NovelToon NovelToon
Beyond The Imagination

Beyond The Imagination

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Balas Dendam / Kultivasi Modern / Barat / Tamat
Popularitas:843.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: M.Y

Di dunia yang penuh dengan sihir ini,
seluruh kerajaan besar menerapkan sistem kasta sehingga timbullah kesenjangan sosial di antara seluruh manusia.

Rakyat jelata dan para bangsawan, para pengguna kekuatan dan manusia biasa.

Diskriminasi, penindasan, perbudakan, hingga peperangan memperebutkan kekuasaan sudah menjadi hal yang umum.

"Kau kuat maka kau jaya, kau lemah maka binasa."

Namun seorang bocah dengan kemampuan imajinasi yang tak terbatas muncul dengan kebenciannya terhadap dunia busuk ini.

Teleportasi? Telekinesis? Telepati? Menciptakan nuklir? Apapun itu bisa ia lakukan.

Dengan motto, "Jangan lakukan apapun. Apabila harus, lakukanlah secepat mungkin," akankah dia berhasil merubah dunia dan menjadi penguasa tertinggi?

Namanya Aray Kenzie, dan dia adalah seorang pemalas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenangan si pelaku

Aray melangkah menyusuri lorong yang panjang dan suram, kedua tangannya tetap dimasukkan ke dalam saku mantel panjangnya. Bau darah yang semakin menyengat membuatnya enggan mempercepat langkah, tapi ia tahu di ujung lorong ini ada sesuatu yang mengerikan menunggunya. Bangunan ini, yang dikenal sebagai pusat perusahaan elektronik terbesar di kerajaan, memiliki rahasia gelap yang tidak diketahui banyak orang. Namun, Aray dengan kemampuannya bisa merasakan adanya ruang bawah tanah tersembunyi yang penuh misteri.

Setiap langkah yang diambil semakin mempertegas firasat buruknya. Bau darah yang menusuk hidungnya semakin

pekat, hampir membuatnya mual. Akhirnya, Aray tiba di depan sebuah pintu besar yang tampak aneh. Pintu tersebut tampak terbuat dari bahan logam tebal, dengan simbol bintang terbalik di tengahnya. Di setiap ujung bintang itu, ada lekukan kecil, seakan-akan benda tertentu harus ditempatkan di sana agar pintu itu bisa terbuka.

Setelah beberapa detik mengamati, Aray mendesah. "Ini merepotkan," gumamnya, memutuskan untuk tidak mencari tahu apa yang dibutuhkan untuk membuka pintu itu dengan cara biasa. Ia mengangkat satu jarinya, mengarahkan ke pintu besar itu.

"Sapling of the Sun," ucapnya pelan.

Dia mengambil sedikit energi matahari dari ruang imajinasi dalam benaknya, mengubahnya menjadi kekuatan yang

dapat membakar seluruh zat yang ada di dunia ini. Jari telunjuknya terarah pada pintu besar itu, menembakkan bola kecil bersuhu 7 juta Celcius - setara dengan inti luar matahari.

Pintu itu terbakar seketika saat terkena serangannya. Dengan suhu setinggi itu, bahkan seluruh negara bisa ikut

terbakar. Namun dia telah memasang pelindung mutlak untuk menghentikan penyebaran panas sebelum menembakkannya.

Sesaat setelah pintu terbakar habis, Abner muncul dari belakang dengan tergesa-gesa. "Uwah! Panas sekali! Apa yang kau lakukan? Kau bisa membakar seluruh tempat ini dengan kekuatan seperti itu!" seru Abner dengan panik, tapi Aray hanya menatapnya sekilas, tidak terganggu oleh keributan itu.

"Tenang, mayor," balas Aray dingin. "Lihatlah, tidak ada yang terbakar selain pintu yang menghalangi jalan kita."

Tanpa membiarkan Abner berkomentar lebih lanjut, Aray melangkah melewati pintu baja yang telah meleleh sepenuhnya, masuk ke dalam ruangan. Bau darah yang sangat kuat menyambutnya, membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat. Ruangan itu gelap, tidak ada satu pun sumber cahaya yang bisa digunakan untuk melihat keadaan di dalamnya.

