Judul lama : Diagnosis: Falling For You
dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.
dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiriman Mawar Hitam
Kabut tipis menyelimuti pelataran RS Medika Adiwijaya di Rabu pagi yang dingin. Di lantai empat, ruang rapat khusus Departemen Bedah dan Bedah Saraf tampak lebih lengang dari biasanya. Hanya ada beberapa konsulen senior, dr. Gibran, dan dr. Narendra yang duduk di sudut meja kayu panjang.
Narendra memutar pulpennya pelan, tatapannya membentur dokumen laporan kasus yang terbuka di depannya. Pikiran pria bedah itu terbagi. Sejak laporan dari Tyo mengenai pendaratan dr. Julian Alistair semalam, insting kewaspadaannya berada di tingkat tertinggi.
"Naren," panggil Gibran berbisik, menyikut lengan sepupunya. "Lo kenapa? Dari tadi gue perhatiin muka lo keruh banget kayak air selokan depan. Masih mikirin soal mawar hitam itu?"
Narendra menoleh singkat, pandangannya dingin. "Fokus ke laporan anestesi pasien kraniotomi nanti siang, Gibran. Jangan banyak tanya."
Gibran berdecak pelan. "Ya elah, sensi amat. Gue cuma khawatir. Muka lo tuh kalau lagi tegang bikin residen di luar pada takut masuk, tahu gak?"
Sebelum Narendra sempat membalas, pintu ruang rapat terdorong terbuka. Seorang pria paruh baya berpostur tinggi dengan kemeja abu-abu gelap dan jas kasual melangkah masuk tanpa ragu. Rambut peraknya tertata rapi, dan sepasang mata kelabunya menyapu seluruh isi ruangan dengan senyuman tipis yang terkesan dingin dan penuh intrik.
dr. Julian Alistair.
Seluruh konsulen senior di ruangan itu seketika membeku. Beberapa dokter sepuh bahkan menunjukkan raut wajah terkejut yang nyata.
"Selamat pagi, rekan-rekan sejawat," sapa Julian dengan bahasa Indonesia bercampur aksen Eropa yang halus, suaranya terdengar ramah namun sarat akan penekanan tersembunyi. "Senang bisa kembali ke rumah sakit yang pernah membesarkan nama saya sepuluh tahun lalu."
Gibran membelalakkan mata, refleks menegakkan posisi duduknya. Ia melirik Narendra yang kini perlahan menghentikan putaran pulpen di tangannya.
Narendra tidak terkejut, namun rahang tegasnya mengeras seketika. Sepasang mata elangnya mengunci presensi Julian dengan aura intimidasi yang begitu pekat.
"Dokter Julian Alistair," ujar Profesor Suryo, salah satu dokter senior Adiwijaya, bangkit berdiri dengan kening berkerut. "Atas kapasitas apa Anda berdiri di ruang rapat internal ini? Keanggotaan Anda di Adiwijaya Group sudah dicabut sejak lama."
Julian terkekeh pelan—sebuah tawa rendah yang terdengar pongah. Pria itu mengeluarkan sebuah dokumen berstempel resmi kementerian kesehatan dan dewan pengawas medis internasional dari dalam tas kulitnya, lalu meletakkannya di meja.
"Saya hadir di sini bukan sebagai mantan staf Anda, Profesor," sahut Julian tenang. "Saya hadir sebagai Konsultan Independen Penilai Kelayakan Operasional dan Etika yang ditunjuk langsung oleh konsorsium investor luar negeri untuk meninjau persiapan pembukaan The Nayla Kartikasari Pediatric Center."
Gibran menahan napas. "Keparat..." bisiknya lirih di samping Naren.
Julian memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Narendra yang masih duduk tenang di kursinya. Senyum di bibir pria paruh baya itu semakin melebar, penuh dengan nada provokasi yang telanjang.
"Senang bertemu dengan Anda secara langsung, dr. Narendra Adiwijaya," ujar Julian. "Anda sangat mirip dengan ayah Anda, Arsenio. Sama-sama berambisi... dan sama-sama suka menyimpan hal-hal berharga di tempat yang terlalu mudah dijangkau."
Narendra perlahan berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi tegap dan berwibawa mendominasi keheningan ruangan. Suara baritonnya bergema rendah, dingin, dan mematikan.
