Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 : DI ANTARA PUING DAN RERUNTUHAN
Langkah semakin terasa berat mendekati batas kampung. Bau asap dan kayu hangus menusuk hidung, bercampur tanah basah sisa hujan semalam. Angin membawa serpihan abu yang menempel di kulit, terasa kasar menyentuh luka yang belum kering.
Begitu sampai di tempat terbuka, dada seketika terasa tertindih. Hampir semua gubuk yang dulu rapi, kini tinggal tumpukan arang dan abu hangat. Di beberapa sudut asap tipis masih mengepul, seperti napas terakhir rumah yang sudah tiada. Bekas tungku dan pecahan periuk berserakan di sela kayu menghitam.
Di tepi hutan yang tak terjangkau api, puluhan warga duduk berhimpitan. Ada yang duduk di atas tikar lusuh, ada jongkok di tanah. Wajah mereka pucat, mata sembab, raga tampak kelelahan. Anak-anak memeluk orang tuanya erat tanpa suara. Para lelaki hanya menunduk memandangi sisa tempat tinggal mereka.
"Kalian selamat!"
Suara parau memecah hening. Mbah Suryanata melambaikan tangan dari kerumunan. Lengannya dibalut kain yang mengering karena darah. Tubuhnya terhuyung karena usia dan luka, namun tetap berjalan mendekat dengan sisa tenaga.
Bayu dan Karta segera berlari menyambut. Ia cepat menopang tubuh sang tetua agar tak jatuh ke tanah berdebu.
"Mbah, luka ini bagaimana?" tanyanya cemas.
"Tidak apa-apa," Mbah Suryanata tersenyum tipis yang terasa menyakitkan. "Hanya tergores saat menolong tetangga. Kami kira kalian tidak selamat setelah masuk ke dalam hutan Wana Kelor. Syukurlah kekuatan semesta masih melindungi kalian."
Karta menatap lengan yang terluka, tangannya mengepal pelan. Sedih bercampur lega memenuhi dadanya.
"Kami kira Mbah ikut terbakar di dalam sana."
"Nasib belum berkata begitu, Nak. Banyak yang tertinggal, tapi yang hidup harus saling menjaga. Jangan putus harapan hanya karena satu badai melanda."
Tanpa berlama-lama mereka langsung ikut merapikan apa yang tersisa. Bayu melirik sekeliling, melihat beberapa orang tua yang masih menggigil meski matahari mulai terik.
"Karta, cari ranting yang kuat. Ambil juga daun rumbia untuk atap darurat. Warga butuh tempat berteduh sebelum malam turun," ujar Bayu tenang namun tegas.
"Baik, serahkan saja padaku," jawab Karta sigap.
Amarah yang tadi meluap kini sudah hilang. Tinggal keinginan tulus menolong. Ia cabut pisaunya, gagang terasa ringan di tangan. Sekali ayun, ranting sebesar pergelangan tangan terbelah rapi. Dua kali ayun, akar yang mencengkeram tanah putus. Pekerjaan yang biasanya makan waktu seharian selesai sekejap. Karta sendiri terkejut, disaat hati tenang dan niat tulus, pisau itu seolah bergerak sendiri sejalan dengan kehendaknya.
"Kayu ini kerasnya minta ampun. Rasanya seperti memotong ketupat mentah," gumamnya sambil tertawa kecil tak percaya.
Sementara itu Bayu berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain. Ia teringat ajaran Mbah Karsa soal tanaman obat. Kulit pohon, daun, dan akar yang tepat dipetik di pinggir hutan, dicuci bersih di mata air kecil. Setelah ditumbuk halus, ramuan itu ditempelkan pada luka bakar dan memar. Air rebusannya dibagikan pada anak-anak dan orang tua yang demam. Busurnya diletakkan di batu besar dekat sumber air, lalu ditutup dedaunan agar tak mencolok.
Di tengah keramaian, ia melihat seorang anak kecil duduk memeluk lutut, menatap kosong ke arah tumpukan arang. Bayu mendekat, menyodorkan segenggam umbi yang sudah bersih. Anak itu menatap ragu, lalu menerimanya perlahan.
