Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian III)
...Lagu yang Dijaga Hariara Bolon...
..."Sebelum ada kata-kata, semesta bernyanyi. Dan sebelum manusia belajar berbicara, jiwanya telah lebih dahulu mengenali lagu itu."...
^^^—Petuah Hariara Bolon^^^
Malam setelah menerima Ulos Cahaya pertamanya, Deak Parujar sulit memejamkan mata. Bukan karena perasaan gelisah. Justru karena hatinya terlalu tenang.
Ulos yang diselimuti di bahunya memancarkan kehangatan lembut. Tidak terasa panas namun tidak juga terasa dingin. Rasanya seperti pelukan yang tidak pernah berakhir.
Jonggi tertidur di pangkuannya. Burung kecil itu sesekali menggerakkan sayapnya, seolah sedang mengejar mimpi.
Sementara itu, Banua Ginjang diselimuti cahaya bulan yang lembut. Dari kejauhan terdengar suara air mengalir. Suara angin membelai daun. Suara serangga cahaya yang menari di antara akar Hariara Bolon.
Namun malam itu, Deak mendengar sesuatu yang lain. Sesuatu suara yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Mula-mula sangat pelan. Hampir seperti dengungan. Lalu berubah menjadi nada. Panjang, dalam san indah.
Nada itu datang dari atas tetapi bukan dari langit. Bukan pula dari bintang. Melainkan dari batang Hariara Bolon sendiri.
Deak bangkit perlahan. Ia menempelkan telapak tangannya pada kulit pohon agung itu. Getaran lembut mengalir melalui jemarinya. Dan lagu itu menjadi semakin jelas terdengar.
Bukan satu suara. Melainkan ribuan. Seolah setiap akar, setiap cabang, setiap helai daun seperti sedang bernyanyi bersama.
Namun anehnya, tidak ada kekacauan. Tidak ada nada yang saling bertabrakan. Semuanya berpadu menjadi satu harmoni yang begitu sempurna hingga membuat mata Deak berkaca-kaca.
"Apa ini..." bisiknya.
"Engkau akhirnya mendengarnya." Suara itu muncul dari belakang.
Dan ketika Deak menoleh ia melihat Parbaringin berdiri beberapa langkah darinya. Tetua tua itu tersenyum. Seolah telah menunggu momen ini sejak lama.
"Kakek... Apakah Hariara sedang bernyanyi?"
Parbaringin mengangguk dan menjawan; "Ya. Tetapi tidak setiap makhluk dapat mendengarnya."
"Mengapa?" tanya Deak lagi karena tidak bisa menahan naluri keingintahuannya.
"Karena kebanyakan hanya mendengar suara. Padahal yang bernyanyi adalah kehidupan." jawab Parbaringin bijak.
Mereka lalu duduk di bawah akar besar yang menjulur seperti pelindung alami. Parbaringin memandang ke atas. Ke arah cabang-cabang yang menghubungkan langit dan dunia.
"Tahukah engkau mengapa Hariara Bolon menjadi pohon yang paling dihormati?" tanya Parbaringin sesaat kemudian.
Deak menggeleng.
"Karena ia mengingat." jawab sang kakek akhirnya.
"Air juga mengingat." ujar Deak cepat.
"Benar. Tetapi air mengingat peristiwa. Sementara Hariara mengingat kehidupan." jelas Parbaringin logis.
Deak terdiam.
Parbaringin melanjutkan penjelasannya: "Setiap makhluk yang lahir di bawah naungan semesta meninggalkan sebuah nada. Setiap sukacita. Setiap kehilangan. Setiap harapan. Semuanya menjadi bagian dari lagu besar yang dijaga Hariara."
Deak memejamkan mata. Kini ia mencoba mendengarkan dengan lebih dalam lagi. Dan perlahan... ia mulai mengenali nada-nada yang berbeda.
Ada nada yang ringan seperti tawa anak-anak. Ada nada yang hangat seperti pelukan seorang ibu. Ada nada yang kokoh seperti gunung. Ada pula nada yang lembut seperti doa.
Semuanya saling mengisi. Saling menguatkan. Tidak ada yang berusaha menjadi paling keras. Tidak ada yang ingin mendominasi. Masing-masing mengetahui tempatnya.
"Seperti ulos..." gumam Deak.
Parbaringin tersenyum, "Tepat sekali."