"Ugh! Bau apa ini?," gumam Abner sambil melangkah lebih dalam ke ruangan tersebut, "Kau yakin pelaku bersembunyi di sini? Karena tidak merasakan ada tanda-tanda kehidupan sama sekali...."

Aray diam sejenak, merasakan energi di sekelilingnya. "Ya, tapi ada sesuatu di sini," balasnya, suaranya terdengar penuh keyakinan. Mereka terus melangkah hingga akhirnya menemukan genangan darah tebal di lantai.

"Apa maksudmu?" tanya Abner penasaran.

"Aku membakar pintu tadi karena ada pengaman yang sangat ketat dipasang agar tidak bisa dibuka orang luar. Pengaman itu seperti sandi yang sangat rumit dengan simbol dan beberapa lubang yang harus diisi oleh sesuatu yang hanya dimiliki si pembuat pintu," jawab Aray, mencoba menjelaskan apa yang sebelumnya ia lihat.

"Lalu?"

"Jadi seharusnya ada sesuatu yang disembunyikan dalam ruangan ini. Terlebih lagi bau darah yang sangat menyengat... sudah pasti ada sesuatu."

"Kau benar. Aku akan masuk lebih dalam lagi." Abner melangkah semakin jauh dari pintu yang sudah terbakar habis.

Dia segera mengikuti langkah Abner dalam kegelapan. Ketika sudah semakin dekat, kakinya menginjak genangan cairan aneh dengan tekstur agak kental dan padat.

Sial, apa itu? pikir Aray. Dalam kegelapan, ia tidak bisa melihat apapun.

Ketika Aray memutuskan untuk menyinari ruangan itu dengan sihir, cahaya pun tersebar hingga ke setiap sudut, mengungkapkan apa yang sebelumnya tersembunyi dalam kegelapan. Kini mereka bisa melihat dengan jelas cairan yang menggenang di bawah kaki mereka, serta sumber keterkejutan Abner—sebuah mayat, tubuhnya telah

membusuk parah hingga tak lagi bisa dikenali sebagai manusia.

"Astaga!" Abner berteriak terkejut. "Ini... mayat?" tanyanya, suaranya dipenuhi keraguan dan ketidakpercayaan.

”Kau benar,” balas Aray, mematahkan keraguan Abner.

"Dasar! Jika kau bisa melakukan itu, lakukanlah sejak kita memasuki ruangan ini. Kau membuang-buang waktu," gerutu Abner.

Aray tak menghiraukannya dan berjalan mendekati mayat yang tergeletak di ujung ruangan besar itu. Benar-benar menyedihkan. Ini bahkan tidak bisa disebut sebagai mayat manusia lagi.

Tubuh mayat itu hancur tak karuan, dengan kulit yang mengelupas dan daging yang membusuk, menjadikannya hampir mustahil untuk dikenali. Wajahnya telah cacat sepenuhnya, tak lagi menyerupai manusia. Salah satu bola matanya keluar dari rongganya, bergulir hingga berhenti di dekat kaki Abner, menambah kengerian pemandangan tersebut. Meskipun kondisinya mengenaskan, Aray tetap yakin.

"Ini pelakunya," ucapnya dengan tenang, seolah tak terpengaruh oleh kekacauan yang ada di hadapannya.

"Mana mungkin! Mayatnya terlihat sudah mati bertahun-tahun yang lalu. Jika dia pelakunya pasti tubuhnya masih bagus saat ini, karena pembunuhannya baru terjadi tadi malam," bantah Abner.

Jelas, Abner tidak bisa menerimanya. Mengakui mayat busuk yang seperti sudah mati bertahun-tahun lalu hingga tidak bisa diidentifikasi sebagai manusia lagi adalah pelaku pembunuhan berada di luar logikanya.

"Dia dibunuh menggunakan suatu mantera sihir. Orang yang membunuhnya pasti memiliki kemampuan untuk bisa membusukkan sesuatu. Dan juga dia tidak ingin kebenaran di balik pembunuhan ini diketahui oleh siapapun," jelasnya.

"Lalu bagaimana cara kau mengetahui kalau mayat ini adalah si pelaku?"

"Aku memiliki cara tersendiri."