"Gedung riset itu dibangun di atas tanah Adiwijaya dan diberi nama sesuai nama calon istri saya," tegas Narendra, memangkas jarak tak kasat mata di antara mereka. "Pihak luar seperti Anda tidak memiliki wewenang atau hak sekecil apa pun untuk mencampuri urusan internal kami, Dokter Julian."
Julian menaikkan satu alisnya, berpura-pura terkesan. "Calon istri? Ah... dr. Nayla Kartikasari, Spesialis Anak itu, kan?" Julian mencondongkan tubuhnya sedikit. "Saya sudah membaca beberapa publikasi ilmiahnya saat di Zurich. Sangat berbakat. Sayang sekali kalau karier cemerlangnya harus terkikis hanya karena terlibat dalam 'sejarah kelam' yang pernah dilakukan keluarga Adiwijaya pada riset saya sepuluh tahun lalu."
TAK.
Narendra melangkah satu blok lebih dekat. Aura ancaman di sekitar Naren menguar begitu kuat hingga Gibran refleks ikut berdiri, bersiap menahan sepupunya jika amarah pria bedah itu meledak.
"Jangan pernah berani menyebut nama Nayla dari mulut Anda," bisik Narendra tepat di depan wajah Julian, suaranya begitu rendah namun sarat akan ancaman mutlak. "Jika Anda menginjakan kaki di rumah sakit ini hanya untuk membalas dendam masa lalu pada ayah saya... hadapi saya secara langsung. Tapi kalau Anda berani menyentuh atau mengusik Nayla walau cuma seujung kuku..."
Narendra menggantungkan kalimatnya, matanya membakar wajah Julian tanpa ampun.
"...saya pastikan Zurich tidak akan pernah melihat Anda kembali dalam keadaan utuh."
Julian terkekeh tipis, meski ada sedikit kilatan gentar di matanya melihat dominasi Narendra yang begitu pekat. Pria itu merapikan kerah jasnya, lalu mundur satu langkah.
"Kita lihat seberapa jauh Anda bisa melindunginya saat pameran simposium medis minggu depan, dr. Narendra," sahut Julian santai, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruang rapat.
Sementara itu, di koridor lantai empat bangsal anak, Nayla baru saja selesai memeriksa seorang pasien balita ketika ia melihat Rania berlari kecil menghampirinya dengan raut wajah panik.
"Mbak Nay! Mbak Nayla!" seru Rania dengan napas terengah-engah.
Nayla menghentikan langkahnya, menatap asistennya itu bingung. "Rania? Kenapa panik gitu?"
"Itu... di meja resepsionis depan poli anak," Rania menunjuk ke arah ujung lorong. "Ada kurir khusus yang baru aja nganterin kurungan kaca isi bunga mawar hitam. Tapi... ada suratnya langsung buat Mbak Nayla!"
Jantung Nayla berdesir. Kata mawar hitam langsung mengingatkannya pada percakapan dengan Narendra tadi malam. Tanpa membuang waktu, Nayla melangkah cepat menuju meja resepsionis.
Di atas meja marmer putih, sebuah kubus kaca transparan berisi setangkai mawar hitam segar terpajang. Di sampingnya, ada sebuah amplop perak elegan bertuliskan namanya Untuk dr. Nayla Kartikasari.
Nayla meraih amplop tersebut, membuka segel lilinnya dengan jemari yang sedikit dingin. Di dalamnya terdapat selembar kartu ucapan bertuliskan kalimat singkat berbahan tinta emas:
"Selamat atas pembangunan gedung riset barumu, Dokter. Tapi berhati-hatilah... pria yang akan kamu nikahi menyimpan rahasia tentang kematian ibunya dan dosa besar Adiwijaya yang tidak pernah kamu ketahui."
Nayla membeku di tempatnya berdiri. Napasnya tertahan, matanya terpaku pada tulisan di kartu tersebut saat pikiran dan logikanya bergolak hebat.
Rahasia tentang kematian ibunya Naren? Dosa besar Adiwijaya?
Sebelum Nayla sempat mencerna lebih jauh, sebuah tangan tegap bertaut erat di jemarinya, mengambil kartu tersebut dari genggaman Nayla dengan gerakan cepat.
Nayla menoleh sentak. Narendra sudah berdiri di sampingnya. Wajah pria bedah itu tampak sangat tegang, dan matanya membaca isi kartu tersebut dengan kilatan amarah yang nyaris meledak.
"Naren..." panggil Nayla lirih, menatap mata tunangannya dengan beribu pertanyaan yang menuntut jawaban. "Ini... maksudnya apa?"