"Benang-benang berbeda membentuk satu tenunan. Nada-nada berbeda membentuk satu lagu. Makhluk-makhluk berbeda membentuk satu kehidupan. Itulah sebabnya kesombongan selalu merusak harmoni."
Deak mengingat kata-kata Nai Tonun: 'Benang yang putus dapat disambung, namun hati yang diputus oleh kesombongan sulit ditenun kembali.'
Kini ia mulai memahami.
Tiba-tiba... lagu Hariara berubah. Bukan menjadi sedih. Melainkan lebih dalam. Lebih tua. Seperti kenangan yang sangat jauh.
Deak lalu melihat sesuatu, namun bukan dengan matanya, melainkan dengan jiwanya.
Ia melihat Hariara ketika masih kecil. Ketika cabangnya belum lagi menjangkau langit.
Ia melihat kondisi Banua Tonga masih berupa hamparan air tanpa daratan. Belum ada manusia. Bahkan belum ada gunung dan lembah di situ.
Hanya semesta yang masih muda.
Dan di kejauhan, ia melihat bayangan seekor makhluk raksasa bergerak di bawah samudra. Tidak terlalu jelas sebenarnya rupa sang makhluk. Hanya berupa siluet. Namun ia tidak akan pernah salah mengenali mata hijau itu. Naga Padoha.
Deak tersentak. Penglihatan itu tiba-tiba lenyap.
"Kakek!" ujarnya sesaat kemudian.
Parbaringin menoleh.
"Aku melihatnya lagi." tambah Deak karena Parbaringin hanya diam memandanginya dengan wajah bertanya.
"Naga itu?" tanya sang Kakek akhirnya.
Deak mengangguk.
Tetua tua itu menghela napas. Ia tidak terkejut. Seolah ia telah menduga hal itu akan terjadi.
"Kadang-kadang..." katanya pelan, "...lagu Hariara tidak hanya menyimpan masa lalu. Terkadang ia juga memperdengarkan simpul-simpul takdir."
...****************...
Angin malam bertiup perlahan. Daun-daun Hariara berkilauan seperti bintang.
Parbaringin berdiri dan berkata: "Lihat ke atas, Putri."
Deak mengikuti arah pandangnya. Di antara cabang-cabang tertinggi Hariara, ribuan titik cahaya menggantung seperti buah.
"Itu apa Kakek?" tanya Deak setelah mengamati namun tidak bisa menebak bendanya.
"Itu Lagu yang Belum Dinyanyikan." jawab Parbaringin perlahan.
"Lagu?" tanya Deak tampak tidak percaya.
"Ya." tegas sang Kakek, lalu menambahkan: "Setiap kehidupan membawa kemungkinan. Sebagian akan menjadi kenyataan. Sebagian akan tetap menjadi mimpi. Tetapi semesta tetap menyimpannya. Karena setiap kemungkinan memiliki nilai."
Deak memandang cahaya-cahaya itu dengan kagum. Terlihat begitu banyak. Begitu indah. Lalu sebuah pertanyaan muncul di benaknya.
"Kakek... Apakah aku juga memiliki lagu?" tanya Deak polos.
Parbaringin tertawa kecil dan menjawab: "Bukan hanya lagu nak. Engkau memiliki simfoni."
...****************...
Pada saat yang sama, jauh di dasar Banua Toru, Naga Padoha yang sedang tertidur perlahan mengangkat kepalanya. Melalui akar-akar semesta yang tak terlihat, ia mendengar sesuatu. Sangat jauh. Sangat lembut. Namun cukup kuat untuk mencapai kedalamannya.
Sebuah lagu. Lagu yang sama yang sedang dinyanyikan Hariara Bolon di Banua Ginjang.
Untuk sesaat, makhluk purba itu memejamkan mata. Dan untuk pertama kalinya dalam ribuan zaman, kesunyian yang menemaninya terasa tidak sepenuhnya sunyi lagi.
Di bawah pohon agung itu, Deak Parujar belum mengetahui satu hal. Bahwa suatu hari nanti, ketika ia harus berdiri sendirian di tengah samudra purba, ketika seluruh dunia tampak menolak kehadirannya, ketika hanya ada air dan kegelapan di sekelilingnya, lagu Hariara Bolon inilah yang akan menjaganya agar tidak kehilangan harapan.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung Bab 7. Perpustakaan Angin.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/