"Makanlah. Nanti kita cari yang lain lagi," ucap Bayu lembut.
Anak itu mengangguk pelan, sedikit cahaya kembali ke matanya.
Seorang wanita paruh baya menatapnya dengan mata berkaca penuh syukur.
"Kamu pandai meramu obat, Nak. Rasa perih di luka ini sudah berkurang sejak kau obati."
Bayu mengangguk pelan sambil tersenyum menenangkan.
"Hanya bantuan seadanya, Ibu. Semoga luka dan hati Bapak Ibu sekalian cepat pulih kembali."
Tak satu pun menyebut soal busur atau pisau. Kekuatan itu disimpan rapat—hanya untuk melindungi, bukan menakut-nakuti sesama.
Menjelang tengah hari suasana mulai teratur. Gubuk darurat sudah berdiri, luka-luka terbalut, air bersih dan umbi dibagikan merata. Anak-anak yang tadi diam kini mulai berani bergerak mengumpulkan kayu bakar yang tak tersentuh api.
Namun duka belum hilang sepenuhnya. Seorang ibu muda duduk memeluk anaknya yang masih kecil, menatap puing rumahnya sambil air mata kembali jatuh.
"Beruntung kalian selamat tanpa kehilangan apa-apa," katanya lirih penuh putus asa. "Kami tak punya apa-apa lagi. Rumah habis, ladang terbakar, benih tanam pun tak tersisa. Bagaimana kami hidup setelah ini?"
Semua kembali menunduk. Udara terasa berat, sejenak tak ada angin berhembus.
Bayu berdiri perlahan, melangkah ke tengah kerumunan. Wajahnya tenang, tatapan lembut namun tegas.
"Ibu, Bapak, Embah, dan semuanya, dengarkan aku," suaranya cukup jelas menembus kesunyian. "Benar rumah hangus, harta hilang, ladang rusak. Tapi ingat—yang paling berharga adalah kita semua masih hidup. Masih bernapas, masih punya tenaga untuk bangkit."
Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah yang penuh luka.
"Selama kita bernapas, harapan tak akan hilang. Rumah bisa dibangun kembali, ladang bisa ditanami lagi, kebahagiaan bisa dicari kembali. Selama kita tak saling tinggalkan dan tak menyerah, tak ada yang benar-benar hilang dari tangan orang yang bersatu."
Kata-kata sederhana itu perlahan meresap. Kepala yang tadinya tertunduk mulai terangkat. Sedikit cahaya kembali menyelinap di mata mereka.
Embah Suryanata menepuk bahu orang di sebelahnya, mencoba menguatkan.
"Benar sekali kata Bayu. Selama kita bersatu dan tak mau menyerah, tak ada yang mustahil. Mereka boleh rampas harta benda, tapi tak akan pernah bisa rampas semangat kita untuk bangkit."
Di sudut lain, Karta baru selesai merapikan atap. Tangannya tak sengaja menyentuh gagang pisaunya, terasa hangat sejalan dengan niat baik di hatinya. Ia tak banyak bicara, hanya diam paham bahwa ini baru awal dari perjalanan panjang.
Namun di hati Bayu ada hal lain yang dipikirkan. Ketenangan ini hanya sebentar. Selama Ki Surya dan pengikutnya masih berkuasa semena-mena, kampung ini tak akan benar-benar aman. Ia melirik sekilas ke arah batu tempat busurnya diletakkan, lalu menatap jalan menuju wilayah musuh. Amarahnya tak lagi meledak, tapi keputusan sudah bulat.
Ia akan tetap di sini menjaga yang lemah. Dan saat waktunya tiba, ia akan bertindak benar—tanpa pernah menjadi seperti mereka yang dibenci semua orang.
Siang berlalu dengan kerja keras dan doa tulus. Asap sisa kebakaran perlahan hilang ditiup angin. Matahari tinggi menyinari reruntuhan yang kini dipenuhi orang-orang yang kembali berusaha. Di antara abu dan duka mendalam, benih harapan mulai tumbuh lagi. Dibawa dua pemuda dengan warisan leluhur di tangan, dan hati yang tetap lurus di tengah badai.