"Tapi jika begini, kita tidak bisa mendapatkan informasi apapun." Abner terlihat gelisah ketika memikirkan akan pulang dengan tangan kosong di hadapan raja.

"Jangan khawatir."

Aray kemudian berjongkok di dekat mayat yang bersandar pada tembok ruangan gelap itu, menyentuh kepalanya yang sudah rusak parah. Bagian tengkoraknya remuk, dan sisa-sisa otak mulai membusuk, namun Aray tahu ia masih bisa mendapatkan apa yang dibutuhkannya.

Sihir imajinasinya memungkinkan dia untuk menggali informasi dari ingatan seseorang, namun hanya jika orang itu

masih hidup. Tapi ini bukan masalah besar. Aray hanya perlu menyusun ulang sel-sel otak yang sudah mati, karena meskipun tubuhnya membusuk, memori masih tersimpan di sana, tersembunyi dalam jaringan otak yang rusak.

Dia menutup mata, berkonsentrasi, merasakan aliran energinya menyebar ke dalam otak mayat itu, membangun kembali struktur yang hancur. Sel-sel otak yang rusak perlahan tersusun ulang, berfungsi kembali di bawah pengaruh kekuatan Aray.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Abner, suaranya bingung saat melihat Aray bekerja dengan tenang di dekat mayat yang sudah tidak bisa dikenali.

"Mayor, tolong diam sebentar," balas Aray dengan nada datar, tetap fokus. Lapisan energi sihirnya terus bekerja, memulihkan sebagian kecil otak yang dibutuhkan untuk mendapatkan ingatan terakhir mayat itu.

Oke. Otaknya sudah berfungsi kembali. Saatnya beralih ke tahap selanjutnya. Aray mengambil napas dalam, bersiap untuk memulai proses penyelaman dalam ingatan yang kelam.

"Fiddling with memories," gumamnya pelan.

Aray merasakan dirinya tersedot ke dalam ingatan sang pelaku. Ia seolah-olah melihat dunia dari sudut pandang si pembunuh, tenggelam dalam berbagai kenangan yang diproyeksikan oleh otak yang telah ia susun ulang.

Kenangan-kenangan itu tampak buram dan kacau, seperti tayangan ulang sebuah video lama dengan resolusi rendah.

Fragmen pertama yang muncul adalah masa kecil yang suram. Si pelaku, seorang anak kecil yang sering dipukuli oleh orang tuanya, selalu dibandingkan dengan anak tetangga. Kehidupannya penuh penderitaan dan kekerasan, hingga suatu hari, ia membunuh kedua orangtuanya dalam amarah tak terkendali. Sejak saat itu, hidupnya berubah menjadi jalan penuh kejahatan—menjadi pembunuh bayaran yang kejam. Wajahnya selalu tersembunyi dalam bayangan, berkat kemampuan tak terlihat yang mempermudah setiap aksinya.

Memori terus berputar, melompat dari satu pembunuhan ke pembunuhan lainnya, sampai Aray melihat adegan yang tampak asing—ruang gelap yang terbuat dari besi. Di sana, si pelaku sedang berbicara dengan seorang pria berseragam militer, tetapi seragam itu berbeda dari yang biasanya terlihat di kerajaan

ini.

"Kau bisa melakukannya? Membunuh 98 orang dalam satu malam?" tanya pria itu, suaranya terdengar dalam dan tajam. Wajahnya tidak terlihat jelas karena ruangan yang gelap, tapi dari nada bicaranya, pria itu masih muda, penuh ambisi.

"Itu pekerjaan mudah," jawab si pelaku, nadanya menunjukkan ketidakpedulian, "Tapi apa yang akan kudapatkan dari pekerjaan ini?"

Pria itu tersenyum, meski samar. "Kau akan mendapatkan apa yang selama ini kau inginkan."

Kemudian, kenangan itu beralih ke pembunuhan massal di gedung CE. Aray menyaksikan bagaimana para korban berteriak dalam ketakutan, memohon ampun saat pelaku memotong kepala mereka satu per satu. Suasana ruangan dipenuhi dengan bau darah dan suara-suara penuh keputusasaan, membentuk gambaran yang mengerikan.

