanya...."
"Pak Hendra sedang membela nya?" Vano menaikkan kedua alisnya. Jari telunjuknya terulur pada Shanaya yang semakin gelisah.
"Tidak Mas, Tidak! maafkan saya!" Pak Hendra membalikkan tubuhnya ke arah kaca depan mobil.
Shanaya berharap-hadap cepat. Takut jika Vano benar-benar memintanya turun dari dalam mobil.
"Maafkan aku, Mas!" Shanaya menggigit bibir bawahnya. Menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon.
Vano tidak menjawab. Ekspresi tatapan tidak suka cukup menjadi jawabannya.
"Jalan Pak!" seru Vano penuh penekanan. Wajah kesal nya menatap ke arah kaca depan mobil.
"Alhamdulillah." batin Shanaya menghempaskan tubuhnya pada sandaran bangku.
...----------------...
"Vano, kamu sudah pulang?" Bu Lita menyambut kedatangan Vano.
"Kak!" Sabrina yang berdiri mensejajari Vano menyunggingkan senyuman hangat.
Vano tidak menjawab. Lelaki itu berjalan melewati ibu tirinya dan Sabrina, tidak peduli. Seraya memasang wajah angkuh yang semakin membuat Bu Lita kesal.
"DASAR!" hardiknya dengan suara pelan.
"Bu ...!" Shanaya melempar senyuman ramah pada Bu Lita. Wanita berambut pirang itu membalikkan tubuhnya pergi.
"Loh, padahal aku cuma mau ngapain saja!" gerutu Shanaya menatap kepergian Bu Lita.
"Siapa juga yang nyuruh Mbak Shanaya nyapa nenek lampiran itu?" cibir Pak Hendra yang tiba-tiba muncul di belakang punggung Shanaya. Sorot mata mereka menatap pada kepergian Bu Lita dan Sabrina.
"Ya, aku kan hanya ingin bersikap ramah sama siapapun Pak Hendra," jawab Shanaya lesu.
"Oh, iyah Mbak Naya. Lain kali jangan membahas Tuhan sama Mas Vano apalagi menyuruhnya sholat. Yang ada Mbak Naya akan habis ...!" Pak Hendra mengakhiri kalimatnya dengan bergidik ngeri. Lalu berjalan pergi.
"Akan habis apa, Pak Hendra?" teriak Shanaya yang sama sekali tidak di hiraukan oleh lelaki tua yang masuk ke dalam lift bersama Vano.
Ting!
Pintu lift bergeser Pak Hendra dan Vano berjalan keluar. Menyelusuri lorong yang berada di lantai tiga rumah istana keluarga Anggara.
Vano menunjukkan wajahnya di depan kamera sensor yang ada di atas pintu ruangan Tuan Bramastya. Karena memang hanya orang-orang tertentulah yang lelaki itu izinkan untuk masuk.
"Vano!"
Mata tua Bramastya berbinar saat melihat Vano muncul dari balik pintu ruangan. Senyuman mengembang dari bibir Tuan Bramastya. Ia merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan dari cucu nya.
Sesaat Vano memeluk erat tubuh Tuan Bramstya. Pelukan yang sudah beberapa bulan ini tidak pernah Tuan Bram rasakan. Karena keadaan Vano yang hampir setengah gila.
"Kamu sudah sehat, Nak?" ucap Tuan Bram mengusap-ngusap bahu Vano penuh keharuan.
"Aku sudah lebih baik, Kek." jawab Vano datar. Kekesakan tergambar dari wajah Vano. Pasti karena perjodohan yang telah Kakek Bram lakukan.
Senyuman belum sirna dari bibir Tuan Bram. Menatap pada Vano yang duduk pada bangku di depan meja kerjanya. Sementara Pak Hendra berdiri tidak jauh.
"Mengapa Kakek menjodohkan ku? bukankah sudah aku bilang aku tidak akan menikah jika tidak dengan Anaya?" suara Vano penuh dengan penekanan.
Senyuman yang mengembang pada bibir Tuan Bram sirna.
"Tidak adayang akan menggantikan posisi Anaya di dalam hatiku, Kek!" tegas Vano. Cinta yang membara masih berkorbar dari tatapan nya.
"Tapi Anaya sudah meninggal Vano. Dia tidak mungkin kembali." Lirih Tuan Bram sangat lembut.
Vano diam untuk beberapa saat. Sorot matanya beralih pada jendela kaca yang berada di dalam ruangan Tuan Bram.
"Bukankah kamu dengar sendiri apa yang polisi katakan tentang hal itu?" Tuan Bram menyeret kembali ingatan Vano pada hari dimana mobil Anaya ringsek masuk ke dalam jurang. Tepat di hari pernikahannya.
"Tapi jasad Anaya belum juga di temukan sampai hari ini, Kek! berarti masih ada kemungkinan jika Anaya masih hidup kan?" Vano bersikukuh dengan opini nya.
"Tapi bukan berarti Anaya masih hidup kan, Vano." balas Kakek Bram dengan nada santai.
Pernikahan dengan penuh intrik dalam rumah tangga Ayahnya, Tuan Bima membuat Vano menolak sebuah pernikahan. Bahkan ia pernah berikrar tidak akan pernah menikah seumur hidup nya. Apalagi setelah melihat ibunya mati karena tersiksa batin oleh Tuan Bima yang mudah sekali berkhianat dan ia menemukan ibunya mati dengan mulut berbusa. Sampai detik ini ia masih belum bisa menerima dengan kematian itu. Dan menduga jika kematian Nyonya Gracia adalah sebuah pembunuhan.
Namun setelah datangnya Anaya, langit Vano seketika berubah. Bertahun-tahun kehidupan kelam ia lewati, perlahan ia ikhlaskan dan Vano percaya cinta sejati itu dan semua yang terjadi adalah kehendak dan takdir Tuhan. Tapi setelah kepergian Anaya, Vano kembali seperti Vano yang dulu.
"Aku ingin berpisah dengan gadis itu, Kek!" ucap Vano memasang wajah serius.
Dalam hitungan detik Tuan Bram memegangi dada nya. Ia tampak seperti kesulitan untuk bernafas dan ...
"Tuan Bram ...!" Pak Hendra berjalan panik menghampiri Tuan Bram.
"Kakek!" seru Vano bersamaan dengan seruan Pak Hendra. Vano pun tak kalah panik. Ia tidak ingin sampai kehilangan satu-satu nya keluarga yang ia miliki sekarang. Tanpa Vano ketahui, Tuan Bram hanya berpura-pura.
'Maaf Vano, Kakek harus berpura-pura seperti ini. Ada sesuatu yang tidak harus kamu ketahui.' Batin Tuan Bram. Ia bisa mendengar teriakan Vano yang terdengar sangat panik sekali. Begitu juga dengan Pak Hendra.
"Kakek bangun, Kek!"
Bersambung...
...----------------...
...----------------...
...----------------...