Pernikahan berlatar belakang perjodohan terpaksa harus Ares dan Queen jalani meskibtidak ada cinta di antara keduanya, bahkan mereka juga sama-sama sudah memiliki kekasih masing-masing, mereka sepakat untuk menerima perjodohan yang di atur oleh orang tua mereka demi tujuan mereka masing-masing, lantas bagimana Ares dan Queen menutupi rumah rangga mereka yang penuh kepalsuan itu, dan bagaimana kisah cinta mereka dengan pasangan mereka masing-masing, jika ternyata sebuah bencana justru menumbuhkan benih-benih cinta di antara keduanya, yuk ikuti kisahnya di sini ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa kamu membenciku?
Ini hari keempat Queen dan Ares masih terisolasi di desa, akses untuk masuk ke desa di tutup karena longsor, listrik belum menyala dan ponsel pun masih belum bisa di gunakan akibat tower jaringan seluler yang ikut roboh dalam bencana beberapa hari lalu.
Tidak ada tsunami susulan seperti yang di isukan dan di takuti warga, hanya sesekali ada gempa susulan namun kecil.
Empat hari berada di desa yang terisolir, membuat Queen dan Ares mau tidak mau harus mengakrabkan diri, saling bahu membahu membantu para warga.
Karena belum ada bantuan datang dari luar desa, semua warga hanya bisa memanfaatkan apa yang ada di desanya untuk di konsumsi, dan membetulkan rumah-rumah yang mengalami sedikit kerusakan, sementara untuk warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat mereka masih mengungsi di bangunan-bangunan fasilitas umum seperti gedung sekolahan, balai desa,, termasuk pabrik milik Ares yang akhirnya dia jadikan tempat pengungsian juga, karena memang pantiknya belum bisa beroperasi.
"Kenapa hari ini kamu terlihat lebih pendiam dan tidak se-ceria biasanya?" tanya Ares saat menemani Queen.
"Tiba-tiba aku rindu mama dan papa ku, mereka pasti sedang menghawatirkan kita." jawab Queen lesu.
"Kita akan segera pulang dan bertemu mereka setelah keadaan kembali normal dan membaik. Aku akan menceritakan pada mereka jika putri manja kesayangan mereka ini telah menjadi wanita hebat yang membantu banyak warga di sini, mereka pasti akan sangat bangga." ujar Ares mencoba untuk menenangkan Queen.
Ares tahu jika Queen sebenarnya tidak sekuat yang dia tunjukkan, beberapa kali saat malam tiba Queen kedapatan sedang menangis sendirian meski nyaris tanpa suara dan sembunyi-sembunyi, Queen juga selalu gelisah dalam setiap tidur malamnya, hanya saja Queen selalu berusaha tampil baik-baik saja jika di depan Ares dan di depan semua orang.
"Tuan...tuan... Relawan dari kota sudah berdatangan, dan ponsel juga sekarang sudah bisa di gunakan kembali." lapor Basir sambil terengah-engah karena tadi dia berlari menghampiri Ares untuk memberitahukan berita penting itu.
"Benarkah?"wajah Ares berbinar.
"Benar Tuan, listrik juga di beberapa bagian sudah nyala kembali." angguk Basir.
Ares bergegas mengeluarkan ponsel menyalakannya, dia sengaja mematikan ponselnya beberapa hari yang lalu agar menghemat daya karena listrik mati dan juga ponsel tidak ada jaringan sinyal kemarin-kemarin.
Beberapa pesan segera masuk di layar ponselnya, namun Ares malah mengalihkan pandangannya pada Queen yang hanya menonton dirinya.
"Kamu tidak menelpon orangtua mu? Katanya kangen mereka." tanya Ares.
"Ponsel ku mati." Queen menunjukkan ponselnya yang baru saja dia keluarkan dari saku celana lusuhnya.
"Pakai punya ku, mereka pasti menunggu kabar dari mu." Ares menyodorkan ponselnya ke hadapan Queen.
Queen mengangguk, matanya langsung terfokus pada puluhan pesan dan panggilan tidak terjawab dari Elsa, 'betapa pasangan itu saling mencintai' batin Queen.
"Emhh,,, kekasih mu sepertinya lebih ingin mendengar kabar mu, lihatlah, puluhan pesan dan panggilan tidak terjawab darinya, sebaiknya aku kembali ke pabrik untuk mengisi daya ponsel ku saja." Queen mengurungkan niatnya untuk meminjam ponsel Ares.
Setelah melihat puluhan pesan dan puluhan panggilan tidak terjawab dari Elsa pada Ares, dia menjadi tidak sabar dan penasaran untuk membuka ponselnya apakah Reza juga menghawatirkan dirinya seperti halnya Elsa yang menghawatirkan Ares? Pikirnya.
Tak ingin membuang waktu lagi, Queen langsung berlari menuju pabrik untuk mengisi daya ponselnya, lagipula untuk apa tetap berada di sana, toh paling juga Ares akan menelpon kekasihnya, dia tidak ingin menjadi kambing congek di sana.
Setelah beberapa saat menunggu dengan tidak sabar, ponsel Queen akhirnya dapat di nyalakan juga puluhan pesan dan juga panggilan tidak terjawab tertampang di layar ponselnya, sayangnya dari puluhan pesan itu sebagian besar hanya pesan dari kedua orangtuanya yang menanyakan kabarnya, selebihnya ada dua pesan dari Mega sang sahabat yang juga menanyakan kabar dirinya, tidak satupun pesan dari Reza di sana, bahkan hanya untuk menanyakan apakan dirinya baik-baik saja, atau masih hidupkah di sini, seolah Reza tidak menghawatirkan dan tidak menaruh peduli sedikit pun pada dirinya.