Aray tersentak ketika ingatan itu berubah lagi, kali ini ke percakapan dua pria berseragam militer yang sama. Mereka berbicara tentang pembunuhan masal, tentang rencana besar yang melibatkan lebih dari sekadar kematian 98 orang.

"Kita sudah berhasil menjalankan misi pertama dan kedua. Membunuh 10 kemudian 98 orang. Selanjutnya, 765 orang. Jauh lebih banyak dari yang sekarang," kata salah satu dari mereka dengan suara dingin.

"Ya, ini akan membuat Kerajaan Neutral gelisah dan ketakutan karena tidak mengetahui siapa yang melakukannya. Karena selama ini kita selalu menyewa pembunuh bayaran, tetapi untuk yang selanjutnya, atasan akan mengirimkan orang suruhannya untuk melakukan pekerjaan ini," balas lawan bicaranya, terkekeh.

"Hm... aku sama sekali tidak mengerti apa yang orang itu pikirkan. Dia bermain-main dengan nyawa manusia. Pertama 10 orang, kemudian 98 orang, yang selanjutnya 765. Ini seperti hitungan mundur...,"

Namun, percakapan itu berakhir ketika keduanya menyadari bahwa ada seseorang yang mendengarkan. Sang pelaku, yang seharusnya melakukan pembunuhan untuk mereka, menjadi saksi yang tidak diinginkan.

Kenangan bergerak cepat ketika akhirnya si pelaku ditangkap dan dibawa ke ruang gelap yang besar, tempat ia bertemu kembali dengan pria muda berseragam militer yang sebelumnya memberinya tugas.

"Apa yang akan kau lakukan?" Si pelaku bertanya dengan raut wajah takut. Keringat dingin mengalir turun membasahi tengkuknya.

Di hadapannya, pria berseragam militer asing itu menatap dingin, wajahnya tirus dan pucat seperti seseorang

yang tidak asing dengan kematian. "Jangan khawatir. Aku hanya akan memberikan apa yang selama ini kau inginkan—kematian." Suaranya penuh ironi, diiringi tawa suram yang terdengar menakutkan.

Dengan gerakan tenang, pria itu menempelkan telapak tangannya ke wajah si pelaku, menutupi penglihatannya sepenuhnya. "Decomposition," ucapnya pelan, namun tegas.

Hal terakhir yang dilihat oleh si pelaku adalah senyum mengerikan yang menghiasi wajah pria itu. Kemudian, rasa

sakit luar biasa mulai merayap di tubuhnya. Dalam hitungan detik, tubuhnya perlahan membusuk, kulitnya mencair, otot dan tulang hancur tanpa ampun. Sang pelaku tak bisa melakukan apapun selain merasakan tubuhnya hancur, seperti digerogoti oleh serangga dari dalam. Sementara itu, pria di depannya tetap tersenyum puas, menikmati penderitaan yang ia ciptakan. Pandangan si pelaku pun semakin kabur, hingga akhirnya segalanya berubah gelap—selamanya.

.

.

.

Aray terhempas keluar dari ingatan sang pelaku, napasnya sedikit berat.

"Oi! Kau tidak apa-apa? Kau berteriak sedikit tadi," kata Abner, yang kini berdiri di sebelahnya dengan wajah khawatir.

Aray menyadari bahwa teriakan itu bukan berasal dari dirinya—melainkan sisa-sisa rasa takut dan penderitaan sang pelaku yang meluap keluar dari ingatannya.

"Aku baik-baik saja," jawab Aray singkat, berdiri dan mengatur napasnya. "Aku sudah mendapatkan apa yang kita butuhkan."

Abner mengerutkan kening, masih tampak bingung. "Apa yang kau temukan?"

Aray menatap lurus ke depan, mengabaikan genangan darah di bawahnya. "Pelakunya sudah mati, dibunuh oleh seseorang yang jauh lebih berbahaya dari yang kita kira. Tapi dia tidak dibunuh di sini. Itu tempat yang belum

pernah aku lihat sebelumnya,” ucapnya pelan, suaranya datar namun penuh kewaspadaan. "Dan aku juga tidak tahu bagaimana mereka bisa memindahkan mayatnya ke tempat ini tanpa sedikitpun meninggalkan jejak."

Wajah Abner berubah serius mendengar penjelasan Aray. "Jadi... apa yang akan kita lakukan sekarang?"

"Kita harus segera melaporkan ini pada raja. Waktu kita tidak banyak, mereka merencanakan pembunuhan yang jauh lebih besar," jawab Aray sambil berjalan keluar dari ruangan gelap penuh darah itu.

Abner menatap mayat yang membusuk untuk sesaat, lalu bergegas mengejar Aray. "Hey! Tunggu aku!"

1
Manusia
Wow thor, tau ga sih sejujurnya gw udah ampir ga pernah buka apk ini. Tapi karna emang dulu gw seneng banget baca disini jadi pas ganti hp juga tetep download ini apk. Trus ini novel salah satu novel yang gw kangenin, malah pernah gw rekom ke temen-temen🤣
Eh, pas lagi buka buka perpustakaan gw ternyata baru tau author balik, tapi pas liat tanggal ternyata juga udah kurleb 2 tahun up nya😔💔
Kira-kira bakal dilanjutin ga thor?👉🏻👈🏻
Btw, time flies so fast ya thor, gw juga ga nyangka udah sampai di titik ini
M.A.I
gilla min, kapan nih kembalinya. di ho saya gak ada notif... semoga kedepannya saya bisa baca novel admin ini/Smile/

semangat terus min/Good/
ŇØŞŦŘΔĐΔΜỮŞ
motto salah satu anime
LiyanRui
wah.. senang author kembali, gk terasa udah bertahun tahun tapi dari semua novel yg kubaca Aray adalah salah satu karakter yg tdk bisa dilupakan, novel ini sangat masterpiece, sehat selalu author tetap semangat nulis, kami penggemar setia mu, selalu mendukung setiap karyamu🤗
ji_in
WAAHHH GUE HAPPY BANGET THOR SOALNYA INI SALAH SATU CERITA KEGEMARANKU MOGA THOR DIPERMUDAHKAN URUSAN AGAR BISA TERUS UPDATE😁 SEMANGAT YAH !!🤗
ŇØŞŦŘΔĐΔΜỮŞ
Novel yang rekomended
ŇØŞŦŘΔĐΔΜỮŞ
benar benar terbawa suasana
ŇØŞŦŘΔĐΔΜỮŞ
Udah tahun keberapa ya terakhir 2022
Cherry Lady~🍒
siyall, ternyata sad juga kehidupan pertama mereka...
Ya Fi
Luar biasa
RedRose🥀
Bang aku nunggu lama banget, tapi gapapa yang penting ada kabar. Ini masterpiece yg tidak boleh hilang begitu saja. SEMANGAT!!!!
whyy
akhirnyaa/Determined/
Cherry Lady~🍒
Alvarado ini plot twist ya disini... dulu aku sadar pas ngulang baca dari awal...
Cherry Lady~🍒
Rasanya ada adegan dimana Alicia nyelamatin seorang murid deh... pas murid itu mau kabur, terus di serang sama penyusup cowo. Di hilangin kah adegannya
Ariful Habib Habib
Luar biasa
Cherry Lady~🍒
Fatimah???
¥¥ Devdan ¥¥: wkwkwkwk iseng aja sebenernya naro fatimah di situ, sadar ternyata
total 1 replies
Cherry Lady~🍒
ini ada yang di rubah kah? udah mulai revisi gitu. aku ngerasa ada kalimat yang ilang dari terakhir kali baca... atau emang aku yang udah mulai lupa yaa
¥¥ Devdan ¥¥: Benerr, udah mulai revisi, tapi belom semua. Jadi, bacanya pelan2 aja wkwk, masih banyak yang mau di revisi
total 1 replies
white
baru masuk kuliah kah bang?
white: penuh perjuangan bang. Aku juga lagi berusaha buat nulis novel dan sekarang juga lagi kuliah
total 4 replies
Cherry Lady~🍒
Yang penting udah ada kejelasan, mau kapan up nya bebas kamu aja thor. Bahkan ini akun baru aku di novel toon, Nanti aku baca ulang lagi biar lebih berasa alurnya
Abdilah Alfarizy
akhirnya yang di tungu up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!