Sempat terbersit dalam pikirannya, apakah mungkin jika Reza tidak mengetahui berita bencana alam yang terjadi di sini? Namun rasanya itu tidak mungkin, secara berita tentang bencana Tsunami ini pasti tersebar luas di media berita baik itu televisi maupun berita online, sangat mustahil jika Reza tidak mengetahui hal sebesar itu, berita yang pastinya menjadi tranding topik di dalam dan luar negeri.
Air mata yang selalu dia tahan jika di hadapan orang banyak akhirnya tidak kuasa untuk dia bendung saat panggilan telepon masuk dari papanya tampak di layar, entah apa yang membuatnya terasa begitu sedih dan sakit hati saat ini, yang jelas airmatanya terus saja mengalir tanpa di komando.
"Queen baik-baik saja di sini Pah, tapi Queen kangen Mama dan Papa." ujar Queen menahan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh papa dan mamanya di ujung telepon sana.
"Ya, Ares tadi sudah memberi tahu papa. Suami mu juga sedang mengusahakan untuk agar kalian bisa pulang secepatnya, baik-baik di sana ya!" ujar Sony yang juga berusaha tegar saat berbicara dengan puti semata wayangnya itu agar tidak membuat Queen bersedih.
"Hapus airmata mu, jangan membuat anak-anak ikut bersedih karena melihat mu menangis seperti itu. Kamu selalu ceria di depan mereka." Ares tiba-tiba muncul dari balik punggung Queen dan memberikan selembar tisu padanya untuk menyeka airmatanya yang mengalir deras, entah sejak kapan pria berstatus suaminya itu berdiri di belakangnya.
"Besok pagi kita sudah bisa pulang, jalan menuju bandara sudah bisa di lewati, jangan menangis lagi, sekarang aku akan menemani mu bermain di pantai, sepertinya kamu sangat menyukai pantai, mumpung masih di sini." ajak Ares.
Tanpa banyak bicara Queen hanya mengekor patuh di belakang Ares yang memperlambat langkahnya agar bisa sejajar dengan Queen yang masih tampak belum mau mengeluarkan sepatah kata pun sore itu.
Queen dan Ares berdiri menghadap laut, menatap matahari sore yang mulai melambaikan diri berpamitan di ujung barat untuk kembali ke peraduannya, mereka berdua terpana dengan keindahan pemandangan di hadapannya, laut yang beberapa hari yang lalu sempat ,mengamuk dan memporak porandakan seluruh desa kini sudah terlihat tenang kembali seperti biasanya, indah, tidak mengerikan seperti sebelumnya.
"Mas, apakah kamu sangat membenci ku?" tanya Queen tiba-tiba.
"Aku? Membenci mu? Kenapa bertanya seperti itu?" kaget Ares, karena tiba-tiba saja Queen mempertanyakan hal aneh seperti itu.
"Hmm, kamu pasti sangat membenci ku karena waktu itu kamu meninggalkan aku di rumah singgah karyawan, padahal kamu sudah memesan kamar hotel dari beberapa hari sebelumnya." ujar Queen datar, matanya bahkan masih menatap jauh ke laut lepas, sehingga dia tidak sempat melihat bagaimana raut wajah serba salah Ares saat ini karena tidak menyangka jika Queen mengatahui hal itu.
"Ah,,, emhhh, itu---" gugup Ares, pria yang biasanya selalu tegas itu mendadak sulit untuk bicara, dia kebingungan harus menjelaskan apa pada Queen. Padahal sebelumnya dia tidak pernah mempertimbangkan perasaan Queen saat akan membicarakan apapun, dia tidak akan peduli bahkan jika perkataannya akan menyakiti hati Queen sekalipun.
Jika pertanyaan itu di tanyakan Queen sebelumnya, dia pasti akan mengatakan dengan tegas pada Queen "Ya, benar, aku membenci mu. Sangat membenci mu karena kau telah menggagalkan rencana liburan ku dengan kekasih ku."
Tapi sayangnya semua kata-kata itu bahkan tidak terbersit sedikit pun di kepalanya, saat ini, selain rasa gugup dan kebingungan mencari alasan atas kebohongannya tempo hari, entahlah,,, dia juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba dia harus bersusah payah menjaga perasaan Queen saat ini.
katanya reza brandalan dan memanfaatkan quin.. lalu apa bedanya dg ares laki2.brenhsekmdan tdk bertanggungjawab.. selingkuh pula.. bukannyaembaea istei ke jalan yg benar malah menjerumuskan..
kau melaknat pelakor dan membinasakannya kayak bukan manusia
tapi kau begitu spesial kan pebinor thomas
*Thomas bisa merasakan tubuh queen
*queen sangat lembut dan pengertian dengan Thomas
*Thomas berkali merendahkan bahkan melecehkan harga diri suami queen dan queen diam saja
author ini kelakuan menjijikan lelaki yang begitu kau spesial kan di novel ini(Thomas)
*penjahat
*lelaki murahan yang nyesek sana sini
*lelaki menjijikan yang membayangkan tubuh istri orang
*lelaki menjijikan yang menjamah tubuh istri orang dengan ancaman
lelaki kayak begini yang kau spesial kan thor, miris polah pikirmu thor
pola pikir wanita dan istri jablay mereka akan kebaaperan dengan pria lain yang suka padanya, bahkan jika lelaki itu menghalalkan tubuh nya bahkan sampai menjamah tubuh, istri kayak gini tetap akan lembut pada pria itu, dan kalau wanita2 kayak gini berkarya buat novel jadi novel2 kayak gini yang sangat memuja2 pebinor, begitu lembutnya merekan memperlakukan pebinor bahkan mereka biarkan pebinor menjamah tubuh pemeran utama wanita (sudut pandang authornya)
ingat novel kalian adalah cerminan karakter kalian